Senin, 26 November 2018

Cerpen : Janji Yang Terhapus


Cerpen :  Janji Yang Terhapus
Oleh : Rieke Aria Saputri


(Saat pikiran melayang)

Setelah menyiapkan meja dagangan seperti biasa, akupun menyandarkan punggung di kursi kebesaranku sambil menunggu pembeli.

Sementara di depanku, kulihat Bu Soto yang selalu duduk terkantuk-kantuk sambil mendengarkan suara radio di sampingnya, yang membuatku kadang bertanya dalam hati, sebetulnya Bu Soto itu benar-benar sedang mendengarkan radio atau tidur?

Aku tersenyum mendengar suara Tulus menyanyikan Ruang Sendiri dari radionya. Lagu yang sering diputar anakku, anak muda jaman sekarang. Oke juga frekwensi pilihan Bu Soto ini.

Beri aku kesempatan tuk merindukanmu/Jangan datang terus/Beri juga aku ruang bebas dan sendiri/Jangan ada terus/Aku butuh tahu seberapa kubutuhkanmu/Percayalah rindu itu baik untuk kita

Kuraih HP dan melihat berapa banyak notice di WA yang belum kubuka. Tiba-tibakan kurasakan sensasi dejavu.

Wow, ada ratusan di group ini, ada ratusan lagi di group itu...., resiko punya banyak group di WA ya begini. Kadang malah HP sampai hank karena memorynya kepenuhan.

Kusentuh group SMAku yang tampak paling banyak noticenya. Hampir 400. Padahal baru semalam saja HP ini tidak tersentuh, pikirku.

[Teman-teman, ada pesawat hilang tadi pagi, aku jadi ingat almarhum suamiku....] Tulis Wati.

Yang kemudian dibalas dengan berbagai ucapan prihatin dan pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa itu dari teman-temanku lainnya.

Kemudian ditambah postingan berita terakhir tentang pesawat yang baru jatuh tadi pagi.  Ratusan percakapan sibuk membicarakan tentang kondisi  kecelakaan pesawat hari ini.

Aku tertegun menatap ratusan percakapan itu dengan pikiran bercampur aduk di dalam kepalaku. Tidak tahu harus bagaimana.

Apakah ikut menyatakan prihatin pada Wati seperti lainnya, atau diam saja tidak bereaksi seperti biasanya dan hanya cukup dengan menjadi pembaca saja? Bimbang membuatku membeku.

Suami Wati adalah seorang pilot dan kebetulan juga adalah seseorang yang pernah menempati salah satu sudut relung hatiku.  Salah satu tempat tersembunyi yang selalu terjaga di sana untuk waktu yang lama.

Jadi bukan hanya dia saja yang kembali teringat pada peristiwa menyedihkan itu. Aku juga. Aku juga punya cerita sedih tentangnya. Tentang kami berdua.

Memang hubungan kami adalah masa lalu.

Sama seperti dia yang sudah punya Wati, akupun punya seseorang yang lain dalam hidupku. Kami sudah punya cerita dan kehidupan masing-masing.

Hanya saja ibarat sebuah kisah, terkadang ada kisah yang tidak terselesaikan. Yang berawal tapi tidak berakhir, yang mungkin belum berakhir, atau yang memang tidak pernah ada akhirnya.



(Masuk ke lorong waktu)

Anganku melompat liar pada waktu itu, hari minggu setelah subuh, di akhir bulan April.

Tiba-tiba ada pesan japri darinya, [Sudah bangun belum? Cepat cuci muka dulu...!]
[Kenapa harus cuci muka?!] tanyaku.
[Kalau gitu, cepatlah mandi dan temani aku menghitung rusa di halaman istana] katanya.
[Rusa apa? Istana apa?!] tanyaku tidak mengerti.
[Rusa di Istana Bogor] jawabnya.

Istana Bogor?! Sepertinya dia sedang bermimpi.

[Apakah hari ini kamu ada waktu seharian?] tanyanya lagi.
[Kurasa bisa kuusahakan] jawabku.
[Kalau begitu, jam berapa kamu bisa kemari secepatnya? Tolong bawa motor  ya...]
[Ke mana???] aku masih belum mengerti.

Aku memang tinggal di Bogor, tapi dia tinggal di Medan.

Bagaimana mungkin aku harus ke tempatnya naik motor? Kecuali...., dia saat ini ada di Bogor!

[Kamu....., di..... Bogor?] tanyaku.
[Ya iyalah. Itu Gunung Salak ada di depan mataku]  jawabnya. Gubrak!! Ternyata dia masih tetap gila seperti dulu.

Tidak sampai satu jam kemudian aku sudah duduk di Lobby Hotel di depan Kebun Raya tempatnya menginap tadi malam, menunggunya turun dan sekalian check out.

Melihatnya keluar pintu lift dari tempatku duduk, kami sempat saling tatap tanpa kata ketika untuk pertama kalinya berjumpa seperti ini, setelah sekian puluh tahun berlalu.

Dia tidak memakai pakaian dinasnya dan hanya membawa sebuah ransel di bahu kirinya. Beberapa hal masih tampak seperti dulu. Hanya bertambah beberapa kerut wajah saja yang menandakan jenjang waktu yang berjarak sangat lama antara kami.

“Terimakasih kamu mau datang.” katanya. Aku mengangguk kecil.

Menepis canggung, aku segera bangkit dari dudukku dan mendahului ke arah pintu keluar, “Terus, mau ke mana kita naik motor seharian?” tanyaku.

Ternyata motorku ditinggal di penyewaan mobil dekat stasiun untuk jaminan, dan kamipun meluncur menuju Serang dengan mobil sewaan.

“Ada apa di Serang? “ tanyaku.
“Sebetulnya aku ingin mengajakmu ke Kampung Baduy, tapi waktuku terbatas hanya hari ini, nanti malam aku harus terbang kembali ke Medan. Dan kubaca berita, kebetulan tiga hari ini ada Festival Seba Baduy di Serang...., jadi kita coba lihat ke sana aja ya...” katanya.

Iya, betul. Aku jadi ingat, beberapa waktu lalu aku sempat baca promosinya di salah satu Medsos. Festival Seba Baduy yang diadakan tiap tahun sekali sudah dimulai sejak dua hari lalu.

Sebetulnya acara ini adalah semacam Upacara Adat Masyarakat Baduy yang sudah dilakukan sejak Kesultanan Banten dulu untuk bertemu dengan Ayah Gede (Pemimpin Pemerintahan, yang di masa sekarang adalah Gubernur Banten), untuk menyampaikan unek-unek mereka dan menyerahkan hasil bumi.

Seba Baduy ini sebelumnya diawali dengan melakukan ritual Kawalu selama  3 bulan (semacam puasa). Dan selama masa itu,  wisatawan tidak diperkenankan memasuki 3 Desa Kampung Baduy Dalam. Selama 3 bulan itu, masyarakat Baduy Dalam benar-benar tidak berhubungan dengan orang luar. Kearifan lokal dalam upaya menjaga tradisi dan kelestarian wilayahnya.

Hebatnya lagi, masyarakat Baduy melakukan perjalanan dari Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, menuju Serang dengan berjalan kaki  tanpa alas kaki. Telapak kaki mereka memang setebal sepatu boot.

Masyarakat Baduy mengamalkan ajaran turun temurun dari Kokolot atau Leluhur yaitu Ajaran Kejujuran Apa Adanya.

Lojor teu meunang diteukteuk, pendek teu meunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Juga ajaran Luhur tentang Keikhlasan dan Pelestarian Alam, yang sangatlah dipegang teguh dan dipatuhi oleh masyarakat Baduy. Tidak heran kalau budaya masyarakat Baduy ini yang dijadikan semacam icon kebanggaan Propinsi Banten.

Setelah dua jam perjalanan lewat Tol yang membosankan, akhirnya Alun-alun kota Serangpun ada di depan mata.  

Perhelatan besar kemarin masih meninggalkan lapak-lapak tempat menjual hasil kerajinan masyarakat Baduy yang berupa kain tenun, tas, dan souvenir khas Baduy yang semuanya dikerjakan secara manual. Kami sempat berkeliling dan membeli beberapa souvenir berupa kain dan selendang Baduy. Sekedar tanda mata.

“Kita cari tempat makan, terus langsung balik ya. Aku pingin lewat Rangkas terus ke Bogor, nggak lewat tol... Nggak apa-apa kan?” katanya.

Terus terang sebetulnya aku masih tidak mengerti apa maunya mengajakku ke Serang ini. Apa iya hanya untuk melihat pameran ini saja?

“Entahlah. Apakah aku ingin menyelesaikan atau menyambung kembali sebuah kisah. Yang jelas saat ini harus kuselesaikan dulu satu yang pernah kujanjikan padamu. Dulu aku berjanji akan mengajakmu melangkahkan kaki lagi ke Bumi Kanekes kan....” katanya ketika kutanyakan padanya, sebenarnya kita ini mau apa ke sini.

Memory yang sempat berkarat dan mengendap di dasar kenanganpun mulai memberontak, menyeruak, mencoba keluar ke permukaan, karena dia mengajakku untuk mengobrak-abriknya saat ini. Membangkitkan rasa. Segala macam rasa. Termasuk di dalamnya penuh dengan cerita cinta yang indah, sakit, dan kecewa saat remaja. Memory masa SMA dan beberapa waktu setelahnya.

Menjelang akhir SMA, kami pernah punya rasa yang sama. Mencoba melangkah bersama, menatap dunia  berdua. Begitu juga ketika kemudian dia diterima di Akademi Angkatan Udara, kami masih mencoba menapakkan kaki bersama dengan nada dan irama yang sama. Sampai akhirnya, entah bagaimana, langkah itu tiba-tiba terhenti hanya di beberapa masa. Entah darimana bermula...

“Kenapa waktu itu kamu tiba-tiba menghilang?” akhirnya kukeluarkan juga pertanyaan yang selama ini berkutat di kepalaku tanpa berjawab.

Saat itu kami sudah memulai lagi perjalanan kembali ke Bogor. Dan seperti katanya tadi, kami tidak akan lewat jalan tol. Kami akan banyak melewati hutan tanaman sawit di kanan kiri jalan sepanjang Rangkasbitung ke Bogor. Lebih menyejukkan dan tenang daripada pemandangan gersang sepanjang jalan tol yang lebih identik dengan hiruk pikuk manusia kota dengan segala kesibukannya masing-masing.

“Bukankah kamu yang menyuruhku?” jawabnya.
“Aku menyuruh apa?!” tanyaku bingung.
“Kamu menyuruhku kembali padanya...” jawabnya lagi.
  
Memang sebelum jalan denganku di akhir SMA, saat kelas dua SMA, dia dan Wati memang pernah jalan bersama tetapi tidak lama.

Walaupun sebetulnya sih, sejak awal masuk SMA itu, aku dan dia sudah lebih dulu sempat saling memercikkan rasa yang sama, tetapi entah kenapa tidak jadi menyala.

“Kenapa aku menyuruhmu kembali padanya? Kapan?”
“Saat aku masih pendidikan, kamu  pernah menanyakan bagaimana hubunganku dengan dia dan menyuruhku untuk kembali berbaikan dengannya.” katanya dengan pasti, seolah memang benar seperti itu mauku sesuai keyakinannya.

“Dan aku menganggapnya itu sebagai caramu untuk menolakku, sehingga ketika hari itu aku pulang dari rumahmu, hatikupun sudah tercerai-berai..., hancur...” sambungnya.

Aku terdiam beberapa saat, sambil berusaha mengingat-ingat kapan aku menyuruhnya kembali pada Wati, sedangkan jelas-jelas saat itu aku sedang jalan dengannya.

“Oh itukah?! Ketika habis lebaran dan kusuruh kau menyambung lagi tali silaturahmi?" tanyaku.
"Aku memang menyuruhmu berbaikan lagi dengannya itu dalam arti kembali berteman, tidak menjadi musuh lagi, bukan menyuruhmu menikahinya!” semprotku.

Jadi itu alasannya tiba-tiba dia menghilang. Hhhfh. Tidak kusangka ternyata dia senaif itu, aku menghela nafas panjang.

Padahal beberapa waktu sebelumnya, ketika menunggu hasil ujian akhir keluar, kami sudah membuat janji.



(Makin terseret ke relung Lorong Waktu)

Waktu itu bersama beberapa orang teman, kami mengadakan perjalanan ke Kampung Baduy di Lebak. Maksudnya menunggu waktu bersejarah sambil mencoba mengukir kenangan, daripada bengong di rumah.

Sebuah perjalanan yang tidak dapat dikatakan mudah walaupun tidak sesulit mendaki gunung, karena trekking dari Ciboleger menuju Kampung Baduy Dalam harus ditempuh selama kurang lebih 4 jam dengan melalui hutan dan beberapa sungai dengan jembatan alam yang dibangun oleh masyarakat setempat secara tradisional. Juga harus melewati beberapa perkampungan Baduy Luar lebih dulu.

Jalan setapak berbatu yang terkadang licin, ditambah tanjakan-tanjakan curam yang sangat menguras tenaga, saat itu membuat dua hati kita semakin menyatu, seperti menyatunya dua tangan kita yang saling menggenggam.

Akhirnya, di ujung tanjakan tujuh puluh derajat yang panjangnya seolah tak berujung, yang berhasil kami lalui dengan jatuh bangun, dia berjanji suatu saat akan kembali menggenggam tanganku melewati Tanjakan Cinta itu. Aku percaya.



(Merangkak dari Lorong waktu)

“Kamu....,  mau mengajakku ke sana sekarang?” tanyaku ragu-ragu.
“Aku mau. Tapi tidak mungkin lagi ....” jawabnya lirih sambil menghela nafas panjang.

Kulihat wajahnya tampak pucat. Mungkin kelelahan.

“Terus terang, janjiku itu selalu menghantuiku selama berpuluh tahun ini... Tidak pernah hilang dari kepalaku. Tapi  kita kan tidak boleh menyesali takdir.  Hanya saja rasa bersalahku padamu belum juga pupus...  Rasa bersalah karena terlalu mudah mengumbar janji.” katanya.

“Perjalanan ini kuharap dapat mengurangi rasa bersalahku padamu, walaupun aku tahu kalau aku akan tampak egois karena hanya memikirkan perasaan bersalahku saja tanpa berusaha mencari tahu, apakah kamu bersedia memaafkanku karena harus memintamu untuk menghapus janji itu dari hatimu.” sambungnya sambil kembali menghela nafas panjang.

Apakah janji itu masih berlaku, ketika ikatan diantara kitapun bahkan sudah tidak jelas lagi, pikirku.

Aku terdiam mendengar kata-katanya yang diucapkan dengan berat. Kucoba mengaduk-aduk ke dasar hatiku, berusaha mencari tahu, seberapa banyak rasa yang masih tertinggal di sana...., dan seberapa banyak yang harus kulepas...

Sebuah rasa yang pernah ada memang tidak harus selalu bertahan dengan rasa yang sama selamanya.  

Semua dapat berubah sesuai beredarnya  matahari dan bergantinya masa. Perlu keajaiban cinta untuk dapat tetap kuat, tetapi bukan pula karena tidak cukup cinta bila semua tidak dapat bercahaya. Itu semua karena takdir bukan kita yang punya.

“Menjadi apapun aku sekarang, tapi hatiku masih hati manusia yang lemah dan tidak berdaya pada ketentuan Yang Maha Kuasa. Tapi aku juga masih menyimpan dosa, karena punya rasa yang tidak seharusnya tetap kujaga... “  katanya lagi.

Tak perlu berbalas kata. Aku hanya diam mendengarkannya. Kurasa kita memang masih punya sisa rasa yang sama. Itu saja.

“Jadi kau mau memaafkan aku kan? Tolong hapus janjiku padamu dulu. Please.” katanya lagi.

Aku mengangguk  tetap tanpa  sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Tetap juga belum dapat kusadari sepenuhnya apa yang sedang terjadi.

Sampai akhirnya menjelang maghrib kami tiba kembali di Bogor. Kuturunkan dia di depan Terminal Baranangsiang supaya segera dapat naik Bis Damri yang langsung mengantarnya ke Bandara Soetta, dan aku mengembalikan mobil sewaan di dekat stasiun kereta.

Setiba di rumah, kubuka HP ku yang seharian tidak kutengok karena bepergian dengannya. Aku takut salah bicara dan ketahuan teman yang lain bila  tiba-tiba menghubungi aku dan mengajak ngobrol.

Pertemuan kami ini hanya milik kami berdua saja.

Saat itu banyak sekali notice di WAG SMAku. Ada ratusan.
Kusentuh pelan. Klik.

[Teman-teman, mohon do’anya ya..., pesawat latih yang dibawa suamiku menuju Sulawesi Tengah sejak kemarin sore hilang kontak dengan Pangkalan] Tulis Wati di puncak percakapan.

Kulihat jam dikirimnya adalah tadi pagi, kira-kira jam yang sama ketika aku bertemu dengan dia.

Dadaku berguncang. Aku panik!

Kubaca lagi ke bawah. Kuscrol terus sampai kiriman percakapan terbaru. Jam dikirimnya percakapan terakhir adalah tadi sore.

[Pesawat yang dinaiki suamiku sudah ditemukan di daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Hancur. Belum ada berita lagi. Mohon do’a dan maaf dari semua teman-teman untuk suamiku ya...] kubaca kalimat yang ditulis Wati satu-satu. Kubaca ulang lagi. Lagi. Lagi.

Lantas, siapa yang kutemani seharian tadi ke Serang, ke Lebak? Tiba-tiba kurasakan mataku panas dan pedih sekali. Kupandang selendang dan kain Baduy yang kupegang dengan hati yang sakit.

Esoknya dengan menguatkan diri, kudatangi lagi penyewaan mobil kemarin. Karyawannya masih mengingatku. Kutanya apa kira-kira dia ingat bagaimana aku datang dan perawakan seseorang yang bersama denganku kemarin.

Jawabannya hampir membuatku jatuh pingsan, sebab katanya aku datang sendiri. Subhanallah.  Allahu Akbar. Allahu Akbar.



(Terlempar dari Lorong waktu)

Praaanggggg!!!

Tiba-tiba suara benda pecah membuyarkan lamunanku, memaksaku membuka mata.  

Kulihat Bu Soto sedang membersihkan pecahan mangkok di lantai yang mungkin tadi tersenggol ketika dia terkantuk-kantuk di kursinya.

Tanpa kusadari air mataku sudah membasahi pipi. Buru-buru kuhapus dengan punggung tanganku, tapi  ternyata malah membuatku tersedu.

Aku berjongkok, pura-pura membersihkan lantai yang sebenarnya tidak kenapa-napa. Hanya sekedar supaya aku dapat menyembunyikan air mata dan isakku.

Kusadari sedalam apa sesalmu pada janji itu. Aku merelakannya. Sudah kuhapus janji itu dari hatiku dan kumaafkan kamu dengan seluruh hatiku. Tak perlu risaukan janji itu lagi. Sungguh, aku tidak apa-apa. Tenanglah kau di sisiNya. Begitu bisikku di sela isak.

Sayup-sayup terdengar suara Tulus masih berteriak dari radio Bu Soto, membelah emosi.....

                Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
                Tapi kita dalam diorama
     Harusnya sisa masa kubuat indah menukar sejarah
     Tapi kita dalam diorama




                                      *** s e l e s a i***




***** Yang bikin cerpen sih aku, tapi kupakai nama Kk.
31 Oktober 2018


Cinta itu Anugerah


Cinta itu anugerah.

Betul nggak sih kalimat itu?
Seorang sahabat wa aku malam-malam, "Aku mau cerita nih..., tapi aku malu..." katanya.
"Kalau malu ya nggak usah cerita... " jawabku.
"Iya ya...., aku malu nih." katanya lagi.
"Ya udah, nggak usah cerita..." jawabku lagi.
"Bukan gituuu..., sekarang ini lho aku sedang merasa malu..." katanya.
"Oooh, terus..., malu sama siapa?" tanyaku.
"Ya malu sama diriku sendiri, malu sama anak-anakku, malu sama kamu, malu sama Allah, ya semuanya deh..."
"Koq kamu borong sendiri sih?" tanyaku.
"Iya, aku maluuuu banget, kenapa di saat usiaku sekarang, aku tiba-tiba merasa jatuh cinta lagi..." katanya.
"Padahal waktu suamiku masih ada, aku ngerasa laki-laki di dunia ini hanya suamiku saja yang kucintai, dan tidak ada yang lainnya." katanya lagi.
"Ya kan sekarang suamimu sudah nggak ada...." kataku.
"Maksudku, waktu itu aku ngerasa kalau cintaku ya hanya satu-satunya itu saja untuk suamiku, Kalau dia sudah tidak ada, ya cintakupun sudah habis...Makanya waktu suamiku dipanggil Allah dulu, aku merasa seluruh hatiku juga sudah mati..." katanya.
"Menurutku, cinta itu anugerah. Kita tidak pernah tahu kapan rasa cinta itu akan datang dan pergi dari hati kita. Kurasa hanya Allah saja yang dapat membuat hati kita seperti itu. Hanya Dia yang dapat membolak-balikkan hati manusia. Jadi kenapa harus malu? Kurasa sebaiknya kita harus bersyukur bahwa masih diberi kepercayaan untuk merasakan cinta itu lagi. Kurasa juga kalau Allah sedikit menegur dengan kenyataan ini, Allah menyindir dengan rasa cinta ini, bahwa seharusnya cinta kepada sesama manusia itu tidak usah mati-matian pada satu orang saja , toh ternyata bisa juga tumbuh pada yang lain, hehehe...."
"Bagaimana dengan kesetiaan?" tanyanya.
"Kenapa dengan kesetiaan? Apakah jatuh cinta lagi berarti tidak setia pada yang sudah meninggal?" jawabku.
"Sepertinya begitu..."
"Mana bisa dibilang begitu, buktinya rasa cinta pada suami/istri yang telah meninggal toh tetap ada dan tersimpan di hati?"
Obrolan kami berakhir di tengah malam karena sudah sama-sama mengantuk dengan kalimat-kalimatku yang sudah mulai mengacau, karena mata sudah perih sekali sehingga banyak salah pencet. Huruf a jadi s, huruf h jadi n, dan seterusnya....
"Makanya kali ini nanti, jangan berikan hatimu 100 persen ke padanya..., kasih 50 aja, 25 buat dirimu, 25 buat yang lain..., buat jaga-jaga supaya kalau terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan, kamu jatuhnya nggak dalam-dalam banget..., kamu masih punya cadangan buat tetap survive...." kataku.
"Hoiii, ini perasaan lho ya, bukan modal buatmu jualan teh poci..., enak aja bisa dibagi-bagi gitu..." katanya.
Waaah, nggak percaya dia.... (kalau perasaan bisa dibagi-bagi, ditahan, direm, ataupun digas poll seperti istilah anak jaman now)

*****Ini Status di FB tanggal 23 Nopember 2018

Rabu, 01 Agustus 2018

CERPEN Judul : KADALUARSA




Hati Lilian kacau, dingin dan membeku seperti di kutub. Bete tingkat apa ya, super duper dewa deh pokoknya. Geliat si jago merah yang menjilat ranting kayupun seakan tak mampu menghangatkannya. Hanya suara gemerataknya saja yang mengibaratkan gemeratak hati Lilian saat ini. Sedangkan semangat 45 yang semula mengiringi langkahnya mendaki Gunung Panderman hari ini juga sudah menguap entah ke mana. Wuzzz….

“Selow Lian…, nggak usah dimasukin hati. Namanya juga nggak sengaja. Jangan cemberut terus gitu dong!” Ardhi yang duduk tepat didepan Lilian di seberang api unggun mencoba menetralkan hati Lilian yang galau.
“Yups, kita nyanyi aja yukss….. “ Timpal Fahmi sambil mulai memetik senar gitarnya.
“Tadi tuh just kidding Lian…, fine kita baik-baik aja koq…, nggak ada yang sakit. Yekan guysssss?!” Via ikut bersuara.
“Siiipp…!!! Spesial pake telor!!” Jawab Fahmi. Ucup dan Lala mengacungkan jempolnya.

Lilian tetap diam meringkuk, memeluk lutut dengan pandangan ke arah api unggun. Berpura-pura dalam hati kalau asaplah yang memerihkan matanya sehingga mengakibatkan tetesan air dari sudutnya. Hiks. Kenapa semua orang membuatnya kesal dan sedih hari ini, pikirnya.  Lilian jadi merasa sendirian di dunia.

Sekarang enak aja mereka bilang bercanda, just kidding. Nggak mikirin gimana perasaanku lihat Ardhi dan Ucup tiba-tiba berkelojotan sambil berguling-guling karena sakit perut. Mata melotot dan terbalik ke atas. Menggeram-geram. Membuat Lilian panik dan menangis bombay kebingungan karena mereka habis minum kopi yang dibuatkannya. Huh, Lilian mendengus, gagal paham dengan mereka. Di tengah hutan koq bercandanya begituan.

Sementara itu, lagu balada yang didendangkan Fahmi menyeruak pekatnya malam di tengah hutan ini. Sebetulnya sih, sejujurnya, suasana malam jadi syahdu karenanya…., pelan-pelan mulai menghanyutkan, menghangatkan, dan membasahi hatinya. Begitu indah, menyatu dengan alam…., harmoni sekali. Sesekali yang lain juga ikut menimpali.

Itu kondisi kalau Lilian mau jujur. Tapi kan ceritanya sekarang Lilian sedang masygul, badmood, bete, jengkel, marah, kesal, de-el-el, maka diapun tetap mengeraskan hatinya. Berusaha menutup telinganya dari alunan lagu itu. Dasar keras kepala memang.

Kepada angin dan burung-burung, matahari bernyanyi. Tentang daun dan embun jatuh, sebelum langit terbuka.
Kepada angin dan burung-burung, kunyanyikan lagu ini. Tentang asmara yang biru, yang mewarnai lukisan di dinding. Sebuah hati tanpa pigura, tergantung sendiri dan berdebu.
Kepada angin dan burung-burung, mengerti irama ini. Seorang lelaki yang merindukan, matahari terus bernyanyi.
Apakah angin tetap bertiup, bersama jatuhnya daun. Apakah burung akan tetap terbang, di langit yang terbuka.

Betapapun kerasnya Lilian mengunci telinganya, alunan lagu itu tetap juga berhasil menerobos masuk. Sebuah lagu lawas tentang alam yang dinyanyikan Franky & Jane. Lagu jaman mamanya Lilian dulu, tapi tetap oke juga dinyanyikan di hutan dan gunung-gunung seperti sekarang. Daripada tiba-tiba di tengah hutan dengar lagu cadas. Bisa-bisa semua penghuni hutan ikut kerasukan deh.

“Assalamualaikum…” Tiba-tiba terdengar salam dari arah belakang.
“Waalaikum salam warohmatullahi wabarohkatuh……” Serentak semua menjawab. Lilian menengok ke arah belakang dan terpaku melihat dua orang cowok yang ada di belakangnya.

“Alhamdulillah, Allah Maha Besar, mengirimkan dokter ke tengah hutan di tengah malam begini…” Via berdiri dan langsung menggamit lengan salah seorang cowok tadi dan diajak duduk di depannya.
“Nih, Lian…., perhatiin ya…, biar kamu lega…” Kata Via.
“Dokter, tanda-tanda orang keracunan itu apa aja?” Tanya Via.
“Ini ada apa deh,… Baru juga datang...” Kata cowok yang dipanggil dokter itu sambil tertawa. Sementara teman yang tadi datang bersamanya, duduk di samping Lilian.
“Oke, kujelasin dikit ya…. Begini. Tadi tuh kita semua ga sengaja habis minum minuman sachet yang ternyata sudah kadaluarsa. Sekarang tolong periksa aku, ada tanda keracunan ga?”
“Keracunan? Ah, yang bener…. Lagian, ngapain juga kalian minum minuman kadaluarsa?”
“Dokter, kamu tadi dengar kalimatku ga sih? Kita ga sengaja. Ga-se-nga-ja.” Kata Via melotot.
“Sebentar dong, aku belum kenalan nih…” Katanya sambil menyalami semua satu-satu.
“Hallo, selamat malam semuanya, saya Dewa. Temannya Via dan Lilian…. Teman saya itu namanya Nizar…”
“Hai…”
“Haai…”
“Haii…”
“Hai…”

Ya, cowok itu adalah Dewa. Manusia setengah gila yang selama ini sering menemani hari-hari Lilian. Manusia yang sering mengajaknya tertawa dan berantem, berseru-seruan. Manusia yang dapat diajaknya bercerita apa saja, tentang teman kuliah, tentang mode, tentang politik, dan semua-mua, partner of crime deh.  Salah satu manusia yang tidak diharapkan Lilian pergi darinya, karena dia satu-satunya manusia yang punya detak irama sama dengannya. Sayangnya partneran mereka hanya sebatas itu dan Lilian juga tidak faham, kenapa ya?

Tapi sekarang mereka lagi berantem karena tadi pagi Dewa melarangnya naik ke Panderman tanpa alasan yang jelas, dan Lilian nekat tetap berangkat.
“Kali ini nggak usah pergi kenapa?” Balas Dewa pada chatt Lilian yang mengatakan kalau siang ini dia akan ke Gunung Panderman dengan teman-teman SMA nya dulu.
“Emang kenapa?” Tanya Lilian sambil mengirimkan emotion heran.
“Nggak usah aja….”
“Jangan aneh deh…” Lilian membalas ditambah emotion kesal tiga biji.
“Please…” Balas Dewa. Tapi hanya di read doang sama Lilian, dan dibiarkan saja sampai saat ini.

Beberapa chatt Dewa selanjutnya juga digratisin sama Lilian. Jengkel banget dia kalau Dewa tiba-tiba aneh seperti ini. Seingat Lilian, nggak cuma sekali dua deh tiba-tiba Dewa melarangnya melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas dan ujung-ujungnya mereka berantem. Nggak saling chatt atau ketemuan sampai berhari-hari.

“Tamu ga disuguhin minum nih?” Tanya Dewa pada Via, membuyarkan angan Lilian tentang Dewa.
“Nggak ada apa-apa di sini…, air putih doang mau?” Wajah Lilian kembali mengerut mendengar jawaban spontan Via.
“Kasihan amat sih. Aku ada banyak,…  di tenda tapi…”
“Pasang tenda di mana?! Sejak kapan di sini?” cerocos Via.
“Tuh, di situ…., nggak jauh koq, dan belum lama. Baru setengah jam lalu kita nyampe. Zar, tolong ambil logistic kita deh…” Dewa menengok ke Nizar.
“Nah, sambil nunggu Nizar, kita balik ke pokok permasalahan ya…. Buruan periksa aku…” kata Via. “La, sini La…, kita ngantri diperiksa…” Sambungnya sambil menggeser tempat duduknya.
“Haduuuh…., ada-ada aja sih… Kamu pusing ga?” Via menggeleng.
“Mual? Sakit perut?” Via tetap menggeleng.
“Yang lain?” Dewa melihat berkeliling. Semua menggeleng. Fahmi dan Ucup mengacungkan jempol tanda baik-baik saja.
“Ya udah, berarti ga papa…” Kata Dewa.
“Syudaaah?? Gitu ajaaa??? Kamu dokter beneran bukan sih?” Cecar Via.
“Hahaha…., belum sepenuhnya. Kan kamu tau sendiri kalau aku masih koas…” Jawab Dewa renyah.

Nizar datang sambil menyerahkan bungkusan kantong plastik dan menyerahkannya pada Via. Via menyerahkan ke Lala yang langsung bangkit ke tenda mengambil beberapa gelas. Untung ada air panas yang dari tadi dijerang di kompor portable. Kalau nggak kan bisa lama lagi tuh nunggu kopinya….

“Dengar sendiri kan Lian, kata pak dokter kita ga papa…. Kan sudah kubilang daritadi kalau kita semua baik-baik saja. Kamu sih belum apa-apa sudah mewek duluan…” Kata Via.
Mendengar itu Dewa langsung menengok ke arah Lilian dengan pandangan bertanya. Lilian menghindari pandangan Dewa. Melengos. Males. Pasti nanti diceramahin lagi, pikir Lilian. Ngapain juga harus jauh-jauh ke gunung kalau hanya untuk dengar ceramah Dewa.

“Ya untunglah kalian ga papa. Alhamdulillah. Kalau kenapa-napa kan aku yang masuk penjara 20 tahun…” Setelah beberapa jelang, akhirnya Lilian menjawab lirih. Semua yang mendengar kontan bercericit, bersuit-suit mendengar kata-kata Lilian yang lebay menyamakan kisah malam ini dengan kopi bersianida, hahaha…

“Gimana sih ceritanya koq kamu yang bisa masuk penjara Lian?” Tanya Nizar. Sejenak semua terdiam, hening, ----mungkin seperti di kuburan----, atau seolah sedang mengheningkan cipta, kemudian saling melempar pandang. Clap clap clap.
Kali ini petikan sinar gitar Fahmi mendendangkan lagu Perempuan dalam Pelukannya Payung Teduh. Melepas angan untuk berimajinasi romantis.

“Hmmmm, sebenarnya ga separah itulah. Ini agak lebay aja….” Akhirnya Ardhi yang buka suara.
“Ceritanya kan Lilian yang kebagian belanja logistic. Nah, entah di mana dia belanja, ternyata rata-rata semua minuman sachet yang dia beli tuh sudah kadaluarsa. Malah ada yang expirednya sejak 6 bulan yang lalu. Kita taunya tuh pas minum rasanya beda. Pas diperiksa bungkusnya. Taraaa….”

“Btw kita ga ada yang salahin Lilian koq, kita maklum kalau dia ga sengaja, cuma lain kali kalau belanja apa-apa, kita memang harus lebih teliti…., tapi dianya sudah baper duluan…”
“Dan tadi kita memang sempat acting buat godain Lilian, kita pura-pura gegulingan sakit perut, terus dianya panik, nangis-nangis… Terus ngambek deh sampai sekarang…”

Dewa mendengarkan cerita Ardhi sambil sesekali memandang ke arah Lilian. Yang dipandang tetap melengos. Nizar mengangguk-angguk macam burung hantu. Kukuk kukuk.

Tak lamapun Lala membagikan gelas kopinya. Alhamdulillah. Semua bersyukur dan berterimakasih karena akhirnya malam ini dapat minum air hangat berwarna, bukan air putih hangat doang.
“Nih, kopinya. Tapi ngomong-ngomong, itu tadi kan cappucino ya…. Koq ga ada granule-nya sih?” Tanyanya pada Nizar.
“Granule? Oh, itu sih tanya sama Dewa tuh…” Jawab Nizar.

Dewa tidak langsung menjawab, tapi beralih duduk ke samping Lilian, “Granule-nya ada di sini.” Katanya sambil menunjuk mug yang dari tadi digenggamnya.

“Oke semuanya…., sebetulnya ada yang ingin kusampaikan pada Lilian malam ini. Kalian teman-teman baiknya kan…, kalian saksiin ya…..” Lilian merasa sesuatu bergejolak di perutnya. Seperti ada yang berenang-renang dalam perutnya ----mungkin seekor naga atau katak----. Dadanya berdebar-debar seperti mau copot. Gludak gludak ----mungkin persis gejala keracunan----.
“Macam sinetron deh… ” Celetuk Via. Bawel memang dia ini. Fahmi menghentikan petikan gitarnya dan serius ikut mendengarkan.

“Aku kenal Lilian sudah cukup lama, hampir tiga tahun. Biasanya aku panggil dia A-lien sebab bagiku dia sama misteriusnya dengan A-lien yang dari sono tuh…” Katanya sambil menunjuk bintang. Lilian mengorek-orek tanah di depannya dengan sebatang ranting kecil membentuk lingkaran dan spiral-spiral yang nggak jelas.

“Lilian ini selalu berpenampilan strong, mandiri, galak, wonder woman, seolah bisa mengatasi dunia sendirian…, padahal seperti kalian tau sendiri kan kalau dia itu sebenarnya lemah, lembut dan baik hatinya, gampang mewek kayak tadi. Selama ini aku berusaha membiarkan dia dengan mengikuti saja apa maunya.”
“Tapi belakangan ini aku merasa nggak sanggup lagi.”
“Aku nggak sanggup bertahan…., untuk sekedar sebagai temannya, sahabatnya, terjebak dalam friendzone…..” Dug dug dug…, dada lilian semakin bertalu. Ada barisan drumband dalam dadanya.

“Terus, maunya gimana? Setelah tiga tahun, baru sekarang kamu mau tembak dia? Kadaluarsa juga deh lo…. Kayak kopi Lilian tadi. Bener-bener kalian sehati memang.” Kata Fahmi. Jrenggg!!! Fahmi menjentik senar gitarnya. OMG. Haduuuhhhh…..!!!
Ïya nih, muter-muter kelamaan..., to the point aja deh..." Samber Via.

Dewa tertawa, “Kuharap semuanya belum kadaluarsa…, makanya malam ini aku nekat nyusul kemari. Gimana A-lien, mulai sekarang maukah kau biarkan aku menjagamu, menjaga hatimu?”
“Kalau menurutmu semua ini masih belum kadaluarsa dan kamu mau menerimaku, tolong terima ini…” Kata Dewa sambil menyerahkan dan membuka tutup mug stainles yang dipegangnya.

Dasar kepo, Via ikutan meloncat dan melongok ke dalam mug itu. Tuing tuing!!
Dalam mug itu ada cappucino dengan tulisan ‘A-lien, I love You’ yang terbuat dari granule di atasnya. Kata ‘love’ nya adalah kepala ‘alien’ yang berbentuk hati dengan dua mata serangga yang besar.

“Oooh, so sweet…. Cepat ambil Lian, kalau tidak, aku nih yang ambil…” Seru Via. Ngarep dia.
Sambil menahan panas di pipi, Lilian menerima mug dari tangan Dewa. Kedua tangannya lemas dan agak bergetar ----mungkin gejala orang kena stroke seperti ini---- Kepalanya terasa ringan, sementara dadanya sudah mulai reda. Ya, Lilian mau. Lilian mau Dewa menjaga hatinya, benar-benar menjadi bagian hidupnya. Bukan hanya diluar lingkaran seperti selama ini. Baru sadar kalau Lilian memang butuh ini.

Tepuk tangan dan suitan usilpun menggema di tengah hutan yang gelap ini, menghangatkan hati Lilian, mencerahkan wajahnya seperti bintang-bintang di atas sana, sebelum akhirnya mereka satu demi satu beringsut masuk ke tenda masing-masing, meninggalkan sepasang hati yang sedang berbunga. Cupidpun menari-nari di atas kepala mereka.

“Boleh diminum?”Tanya Lilian sambil tersipu. Semua gejala penyakit menakutkan yang tadi menyerangnya tiba-tiba saja sudah menghilang ----mungkin takut pada dokter cinta Lilian, hehehe----.
Dewa mengangguk dan mengelus rambutnya, “Buat kamu…” Katanya.


                                    ***                  Selesai      ***



 Buat Tugas kuliah Kk



Kamis, 26 Juli 2018

Cerpen : Terbang Bersama Pelangi



Bekas hujan masih menyisakan titik-titik gerimis halus ketika aku dan Silva bergegas menuju parkiran selepas kelas English. Hawa dingin yang terbawa angin sesekali menyengat kulit dan membuatku sedikit menggigil. Langkah kamipun terkadang harus diselingi lompatan-lompatan kecil untuk menghindari beberapa genangan air.

Tiba-tiba Silva berhenti dan menarik lenganku, “Sebentar Mel, itu bagus sekali…. Jelas sekali!” Serunya sambil menunjuk ke sebuah arah.
“Kalau aku berdiri di sini, kelihatan sebagai backgroundku ga?” Katanya sambil berdiri membelakangi fenomena itu. Fenomena Alam yang memang sangat indah, yaitu pelangi.

Aku mengangguk tanpa suara, dan Silvapun memberikan hp-nya padaku minta difotoin beberapa angle foto yang memperlihatkan pelangi sebagai backgroundnya.
"Nggak jelas kalau pakai hp Sil...." Kataku sambil memperhatikan hasil foto.
“Nggak papa deh, asal kelihatan dikit aja sudah oke.... Sini, gantian kamu…” Katanya sambil mendorongku untuk bertukar posisi. Aku berdiri tanpa rasa. Sama sekali tidak antusias seperti Silva.
“Aduuuh, mukamu kenapa begini deh…, macam orang yang sudah tiga hari belum makan.” Komentar Silva ketika melihat hasil jepretan kamera hp-nya. Aku cuma mengangkat bahu.

Sampai di parkiran, kami berpisah dan menuju motor masing-masing. Silvapun tampak segera memakai jaket dan helmya, kemudian siap meluncur.
“Kamu duluan ya, aku mau duduk dulu sebentar di sini…” Kataku pada Silva yang berhenti di depanku. 
“Okeee…., sampai besok…..” Katanya sambil meluncur pergi.

Aku menghela nafas panjang sambil duduk di bangku di pinggir parkiran dan memandang pelangi di ujung cakarawala yang mulai memudar. Hatikupun seolah ikut meleleh melihatnya.

Biasanya fenomena alam yang indah akan membuat hati ikut menjadi indah, dan akan menciptakan suasana riang buat sekitarnya. Aura bahagia.
Sama. Dulupun aku juga begitu. Merasakan hati yang berbunga-bunga dan senang sekali ketika melihat pelangi. Seolah melihat tujuh bidadari cantik jelita sedang menari dan memainkan selendangnya yang berwarna-warni. Menebarkan aura kebahagiaan pada dunia.

Anganku melayang pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat aku sedang memeriksa DM di IG ku. Ada satu chatt yang membuatku tertarik.
“Hallo kak, boleh kenalan dong…., kenalan aja, kakak nggak usah folback IG ku juga ga papa, sebab IG ku tidak ada fotonya. IG kakak kan bagus, foto-fotonya menarik dan selalu menjaga semangatku setiap kali aku merasa down.”

Sebelum menjawabnya, aku mencoba melihat profilnya. Memang benar tidak ada foto-foto di sana, hanya ada sebuah foto dengan gambar botol infus yang juga menjadi gambar foto profilnya. Tidak ada keterangan lebih di biodatanya kecuali tulisan : Terbang Bersama Pelangi.

Beda sekali dengan ratusan foto-foto di IG ku yang penuh dengan aktifitas petualanganku di alam bebas, termasuk mendaki gunung di sana-sini dan pemandangan yang indah-indah.
“Hallo, aku senang kenalan dengan siapa aja koq…, dan aku juga senang sekali kalau kamu suka foto-fotoku, terimakasih.” Jawabku.

Awalnya memang seperti itu, hanya chatt basa-basi saja. Tapi karena tiap kali aku posting foto dan story dia selalu koment, maka obrolan kamipun jadi semakin akrab dan panjang.

Namanya Bayu, dan ternyata kami seumuran. Dia kuliah di salah satu Universitas di kota yang sama denganku. Anak tunggal, suka banget sama kucing. Dia bilang hobby tambahannya adalah memelototi foto-foto IG ku, sebab dengan melihat foto-foto itu, dia merasa ikut dalam foto itu.
“Serius. Kalau melihat foto-fotomu, aku seolah habis transfusi darah berliter-liter, sehingga semangat dan energiku jadi 100% full. Macam hp habis dicharge tuh…” Katanya.

Saat itu juga aku jadi tahu kenapa dia hanya memposting satu foto gambar infus dalam IG nya.
“Rata-rata orang kan memposting aktifitasnya dalam IG toh? Begitu juga dengan aku. Itu adalah aktifitas rutinku, berteman dengan jarum dan infus dalam sepanjang hidupku.” Katanya.

Sedih mendengar ceritanya, sebab ternyata Bayu mengidap kelainan darah sejak kecil. Dalam periode tertentu darahnya mengental dengan sendirinya, sehingga harus diinfus obat pengencer darah. Setelah itu harus transfusi darah. Dulu katanya masih amat jarang, kadang tidak tiap tahun sekali, tapi sejak tiga tahun terakhir ini, periodiknya semakin sering dan semakin sering.
“Aku sih sudah langganan di RS ini, mungkin seluruh dokter dan perawat di sini kenal sama aku, soalnya aku usil. Pernah tuh malam-malam perawat yang jaga kugangguin pakai kain sprey yang putih itu, eeh masak ada yang lari ... hahaha….”

Satu saat, tiba-tiba dia menghilang beberapa hari…., tidak ada chatt atau komennya sama sekali dalam storyku. Kucoba DM tapi tidak dibalas, dibacapun tidak. Ada apa dengannya? Pikirku. Terus terang aku jadi kehilangan juga. Kami sudah seperti sahabat, saling curhat dan support, walaupun kami belum pernah bertemu muka.
“Aku boleh jenguk kamu?” Tanyaku suatu ketika.
“Eit, jangan…! Nggak usah…, nanti kamu malah takut setelah ketemu aku dan nggak mau berteman sama aku lagi.” Jawabnya.
“Emangnya aku anak kecil?” Balasku.
“Pokoknya jangan ya…., nanti kalau aku minder lihat kamu secara nyata dan malah hilang semangat hidupku gimana?!”
“Anjir, kenapa ngomongmu serem gitu sih?”
Itulah kenapa aku dan Bayu belum pernah bertemu muka. Dia tidak mau. Malu. Sebab katanya sekarang dia sudah pakai kursi roda karena tubuhnya terlalu lemah.  Makin tampak betapa cemennya dia dibanding aku, katanya waktu itu.

Lain waktu, ketika dia menghilang lagi, “Áku masuk lagi, sudah tiga hari….. Tapi kali ini aku ngerasa agak beda deh, sejak hari pertama masuk, badanku rasanya sakit semua, lemas sampai mau pegang tab aja nggak sanggup. Mana hawanya dingin, hujan terus sih… , tempatmu hujan juga ga?” Tiba-tiba chattnya muncul lagi.
“Iya, sama…., di sini juga hujan…” Jawabku.
“Kamu punya cerita apa tentang hujan? Kamu pasti sering main hujan ya?” Tanyanya.
“Aku iri sama kamu, sebab sejak kecil aku tidak boleh kena hujan sama mamaku. Kalau kena hujan, takutnya nanti flu, terus merembet ke mana-mana….” 

Metabolisme tubuhnya yang kacau telah membuat fisiknya menjadi amat rentan terhadap berbagai macam penyakit. Sedih sekali kan.
“Tapi aku suka lihat pelangi. Kata nenekku dulu, Tuhan akan memanggil orang-orang yang baik kembali padaNya dengan naik pelangi…” Katanya.
“Apa iya? Bukannya yang naik pelangi itu hanya bidadari?” Tanyaku.
“Justru ituuu…., kan sudah kubilang kalau orang-orang baik aja yang akan naik pelangi. Kalau orangnya jahat, mana mau bidadarinya bawa dia kan? Hehehe…..”

Kekanakan? Childish? Mungkin iya. Mungkin semua orang akan menganggapnya begitu. Tapi tahukah mereka betapa jenuhnya hidup dari hari ke hari yang tidak pernah jauh dari urusan RS dan Transfusi darah? Pernahkah merasakan tubuh yang tidak dapat melakukan aktifitas selayaknya manusia normal seumur hidupnya? Di saat pemuda seumurannya menggeber motornya dan berbalap ria di jalanan seperti Rossy, dia hanya termangu di atas ranjang RS dengan jarum infus di lengan. Atau seperti aku misalnya, yang sudah melompat dari satu gunung ke gunung lainnya? Pernahkah merasakan kesunyian hatinya? Kesepiannya? Sedihnya?

Tapi Bayu ikhlas menerima itu semua, dan untuk bertahan, hal yang dapat dilakukannya hanyalah bermimpi serta hidup dalam dongeng. Hanya mimpinya itulah yang membuatnya tetap hidup, dan aku tidak mau menjadi salah satu orang yang menghancurkan mimpinya. Tidak apa-apa kalau dia mau menjadikan aku mimpinya asal dia tetap mau menerima transfusi darah dan tinggal beberapa hari di RS sampai kondisinya agak membaik. Sebab, dia pernah bercerita kalau dia merasa sudah sangat capek dan tidak mau dibawa ke RS ketika saatnya transfusi tiba. Tetapi karena tiba-tiba aku posting fotoku yang sedang di puncak Mahameru, dia jadi ingin hidup lagi karena dia merasa sedang berada di puncak Semeru bersamaku.

Kali ini, untuk kesekian kalinya dia menghilang lagi. Jaraknya memang semakin mendekat. Ini hanya kurang dari seminggu yang lalu dia masuk RS. Tidak ada chatt lagi. Ada perasaan sesak di hatiku. Kesedihan yang berbeda yang aku tidak tahu kenapa.

Kuhubungi temanku seorang Dokter Muda yang sedang koas di RS itu. Kutanyakan padanya, apakah mungkin mencari seorang pasien yang sedang dirawat, tapi tidak tahu di ruangan apa, kamar apa, dan sebagainya yang berhubungan dengan itu.
“Emang temanmu sakit apa?” Tanyanya. 
Kuceritakan semua yang kutahu tentang Bayu padanya, dan dia bersedia menolong mencarikan data-datanya.

“Bay, aku habis kuliah nih, sekarang aku mau ke RS, aku mau lihat kamu. Bodo amat kamu marah apa tidak…” aku mengirim chatt ku via DM dan segera menyiapkan motorku yang tadi sempat terkena hujan di parkiran. Aku yakin Bayu menghilang ini karena dia masuk RS lagi. Terserahlah, nanti dia marah padaku atau bagaimana, itu urusan nanti. Yang penting aku sekarang ingin memberikan semangat padanya.

Ah, hujan lagi. Aku memandang ke langit yang menggayut kelabu ketika akan keluar dari parkiran. Sepertinya sudah tiga kali hujan reda hujan reda sejak pagi ini. Bahkan mentaripun tampaknya tidak diberi kesempatan untuk mengintip.

Ketika sejenak   hujan tampak agak mereda, rintik-rintik, aku langsung memakai jas hujan dan memacu motorku menuju RS. Biarin pakai jas hujan, daripada tiba-tiba di tengah perjalanan deras lagi, pikirku. 
Hujan yang deras seharian ini meninggalkan beberapa genangan yang agak dalam alias banjir, sehingga membuat jalanan menjadi lumayan macet karena motor-motor yang berusaha menghindari genangan banyak menghabiskan ruas jalan.

Sampai di perempatan dekat RS, kemacetannya benar-benar luar biasa. Mobil dan motor semrawut saling berebut jalan. Bunyi klakson bersahutan membuat suasana semakin kacau.

Tapi ajaib, hujan tiba-tiba berhenti, awan hitam menghilang dan sang surya mengintip malu-malu. Pelangipun bertengger dengan indahnya. Membuat suasana kacau balau menjadi segar. Macetpun tidak terasa menjengkelkan lagi. Aku tersenyum melihat pelangi itu. Masya Allah indahnya.

Setelah melakukan perjuangan dan doa, akhirnya aku berhasil keluar dari kemacetan dan segera masuk ke area parkir RS. Temanku Ady sang DM yang sedang koas sudah menungguku di dekat pintu masuk.
“Ayo, kuantar kamu ke ruangannya…” Katanya ketika aku sudah berdiri di depannya. Aku mengangguk.
“Jadi kalian tuh belum pernah ketemu sekalipun?” Tanyanya disela-sela langkah kami.
“Belum, bahkan wajahnya seperti apapun aku sama sekali tidak tahu… Kalau dia sih sudah tau aku dari IG ku…” Jawabku sambil membuka hp, siapa tahu Bayu membalas chattku tadi. Tapi tidak ada.

Langkah kami sepertinya menuju wilayah pavilion di samping RS. Baik juga temanku ini, mau mencarikan informasi di mana Bayu dirawat. Hehehe, makasih ya…, kapan-kapan kutraktir ngopi deh.

Kami berhenti di depan sebuah kamar nomer 5. Pintunya terbuka. Sepi. Aku mengetuk pintu dan mencoba melongok ke dalam.
Tiba-tiba keluarlah seorang pemuda berambut ikal dan berkacamata.
“Selamat siang…” Sapaku.
“Selamat siang, mbak Melly ya…., mari masuk mbak…” Katanya. Aku kaget dia tahu namaku. Sebegitu ngetopnyakah aku?
“Mas ini…??” Tanyaku.
Tiba-tiba Ady menepuk lenganku, “Mel, kutinggal dulu ya…. Masih ada yang harus kukerjakan…” Katanya sambil menganggukkan kepalanya ke pemuda di depan kami ini.
“Oke…, makasih banyak ya Dy….” Aku melambaikan tanganku mengiringi kepergian Ady.
“Maaf, jadi mas ini?”  Aku mengulang lagi pertanyaanku.
“Saya Iqbal mbak, saya sepupunya Bayu…” Jawabnya.
“Oh oke,  jadi ini bener kamar Bayu kan, sekarang di mana dia?” Tanyaku berusaha melongok ke dalam kamar.

 Aku melihat berkeliling. Sebuah ranjang   kosong, seperangkat kursi tamu, di mejanya ada sebuah tab yang masih menyala, dan ada kursi roda di ujung kamar.
“Mbak Melly duduk dulu deh…, pasti macet ya tadi di jalan?” Katanya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Trimakasih.” Akupun duduk di salah satu kursi tamu itu.
“Kaget koq saya tahu mbak Melly?” Tanya Iqbal dengan wajah yang susah diceritakan. Berubah dari yang tadi penuh senyum, menjadi amburadul.

“Sebetulnya, dua minggu terakhir ini Bayu tidak pernah meninggalkan RS mbak, dan saya hampir tiap malam menemaninya dengan mamanya di sini.” Iqbal mulai bercerita tanpa kuminta.
“Saya juga tahu apa saja yang dilakukannya untuk membunuh rasa jenuhnya selama ini, termasuk chatt-chattnya dengan mbak Melly.”
“Kami sekeluarga juga merasa berterima kasih pada mbak Melly yang selama ini sudah mau jadi teman Bayu. Mbak benar-benar inspirasi buatnya…”
“Saya juga senang koq jadi temannya Bayu, tapi sekarang ini dia lagi ke mana?” Jawabku. Perasaanku mulai nggak enak nih.

Iqbal menunduk sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam.  Tangannya meremas rambutnya sendiri. “Bayu sudah pergi mbak. Baru saja. Tuhan memanggilnya kira-kira setengah jam yang lalu. Dia masih di ruang intensive sekarang. Saya tadi sedang membuka IG nya, ingin memberitahu mbak Melly ketika mbak Melly tiba-tiba mengetuk pintu….” Katanya dengan wajah memerah yang tiba-tiba sudah penuh air mata. Tampak sekali Iqbal berusaha menahan supaya tidak tersedu.    Hanya air mata yang begitu deras yang menggambarkan isi hatinya.
"Perjalanan Bayu sudah sampai mbak, dia sudah terlalu lelah selama ini...., kasihan dia. Walaupun berusaha bertahan, tapi dia sudah tidak kuat lagi... Mungkin ini yang terbaik untuknya. Tuhanpun mungkin sudah tidak tega melihat penderitaannya, jadi segera memanggilnya pulang." Kata-kata Iqbal yang beruntun menunjukkan betapa dia merasakan kesedihan yang amat sangat.

Kusenderkan tubuhku yang tiba-tiba lemas seolah tak bertulang, dan kupejamkan mataku, menahan tetes air yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Dadaku sesak. Jantungku berpacu cepat. Aku terlambat.

Setengah jam yang lalu itu adalah ketika aku sedang terjebak kemacetan di perempatan tadi, ketika tiba-tiba sang surya mengintip malu-malu dan meninggalkan jembatan bidadari ke surga. Pelangi yang tadi membuatku tersenyum dan menghapuskan kejengkelan hatiku karena terhadang macet.

Ah…., rupanya saat itulah Bayu pergi menghadapNya, dan ternyata Tuhan benar-benar mengirimkan bidadari untuk menjemputnya dengan pelangi. Berarti kamu memang orang baik Bay….., isakku tak tertahan lagi. Selamat jalan sahabatku…. Tuhanpun seolah mengabulkan permintaanmu yang tidak ingin aku menemuimu, sehingga memanggilmu segera untuk menghadapNya sebelum aku tiba.

Angin dingin kembali menyapu kulit, dan tetes air di ujung hidung membunyarkan lamunanku. 

Saat ini, pelangi di ujung mataku sudah semakin memudar. Selendang-selendang bidadari sudah tak nampak lagi, menyisakan butiran-butiran halus yang semakin membias. Pelangi kali ini sudah pergi, tapi ceritaku tentang pelangi bertambah satu, tidak hanya tentang tujuh bidadari saja, tetapi ada juga tentang Bayu di dalamnya. Tentang orang baik yang telah terbang bersama pelangi. 

Entah darimana tiba-tiba terdengar suara Monita Tahaela menyenandungkan kidung indah :
                       Kaupun tak lagi kembali
                       Sebuah janji terbentang di langit biru
                       Janji yang datang bersama pelangi
                       Angan-angan pilupun perlahan-lahan menghilang
                       Dan kabut sendupun berganti rindu
                       Sejak saat itu langit senja
                       Tak lagi sama...

Bersama pelangi juga akan selalu teriring doaku untukmu sahabat, semoga kau tenang dan bahagia di sisiNya.


                                                   Selesai


*** Cerpen ini untuk tugas kuliah Kakak
Bikinnya buru-buru, biar diedit sendiri sama dia.

Kamis, 04 Januari 2018

Selamat Berbahagia untuk Reza dan Khanza


Sering mendapat undangan Resepsi Pernikahan, dari yang tadinya undangan teman-teman yang menikah sampai akhirnya undangan pernikahan dari anak-anak teman.
Waktu berlalu begitu cepat, seolah baru kemarin masih pergi kuliah, ternyata sekarang anak yang pergi kuliah.

Ternyata pula, sudah tiga tahun lebih aku benar-benar meninggalkan Jakarta dan tidak bekerja lagi. Padahal seolah baru kemarin aku menjelajah Kabupaten Lebak dengan Reza untuk urusan pekerjaan (yang ternyata adalah Job terakhirku bekerja sebagai Interviewer di Nielsen, karena kemudian aku pindah ke Malang)
Reza adalah partner kerjaku di beberapa waktu terakhir sebelum aku keluar dari pekerjaanku. Usianya masih muda, hanya lebih tua kira-kira 4 atau 5 tahun dari anak pertamaku, yang kebetulan pula dia adalah keponakan dari rekan kerjaku juga.

Aku lupa awalnya job apa yang mempertemukan kami sehingga akhirnya jadi partner (yang cukup solid dan kompak, menurutku), tetapi aku ingat kalau dia sms aku dan menanyakan apakah aku sudah dapat teman jalan dan kalau belum, apa boleh dia jalan dengan aku.
Kebetulan saat itu aku memang belum mencari teman buat jalan bareng, jadi ya kuterima saja tawarannya daripada susah-susah cari teman lagi.

Oh ya, jenis pekerjaanku sebagai Interviewer ini mungkin tidak terlalu familiar bagi banyak orang karena aku sendiri juga baru tahu jenis pekerjaan dan cara bekerjanya setelah benar-benar masuk sebagai bagian di dalamnya.

Kantorku adalah Perusahaan Survey Marketting yang dalam operasionalnya membutuhkan banyak sekali petugas lapangan yang disebar ke seluruh wilayah target. Nah, untuk mengakomodir petugas lapangan inilah ada beberapa orang Koordinator yang membawahi beberapa orang Supervisor, dan SPV ini membawahi langsung beberapa orang Interviewer. Interviewer inilah yang melakukan riset di lapangan
.
Sepertinya (di kantorku dulu, nggak tahu kalau sekarang) masing-masing Koordinator punya spesifikasi dalam mengerjakan Job dari Klien.  Ada yang special job mudah, sedang sampai susah. Yang kebetulan aku di bawah Koordinator Spesial Job Susah. Susah di sini dalam artian tingkat kesulitan dalam mencari target responden.  Biasanya berhubungan dengan Instansi Pemerintah, BUMN, Bank, Maskapai, Saham, dan lain-lain, dan sasaran targetnya biasanya minimal Manager Perusahaan.

Kalau yang mudah, biasanya riset tentang popok bayi, mie instan, minuman kemasan, dan lain-lain,  dengan target ibu-ibu rumah tangga di suatu wilayah tertentu. Cari ibu-ibu rumah tangga tidak terlalu susah kan?

Nah, kalau yang kumaksud 'target' tadi adalah Calon Responden, yaitu orang-orang yang akan kita wawancarai untuk ditanya-tanya tanggapannya pada suatu produk tertentu dan kita melakukannya dengan metode tertentu pula.

Masing-masing Job biasanya diserahkan pada SPV untuk eksekusinya. SPV inilah yang akan membrieffing Interviewernya untuk mengerjakan di lapangan. Sifat Jobnyapun berbeda-beda. Ada yang bisa dikerjakan sendiri, ada pula yang harus berpartner. Interviewer yang baru-baru, biasanya akan mencari partner orang lama biar dapat selahnya dalam mencari responden. Sebab kalau belum terbiasa memang agak sulit juga mendapatkan responden. Pertama kurang percaya diri, atau rasa malu untuk menegur seseorang yang belum kenal dan meminta waktu pada orang tersebut untuk melakukan wawancara. Seringkali masyarakat yang kita temui banyak yang menganggap Interviewer sama dengan Sales yang menawarkan dagangan, sehingga baru melihat saja, kita belum ngomong apa-apa, sudah langsung diusir…. #syediiihhuhuhu

Kembali tentang Jobku yang terakhir dengan Reza, aku lupa nama Jobnya apa, tapi Responden kami adalah Pemilik Konter Penjual Pulsa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak Banten dengan alamat tujuan hanya Nama Konter dan Koordinat, tidak ada nama jalannya. Aku sudah pernah menuliskan pengalamanku waktu mengerjakan Job ini duluuu, tidak lama setelah selesai semua. https://aandiane.blogspot.co.id/

Sekarang tentang Reza. Reza sendiri addalah sosok anak muda yang tangguh, yang saat itupun masih berkuliah. Secara fisik, dia gagah, tinggi besar dan handsome. Kalau pas dapat responden gadis-gadis, seringkali kulihat mereka sering mencuri pandang pada Reza dan tersipu malu…. Tapi kalau pas respondennya ibu-ibu yang bawel dan ganjen, Reza suka digodain habis-habisan… Biasanya kubilang kalau dia anakku, badannya aja yang besar, tapi sebetulnya usianya masih muda banget, jadi ngegodanya jangan kelewatan.

Secara kepribadian, Reza anak yang baik, sopan, sayang sekali pada keluarga terutama ibunya, dan bertanggung jawab  serta taat sekali pada agamanya. Anak yang sholeh. Tidak pernah melewatkan 5 waktunya.

Kami partner yang cocok dalam banyak hal, termasuk saling curhat. Reza curhat semua hal tentang dirinya, pacarnya (saat itu), kuliahnya, rumahnya, dan lain-lain. Diapun pernah kuajak menemani aku ketika ada acara ketemuan dengan teman-temanku, sebab biasanya waktunya setelah aku dan Reza pulang dari wawancara responden. Jadi sambil lewat ya sekalian saja.

Pernah satu saat, aku baru datang dari Surabaya dan dijemput Reza karena rencananya kami akan langsung mencari responden. Dia menawarkan apa aku mau diantar untuk menemui suamiku di tempat kerjanya, yang saat itu masih bekerja di sekitar Jakarta Kota dan sudah beberapa waktu tidak ketemu.
Dia duduk menjauh dari aku dan suamiku, “Za, duduk sini aja. Kenapa jauh-jauh gitu…” tegurku.
“Nggak apa-apa bu, ibu ngobrol aja dulu sama bapak, kan sudah lama nggak ketemu pasti banyak yang mau disampaikan secara pribadi….” Jawabnya sambil tetap menjauh.

Ah, banyak sekali kenanganku selama jalan dengan Reza. Malah sering oleh teman-teman yang lain kami disebut pasangan menantu dan mertua, hehehe…. (teman-teman kerjaku tahu kalau aku punya anak gadis yang sudah kuliah)
“Mbak…, koq sendirian…., mantu ke mana mantu?” Tanya temanku kalau kebetulan melihat aku sendirian di kantor.
“Lagi sholat…” jawabku enteng.
“Ada yang lihat mantuku gak ya?” aku sendiri juga sering bertanya begitu kalau di kantor.

Kemudian aku beli rumah di Malang.  Walaupun saat itu sebetulnya aku masih ingin tetap kerja di Jakarta, tapi aku harus melepaskannya. Banyak yang harus kukerjakan di Malang, jadi semuanya harus kutinggalkan.
Barang-barangku di Jakarta juga Reza yang ngurusin, diambil dari tempat kostku dan diantar ke tempat adikku di Depok. Karena saat pulang dari Jakarta waktu itu, aku masih berencana untuk balik.

Ketika aku sudah tidak bekerja lagi di Jakarta, sesekali aku masih berkomunikasi dengan Reza. Satu waktu, dia mengirimkan foto seorang gadis cantik.
“Bu, saat ini saya lagi deket sama cewek ini, namanya Khanza panggilannya Icha, orang Surabaya, cantik kan?” katanya.
“Iya Za, cantik… kenal di mana?” tanyaku.
“Dia punya kios di Tanah Abang bu…” jawabnya.
Hohoho…., tahulah aku bagaimana cara mereka bisa kenalan. Pasti waktu Reza cari responden di Tanah Abang dan secara tidak sengaja nyangkut ke kios si Icha ini, pikirku.

Rupanya kedekatan mereka berlanjut, dan kemarin, tepat hari Selasa tanggal 2 januari 2018, aku menghadiri Resepsi Pernikahan Reza dan Khanza di Surabaya.
Selamat Menempuh Hidup Baru bagi Kalian berdua, semoga menjadi Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah.



Malang, 5 Januari 2018
#akukapanmantuya
#temankusudahbanyakyangmantu

#bahkanadayangsudahbercucu

Senin, 20 Februari 2017

Selamat Jalan Mbahtiku



Menurut KTP, yang tertulis adalah seperti ini:
Nama                       : Astoechah
TTL                         : Mojokerto, 30 Juni 1925

Kalau Nenekku ini lahir tahun 1925, artinya waktu kemarin tanggal 19 Februari 2017 beliau dipanggil Allah SWT, usianya adalah 92 tahun.

Tapi nenekku pernah bilang kalau tahun lalu usianya sudah 96 tahun. Aku sendiri tidak tahu bagaimana asal usulnya KTP itu, mungkin betul data itu dari nenekku sendiri  dan nenekku yang sudah lupa, tapi bisa juga petugas main tembak dan kira-kira karena orang dulu kan banyak yang tidak tahu persis tanggal serta tahun kelahirannya sendiri. (Aku sempat merasa surprise waktu melihat tanggal kelahirannya yang sama dengan anak pertamaku)

Ya sudahlah. Yang jelas, usia nenekku memang lumayan bonusnya hingga dapat mencapai sembilan puluh tahun lebih. Usia yang sering membuatnya sudah merasa capek karena tidak juga dipanggil oleh Allah.
“Ya Allah, kenapa malah mereka yang Kau panggil duluan?” Begitu kata nenekku waktu aku memberitahunya khabar duka tentang dipanggilnya adik-adik iparku, juga beberapa teman dan tetangga yang sudah mendahului.

Nenekku memang mengalami hidup di Jaman Belanda, Jaman Jepang, dan Jaman Kemerdekaan. Tiga masa kehidupan yang berbeda-beda dan dijalaninya dengan berbeda-beda pula.

Menurut ceritanya dulu padaku, waktu di Jaman Belanda, nenekku ini pernah ikut pamannya di Jombang sebentar dan bersekolah di Sekolah Rakyat. Masa mudanya terbilang jutek katanya.
“Dulu waktu masih sekolah, Mbah judes banget, tapi malah banyak teman laki-laki yang suka gangguin…” Cerita nenekku, “Tapi Mbah nggak mau ngeladenin… Contohnya nih, kalau pulang sekolah hujan, Mbah kan pakai payung…., nah itu teman laki-laki suka ada yang pingin numpang berpayung bareng sama Mbah…”
“Terus?” Tanyaku.
“Mbah marahin itu teman tadi, terus tutup aja payungnya dan lari pulang sambil hujan-hujanan…. Biarin aja kehujanan daripada ditumpangi….” Katanya sambil tergelak. Aku ikut tertawa membayangkan bahwa mungkin teman laki-lakinya itu naksir dan pakai modus numpang berpayung, hahaha…..

Kemudian nenekku dijodohkan dengan anak seorang terpandang di kampungnya, tapi tidak bertahan lama dan bercerai karena menurut nenekku, sifat laki-laki itu tidak baik, suka main perempuan, berjudi dan mabuk-mabukan. Dari perkawinan ini nenekku mendapatkan seorang anak laki-laki.
(Ternyata sejak jaman dulu hingga sekarang, perilaku yang namanya anak orang terpandang atau istilahnya berpunya, kebanyakan nggak jauh beda ya…., rata-rata mirip, hehehe….)

Dengan menyandang title janda muda, nenekku bekerja di Pabrik Gula sebagai Mandor pabrik. Aku lupa istilahnya apa, tapi kata nenekku  waktu itu Jaman Jepang.

Ada juga orang Jepang yang suka padanya, tapi nenekku tidak mau, keluar kerja, dan malah dapat kenalan Jejaka Karyawan Kantor Pajak yang kemudian menikah dengannya.

Kurasa masa mudanya dulu nenekku pasti cantik ya, sebab bagaikan kembang, disekelilingnya banyak lebah yang ingin menghisap sari madunya.

Dan Karyawan Kantor Pajak yang berhasil menarik hatinya tadi adalah seorang jejaka lulusan Pondok Pesantren asal Kediri yang sedang ditugaskan di Mojokerto. Namanya Damari Boedi Wijono. Beliau adalah kakekku.

Dari pernikahan ini, Kakek dan Nenekku hanya mempunyai seorang anak perempuan yaitu Ibuku yang lahir di Mojokerto tahun 1945, tapi besar di Surabaya karena kemudian kakekku mendapat tugas di Surabaya.

Tinggal di Surabaya, nenekku mulai aktif di Kelompok Karawitan yang jaman dulu pentasnya selain di kondangan adalah di Radio (RRI) dan (akhirnya ada)  TVRI, sehingga tidak mau mengikuti kakekku yang sebagai pegawai negri harus berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lainnya.

Nenekku tetap tinggal di Surabaya dan kakekku yang setiap minggu sekali atau sebulan sekali pulang ke Surabaya.

Darah seni nenekku lumayan kental, karena  selain suka bermain music (karawitan), dulunya nenekku juga sering membatik. Nenekku bisa menggambar dan mendongeng. Malah kadang menulis puisi, ungkapan hatinya...



Aku ingat, waktu kecil nenekku pernah bercerita bahwa dulunya tuyul itu tidak suka duit. Mereka sukanya bermain-main saja sepanjang hari. Kalau di hutan, mereka sering bermain di kubangan air yang ada banyak ikan atau udangnya. (??? Nyambung gak sih? Di hutan, tapi ada kubangan air yang ada ikan atau udangnya?.... entahlah, mungkin aku lupa itu sebetulnya bukan di hutan melainkan pinggir pantai, atau memang jaman dulu udang bisa juga tiba-tiba ada di tengah hutan yang mungkin memang dibawa para tuyul itu dari pantai….).

Kemudian ada manusia yang memergoki para tuyul liar itu yang akhirnya disuruh nyolong duit tetangganya dengan imbalan-imbalan tertentu. (Kalau dari cerita ini, seolah manusia yang jahat dan mengkaryakan para tuyul liar tidak berdosa. Hah????? Iya nggak sih?)

Ada lagi cerita tentang seekor sapi betina yang tidak sengaja meminum air seni Seorang Raja yang sedang berburu di hutan dan kemudian hamil. Sapi itu kemudian melahirkan 4 orang anak perempuan manusia yang secara tidak sengaja kemudian ditemukan oleh Sang raja yang kembali berburu di hutan itu.

Keempat anak perempuan itu dibesarkan di Kerajaan dan oleh Sang raja diberi nama seperti bagian-bagian buah kelapa (aku lupa apa saja, yang kuingat cuma satu ‘Untir-untiran’).

Suatu saat, ketika para anaknya sudah besar, si sapi datang ke Kerajaan dan minta minum pada anak perempuan pertama serta mengatakan kalau dialah ibunya. Tapi anak perempuan pertama tidak mau memberinya minum ataupun mengakui sapi itu sebagai ibu dan malah melempar kaki si sapi dengan sebuah alat pemintal (kayu) sampai si sapi pincang satu.

Ke tempat anak kedua juga begitu, akibatnya kaki pincang dua.
Ke tempat anak ketiga sama, kaki sapi itupun menjadi pincang tiga.
Ke tempat anak ke empat (bungsu) sambil menggulingkan badannya karena si sapi tidak bisa jalan lagi dengan kaki pincang tiga, barulah si sapi diakui oleh si bungsu dengan bercucuran air mata.

Selanjutnyaa…………………………………………………………………………………………………………………………., jangan marah ya…., aku lupa cerita selanjutnya gimana…., sedang nenekku kemarin sudah meninggal dunia…., gimana dong?????

Sungguh, aku selalu lupa menanyakan akhir cerita itu pada nenekku, sebab biasanya kalau bertemu, kami hanya bercerita tentang masa lalu, masa kecil cucu-cucunya, bukan tentang dongeng.

Bercerita tentang masa lalu kami, nenekku diusia rentanya itu ternyata masih ingat persis. Ingatannya berkurang untuk hal-hal sekarang saja. Tentang apa yang baru dilakukan dan baru dikatakannya. Misalnya, tadi baru mengatakan A, sekarang diulang lagi. Atau, tadi masak air, terus ditinggal tidur. Pendengarannya juga mulai berkurang, jadi kalau bicara dengannya harus dari depan supaya nenekku bisa membaca gerak bibir kita.

Kemarin pagi nenekku ditemukan adik perempuanku sudah meninggal ketika adikku bermaksud akan mengganti popoknya. Selama tiga hari terakhir, katanya nenekku sudah  tidak mau makan, hanya minta minum saja sedikit. Sudah tidak banyak permintaan seperti biasanya yang kadang minta mangga, minta bubur, dan lain-lain.

Kondisi seperti ini sudah sering terjadi, nenekku lemah dan sudah tidak berdaya. Tetapi tiba-tiba saja malamnya bangun sendiri, berjalan ke dapur sendiri, dan besoknya segar lagi.

Siang hari kemarinnya  nenekku hanya istighfar saja. Malamnya tidur seperti biasa, dan akhirnya ditemukan adikku pagi itu. Rupanya kali ini Allah sudah benar-benar memanggilnya pulang. Memberinya tiket yang selama ini sudah dinantikannya.

Aku mengikhlaskan nenekku dipanggil oleh Allah SWT. Tidak hanya aku, kurasa semua keluargaku juga begitu. Adikku bilang, dia sudah tidak tega melihat kondisi nenekku terakhir yang pasti menderita.  Inna Lillahi wa Inna Illaihi Roji’un. Semua kita memang akan kembali padaNya.

Tapi aku sedih.
Aku sedih sebab tidak ikut merawat nenekku di hari-hari terakhirnya. Adik perempuanku yang merawat nenekku selama ini, dibantu adik iparku yang belum lama ini datang dari Jakarta. Trimakasih yang banyak pada mereka berdua untuk waktu dan keikhlasan mereka yang belum tentu kupunya.

Aku memang bukan cucu yang baik, padahal nenekku amat menyayangiku. Aku adalah cucu pertamanya. Semua orang tahu, kasih sayang pada cucu pertama adalah melebihi sayang pada anak sendiri. Betul nggak?

Maafkan aku tidak dapat menjadi cucu yang baik buatmu Mbah….. Terlalu banyak alasan tidak perlu yang  mungkin dapat membuatku seperti ini. Selamat jalan, semoga Allah melapangkan jalanmu, menerima semua amal ibadahmu selama di dunia, mengampuni dosa-dosamu, dan memberikanmu tempat yang layak di sisiNya. Aamiin.

Al-Fatehah  dan Yassin buatmu mbahtiku…



Malang, 20 Februari 2017