Selasa, 28 Juli 2020

Cerpen : Istri Kedua


Cerpen            :  ISTRI KEDUA
Oleh                :  Aan Diane



         Kupandang laki-laki yang sedang duduk di depanku ini dengan berbagai macam rasa di dalam dadaku. Bergantian dengan berbagai analisa logis dari otakku yang aku tidak tahu akhirnya mengeluarkan sorot mata bagaimana.

     “Tolong kamu pikirkan lagi dengan tenang tawaranku tadi ya...., kuberi waktu sampai bulan depan, sekarang aku pulang dulu. Assalamualaikum...... ” Katanya sambil bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan.

     Dia, laki-laki itu adalah Anthony yang secara teori adalah boss-ku, pemilik Rumah Makan tempatku bekerja sebagai cashier merangkap waitress, merangkap tukang kebun, merangkap penjaga rumah, dan lain-lain, karena aku memang tinggal di rumah ini.

        Tetapi secara harafiah, sebetulnya dia adalah teman mainku sejak kecil. Usianya terpaut dua atau tiga tahun di atasku. Kami dulu bertetangga di Surabaya. Sampai akhirnya perjalanan hidup mempertemukan kami kembali di Kota Malang ini, sedangkan saat ini dia dan keluarganya tinggal di Jakarta. Anaknya hanya satu, seumuran anakku yang bungsu.

      Ingatanku melayang pada saat itu, saat seorang teman, namanya Mas Beni, menawarkan pekerjaan sebagai penjaga rumah yang akan difungsikan sebagai Rumah Makan. Tentu saja aku langsung menerima tawarannya tanpa berpikir panjang lagi, mengingat bulan depan aku sudah harus mencari kontrakan baru karena rumah yang kutempati tidak akan dikontrakkan lagi oleh pemiliknya. Bukankah ini namanya pucuk dicinta ulampun tiba?

       “Tapi mungkin tugasmu nanti agak berat lho Win. Sebab juga harus bantu-bantu di restonya.” Katanya.

       “No problem! Yang penting aku dan dua orang anakku dapat menumpah berteduh.” Jawabku senang. Apalah artinya sekedar beberes rumah dan bantu-bantu di resto kalau aku dapat tinggal gratis di rumah itu, dan malah dapat gaji juga, pikirku.

     Aku percaya kalau Allah akan memudahkan hidup umatnya asalkan umat itu sendiri mau berusaha. Dan kurasa, usahaku selama ini juga sudah tidak kira-kira. Semua hal yang dapat kulakukan, pasti akan kulakukan demi aku dapat menyambung hidup kami bertiga. Ibarat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, semua sudah kulakukan.

       Tidak sampai seminggu, aku dan anak-anakkupun pindah ke sebuah rumah di Sawojajar. Ke rumah itu, yang akan dijadikan restoran. Alhamdulillah. Kedua anakku senang sekali melihat ‘rumah baru’ kami.

       Rumahnya adalah bangunan semi modern yang terletak di pojokan dengan luas tanah sekitar enam ratus meter persegi. Rumah yang sangat mewah bila dibandingkan dengan rumah tipe 21 yang biasa kukontrak beberapa tahun terakhir ini.

       Konsep rumah makannya nanti adalah ‘Rumah Keluarga’. Jadi bentuk rumah tinggal ini tidak dirombak lagi untuk dikondisikan sebagai restoran, tetapi restoran itulah yang akan masuk ke dalam rumah tinggal ini sehingga seolah pelanggan sedang makan di rumahnya sendiri. Sangat kekeluargaan sekali.

       Begitu masuk ke halaman, ada beberapa perangkat meja kursi di teras yang dapat dipakai pelanggan sambil menikmati taman depan yang ditanami aneka tanaman bunga. Masuk ke dalam rumah, juga akan ada beberapa perangkat sofa bagi pelanggan yang ingin suasana hangat di ruang tamu. Begitu juga di bagian yang lain yang seolah ruang keluarga, sampai halaman belakang rumah yang dihiasi berbagai bonsai cantik di tepi kolam ikan kecil.

        Aku sendiri tinggal di pavilyun di ujung halaman belakang. Di samping  kolam ikan  dengan airnya yang selalu mengericik turun dari karang tebing buatan. Ada jembatan kecil yang membelah kolam ini untuk menuju pavilyunku.

       “Semua persiapan sudah matang. Karyawan juga sudah ready. Kita tinggal menunggu kapan pemiliknya sempat datang dari Jakarta dan meresmikan pembukaan Rumah Makan ini Win...” Kata Mas Beni padaku suatu hari.

          Saat itulah aku baru tahu kalau bukan Mas Beni pemilik rumah makan ini, tapi seseorang yang tinggal di Jakarta, yang Mas Beni bilang adalah sahabatnya sejak kuliah di UI. Mas Beni sendiri adalah teman rahimahullah suamiku yang meninggal tiga tahun lalu, yang selama ini banyak sekali membantuku.

        Hari itupun tiba. Rencana dan acara sudah disusun Mas Beni sedemikian rupa karena Pemilik Rumah Makan akan datang untuk launching.

        Para karyawan yang sudah direkrut dan dipersiapkan selama seminggu oleh Mas Beni, tampak berjajar menyambut kedatangan Boss yang ditemani Mas Beni mulai menyalami semua karyawannya satu persatu. Aku sendiri berdiri paling ujung sesuai tugasku sebagai penjaga rumah, sehingga sosok Boss tidak begitu tampak jelas tertutup tubuh tambur Chef Johan di ujung sana. Tapi kelihatannya sih orangnya ramah dan tidak jaim, sebab sejak karyawan pertama, kudengar sepertinya semua sempat diajak ngobrol, bercanda, dan ditanya-tanya secara personal.

        Tiba giliranku, akupun berusaha tersenyum semanis mungkin sebagai ungkapan terimakasih karena sudah diberi kesempatan tinggal dan bekerja di rumah ini.

        Tuing!! Kedua tangan kami mengambang di udara, tertahan sesaat ketika kami bertemu pandang. Kami sama-sama terkejut. Merasa tidak asing.

            “Winny?”
            “Mas Tony?” Jantungku seolah ingin meloncat keluar.
          “Ini benar kamu Winny yang dulu suka ingusan sampai meleler-leler itu?” Tanyanya sambil menjabat tanganku dan memandang lekat padaku dengan senyum lebar di bibirnya.
           “Ah, Mas Tony ngaco. Aku memang Winny, tapi aku nggak pernah ingusan sampai meleler-leler gitu...” Jawabku dengan pipi memerah. Tentu saja wajahnya familiar sekali. Ternyata kami sudah saling mengenal.
        “Hahahahaaaa......, baiklah-baiklah...., hayuk kita ngobrol dulu yuk....!! Yang lain silahkan lanjutkan pekerjaan masing-masing ya....” Mas Tony memberikan instruksi pertamanya sebagai Boss.
         “Siap Pak!” Jawab mereka serentak dan kemudian berpencar kembali ke posnya masing-masing.

           Mas Beni mengajak kami masuk ke sebuah ruangan yang memang dipersiapkan sebagai kantor untuk Boss bila sewaktu-waktu datang seperti kali ini. Sebuah ruangan dengan nuansa hitam putih di dalamnya. Sangat elegan tapi tetap hangat.

               “Gimana. Gimana khabarmu Win? Anakmu berapa sekarang, sudah kelas berapa...., Om dan Tante tinggal di mana sekarang?” Mas Tony langsung memberondongku dengan pertanyaannya tentang keluargaku. Kami memang sudah terpisah cukup lama, sejak aku kelas lima SD dan Mas Tony masuk SMP, saat ayah Mas Tony yang tentara itu ditugaskan di Jakarta.

             Kalau Mas Tony ini adalah orang yang sama dengan orang yang kukenal sejak kecil, tentu saja sedikit banyak aku tahu siapa dia. Tapi aku sungguh tidak tahu kalau nama Mas Tony adalah singkatan dari Anthony seperti yang sering disebut-sebut oleh Mas Beni. Dunia memang sempit, walaupun kita hanyalah setitik debu yang tidak berarti.

              Karena history antara aku dan Mas Tony itulah akhirnya semua urusan tentang rumah makan diserahkan ‘byuk’ oleh Mas Beni padaku. Alasannya karena aku bukan orang lain buat Mas Tony sehingga dia tidak perlu khawatir apapun dan dapat lebih fokus mengurus kerjaannya sendiri.  Mau tidak mau kontakku dengan Mas Tonypun jadi semakin intens dalam arti  hubungan pekerjaan.

          Hampir tiap hari kami bertukar informasi, walaupun Mas Tony sendiri nyaris tidak pernah memberiku perintah ini dan itu tentang pengelolaan rumah makan ini. Semua terserah padaku. Aku tinggal laporan saja bagaimana hasilnya. Diapun hanya datang dua atau tiga kali sebulan. Tidak pernah menginap, dan langsung balik ke Jakarta hari itu juga.

             Alhamdulillah. Aku sungguh bersyukur karena dipertemukan kembali dengan Mas Tony yang ternyata adalah tangan Allah untuk menolongku di saat kesulitan ekonomi seperti ini. Anak-anakku dapat bersekolah dan makan dengan baik. Akupun tidak selalu memutar otakku seperti gasing untuk sekedar mencari sesuap nasi dan membayar kontrakan rumah.

            Selama kurang lebih satu tahun rumah makan ini beroperasi, kalau tidak salah, istri Mas Tony juga hanya datang satu kali saja. Itupun nggak ngapa-ngapain. Hanya makan, berkeliling rumah sebentar. Sudah. Tidak berkomentar apapun. Sepertinya tidak terlalu interest dengan keberadaan rumah makan ini. Ada oke, nggak adapun nggak pengaruh buatnya.

          Penampilan istri Mas Tony ini sungguh membuat perempuan lain iri melihatnya. Tinggi, cantik, anggun, seperti aktris sinetron. Bajunya bagus, rambutnyapun terawat indah. Katanya sih, Mbak Vera ini juga pebisnis seperti Mas Tony, bukan artis.

Waaah, yang bukan artis saja penampilannya begini ya...., apalagi yang artis. Pasti lebih cling, pikirku sambil melihat diriku sendiri yang hanya memakai celana jeans dengan kemeja flanel kotak-kotak dan sebuah kerudung di kepalaku. Kalau disandingkan, seperti bunga anggrek bulan dan kembang pletek’an yang warna ungu itu.

            Nggak ada khabar sebelumnya, tadi siang Mas Tony tiba-tiba datang. Katanya mampir setelah kemarin ada urusan kerjaan di Bali. Aku sendiri tidak tahu pasti, sebenarnya Mas Tony ini kerjaannya apa dan tidak pernah menanyakan padanya. Hanya saja kalau tidak salah Mas Beni pernah bilang kalau kerjaan Mas Tony ada hubungannya dengan Property.

            “Win...., ada yang mau kubicakan denganmu....” Katanya setelah menghirup cappucino yang kusuguhkan padanya.

            “Ada apa Mas, sepertinya koq serius?” Tanyaku deg-degan.
       
        Otakkupun tidak dapat kucegah untuk mulai menerka-nerka, apa yang kira-kira akan dibicarakan Mas Tony. Apakah rumah makan dianggap rugi dan akan ditutup? Atau dia tidak puas dengan kerjaku mengelola rumah makan ini dan akan menggantinya dengan orang lain yang lebih proffesional? Aduuuh...., kepalaku serasa ingin meledak. Akupun tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalaku.

          “Kenapa Win..., memangnya kamu tahu aku mau ngomong apa. Kok raut wajahmu seperti itu?” Mas Tony tersenyum.
            “Enggaklah. Emangnya aku dukun?” Jawabku dengan pipi panas sambil memegang kepalaku dengan kedua tanganku.
            “Kamu sakit kepala?” Tanyanya.
            “Nggak...., nggak apa-apa.....” Aku jadi salah tingkah jadinya.
            “Aku ingin melamarmu Win. Maukah kamu jadi istriku?” Katanya tenang, langsung, tanpa basa-basi. Jhedhheeerrr!!!
           “Hah?! Apa Mas?......” Mungkin aku salah dengar, atau mungkin aku sedang berkhayal, pikirku setengah shock. Sementara di dalam dadaku, tiba-tiba saja seolah sedang ada parade drumband.
            “Maukah kamu menikah denganku?” Katanya lagi.

           Ternyata telingaku tidak bocor. Apa yang kudengar tadi benar, tidak meleset. Aku nggak salah. Dia benar-benar mengucapkan kalimat itu. Mas Tony melamarku.

            “Menikah Mas?” Tanyaku lirih.
            “Iya, jadi istri keduaku...” Jawabnya.

            Dhuarrrr!!! Sekali lagi seolah ada yang meledak di dadaku.  Jadi istri kedua?!!! Aku terhenyak.

            Kalimat itu selama ini tidak pernah ada dalam kamusku. Aku tidak pernah menyimpan kalimat itu sebentarpun dalam memoriku. Aku selalu membuangnya lewat kuping kiri setelah dia masuk dari kuping kanan. Pokoknya aku selalu berusaha berada di luar garis untuk semua hal yang berhubungan dengan kalimat itu.

                 “Ja-di-Is-tri-ke-du-a...?” Aku terbata berusaha mengulang kalimat itu.
            “Iya, jadi istri keduaku. Tidak perlu kamu jawab sekarang deh. Pikirkan dulu. Aku hanya memikirkan masa depanmu dengan anak-anakmu kalau tiba-tiba aku tidak ada....” katanya.
           “Kenapa tiba-tiba ngomong gitu sih?” Kataku layu. Tulangku sepertinya sudah berubah menjadi agar-agar.
            “Karena tadi pagi ada temanku yang meninggal dunia, anaknya masih kecil-kecil dan aku langsung ingat kamu.” Katanya.

               Mas Tony bilang, dia ingin menikahiku untuk menjamin masa depanku dengan anak-anakku nanti. Kalau hanya mengandalkan pekerjaan di rumah makan ini saja yang sewaktu-waktu mungkin bisa tutup karena rugi atau alasan lain, bagaimana nanti pendidikan anak-anakku yang saat ini bahkan masih di SMP. Kalau jadi istrinya kan beda, dia dapat mendukungku seratus persen. Membantu dengan tanpa rasa canggung.

            “Tapi, jadi istri kedua itu....” Aku tidak berhasil meneruskan kalimatku. Aku menelan ludah dengan susah payah.
              “Identik dengan pelakor? Itu hanya stigma masyarakat Win...” Katanya.
        “Orang lain bisanya hanya menjudge saja tanpa ingin tahu apa alasan yang sesungguhnya. Lagian aku nggak merasa kamu merebutku dari siapapun koq. Aku tulus ingin menjagamu. Kamu juga tidak pernah berusaha merayuku kan. Lama ini hubungan kita baik-baik saja. Pertemuan kita ini kalau boleh dibilang takdir, ya mungkin takdir. Allah yang merencanakan untuk kita seperti ini. Bahkan menurut syariat agama juga boleh kan.”
               “Istri Mas Tony gimana?” Tanyaku.
               “Gimana apanya, itu urusanku...” Jawabnya.
            “Bagaimana dengan cinta?” Tanyaku lagi. Pernikahan harus ada cinta. Aku masih terlalu idealis untuk yang satu ini. Tidak bisa ditawar.

                Mas Tony tidak menjawab dan hanya tersenyum memandangku.

             Tentu saja kata-kata Mas Tony tadi tidak dapat begitu saja masuk dengan mudah dan kuterima dalam otakku. Berhari-hari aku jadi tidak enak makan dan minum, bahkan setiap akan tidur, otakku kembali memutar ulang permintaan Mas Tony padaku.

   Aku harus berusaha mencari referensi lain tentang ini. Tentang apa yang saat ini sedang kuhadapi. Karena bermimpipun aku tidak pernah membayangkan akan menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan pertama. Aku mau jadi satu-satunya. Aku memang egois, tidak mau berbagi. Ini tentang perasaan.

    Menurut syariat agama boleh katanya, memangnya semudah itu? Memangnya tidak perlu pertimbangan lain selain syariat agama? Kita kan tidak hidup dalam masyarakat yang homogen. Di sekitar kita masih banyak hal sosial lain yang harus dipertimbangkan juga.

                  Bayangkan! Jadi istri kedua?

      Coba kukupas satu-satu ya...., selingkuh? Pelakor? Dan cinta..., di mana cinta?

    Kalau selingkuh, tentu saja hal ini harus kutentang keras. Kami tidak pernah selingkuh. Hubunganku selama ini murni sebagai karyawan dan atasan. Begitu juga dengan Pelakor. Sungguh selama ini aku tidak pernah berpikir untuk merebutnya dari Mbak Vera.

   Sekarang tentang cinta, apakah Mas Tony mencintaiku? Apakah dia sudah tidak lagi melihatku sebagai gadis kecil yang katanya beringus meleler itu? Apakah perhatiannya padaku selama ini memang berbeda?  Aku sendiri, apakah aku diam-diam ternyata juga sudah jatuh cinta padanya? Atau malah tidak ada cinta antara kami? Haduuuhhh....

            Aku mencoba menggali dari dalam dasar hatiku, apakah selama ini aku memang hanya sebatas mengagumi mas Tony sebagai boss-ku dan tidak merasakan yang lain? Apakah debar jantungku yang setiap bertemu dengannya menjadi tidak karuan itu hanya karena gugup untuk urusan pekerjaan? Apakah perhatiannya yang lebih kepadaku selama ini juga hanya sebatas sebagai teman kecil?

               Kalau sampai aku menjadi istri kedua Mas Tony, apa kata orang-orang di luar sana? Apa kata dunia? Betapa jahatnya aku, sampai hati mengambil suami orang? Bagaimana perasaan dan pikiran istri dan anak Mas Tony? Bagaimana pikiran Mas Beni? Karyawan rumah makan?

  Ya Allah tolong, aku harus bagaimana? Hanya Kau yang dapat membolak-balikkan hati manusia. Bilapun rasa cinta itu ada, itu pasti anugerah dariMu. Tapi dengan semua kondisi itu, apakah aku bisa dan sanggup menanggungnya nanti?

              Hari ini adalah sebulan setelah kunjungan Mas Tony terakhir. Dia datang untuk rapat evaluasi dengan seluruh karyawan seperti biasanya. Aku juga harus siap dengan jawabanku.

   Akhirnya setelah sholat ashar, aku siap menunggu Mas Tony. Semoga jawabanku nanti adalah yang terbaik untuk kami semua.

   “Di mana Bu Winny?” Kudengar suara Mas Tony menanyakanku. Tulangku tiba-tiba saja kembali melembek. Aku hilang tenaga.

   Rupanya dia tidak lupa. Ini saatnya! Kembali jantungkupun bertalu-talu, seolah seribu parade drumband berlomba saling keras dalam memukul genderangnya. Sepertinya setelah ini aku harus pergi ke dokter jantung, akan kuminta dokter jantung mematrinya dengan las baja.

                “Win...., kamu sudah siap menjawab?” Wajah Mas Tony muncul di pintu.

           Aku tersenyum, mengangguk, menata jantung dan hatiku, kemudian mengambil nafas panjang.

    “Bismillah. Ini jawabanku Mas...........” Kataku setelah Mas Tony duduk di depanku.

     Semoga Allah meridhoi keputusanku. Aamiin.


*** Selesai ***


Malang, 7 Juli 2020
***terinspirasi kisah seorang sahabat
           

Selasa, 30 Juni 2020

Bersyukur


Semalam, pulang dari warung aku ke rumah tetangga di seberang jalan kembar yang memisahkan gang rumah kami. Aku tinggal di sisi timur, tetanggaku ini di sisi barat.

Tidak ada acara khusus, aku hanya bersilaturahmi sambil mengucapkan terima kasih karena tadi pagi putranya mengirimkan beberapa liter minyak goreng dan beras ke rumahku.

“Trimakasih banyak Bu...., kirimannya tadi pagi sudah saya terima. Itu banyak sekali..., alhamdulillah.” kataku mengawali perbincangan kami.

“Nggak apa-apa, saya cuma minta tolong dibantu menghabiskannya...” katanya.

Dua minggu lalu, suaminya tiba-tiba dipanggil menghadap ke hadiratNya ketika sedang bermain Bulu Tangkis di Lapangan Kantornya. Jantung. Dan sembako yang diberikan padaku itu adalah sebagian tali kasih dari sanak kerabatnya yang katanya alhamdulillah banyak sekali.

“Sebetulnya sudah beberapa hari lalu anak saya ke rumah njenengan, tapi katanya rumah kosong...” katanya lagi.

“Oh ya...., maaf jadi ngrepotin. Memang sekarang kalau siang rumah kadang kosong..., sebab sudah seminggu ini saya coba buka warung lagi, dan anak-anak suka ikut nyusul ke warung...” kataku.

“Gimana kondisinya, sudah normal lagikah?” tanyanya.

“Alhamdulillah masih ada satu dua yang ngopi Bu....” jawabku sambil secara tidak sadar menghela nafas panjang. Beliau tersenyum melihatku.

“Ya memang kondisinya sekarang sedang begini..., harus sabar.”

“Betul Bu. Sepertinya orang-orang sudah merasa nyaman tinggal di rumah dan memenuhi hampir semua kebutuhannya via online.”

Si Ibu tetanggaku ini secara usia, sama denganku. Tapi pengalaman dan pemahaman spiritualnya sungguh jauh sekali di atasku. Terlebih beliau juga pengajar di sebuah sekolah berbasis Islam. Kalau aku kan masih pecicilan dan hidup sesuka-suka aku mau. Malu ya? Malu sih sebetulnya.....

“Manusia hidup itu sebetulnya butuhnya apa saja sih, semua kan sudah ada takarannya. Misalnya saja kita butuh satu gelas untuk hidup satu hari, ya Insya Allah satu gelas itu pasti dipenuhi oleh Allah. Dan seandainya hari ini kita dapatnya satu panci...., ya jangan dituang semua ke gelas tadi. Malah luber, terbuang sia-sia. Taruhlah di gelas yang lain dan segera berikan pada yang membutuhkan..., biar bermanfaat.” katanya.

“Begitu juga yang terjadi pada saya hari ini. Rejeki yang harusnya saya dapat dari warung itu sebelumnya sudah tertutupi dari kiriman Ibu...., jadi saya masih bisa hidup untuk hari ini, dan bahkan besok. Alhamdulillah.” kataku sambil tersenyum-senyum sendiri.  Perumpamaan yang digambarkan si Ibu ini sungguh tepat sekali.

“Beberapa hari lalu saya sempat gamang. Limbung. Nggak ada gairah. Saya kaget karena kondisi ini tiba-tiba. Walaupun saya tahu pasti kalau ini memang sudah takdir. Mau bagaimanapun kalau Allah sudah memanggil, ya dengan jalan apapun pasti terambil juga. Tapi saya kan juga manusia.” katanya.

“Kemudian saya berdoa lamaaaa....., saya mohon kekuatan padaNya. Eh...., tiba-tiba sorenya datang kenalan lama saya ke sini. Dia ini beberapa tahun lalu juga ditinggal suaminya secara tiba-tiba di saat ketiga anaknya masih duduk di SD, dengan kondisi dia tidak bekerja. Dan ternyata dia kuat, bisa tetap bertahan sampai saat ini, saat anak-anaknya sudah remaja semua.”

“Itulah jawaban doa saya..... Kalau kenalan saya itu bisa, kenapa saya tidak bisa? Sedangkan kondisi saya saat ini jauuuuh lebih baik dari saat dia ditinggalkan suaminya dulu.”

“Berserah diri dan bersyukur pada semua yang digariskan olehNya.... Semua sudah ada yang mengatur.” katanya.

Aku jadi teringat bahwa tiga hari sebelum suaminya dipanggil Allah, kami berdua sempat ngobrol lamaaaa di depan rumahku.

Saat itu beliau ini sedang jalan-jalan pagi ke arah kanan rumahku yang memang berumput tebal sekali. Katanya ingin melihat tanaman apa saja yang tumbuh rimbun itu.

“Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok, bahkan kita juga tidak tahu apakah besok kita masih bisa ketemu lagi.... Kita jalani saja.  Saya juga sudah berpesan begitu ke anak-anak saya....” katanya waktu itu.

“Iya Bu, seorang sahabat saya juga mengatakan kalau saya tidak perlu memikirkan hal-hal yang bukan urusan saya. Waktu itu saya sedang bersama dia parkir mobil di halaman sebuah masjid. Dia akan sholat, dan saya menunggu di mobil. Waktu dia mematikan mobil dan akan keluar, lampu menyala. Langsung saya berkomentar: koq lampunya nyala sih?”

“Sahabat saya masuk lagi ke mobil dan bilang kalau hal-hal yang seperti itu juga tidak perlu saya pikirkan. Itu urusan si mobil. Begitu juga dengan hidupmu. Nggak usah terlalu ruwet memikirkannya. Semua sudah ada yang mengatur. Sudah ditulis bahkan sebelum kamu lahir... , kata sahabat saya waktu itu...”

Hari itu bahkan kami berdua tidak mengira sedikitpun bahwa tiga hari kemudian suaminya berpulang.

Innalillahi wainna Illaihi roji’un.

Semuanya berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah.

Bersyukur sekali hari ini aku masih bisa menghirup udara pagi, mengetik tulisan ini, dan bersiap akan berangkat ke warung.

Aku tidak akan memikirkan apa yang mungkin akan terjadi, karena seperti sahabatku bilang : Masa depan milik Allah. Semua terserah padaNya.
Bismillah.


Malang, 1 Juli 2020

Minggu, 22 Maret 2020

Keranda Yang Tertinggal


Siang itu hari jum’at.
Aku masih mengikuti pelajaran tambahan Bahasa Inggris di Sekolah untuk persiapan ujian akhir kelas tiga SMA.

“Diane disuruh pulang sekarang...”  kata Bu Guru Bahasa Inggrisku setelah menerima pesan dari petugas TU, Tholib.

Akupun mengemasi tas dan buku-buku pelajaranku sambil berpikir ada apa koq aku disuruh pulang cepat. Biasanya yang cuma urusan OSIS saja, sampai sore aku nggak pernah dicari atau disuruh pulang. Lha sekarang justru pas pelajaran tambahan, aku disuruh pulang.

Belum jauh berjalan kaki dari sekolahan, masih di sekitar Masjid Al Muttaqin depan gang tujuh, adikku menjemputku.

“Ayo Mbak An, cepetan...., Iie tenggelam...” kata adikku.

Dhuarrrr!!!
Seperti ada meteor meledak di atas kepala, aku mendengarnya.  Iie tenggelam? Tenggelam di mana? Iie adikku? Akupun langsung naik ke atas boncengan vespanya.

Sampai di rumah ternyata sudah sepi, tidak ada orang. Tinggal Nenekku yang sedang menangis terisak-isak.

“Semua pada ke mana Mbah?” tanyaku ikut menangis.
“Ke Karang Menjangan...”   jawabnya sambil terus mengusap air matanya yang mengalir tanpa henti.

Ke Karang Menjangan? Parahkah kondisi adikku? Aku harus bagaimana? Aku naik apa ke sana? Bawa motor sendiri? Aduuuh...., aku bingung. Ayo berpikirlah otakku! Plisss!!

Aa’! Ya, Aa’....!!  Akupun langsung lari ke rumah Aa’..., menerobos garasi dan langsung menggedor pintu kamarnya.

“Ada apa sih, gangguin orang tidur aja...” katanya sambil melemparkan tubuhnya lagi ke ranjang setelah membuka pintu kamarnya.
“Bangun A’..., tolong anterin ke Rumah sakit...., Iie tenggelam...” kataku sambil menangis.
“Haah..., tenggelam?! “ serunya sambil melompat dari ranjang dan langsung menyambar celana panjang di gantungan.
“Hadap sana, aku ganti baju dulu...!”  teriaknya.

Sepanjang perjalanan ke Rumah sakit aku terus menangis sambil berdoa supaya adikku baik-baik saja. Sebab sampai saat itu aku sama sekali belum tahu kondisi adikku yang sesungguhnya. Hanya kata tenggelam itu saja informasi yang kupunya.  Saking bingungnya, aku lupa tidak bertanya apapun pada adikku nomer tiga yang menjemputku tadi. Diapun kutinggal begitu saja di rumah.

“Jangan nangis dong, aku jadi ikutan panik nih...” kata Aa’ melihatku terus menangis.
“Berdo’a aja supaya Iie tidak kenapa-napa...” sambungnya.

Sampai di Rumah Sakit Karang Menjangan (Dr. Soetomo), kami mencari-cari dulu di mana UGD-nya. Maklum, kami berdua belum pernah berurusan dengan UGD RS ini.

Begitu ketemu di mana UGD-nya, Aa’pun memarkir mobilnya asal-asalan kemudian buru-buru mengejarku yang berlari ke meja penerimaan pasien.

“Suster, mau nanya dong...., apakah tadi ada pasien anak kecil yang tenggelam?” tanyaku.
“Oh, anak laki-laki yang katanya tenggelam di pantai? Ya di kamar mayatlah..., wong sudah meninggal koq...” jawab Suster itu dengan santainya.

Kedua kakiku langsung lemas. Aa’ menahanku supaya tidak jatuh dan diajak keluar.

“Gile, kalimat si Suster kejam amat ya...., nggak kira-kira kalau ngomong.” Kata Aa’.  Aku diam saja, makin bingung.

Tiba-tiba kulihat Bapakku berjalan dari gedung sebelah menuju ke arah meja penerima tadi. Aku langsung mengejarnya. Aa’mengikuti di belakangku.

“Pak...” panggilku. Bapak menoleh dan berhenti.
“Gimana kondisi Iie?” tanyaku.
“Iie sudah dipanggil Allah...” jawab Bapakku dengan mata membasah.
“Innalillahi wa inna illaihi roji’un...” kataku dan Aa’ bersamaan.

Kemudian Bapak menyuruhku dan Aa’ untuk pulang saja, serta menunggu di rumah. Menyiapkan rumah buat nanti ketika jenazah dibawa pulang. Sekarang Bapak masih mengurus surat-suratnya,  sedangkan Ibu dan adik-adikku yang lain menunggu di kamar jenazah.

Kebetulan kami tidak punya saudara yang tinggal di Surabaya, jadi tidak ada yang perlu didatangi untuk dikhabari. Ibuku hanya dua bersaudara, dan kakaknya tinggal di Bondowoso. Adik-adik serta kakak dari Bapakku semua tinggal di Jakarta dan Jawa Barat.

Semua meja kursi dikeluarkan dari dalam rumahku, dan ada sebuah meja yang ditaruh di tengah ruangan untuk jenazah nanti.

Tetangga dan teman-temanku mulai berdatangan, begitu juga teman-teman adik-adikku. Semua menemaniku membaca Surat Yasin.

Kira-kira habis maghrib jenazah adikku datang dengan ambulance dan di letakkan di meja yang sudah dipersiapkan. Tubuhnya masih lemas. Dan dari hidungnya  meleleh cairan bercampur darah, yang kuduga pasti dari paru-parunya yang dipenuhi air.

Ibuku yang terus-terusan mengusap cairan itu dan mengeringkannya dengan hati-hati.  Air matanya sudah tidak menetes lagi, tapi meninggalkan kedua pasang mata yang merah membengkak dari wajahnya yang kusut.

Adikku ini baru berumur sembilan tahun, kelas empat SD. Kalau di urutan keluarga, dia anak nomer lima. Masih ada adik satu lagi di bawahnya. Aku sendiri adalah sulung.

Ketika semua orang masih duduk mengelilingi jenazah, Bapak memintaku mengaji dikamar. Aku disuruh membaca Ayat Kursi sebanyak yang kumampu, minimum seratus kali. Bapak sendiri membaca Surat Yasin, minimum seratus kali juga.

Di sela-sela konsentrasiku membaca Ayat Kursi itu, tiba-tiba aku seolah mendengar suara sesenggukan adikku (yang saat ini tubuhnya terbujur di ruang tengah) dari garasi di samping kamar.

“Ibuuu...., hh...., Ibuuu...., hh...., Ibuuu....., hh....”

Kucoba mendengarkan dengan serius, tapi ternyata tidak terdengar lagi. Kulihat, sudah jam sembilan. Sudah malam.

Aku meneruskan mengaji sambil berpikir kalau suara itu tadi mungkin hanya perasaanku saja atau halusinasi. Toh Bapak di depanku juga masih terus mengaji, dan sepertinya tidak mendengar suara apapun.

Besoknya, pemakaman adikku alhamdulillah diiringi pelayat yang lumayan banyak.

Dari kantor Bapak ada satu truk tentara berisi marinir teman-teman Bapakku. Kemudian para tetangga. Teman-teman sekolahku yang dikoordinir Aa’. Kemudian teman-teman adik-adikku.

Yang lebih mengharukan lagi, ketika iring-iringan mobil jenazah melewati sekolahan adikku, ternyata di sepanjang tepi jalan sekitar sekolahan adikku itu telah berjejer teman-teman sekolahnya, kakak dan adik kelas, serta para bapak dan ibu gurunya yang melambaikan tangan. Aku menangis melihatnya.

Setelah pemakaman, masih banyak juga yang datang melayat. Termasuk ada seorang Bapak yang tidak kami kenal yang datang dengan membawa sepeda adikku.

“Saya kemarin kebetulan sedang memancing di sana, dan saya yang mengangkat tubuhnya dari dalam kolam.” Si Bapak memperkenalkan diri.

Jadi rupanya, kemarin itu, sepulang sekolah..., adikku ini pergi ke pantai dengan teman-temannya. Mereka masuk dari bawah pagar kawat, jadi tidak membayar ke tempat wisata pemancingan ini. Rencananya memang mau memancing. Tapi namanya anak-anak melihat air, ya tergodalah mereka untuk mandi sekalian di kolam itu.

Adikku tadinya juga tidak ikut mandi, karena kalau di rumahpun mandinya pakai air hangat karena dia punya sakit ashma, nggak kuat dingin.
Nah, sekali lagi namanya anak-anak, melihat semua temannya nyebur ke air, ya akhirnya diapun ikutan.

Saat itulah mereka melihat kalau adikku seolah melambaikan tangan meminta tolong. Dia memang tidak bisa berenang. Dipikir teman-temannya dia bercanda, jadi malah ditinggal pulang.

Tapi ada satu orang temannya yang tidak ikut pulang dengan yang lain. Dia menunggu adikku yang ternyata tidak muncul-muncul juga dari dalam air.

Kemudian dia datang ke Bapak Pemancing tadi dan minta tolong untuk melihat temannya yang tidak keluar-keluar dari dalam air. Si Bapak masuk ke air dan mencari-cari dengan kakinya. Begitu ketemu, dibawa naiklah tubuh adikku.

Ketika dibaringkan ke tanah dan dijungkir untuk mengeluarkan airnya, kata si Bapak, adikku sempat siuman dan memanggil Ibuku tiga kali. Ibuuu..., Ibuuu..., Ibuuu...

Rupanya suara yang kudengar itu adalah suara terakhir adikku yang memanggil Ibu. Subhanallah.

Beberapa hari kemudian, adik-adikku tidak ada yang mau tidur di kamar. Katanya hawanya beda. Jadi semua tidur di ruang tengah di depan tivi, menggelar kasur di sana. Padahal aku dan Bapakku tetap mengaji di kamar, dan tidak merasakan apa-apa.

Kata salah satu adikku, kalau dia membuka pintu akan masuk ke kamar paling depan, nanti pintu penghubungnya  tiba-tiba menutup sendiri, seolah ada seseorang yang meninggalkan kamar depan masuk ke kamar tengah. Begitu juga misalnya adikku sedang membuka pintu akan masuk ke kamar tengah, tiba-tiba pintu penghubungnya menutup sendiri seolah ada orang yang meninggalkan kamar tengah dan masuk ke kamar depan dari pintu penghubung itu.

Tiga buah kamar di rumah kami itu memang punya dua pintu yang menghubungkan antara satu kamar dengan kamar lainnya. Jadi tiga kamar itu saling berhubungan.

Suasana tidak enak itu berlangsung berhari-hari. Adik-adikku tiba-tiba saja menjadi penakut semua. Aku sendiri karena tidak merasakan apa-apa ya tetap mengaji dan tidur di kamar seperti biasa.

Sampai suatu siang, tiba-tiba ada Pengurus Masjid yang datang ke rumah.
“Mau nanya, apa keranda yang tempohari masih ada di sini?”

Waduh. Sudah berhari-hari kami tidak ada yang pergi ke garasi. Apa benar kerandanya masih tertinggal di sini?

Ternyata benar lho....., keranda jenazahnya masih anteng bertenger di garasi...., terlupakan.

Akhirnya, alhamdulillah setelah keranda itu dibawa kembali ke Masjid, tidak ada lagi ‘seseorang’ yang selalu berpindah kamar lewat pintu penghubung kalau pintu kamar dibuka. Wallohualam.


***terjadi februari 1984, saat adikku ke lima dipanggil olehNya.
(Alfatehah untukmu adikku.....)

Minggu, 23 Februari 2020

Cerpen tapi agak panjang : Ketika Cinta Tak Bisa Memilih


(harapan, angan-angan, mimpi, semuanya bisa menjadi do’a)

Rrrrrrrr.......hhh.......zzz....
Akhirnya mesin motor Meyta mati setelah tiba-tiba melambat dengan sendirinya. Padahal tadi tidak kenapa-napa dan baru dua hari lalu dibawa ke bengkel untuk servis rutin. Tadi juga sudah isi bahan bakar di POM samping kantor.

“Aduh Beb, kenapa kamu tiba-tiba ngambek sih?” kata Meyta pada motornya sambil mencoba menstater beberapa kali tapi tetap tidak mau hidup juga. Huft!
Meyta menengok ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Sepi. Tidak terlihat seorangpun di jalan itu. Mungkin karena habis hujan, orang-orang jadi pada malas keluar rumah.

Meytapun kemudian menuntun motornya ke tepi jalan sambil berpikir. Kalau di dunia dongeng dan legenda, biasanya orang yang sedang mengalami musibah seperti ini tuh langsung memohon begini, ”Barang siapa yang bersedia menolongku menghidupkan motor, kalau cewek akan kujadikan saudara, kalau cowok akan kujadikan pacar, tapi kalau semi ke laut ajah... Hihihi....” Meyta geli sendiri.

Memang jalanan yang dilalui Meyta ini bukanlah jalan utama yang biasa dilaluinya setiap berangkat dan pulang kerja. Jalan ini adalah jalan alternatif lewat perkampungan dan lahan kosong yang agak kecil, tetapi aspalnya lebih halus dan yang paling penting adalah tidak macet.

Rasanya Meyta patah hati sekali ketika berangkat dan pulang kerja harus mengalami kemacetan yang setiap hari semakin parah saja. Walaupun sebetulnya wajar sih kalau macet, karena di ujung pertigaan jalan utama yang biasa dilewatinya itu sedang diadakan pelebaran jalan untuk akses keluar masuk tol yang baru. Nanti kalau proyeknya sudah kelar juga bakalan lancar lagi.

Jadiiii...., sebelum proyek itu kelar, mendingan Meyta mengambil jalur alternatif saja dulu. Dan itu sudah dilakukannya hampir dua minggu ini. Supaya pikiran dan perasaannya tidak ikutan ruwet selama di perjalanan, sehingga urusan kantor dan kerjaan tetap lancar jaya. Karena efeknya ke periuk nasi Cynnn....

Meyta memarkir motornya di depan sebuah pos ronda yang kebetulan tidak jauh dari motornya mogok tadi, kemudian duduk di pos ronda itu dan mengeluarkan ponselnya. Dicobanya mencari layanan servis keliling dari ponselnya, sebab seperti kebanyakan cewek pada umumnya, Meyta benar-benar buta tentang ilmu permesinan. Kalau mogok ya harus panggil montir, daripada memeriksa tutup pentil ban yang jelas nggak ada hubungannya dengan mesin. Nanti malah diketawain kucing.

“Selamat sore Mbak...., kenapa motornya?” tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah berdiri di samping motor Meyta.
“Saya lihat tadi motornya dituntun ya?” sambung pemuda itu.
“Eh sore..., iya Mas..., itu..., motor saya tiba-tiba mati.” Meyta kaget. Saking asyiknya menggeser-geser layar ponsel, sampai tidak menyadari ada yang datang. Wow, permohonannya diijabah ternyata.... Ada penolong yang turun dari langit. Apa dia harus dijadikan pacar?

“Maaf, boleh saya coba...?” tanya pemuda itu sambil memberi isyarat akan menstater motor Meyta yang kontaknya memang masih tergantung.
Meyta mengangguk, “Boleh Mas..., silahkan...”
Pemuda itupun mencoba menstater motor Meyta, dan ternyata, “Nggreeeeng.....”  langsung nyala.

“Nggak apa-apa tuh Mbak....” kata pemuda itu sambil menjauh dari motor Meyta yang mesinnya sudah hidup lagi.
“Waah, alhamdulillah, terimakasih Mas....” Meyta girang. Koq ajaib sih..., tadi distater sendiri kenapa nggak mau nyala? Jangan-jangan motornya suka sama pemuda ini...., hihihi....

Meyta pura-pura mengamati motornya, tapi diam-diam mencoba melirik pemuda itu, ingin melihat wajahnya sekali lagi.

“Orang nggak saya apa-apain koq Mbak. Tapi lain kali kalau motornya ngadat begitu, jangan berhenti di tempat sepi begini.... Tuntun saja ke tempat ramai Mbak..., paling tidak di depan rumah orang.” kata pemuda itu.
“Eh, iya Mas....iya...., makasih...”

Lagi-lagi Meyta melihat kanan-kiri yang memang tidak nampak rumah. Kebetulan pos ronda ini berada di depan lahan kosong.

“Nama saya Langgeng Mbak, rumah saya di depan situ.....” pemuda itu tiba-tiba menyebutkan namanya. To the point banget nih orang ngajak kenalannya.
“Boleh pinjam hp-nya Mbak?” pemuda itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Meyta mengangguk dan memberikan ponselnya.

“Saya sudah masukkan kontak saya Mbak. Kalau misalnya ada apa-apa di sekitar sini, kontak saya saja...., barangkali saya pas di rumah, jadi saya bisa bantu... Bahaya di sini sendirian.” pemuda itu mengembalikan ponsel Meyta. Koq dia nggak menanyakan namaku ya, pikir Meyta.

Seperti tersihir, Meyta menerima ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.

“Oke Mas, makasih banyak ya....” kata Meyta yang hampir terpeleset karena mendadak jadi gugup ketika bersiap akan menaiki motornya. Dadanya tiba-tiba seolah ingin meledak. Meyta merasa mukanya seperti terbakar ketika sekali lagi pemuda itu tersenyum padanya.

“Hati-hati Mbak...” jawab pemuda itu sambil mengangkat tangannya sebagai ganti ucapan selamat jalan.


*****   *****   *****


(delapan jam kemudian)

Sudah lewat tengah malam, tapi Meyta masih berguling ke kanan dan ke kiri di ranjangnya dengan mata segar. Melotot seperti mata ikan mas koki yang nggak pernah kelilipan.

“Kamu kenapa Mey..., daritadi Mama dengar suara gedebugan dari dalam kamarmu...” tiba-tiba Meyta melihat kepala Mamanya yang nongol dari balik pintu.
“Aman Ma..., nggak kenapa-napa koq..., cuma nggak bisa tidur aja.” jawab Meyta.
“Mau Mama bikinin coklat hangat?”
“Nggak usah Ma, makasih, nanti malah ngompol...”
“Hus, kamu itu...” Mama Meytapun hilang di balik pintu.

Sejak tadi pula sudah dicobanya berjongkok, push-up, senam, lari di tempat, khayang, koprol, dan lain-lain, kecuali nempel di dinding. Tapi tetap saja matanya tidak juga mau terpejam. Sama sekali tidak mengantuk dan pikirannya melayang ke peristiwa tadi sore ketika motornya ngambek, kemudian perjumpaan yang  tidak terduga dengan pemuda tadi.

Pemuda tadi penampakannya lumayan oke. Dengan sepasang alis mata yang rapi dan tebal mirip bentuk sebatang golok dan sorot matanya tajam.  Kulitnya putih bersih, berambut hitam lurus, dan lumayan tinggi. Mungkin Meyta hanya setinggi bahunya, padahal untuk ukuran seorang gadis, 160cm itu kan sudah termasuk tinggi lho.

Sosok pemuda itu mengingatkan Meyta pada aktor pemeran 007, Pierce Brosnan atau pemeran Mr. Steele dalam tivi seri lama, Remington Steele. Film kesukaan Mama. Tapi ada visual Asia juga sih, seperti Jo In Sung, aktor Korea kecintaannya yang keren banget waktu main di That Winter, the Wind Blows......, huhuhu....

Tapi kalau melihat bentuknya dengan deskripsi itu, orang mungkin akan menduga kalau pemuda tadi, siapa namanya, Langgeng..., ya Langgeng, mungkin orang akan menduga kalau suara dan tindakannyanya dingin serta kasar. Padahal sesungguhnya ternyata orangnya sopan dan kaleeemmmm. Memory Meyta berputar terus seolah sedang menayangkan adegan ulang sebuah scene film. Terus menerus menampakkan wajah Langgeng.

Meyta mengambil ponselnya dan melihat kontak Langgeng yang ditulisnya sendiri tadi. Ada WA-nya, tapi tidak ada foto profilnya. Hanya gambar orang-orangan bawaan dari aplikasinya.

“Ah, mungkin dia orangnya pemalu....” pikir Meyta sambil tersenyum sendiri, walaupun sedikit kecewa. Hei..., padahal mukanya nggak malu-maluin lho.

Senyumannya juga bikin hati langsung meleleh. Yang membuat  Meyta tadi seolah tersihir dan langsung menuruti semua kata-katanya.

Heran juga Meyta pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa sejinak itu pada orang asing yang baru pertama kali dijumpainya. Melongo seperti monyet terkena sambit.

Coba seandainya pemuda itu penjahat, pasti motor dan ponselnya sudah raib dibawa kabur. Orang Meyta dengan sukarela menyerahkannya begitu saja.

“Langgeng memang bukan penjahat yang mencuri motor atau ponsel, tapi mencuri hatiku dan dibawa kabur entah ke mana...., hihihi.....” Meyta tersipu sendiri dan menutup wajahnya dengan selimut.

Membayangkan wajah Langgeng saja, membuat dada Meyta berdegup dengan kencangnya. Seolah ada lomba memukul genderang di sana. Semoga ini bukan gejala sakit jantung. Meyta mulai panik dan meraba dahinya, tidak panas atau keluar keringat dingin koq. Tanpa sadar Meytapun tertidur dengan membawa seberkas wajah penuh senyum di benaknya.


*****   *****   *****


(besok sorenya)

Kali ini sengaja Meyta melambatkan laju motornya ketika melewati tempat motornya mogok kemarin. Kata Langgeng kan rumahnya tidak jauh dari pos ronda itu, agak ke depan sedikit. Barangkali dia ada di rumah, pikir Meyta sambil melemparkan pandang mencari-cari bangunan rumah di sekitar situ.

Cuaca cerah. Jalanan tidak sesepi kemarin. Ada beberapa  kendaraan yang melintas, walaupun tidak seramai jalan utama. Dan terlihat juga orang-orang yang melakukan aktifitas seperti biasa di depan rumahnya.

Meyta masih mencari-cari, sampai akhirnya..... Itu dia dekat tikungan kecil.

Ada sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas. Tampak juga sebuah Jeep berwarna hijau tua di depan garasi yang sepertinya sedang dicuci. Ada selang yang mengitari mobil itu, tapi tidak kelihatan orang yang sedang memegang ujung selangnya.

Meyta penasaran sekali sampai nyaris menghentikan motornya untuk melihat siapa yang sedang mencuci mobil. Apakah Langgeng? Dug. Dug. Dug. Meyta deg-degan.

Tapi pikiran sehat serta gengsinya segera menyergap, yang membuatnya terus melajukan motornya dan tidak jadi berhenti.

“Apa-apaan kamu Meyta..., dasar tidak tahu malu....” katanya merutuki dirinya sendiri.

Tapi senyuman Langgeng kembali bermain di benaknya, membuat wajahnya kembali panas dan dadanya berdegub tidak beraturan. Ini sudah berkali-kali menimpanya hari ini. Membuatnya tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, padahal berkas Proposal Renovasi Gedung harus diserahkan ke Atasannya besok pagi.

“Ya ampun...., apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Meyta melajukan motornya seperti ada yang mengejar. Di tikunganpun dia sampai miring-miring. Rossy aja lewat dah!

“Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?” Meyta merasa otaknya ikutan kacau.

Bertemu orangnya juga cuma sekali. Itupun tidak lama. Siapa dia, apakah masih single atau sudah menikah juga tidak tahu. Tapi kenapa pesonanya begitu mengikat? Kenapa bayangannya tidak mau pergi dari kepala? Apakah dia pakai pelet? Hah?!

Meyta menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir wajah Langgeng dari benaknya.
Husss...!
Husss...!!
Tidak boleh begini!
Tidak boleh begini!!


*****   *****   *****


(delapan jam kemudian)

Berada di tempat tidurnya, kembali Meyta mengalami hal seperti kemarin. Tidak dapat memejamkan matanya walaupun dia sudah ingin sekali tidur. Hati dan pikirannya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Ngitung anak ayam turun seribu sampai anak ayamnya bercicit juga nggak tidur-tidur.

“Baiklah, kucoba sekali aja deh..., biar nggak penasaran... Nyapa doang....” Meyta mengambil ponselnya dan mulai mencoba mengirim chatt ke kontak Langgeng via WA.

{Hai....}
{Ini Meyta Mas, yang beberapa hari lalu motorku mogok dan Mas Langgeng bantuin aku...} Meyta mengetuk tanda kirim di ponselnya.

Satu detik. Dua detik...., lama sekali sih......, huft!

Sebetulnya belum juga satu menit, tapi rasanya Meyta sudah menunggu selama tigabelas tahun. Meyta mempelototi terus ponselnya, menunggu jawaban. Rasanya lebih menegangkan dibanding menunggu hasil ujian SIM yang pengujinya galak.

Tingtong tingtong...

Ponsel Meyta berteriak di tangannya. Meytapun langsung bangun dari rebahan dan melihat ke layar ponselnya. Yihaaa...!!

{Oh, iya Mbak Meyta..., apa khabar?}
{Koq belum tidur?} begitu balasan Langgeng.
{Habis ini tidur koq...}
{Cuma mau ngomong kalau tadi tuh aku lewat depan rumah Mas Langgeng, dan kebetulan lihat mobil yang sedang dicuci...} Meyta sengaja membuat kalimat terbuka, biar nggak kentara banget kalau pingin tahu.
{Iya, aku tadi memang lagi nyuci mobil...., tapi motornya nggak mogok lagi kan?} jawab Langgeng. Cuhuii...., dia sudah pakai kata ganti ‘aku’ sekarang. Nggak formal banget kaya kemarin itu, pikir Meyta.
{Aman mas..., aku selamat sampai rumah koq...} jawab Meyta.
{Kalau lewat depan rumah lagi, Mbak Meyta silahkan mampir lho...}

Ternyata Meyta nggak langsung tidur seperti katanya tadi, sebab obrolan berlanjut sampai hampir dua jam. Macam-macam yang diobrolkan. Mulai dari a sampai z deh pokoknya.

Dari situ Meyta jadi tahu kalau Langgeng tinggal sendirian di rumah itu karena sebetulnya rumah itu hanya semacam rumah peristirahatan. Ya biasalah..., orang-orang yang sibuk dan punya duit selalu punya tempat untuk melarikan diri dari kejenuhan. Apalagi lokasinya pinggiran kota di kaki pegunungan seperti ini. Sungguh tempat yang ideal untuk menyepi.

Semua keluarganya tinggal di Surabaya. Langgeng sendiri  juga sedang liburan dari kuliah S2nya di London. Dan ini yang paling penting, katanya sih, saat ini Langgeng sedang Zero alias kosong alias sedang nggak punya pacar, makanya dia bebas ke mana saja, ngapain saja, sampai berapa lamapun sesukanya.

Ada harapan nih. Setan genit mulai menggoda. Mengkilik-kilik hati Meyta.

{Berarti nggak lama lagi balik ke London dong?} Meyta mencoba bertanya biasa saja, padahal tiba-tiba dia merasa ada batu yang mengganjal di lehernya yang membuatnya jadi sulit bernafas.
{Kira-kira sampai akhir bulan masih di sini.}

Alamak. Akhir bulan itu nggak sampai dua minggu lagi, pikir Meyta dengan dada sesak seolah merasa di PhP pacar.

Malam ini Meyta tidur dengan mimpi buruk. Mimpi kaki digigit ular, tapi kemudian ularnya mati keracunan darah Meyta. Jadi bukannya Meyta yang keracunan bisa si ular. Haduuh, dasar mimpi nggak sopan, bikin cerita sendiri yang nggak sesuai dengan pakem.


*****   *****   *****


(besok sorenya)

Meyta memarkir motornya di depan pagar rumah Langgeng, dan baru akan memencet bel ketika tampak Langgeng keluar dari garasi.

“Motornya bawa masuk aja, daripada dibawa orang...” kata Langgeng sambil membuka pintu pagar lebar-lebar dan mengambil alih menuntun motor Meyta.

Meyta mengikuti Langgeng yang membawa motornya sampai ke depan garasi.

“Nih, tadi aku sekalian lewat Mas...” Meyta menaruh dua  cup es kopi susu dan sekotak pisang bolen di meja teras setelah keduanya duduk.
“Kamu bawa bekal sendiri takut kalau seandainya di sini nggak ada apa-apa ya?” kata Langgeng sambil tertawa.
“Padahal kamu ingin apapun, aku pasti akan usahakan ada...” sambungnya.
“Ih, kaya Jinnya Alladin dong...., mau apa tinggal clink.....” Meyta tertawa.
“Yaah, kurang lebih seperti itulah....” Langgeng tersenyum sambil menatap Meyta.

Ssst..., sejak semalam di chatt, Langgeng sudah tidak lagi memakai embel-embel ‘mbak’ tiap memanggil nama Meyta. Pokoknya mereka berdua sekarang sudah akrab gitu deh.

Langit memang seolah akan selalu berhiaskan pelangi dan bertabur bintang bila dua hati yang berpijar sudah bersambut dan saling mengait, bukan saling menyambit lho. Semuanya luar biasa, tidak terkira. Begitu juga yang dirasakan Meyta saat ini.

“Halaman seluas ini, siapa yang rapihin?” tanya Meyta sambil memandang berkeliling. Rumput yang terpotong rapi, bunga-bunga juga tampak bermekaran dengan indah. Serta tidak ada sehelai daun keringpun yang merusak keindahannya. Seperti lukisan.

“Semua kukerjakan sendiri..., kan aku lagi nganggur. Seharian nggak ngapa-ngapain bosen juga...” jawab Langgeng.
“Ya jangan di rumah terus dong, sesekali main ke mana gitu...” usul Meyta.
“Sudah. Tadi siang aku main ke kantormu...” jawab Langgeng santai.
“Hah? Emang tau di mana kantorku?” tanya Meyta tidak percaya.
“Kan aku ikutin kamu, waktu tadi pagi berangkat lewat sini...” jawabnya.
“Emang iya?”Meyta masih tidak percaya, “Koq nggak masuk atau menyapaku?” sambungnya.
“Aku cuma ingin memastikan kalau perjalananmu aman, selamat sampai tujuan aja...” jawab Langgeng.

Pipi Meyta merona seolah terbakar. Hati Meytapun seperti ingin meledak karena kegirangan. Senang sekali rasanya ketika ada seseorang yang mulai mengkhawatirkanmu dan menjagamu supaya tetap aman.

“Mau lihat-lihat ke dalam?” Langgeng menawarkan wisata rumahnya, hehehe....
Sekali lagi Meyta kagum dengan kerapian isi rumah Langgeng. Benar-benar tampak seperti di foto-foto iklan perumahan atau mebel. Semuanya tertata dan terkomposisi dengan baik. Bukan mewah, tapi sungguh elegant.



*****   *****   *****


(suatu malam, satu minggu kemudian)

{Besok mau nitip dibawain apa?} tanya Meyta sebelum mengakhiri chatting mereka.
{Nggak nitip apa-apa dan kamu juga nggak usah bawa apa-apa...} balas Langgeng.
{Kamu datang aja aku sudah senang, dan kamu juga tinggal bilang kamu ingin apa, nanti pasti kusiapin}

Meyta yang biasa insomnia, kali ini kebalikannya.

Ketika Meyta sudah sangat mengantuk dan matanya berkali-kali merem sendiri, dia tetap saja bertahan untuk tidak tertidur supaya bisa berlama-lama ngobrol dengan Langgeng. Rasanya sayang sekali kalau waktu yang ada dipakai untuk tidur. Kalau perlu kelopak mata diganjel pakai batang korek api.

Konyol memang, karena besok pagi Meyta kan harus berangkat kerja dan beraktifitas seharian. Tapi namanya orang sedang jatuh cinta, semua hal konyol itu terasa membahagiakan.

Kalau bisa, waktupun disuruh berhenti.
Ayam yang mulai berkokokpun disumpahin.
Aurora yang mulai mengintip malu-malu segera diusir kembali.
Apollo yang siap menyergap Daphne diikat dari belakang.

Intinya adalah, waktu ini janganlah pernah berlalu. Kemesraan ini, janganlah pernah berlalu.

Orang jatuh cinta memang selalu ingin mengacaukan dunia persilatan. Eh, dunia normal ding.

Kukuruyuuukkkk......



*****   *****   *****


(rindu yang tertahan)
(besok sorenya lagi)

“Maaf Mbak, jalannya ditutup kecuali penghuni. Banyak pohon tumbang karena hujan tadi siang. Sekarang masih belum selesai dibersihkan. Rumah-rumah juga banyak yang tersapu angin puting beliung.”

Motor Meyta dihentikan oleh para warga yang nampak sedang bersama-sama membersihkan jalan alternatif yang biasa dilewati Meyta akhir-akhir ini.

Tadi siang memang hujan deras sekali disertai angin puting beliung yang menerjang kota ini secara merata. Meyta sendiri juga melihat bagaimana seremnya pepohonan yang meliuk-liuk tersapu badai dari lantai dua kantornya.

Wah, gimana kondisi rumah Langgeng ya...., semoga dia baik-baik saja. Pikir Meyta sambil memutar kembali motornya dan terpaksa lewat jalan utama yang sedang macet menyebalkan itu.

Sampai di rumah, Meyta segera masuk kamar, melemparkan tasnya entah ke mana. Kemudian merebahkan diri di ranjang dan mengambil ponselnya.

{Mas, aku tadi nggak boleh lewat jalan depan rumahmu. Katanya banyak pohon tumbang}
{Gimana kondisimu...}

Meyta menunggu jawaban dari Langgeng yang lamanya seperti tujuhbelas tahun.

{Iya nih..., rumahku kacau balau. Tertimpa pohon randu yang tumbang} akhirnya jawaban Langgeng masuk juga.
{Tapi kamu nggak apa-apa kan?} tanya Meyta.
{Aku sih nggak apa-apa...., hanya harus beberes sedikit}
{Sementara, kamu juga jangan lewat jalan sini dulu deh, masih berbahaya. Banyak pohon yang rawan tumbang}
{Aku juga lagi mikir, apa pindah aja ya...}

Meyta membaca chatt Langgeng sambil berpikir separah apa kondisi rumahnya, koq sampai membuat Langgeng mau pindah.
Malam ini gimana tidurnya?

Terbayang kembali dalam ingatan Meyta keindahan dan kerapian rumah Langgeng di semua sudut. Pasti dia tidak betah melihat kondisi rumahnya yang berantakan. Pasti parah.

Meytapun bertekad, besok pagi ketika akan berangkat kerja, dia akan nekad lewat jalan itu. Apapun yang terjadi, dia harus melihat kondisi rumah Langgeng. Kalau motor nggak boleh masuk, jalan kaki juga nggak apa-apa.

Cie cieee, ....



*****   *****  *****


(seperti mimpi di siang bolong)

Meyta sengaja berangkat ke kantor agak pagi sebab ingin mampir dulu ke rumah Langgeng. Ingin melihat seberapa parah kerusakan rumahnya. Mungkin dia bisa bantu sesuatu.

Jalanan sudah dibuka. Banyak kendaraan yang lewat seperti biasanya.
Di kanan kiri jalan tampak beberapa onggok bekas patahan ranting-ranting pohon dan dedaunan. Sisa kekacauan kemarin.

“Ciiiit.......” Meyta mengerem motornya. Lho, koq tiba-tiba motornya sudah sampai di ujung jalan? Rumah Langgeng mana? Apa Meyta tadi melamun, sampai-sampai nggak terasa kalau rumah Langgeng sudah terlewat?

Terpaksa Meyta memutar kembali motornya, berbalik arah menuju rumah Langgeng.

Sampai di tikungan kecil dekat rumah Langgeng, Meyta melihat sebuah mobil pick-up yang diparkir  dan beberapa orang laki-laki yang sedang memotong pohon randu yang tumbang dengan gergaji mesin.

Benar seperti yang Langgeng bilang kemarin, ada pohon randu yang tumbang dan jatuh ke rumahnya, Pikir Meyta.

Tapi mana rumah Langgeng?

Tidak ada apa-apa di lahan kosong tempat tumbangnya pohon randu itu kecuali semak belukar dan para pekerja itu.

Apa Meyta salah lokasi?

Meyta melemparkan pandangnya berkeliling mencoba mengingat tanda-tanda yang mungkin dikenalnya.

Tidak salah lagi, pasti di sini rumah Langgeng. Tapi kenapa tidak ada?

“Maaf Pak, selain ini, apakah ada pohon randu lagi yang tumbang di jalan ini?” Meyta yang penasaran mencoba bertanya pada salah seorang pekerja itu.
“Nggak ada Mbak..., pohon randu di jalan ini ya tinggal ini. Kalau dulu sih memang banyak tumbuh di sepanjang jalan ini...., tapi sudah pada tumbang atau dipotong...” jawab salah satu pekerja itu.
“Apa...... di sini tadinya ada rumahnya Pak?” lirih Meyta mengucapkan kalimat yang sebetulnya, sejujurnya, tidak ingin didengar jawabannya.
“Nggak ada mbak, dari dulu tanah ini dibiarkan kosong seperti ini oleh pemiliknya. Saya kan asli sini...”

Dhuarrrr!!

Meyta merasa seolah langit runtuh di depannya.

Kakinya tiba-tiba terasa lemas, keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya yang gemetar.

“Di mana Langgeng? Siapa dia sebenarnya?” Pikiran rasional dan irasional Meyta berkelahi sendiri. Saling mencoba mencari pembenaran masing-masing. Saling menyalahkan masing-masing.

Gustiiiii....., apa yang terjadi?

Akhirnya terucap tanya sebagai puncak ketidak mampuan diri.

Meyta benar-benar merasa jiwa raganya sakit, sehingga memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Biarlah hari ini dia membolos kerja. Percuma juga ke kantor kalau jiwa dan raganya berjalan sendiri-sendiri.



*****   *****   *****


(peperangan)

Sampai di rumah, suasana gelap dan sepi, sepertinya Mamanya sedang pergi. Meyta segera masuk kamar, melemparkan tasnya entah kemana. Kemudian merebahkan diri di ranjang dan melemparkan ponselnya. Kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Seisi jagad raya tidak akan ada yang tahu perasaannya saat ini. Meyta mengambil sehelai selendang dan mengikat kepalanya.

Jangan berpikir. Jangan berpikir.

Tingtong tingtong....

Ketika sangat tidak diharapkan berbunyi, kenapa ponselnya sekarang malah berbunyi sendiri?

Meyta enggan melihat ponselnya. Tapi takut juga kalau orang kantor mencarinya, walaupun tadi dia sudah ijin. Galauuu.

Tingtong tingtong....
Tingtong tingtong....

Berturut-turut ponselnya berteriak mencari perhatiannya. Meyta melirik ponselnya yang berada di ujung kasur dengan sudut matanya yang sedikit terbuka.

Terlihat Langgeng mengirim pesan padanya. Tapi diabaikannya. Ditariknya selimut untuk menutupi seluruh wajahnya.

Meyta bukan gadis penakut. Dia tidak pernah takut pada jin, hantu, atau yang lainnya. Dia tahu pasti situasai dan kondisi yang dialaminya saat ini. Sehingga diapun paham batas-batas yang dapat ditolerir dan membuatnya sulit menerima.

Tingtong tingtong....

Mau apa lagi dia? Siapa dia? Mau apa lagi dia? Siapa dia? Mau apa lagi dia? Siapa dia? Tidak terasa, sebutir air bening menetes dari sudut mata Meyta.

Hatinya sakit.

Pantas saja kondisi rumah Langgeng begitu asri dan apik bagaikan lukisan, orang semuanya buatan. Apa lagi itu S2 di London? Prettt!!



*****   *****   *****


(semakin memuncak)

Butuh tiga jam buat Meyta untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Butuh tiga jam sampai akhirnya pergolakan dalam dirinya mencapai titik jenuh.

Senyuman dan suara hangat Langgeng terus bermain di benaknya. Candanya. Perhatiannya. Semua masih segar dalam ingatan, serta begitu nyata. Membuat Meyta luluh.

“Please, buka ponselmu.....” tiba-tiba sebuah suara berdengung dalam hati Meyta.

“Please...”

Akhirnya Meyta bangun dan duduk, kemudian meraih ponselnya serta membuka pesan dari Langgeng.

{Meyta...}
{Maafkan aku...}
{Aku memang salah sudah membohongimu}
{Ijinkan aku menemuimu sekarang...}
{Please...}

Meyta terpekur. Sekali lagi Meyta bukan gadis penakut. Dia hanya belum siap menerima kalau hal seperti ini harus dialaminya. Kenapa harus terjadi padanya? Tapi dia butuh kepastian.

{Baiklah...} Meyta mengetuk tombol kirim.
{Trimakasih....} balas Langgeng.
{Sekarang tolong pejamkan matamu dan buka perlahan-lahan...}

Meyta memejamkan matanya dan menarik nafas panjang, kemudian perlahan-lahan membuka matanya.

Clink!!!

Sosok itu ada di sana. Ada tepat di depan mata Meyta. Di dalam kamarnya. Dan mereka berdua saling bertatapan.

Degub jantung Meyta berdetak tidak karuan. Kalau bisa melompat, mungkin jantungnya sudah kabur daritadi. Antara percaya dan tidak percaya. Tapi dia harus percaya.

Penampakannya tetap seperti biasanya, sorot matanyapun masih tetap seperti Langgeng yang kemarin dijumpainya.

Meyta beringsut mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin Mamanya mati berdiri ketika melihat ada laki-laki dalam kamarnya saat pulang nanti.

“Kamu sudah tau siapa aku?” suaranyapun masih tetap seperti kemarin. Meyta mengangguk pasrah.
“Maafkan aku kalau kamu harus tahu dengan cara seperti ini dan membuatmu terkejut. Aku tidak merencanakan seperti ini...” Langgeng menarik kursi  mendekat ke depan Meyta yang duduk di tepi ranjangnya.
“Apa maumu?” Meyta to the point. Kepalanya serasa kosong, entah menguap ke mana isinya.
“Aku menyukaimu...”

Karena kepala Meyta masih kosong, maka diapun tidak dapat langsung mencerna kalimat itu. Dia hanya diam dengan wajah datar ketika mendengarnya. Bernafaspun sampai lupa caranya. Hanya sepasang matanya yang berkedip yang menandakan kalau dia masih belum pingsan.

“Sejak hari pertama kamu lewat jalan itu, aku sudah menyukaimu.... Apa kamu ingat ketika sepulang kantor selendangmu hampir terlepas dan kamu berhenti di tepi jalan untuk membetulkannya?” tanya langgeng.

Isi kepala Meyta perlahan-lahan berdatangan kembali dan mulai memenuhi tengkorak kepalanya sehingga mampu membuatnya memutar kembali peristiwa hari itu.

Benar. Hari itu adalah hari pertama Meyta mengambil jalan alternatif. Dan karena terburu-buru waktu pulang kantor, dia asal mengalungkan begitu saja selendang ke lehernya. Yang kemudian di tengah perjalanan hampir terlepas.

Meyta ingat berhenti di tepi jalan untuk membetulkan ikatan selendangnya. Dan sekarang, kalau diingat-ingat lagi...., tepi jalan itu adalah di bawah pohon randu yang tumbang tadi. Tepat di depan rumah Langgeng.

Aaaahhh....., Meyta memegang kepala dengan kedua tangannya.

“Sejak saat itu, aku selalu menunggumu lewat dan berusaha mencari cara untuk bisa berkenalan denganmu...”
“Sampai akhirnya kutemukan cara untuk membuat motormu seolah-olah mogok...., maafkan aku ya...”

Jadi kejadian motor mogok itupun sudah direncanakan? Itu semua ternyata adalah hasil rekayasa? Jahat sekali dia. Bagaimana kalau saat itu benar-benar ada perampok?

“Aku sudah jatuh hati padamu, aku benar-benar tidak dapat mengabaikannya. Aku ingin selalu melihatmu dan bersamamu..., walaupun aku tahu kita berdua berbeda.”
 “Apakah kamu tidak punya rasa yang sama? Walaupun cuma sedikit?” suara Langgeng memelas.

Tidak dapat dipungkiri kalau Meytapun sebenarnya juga merasakan hal yang sama terhadap Langgeng. Tapi apakah ini mungkin? Kalau ini mimpi, Meyta ingin segera bangun dari mimpi ini karena dia sungguh tidak tahu bagaimana harus mengakhirinya.

Meyta sedih dan bingung, yang tanpa sadar kemudian meneteslah airmatanya , “Beri aku waktu...” akhirnya Meyta memutuskan.

“Baiklah, tapi jangan menangis...., aku tidak tahan melihatmu sedih.” Langgeng mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Meyta yang lama-lama sederas air sungai.
“Aku tahu ini semua berat bagimu, dan aku tidak ingin menjadi beban buatmu. Bolehkah kutunggu sampai besok apakah kamu mau menerimaku atau tidak?”

Sekali lagi, Meyta hanya sanggup menganggukkan kepalanya.

“Pakailah cincin ini. Kalau besok kamu sudah siap menjawab dan menerimaku, gosoklah mata cincin ini sambil memanggil namaku. Maka aku akan segera muncul di depanmu. Kalau kamu tidak ingin menjumpai aku lagi, lepaskan cincin ini dan buanglah.” Langgeng memasangkan sebentuk cincin cantik bermata merah delima ke jari manis tangan kiri Meyta.



*****   *****   *****


(akhirnya)

Sudah hampir satu jam Meyta duduk di ranjang sambil memandangi cincin cantik di jari manisnya dengan perasaan yang tidak menentu. Angannya kembali melayang ke hari-hari kemarin. Ketika hatinya dipenuhi bunga-bunga rindu pada Langgeng, dan kemudian rasa bahagia yang meledak ketika mereka bertemu.
Angannya juga melayang membayangkan adegan di mata orang lain yang seolah tampak dia berbicara dan tertawa sendiri, padahal sesungguhnya dia sedang bercengkrama dengan Langgeng.
Pilihan mana yang harus dibuatnya? Kenapa pilihan cintanya begitu rumit?
Hati atau Nalar?
Akhirnya Meytapun mengambil keputusan, diciumnya cincin itu sambil mengucap, “Bismillah.....”



                               ***** selesai ah, terusin sendiri-sendiri*****



Malang, 23 Februari 2020
**) terinspirasi pohon randu dekat rumah yang ditebang.