Rabu, 20 Maret 2019

Belum Ketemu Judulnya


Beberapa kali baca berita tentang seorang anak yang tertinggal orangtuanya ketika sedang bepergian ke suatu tempat, terus terang saja, begitu baca pasti dong langsung terucap kata: Koq bisa?!

Coba saja contohnya nih, ada berita yang anaknya tertinggal di Rest Area, di Bandara, di Restorant, di Mall, dan lain-lain, yang intinya memang seolah orangtuanya koq ya kebangetan amat. Masak iya anak bisa ketinggalan, orang hape saja nggak pernah lepas dari tangan....

Baca komennya juga pedas-pedas lho, dan rata-rata menyalahkan orangtua terutama ibunya yang harusnya memang selalu mengawasi anaknya.

Aku jadi ingat waktu Kk masih kelas 2 SD dan Ndiek masih bayi dalam gendonganku. Saat itu aku habis ambil raport dari sekolahan Kk dan kami naik KRL ekonomi untuk pulang (saat itu Comuter Line-nya masih ada beberapa dan di jam-jam tertentu saja).

Kk dari kelas 1 SD sudah terbiasa naik KRL ini dan sejak kecil kakinya memang lincah seperti Kijang dan Kambing Gunung. Jadi buat dia tidak masalah harus melompat-lompat sendiri di antara sambungan gerbong yang bagi orang awam agak ngeri, atau merangkak naik ke atas gerbong karena dari lantai stasiun ke atas pintu kereta memang agak tinggi (kadang petugas terlambat meletakkan tangga di pintu gerbong).

Nah, saat itu, ketika kami baru saja masuk ke Stasiun, ada pengumuman kalau KRL Ekonomi jurusan Bogor – jakarta Kota yang tersedia di jalur sekian siap diberangkatkan.

Kk kecil langsung berlari ke jalur itu dan berusaha langsung naik. Mungkin kebiasaan kalau dia pas pulang sekolah sendirian dan harus cepat-cepat naik supaya nggak lama lagi menunggu kereta berikutnya. Dia lupa kalau aku di belakangnya sambil menggendong Ndiek.

Akhirnya terjadi deh, begitu Kk naik, keretanya jalan.
“Ayo mamie, cepetan...,!!”  katanya sambil mengulurkan tangan dari pintu kereta. (Dia pikir dia kuat menarik mm-nya kali ya...)
Kalau aku nggak sambil nggendong Ndiek ya mungkin bisa langsung melompat naik. Lha ini..., sambil nggendong bayi, masih ada juga tas dan prekenak-prekenik bayi dalam tanganku.
“Nggak bisa Kak, nanti tunggu mm di Stasiun aja...” jawabku. Kulihat dia mau melompat turun.
“Eh, nggak usah turun..., nanti tunggu mm di Stasiun!” teriakku sebelum kereta semakin melaju dan menjauh.

Dari Stasiun Bogor, nanti akan melewati Stasiun Cilebut dulu, baru setelah itu kami turun di Stasiun Bojonggede. Rumahku di Bogor dulu.
Jadi ceritanya waktu itu bukan anaknya yang tertinggal di Stasiun, tapi mm-nya yang ketinggalan, hehehe...

Kalau kemarin nih, waktu aku sedang ngantri di Poli Kandungan di RS Puri Bunda, aku sedang melototin hape, jadi sedang tidak ngeh dengan yang sedang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara tangis anak kecil. Akupun menengok.

Kulihat seorang gadis kecil berkerudung lucu yang kira-kira berumur 2 tahun sedang menanggis di depan pintu ruang periksa yang baru saja tertutup. Perlu beberapa waktu sampai akhirnya pintu itu terbuka kembali dan si gadis kecil bisa masuk.

Penasaran. Kutunggu dan ingin kulihat seperti apa penampakan orangtuanya yang tadi sempat lepas kontrol pada anaknya walaupun sebentar.

Ketika keluar dari ruang periksa, tampak sepasang pasutri muda, mungkin belum 30 tahun usia mereka. Sang suami menggendong bayi mengikuti langkah istri yang berada paling depan dan melenggang menuju apotek di seberang ruang periksa. Baru di belakang sang ayah adalah gadis kecil tadi yang berjalan sendiri, dan seperti umumnya anak kecil yang mudah terpesona dengan lingkungan, diapun berjalan sambil tengak-tengok dan sering berhenti...

Kalau melihat pemandangan ini, memang tergelitik hati ingin memprotes; kenapa si ibu tidak mau menggenggam tangan anaknya? Toh tangannya bebas melambai....

Tapi terlepas dari semua contoh kejadian di atas, kita tetap nggak boleh lho menjudge seseorang hanya berdasarkan penampakan semata. Kita kan tidak tahu pasti kondisi perasaan mereka saat itu bagaimana. Kan ada kata-kata bijak yang menyatakan kalau yang kita lihat tidaklah selalu seperti yang terlihat.... Hayooo...., iya apa iyaaaa???

Penampakan di ruang tunggu Poli Kandungan saat itu memang bertebaran dengan pasutri muda dan pengantin baru. Rata-rata ibu muda yang mungkin perut membuncitnya adalah kehamilan anak pertama atau kedua. Yang jelas, maksimum umur mereka paling 35 tahun.

Lha terus di sini, ada nenek-nenek ikut ngantri di Poli Kandungan, apa juga hamil???!!!

(Ssssssssstttttttt!!!!!! Ceritanya dilanjut lain kali ya......)


Malang, 21 Maret 2019

Senin, 21 Januari 2019

Diklatsar Pecinta Alam Wanala Unair XLI



“Kak, nengokin Diklat yuk...” ajakku pada Kk pagi itu.
Padahal sih sebetulnya aku galau antara mau pergi atau tidak, sebab aku belum tahu lokasi tepatnya yang dipakai Diklatsar Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Unair Surabaya ke 41 saat ini (6-13 Januari 2019). Terakhir kudengar lokasi  Basecampnya sudah pindah dari tempatku menjalani Diklatsar yang sama 32 tahun yang lalu. Kalau Pelantikannya sih masih tetap di Sumber Tetek.
“Ayuk...” jawab Kk.  Dia sih seneng aja kalau ikut aku ke acara Wanala, sebab dia lebih banyak kenal dengan Juniorku di Wanala ini daripada aku. (Karena usia mereka memang tidak jauh berbeda).
“Tapi mamie nggak tau lokasi Basecampnya.” kataku.
“Ini, dikasih sharelocnya sama mas Fais.” katanya. Tuuh kan..., aku aja nggak ada kontak sama mereka yang saat ini di lapangan, tapi si Kk malah punya sharelocnya.
“Ya udah, kita naik bis aja turun di Masjid Cheng Ho, terus katanya sih naik ojek ke lokasi...” kataku.
“Kata Sabil nanti dijemput pakai motor di Masjid Cheng Ho mie...” kata Kk. Wah wah wah..., si Kk ini bener-bener dapat diandalin ya...
“Okkkeee..., mamie suka sekali yang begini...., hehehe.....” jawabku sambil tertawa. Sabil itu Ketua Umum Wanala yang masih aktif saat ini, seumuran sama Kk. Dan bersama Fais, Robby, Wahyu cowok, Wahyu cewek, serta Tommy (kalau nggak salah) mereka pernah naik Gunung Argopura bersama. Makanya mereka akrab.

Sekitar jam satu siang, aku dan Kk naik Grab ke Arjosari kemudian nyambung bis ke arah Surabaya. Nanti turun di Terminal Pandaan, terus nyebrang ke Masjid Cheng Ho.
Tadi sih Kk sempat nanya, apa perlu bawa Sleeping Bag. Kujawab nggak usah, sebab malam nanti kita langsung pulang. Nggak usah nginep, pikirku.
Sampai di terminal Pandaan, aku dan Kk langsung ke toilet dulu. Mumpung masih ketemu toilet. Sebab kondisi Basecamp sekarang kan aku nggak tahu sama sekali, sedangkan untuk menggunakan toilet alam (baca: semak-semak), sepertinya di usiaku saat ini koq rasanya gimana gitu....
Begitu sampai di Masjid Cheng Ho, hp Kk tiba-tiba mati. Dia langsung manyun tuh. Sudah dicolokin power bank yang dia bawa, tetap aja nggak mau nyala. Cemberut tingkat dewa-dewi deh... (motto anak-anak jaman now kan hp adalah nafasku).

Sekitar setengah jam (lebih mungkin), tiba-tiba hpku bunyi....., Sabil menelpon.
“Mbak, ada di mana?” tanyanya.
“Di depan Bil, di gerbang masuk dari depan tuh...”jawabku sambil berdiri, “Kamu di mana?” sambungku sambil melongok kanan kiri mencari-cari.
Ketika aku berbalik, “Astaghfirullah...” Sabil berdiri di depanku sambil memegang hpnya.  Sama-sama kaget, dan tawa kamipun pecah.
Ternyata daritadi tuh kami duduk di tempat yang sama, hanya saja beradu punggung. Aku dan Kk sibuk menatap ke arah pintu masuk..., sedang Sabil mengawasi ke arah dalam.
Sabil mengajak anak Diklat 40, cewek, namanya Hanif buat menjemput aku dan Kk. Aku dibonceng Sabil. Kk mengikuti di belakang, dia yang membonceng Hanif. Nggak tahu, kenapa Kk yang membonceng. Ssst..., Kk juga yang kasih tahu aku nama Hanif ini.


Menuju Basecamp, aku benar-benar hilang arah. Aku belum pernah sekalipun lewat sini, dan sepertinya lumayan jauh. Melewati beberapa perkampungan penduduk, tapi jalanan aspal oke... Melihat jaraknya, nggak salah kalau agak lama juga Sabil nyampai di Masjid Cheng Ho.
Setelah sampai di depan Pos Pantau Vulkanologi, kami masuk ke jalan tanah berumput di sepanjang tepian sungai. Jalannya tidak terlalu lebar, hanya pas sebuah mobil masuk. Jadi kalau bawa mobil musti hati-hati supaya roda tidak terperosok masuk sungai.

Akhirnya sampailah kami di Basecamp.
Dua buah tenda berukuran raksasa tampak berdiri di tepi sebuah tanah lapang yang luas (atau lapangan bola?). Seorang cewek nyamperin aku dan memberi salam, dia Pipit  dari Diklat 39, Ketua Panitia Diklat 41 ini. Aku tahu dia karena pernah datang ke rumahku beberapa bulan lalu.
Suasana sepi. Karena saat ini sebagian besar panitia Diklat sedang menunggu peserta yang Linmed menuju pos pendaratan di SD Wonosunyo, dan sebagian lagi pasti sedang mempersiapkan lokasi pelantikan nanti malam di Sumber Tetek.
Di tenda konsumsi ada Ipe yang sedang membuat bubur kacang hijau (dia pernah ke rumahku dengan Pipit) dengan satu orang cewek (aku lupa namanya), dan seorang lagi cewek yang aku juga lupa namanya, dia tampak sibuk dengan laptopnya (mungkin dia yang bertanggung jawab di dokumentasi dan publikasi).
Di tenda satunya ada Bowo dan Bambang (ALB dari Diklat berapa, lupa). Kemudian ada Bernard yang baru datang juga. Ada Wahyu (kata Kk sih dipanggilnya pak Lurah), dan siapa lagi ya..., lupa. Waktu itu nggak kucatat sih, kami langsung asyik ngobrol aja.
Sempat ketemu Robby (dan pacarnya) yang kemudian langsung berangkat mengantar konsumsi ke lapangan.

Eeh, nggak lama kemudian hpku bunyi, Etty Harjanti Handayani (Diklat 10) nelpon, “Mbak...., aku kesasar. Sekarang aku di depan Pos Pantau, ini terus ke mana?” tanyanya. Ternyata dia nyusul juga. Padahal tadi pagi juga sama galaunya dengan aku, antara mau pergi atau enggak, hehehe....
“Kesasar? Posisimu di mana sekarang?” tanyaku.
“Suruh tunggu di situ aja mbak, biar kujemput... “ kata Sabil yang mendengar aku bertelpon dengan Etty.

Ternyata Etty nggak lama. Dia nggak 
nunggu acara pelantikan nanti malam. Jadi ketika setelah maghrib, aku dan yang lain-lain menuju lokasi pendaratan, Etty dan suaminya pulang. Tapi kurasa yang sebegitupun pasti sudah hal yang luar biasa buat Etty, cukup untuk mengobati rasa kangen pada suasana seperti ini. Suasana Diklat yang mengharu biru.

Tiba di SDN Wonosunyo, dua team peserta sudah mendarat dan pada bergelimpangan di teras sekolah, beristirahat menunggu pelantikan nanti malam, setelah Linmed mereka sehari semalam di lereng Gunung Penanggungan ini. Pasti lelah lahir bathin, bercampur lega.  Sudah pernah kualami dulu, hehehe....

Beberapa orang Anggota Wanala (aktif) yang melihatku tampak datang menghampiriku, seperti Fais, Reza, siapa lagi ya...., mengucap salam, dan yang belum kenal mengenalkan diri sambil menyebut Diklatnya, ngobrol sedikit, kemudian melanjutkan aktifitasnya lagi. Yang lain mah cuek bebek.  Sungguh beda dengan jamanku dulu ketika menanggapi apressiatif senior yang datang di acara mereka, hehehe....
Aku sempat mau ke toilet, tapi kata panitia, di sekolahan ini toiletnya tidak keluar airnya dan tempatnya horor karena tidak berlampu.
“Nggak ada airnya mbak, pakai ini aja...” Bambang langsung menyodorkan botol air mineral yang dibawanya. Kuterima dengan takjub, makasih ya...
“Mamie manja ih..., apa harus ke toilet sekarang? Jangan ngrepotin anak-anak dong mie, mereka kan sibuk...” kata Kk. Manja katanya?! Enak aja!! Biarpun aku juga Anggota Wanala, tapi sudah emak-emak nih. Dia belum ngerasain jadi emak-emak sih.
“Saya antar ke masjid aja mbak..., ini juga saya barusan dari masjid...” dua orang panitia cewek cantik yang baru turun dari motor menawarkan diri. Oke deh..., akupun diantar salah satunya (aku lupa namanya, tapi sepertinya dari Diklat 40) menuju masjid pakai motor. Jauh, katanya. Makasih ya..., sudah meladeniku...., muach.

Kembali dari toilet, aku tetap ngobrol dengan Bambang dan siapa ya..., lupa lagi, masuklah sebuah mobil sedan ke halaman SDN Wonosunyo ini. Pasti ALB lagi yang datang.  (Eh, jangan risau dengan banyaknya lupaku lho ya..., karena tampaknya saat ini faktor U sudah amat turut andil banget dalam hidupku, hihihi....)
Sungguh suatu perasaan yang tidak dapat kuceritakan melihat begitu besar support, perhatian dan interestnya para ALB dengan kegiatan juniornya di wadah Pecinta Alam yang kami miliki ini. Sebuah wadah yang mengikat kami dan menjadikan kami sebagai saudara seumur hidup, walaupun rentang perbedaan usia kami yang sangat jauh.
Keluar dari mobil adalah cowok-cowok ganteng dari Diklat 28, 29, dan 30. Sepuluh tahun bedanya dengan Diklat saat ini. Ada Arya, Viki, Bobo, dan Tatang (?). Tetapi mereka masih menyempatkan diri hadir.
Sambil menunggu acara Evaluasi Linmed jam 22.00 WIB, Sabil dan Fais mengajak aku dan Bambang mengobrol di sebuah kelas kosong.
“Sambil duduk mbak, daritadi mbak Aan berdiri terus, apa nggak capek... “ kata Sabil.  Si Kk ke mana? Entahlah..., pasti dia sudah menemukan teman ngerumpinya sendiri.

Ketika sedang ngobrol itulah, ada panitia yang memberitahu Sabil dan Fais kalau acara Evaluasi di Lapangan depan sekolah itu akan dimulai. Kamipun keluar dari kelas dan melihat semua peserta sudah dibawa ke lapangan oleh panitia.
“Mbak Aan nanti ke Sumber sama anak-anak ya...., tunggu saya carikan dulu...” kata Sabil.
“Iya, iya..., gampang Bil... Sudah sana, kamu Evaluasi dulu.” kataku.

Naah, baru sekarang tuh kelihatan si Kk. Dia muncul begitu saja, entah dari mana.
“Lapar nggak Kak, mamie lapar nih.... Perasaan tadi kita belum makan dari pagi ya...” kataku sambil berjalan menghampiri tempat cowok-cowok ganteng (ALB yang datang pakai sedan tadi) nongkrong.
“Di mana ada warung ya....” tanyaku ke mereka.
“Waduh, di mana ya... Biar diantar Tatang aja mbak, cari warung ke bawah...., pakai mobil aja...” kata mereka. Itu yang Diklat 30, kamu namanya Tatang kan? Bener nggak sih... Sorry kalau salah ya..., dan makasih sudah diantar-antar.
Aku dan Kk pun diantar mencari warung ke dekat masjid tempat aku tadi numpang ke toilet. Tapi ternyata warung-warungnya sudah pada tutup. Jadi aku cuma membeli beberapa bungkus roti sisir. Lumayan buat mengganjal perut supaya tidak masuk angin, pikirku. Kamipun kembali ke SDN Wonosunyo tadi.
Evaluasi masih berlangsung, jarum jam semakin merambat naik, tiba-tiba saja rombongan cowok ganteng tadi pada pingin jalan kaki ke Sumber Tetek. Si Kk ikut jalan. Aku mah ogah. Jadi aku dan Tatang naik mobil ke Sumber Tetek. Nunggu pelantikannya di sana aja.

Sampai di Sumber Tetek, ternyata ada Ibu Nur (Pembina Wanal saat ini) yang lagi tidur di mobilnya. Tadi sekitar jam 21.00 dijemput Bernard di GG karena nggak berani bawa sendiri ke atas (lokasi) yang memang medannya naik turun curam dengan kondisi jalan yang hanya cukup dua mobil berpapasan.
Ada juga Nuh dan Zaky dari Diklat 10. Wowowowooo....!! Mereka bawa Martabak dan Terang Bulan banyak banget. Sampai-sampai mobilnya bau Martabak, kata Tatang yang sempat diminta tolong ambil ke mobilnya buat dicemilin sambil nunggu acara pelantikan.
Kira-kira setengah jam kemudian robongan cowok ganteng dan Kk yang tadi berjalan kaki sampai di sini. Pada keringatan di tengah malam begini.  Biar perutnya pada kempes dikit...., hehehe.... Sejak lulus kuliah dan kerja, pasti pada jarang Binjas, jadinya perutnya mulai membuncit tuh...

Menjelang tengah malam, Upacara Pelantikan Anggota Baru wanala Unairpun dimulai. Penerangan sekitar lokasi dipadamkan, para pesertapun berdiri dengan kaki direndam di air sumber. Aku melihat dari pinggir pagar.
“Mbak, ikut upacara ya. Berdiri di sini aja. Pasti kangen suasana ini kan.” kata Wahyu sambil mengajakku berdiri di samping Bu Nur dan Sabil.
Okelah. Sebab, ternyata akupun juga masih hafal dan dapat menyanyikan lagu Hymne Airlangga yang dinyanyikan setelah lagu Indonesia Raya dengan benar.
Begitupun juga ketika Ikrar dan Janji Wanala dibacakan yang diikuti oleh seluruh peserta, akupun dapat menikmatinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Untung nggak mewek.
“Ayo mbak, mbak Aan ikut mengguyur anak-anak...” kata Sabil ketika acara pengesahan pengguyuran air pada para peserta. Wahyu memberikan gayung air padaku.
Kuambil segayung air kembang yang sudah disiapkan panitia di sebuah tong besar dan mengguyurkan sedikit-sedikit ke atas kepala para peserta. Benar-benar campuran air dan kembang yang wangi itu, bukan air bekas cucian piring seperti jamanku dulu, hehehe...




Sekitar jam 01,00 dini hari, Upacara Pelantikan selesai dan semua kembali ke Basecamp. Peserta dinaikin Pick-up, dan kulihat si Kk ikut naik Pick-up dengan Sabil. Aku sendiri ikut mobilnya Bu Nur.

Sudah lewat tengah malam. Rencanaku tadi kan tidak nginap. Tapi kalau sekarang kondisi begini, apa iya aku tetap mau pulang? Kasihan Sabil (dan yang lain) yang pasti harus mengantarku ke terminal.
“Nginap aja ya mbak, besok pagi aja pulang..., habis ini makan dulu...” kata mereka.
“Mbak, mau pulang jam berapa..., saya besok selepas shubuh langsung balik..., ayo sama saya aja.” tadi Bu Nur juga sempat menawarkan begitu ketika kami di dalam mobil dalam perjalanan menuju Basecamp ini.
Ya sudahlah. Tanggung juga kan, kalau nggak merasakan suasana seperti ini sampai tuntas. Kapan lagi ada kesempatan begini..., belum tentu tahun depan bisa datang lagi nengokin Diklat. Namanya juga emak-emak, urusannya kan banyak.
Akhirnya Nasi Tumpengpun dipotong sekitar jam setengah tiga pagi. Ini syukuran sekalian sahur kali ya...., hehehe... Beberapa ALB tampak lagi. Ada Iwan si ayah, ada Yasak, dan lain-lain.
Setelah acara makan selesai. Masing-masingpun langsung merebahkan diri di tempat itu juga. Bergelimpangan begitu saja. Walaupun tampak beberapa panitia menggunakan Sleeping Bag sebagai selimut. Si Kk juga memakai Sleeping Bag punya Panji dan merebahkan diri tidak jauh dari tempatku duduk.

Aku sendiri, masih ngobrol dengan Sabil dan Sodek. Sesekali juga ada yang ikut nimbrung. ALB yang lain pada ngerumpi di luar di depan api unggun yang dibuat Yasak. Tidurpun mereka pada bergelimpangan beratap langit.
Setengah empat pagi.  Aku masih ngobrol dengan Sabil dan Sodek. Mau tidur? Ini sudah hampir shubuh. Tanggung amat.
Setengah lima Bu Nur bangun dan diantar ke masjid oleh Yasak dan Sabil.
Kk bangun, dan menuju semak-semak untuk menunaikan buang air kecil. Sudah biasa ke gunung dan hutan ya seperti itu. Cukup bawa tissu basah (yang seharusnya tidak boleh), katanya.


Pulang dari masjid bu Nur bermain bola dan kami sempat foto-fotoan. Belum banyak yang bangun, baik peserta maupun panitia Diklat. Kasihan, pasti remuk redam luluh lantak deh tubuh mereka, setelah sepekan penuh beban, perjuangan dan doa..., hehehe...
Ketika aku akan pulang, kusempatkan menengok sebentar ke tenda. Ternyata Sabil tampak pulas..., hanya Sodek yang masih sempat kulihat terjaga sampai aku pulang.
Sabil, maaf ya... aku benar-benar lupa kalau kamupun pasti lelah sangat, tapi semalaman masih menyempatkan diri menemani aku ngobrol sampai pagi. Sungguh aku jadi merasa egois dan tidak tahu diri.
Sebetulnya, nggak perlu juga memaksakan diri harus menemani aku ngobrol, walaupun memang saat itu bisa dibilang aku adalah ALB tertua yang hadir. Salahku sendiri kan kalau aku tidak tidur?

Ketika pulang, Bu Nur yang disupirin Tatang, mengantarku sampai ke Terminal Pandaan untuk menunggu bis ke Malang. Trimakasih ya bu..., dan Tatang.
Trimakasih buat semua adik-adik Wanala yang terlibat dalam penyelenggaraan Diklatsar kali ini. Trimakasih telah menghadirkan satu lagi kenangan indah untuk kunikmati besok. Viva Wanala!!



Malang, 22 Januari 2019

***setelah sampai rumah, si Kk bilang kalau Sabil dan Fais minta maaf karena tidak melepasku pulang, karena mereka masih tidur. Ya ampuunn..., sampai segitunya ya... (aku jadi terharu nih...)


















Selasa, 11 Desember 2018

Deja vu



Pernah dengar kata deja vu kan? Pernah ngalami nggak? Suatu perasaan yang seolah sudah pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.
Aku baca di artikel kesehatan, katanya sih sebagian besar manusia pernah merasakan sensasi deja vu ini dalam hidupnya. Mungkin sekitar dua atau tiga kali. Kalau lebih dari itu atau sering, sebaiknya diperiksakan kesehatan (dan mental) nya.
Nah Lo!!
Padahal aku tuh merasa sering lho mengalami deja vu. Walaupun secara terperinci dan detil, aku agak susah mengingatnya. Yang jelas, sering sekali di banyak aktifitasku, aku seolah pernah mengalami hal itu. Entah waktu mimpi atau sudah pernah benar-benar mengalaminya.
Ada sih penjelasan yang masuk akal lainnya, yaitu kemungkinan kita sudah pernah melakukan hal yang mirip di tempat yang mirip, sehingga memory otak menipu kita dengan merasakan seolah-olah sudah pernah.
Perasaan deja vu ini hanya sekian detik lho ya..., kalau lama ngerasakannya, berarti bukan deja vu, tapi sedang bernostalgia atau melamun.
Contohnya secara sederhana begini, ketika kaki melangkah turun dari kereta..., dan melihat suasana stasiun saat itu, tiba-tiba sekilas kita merasa kalau sudah pernah melakukan hal itu dengan kondisi yang sama. Sudah. Srettt, hilang begitu saja.
Tapi kalau rasa atau ingatan itu berlanjut, dengan melihat seseorang dari masa lalu tiba-tiba berdiri di depan kita. Saling pandang dan terpaku. Lidah terasa kelu. Jantungpun berdegup bak sedang lomba lari marathon.
Huft. Itu namanya ngarep.com.... 😁😁😁
Hehehe...., gimana..., pernah merasakan yang mana?
Kalau aku, kupikir aku sering merasakan sensasi deja vu itu dari mimpi, sebab seringkali mimpiku itu seperti sebuah kisah. Ada jalan ceritanya yang runtut dan bisa dinikmati.
Dulu sih aku rajin mencatat apa saja mimpiku begitu aku terbangun. Selalu ada kertas atau buku catatan di sampingku tidur, sehingga nantinya aku masih ingat apa mimpiku semalam dengan membaca catatan itu. Sebab kalau nggak langsung dicatat, pasti akan lupa.
"Sudah sarapan belum?" tadi pagi WA ku mencicit.
Pertanyaan ini pernah ditanyakan orang yang sama berpuluh tahun yang lalu. Bedanya, kalau dulu langsung diucapkan di depanku, sedangkan kali ini adalah via WA.
"Sarapan dulu sana, mukamu pucat. Sepertinya kamu masuk angin..." katanya.
"Memang kepalaku agak pusing sih, lututku juga gemetar..." jawabku.
"Makanya makan dulu sana, perutmu kosong itu. Kapan terakhir makan?" katanya.
"Apa iya aku kelaparan..., aku terakhir makan sih kemarin siang..." jawabku sambil berpikir, apakah betul kalau perut kosong, kepala jadi pusing.
Nah, kalau yang barusan itu aku sedang melamun, bukan deja vu. Aku memutar kembali memory berpuluh tahun lalu karena satu pertanyaan yang sama dengan masa yang berbeda, hehehe....
Deja vu-ku kali ini adalah, aku seolah sudah pernah menuliskan kata-kata dan kalimat yang sama, entah kapan dan di mana....



Status FB 12-12-2018

Senin, 26 November 2018

Cerpen : Di Ujung Tanjakan Cinta


Cerpen : Di Ujung Tanjakan Cinta


Jug ijag-ijug ijag-ijug..... Jug ijag-ijug ijag-ijug....

Commuter Line yang kunaiki mulai melambat ketika memasuki area Stasiun Bogor. Aaaah...., akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di kota ini, pikirku dengan rasa hati yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Kita ga jemput Lo di Jakarta ya..., kita tunggu aja di Stasiun Bogor.” Semalam chat dari Indah memastikan kalau aku harus otw sendiri menuju Bogor setelah turun dari kereta yang membawaku dari Malang.
Kejam nian mereka!! Membiarkan aku menggendong sendiri carrier 60 liter di punggungku sambil membawa beberapa tentengan berisi Kripik Tempe, Coklat Tempe, Almond Cookies,  dan Pia pesanan mereka. Minta oleh-olehnya maruk, tapi nggak mau jemput.

Hawa panaspun secara nggak sopan langsung menyergap ketika kulangkahkan kaki menuju pintu keluar stasiun, sungguh berbanding terbalik dengan suasana di dalam Commuter Line yang sejuk damai sejahtera karena ber AC. Membuat wajah imutku serasa terbakar.  

Suasananya sih masih sama seperti dulu. Bedanya kalau dulu ada penjual Kue Gemblong di dekat pintu keluar, sekarang area stasiun benar-benar steril dari pedagang asongan. Tanpa sadar aku mengernyitkan dahi. Silau men!

Di pagar pembatas pintu keluar, tampak berderet wajah ceria makhluk-makhluk tersayangku sejak di SMA dulu. Mereka adalah Indah, Silva, Fani, Fahmi, Septian, dan .....Rendy! Lho, koq ada Rendy?!
“Nunaaa....., kangen ih sama Looo....” Indah, Silva, dan Fani serentak memelukku erat-erat begitu aku berdiri di depan mereka.. Kamipun berpelukan ala-alay sambil tertawa-tawa.....

Puas berpelukan, kami menghampiri para cowok yang menunggu dengan sabar di dekat loket. Akupun kembali memandang heran pada Rendy. Kenapa Rendy ada di sini?

Buntut  Lo pingin ngikut katanya...” Bisik Indah yang melihat keherananku. Haah?!! Rendy mau ikut?
“Kenapa Lo ada di sini sih?” Tanyaku pada Rendy yang seharusnya dia ada di Bandung.
“Emang ga boleh?” Balasnya bertanya. Rendy ini memang bagaikan buntutku karena sejak SD kami sudah berteman dekat. Bahkan ketika SMP dan SMA kami berbeda, dia tetap saja beredar di sekitarku. Makanya jangan heran kalau diapun mengenal baik sobat-sobitku di SMA.
“Kenapa pertanyaanku dijawab dengan tanya?” Jawabku.
“Jadi harus dijawab nih?” Katanya tetap dengan nada bertanya.
“Ya udah sih, biarin aja Rendy ikut. Dia sanggup nyetir sendiri sampai ke sono...” Sahut Fahmi.
“Nyetir sendiri? Kita bukannya pakai motor?” Tanyaku. Aku benar-benar tidak tahu perubahan rencana terakhir ini, yang tiba-tiba saja ada Rendy juga.

Dulu, sejak SMA, setiap tahun aku and the gank ini selalu merefresh hati dan pikiran dengan jalan-jalan ke Perkampungan Baduy di Kabupaten Lebak Banten, karena kebetulan kami sama-sama anggota Pecinta Alam di Sekolah.

Tapi sejak aku kuliah di Malang dan keluargaku ikut menyusul pindah beberapa tahun lalu, aktivitas tahunan itupun jadi terlewatkan olehku. Aku jarang sekali main lagi ke Bogor. Di banyak kesempatan, terutama liburan, aku sibuk menyatroni wilayah Bromo Tengger Semeru buat nganterin tamu, aku nge-guide nih ceritanya.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu, tiba-tiba my gank menyuruhku mampir ke Bogor, terus ke Baduy dulu sebelum aku berniat nyamperin Rendy di Bandung yang minggu depan mau wisuda.

“Pakai motor aja..., biar pulangnya santai, nggak harus dikejar-kejar jadwal kereta dari Rangkasbitung. Start dari Bogor kita lewat Jasinga.” Kata Septian beberapa hari lalu di group my gank. Rencana perjalanan dan pembagian tugas sudah deal sejak itu.

Terus, gimana ceritanya si Rendy tiba-tiba ngikut dan bawa mobil? Itu pertanyaannya.

“Kita naik mobil aja yaaa...., biar Lo nggak capek ngegendong carrier.” Rendy menjawab pertanyaanku tadi sambil melepas carrier dari punggungku. My gank spontan terkena batuk berjamaah melihat perlakuan  Rendy padaku. Uhuk. Uhuk. Huk. Huk. Huk.

“Tapi Lo kan belum pernah main ke hutan. Ngapain ikut?” Jawabku mengacuhkan suara batuk yang saling menyalak bersahutan.
“Makanya sekarang gue mau ikut. Nanti kalau pulangnya Lo pingin langsung balik ke Malang juga gapapa deh...” Kata Rendy sambil merengkuh bahuku dan mengajak jalan ke tempat parkir.
“Kenapa gue nggak boleh ke Bandung? Apakah harus ada yang gue curigai?” Sergahku.
“Siapa bilang nggak boleh?” Selalu tanya yang berbalas tanya. Huh.
“Hoiiii, kita tetap jalan bareng atau pulang ke rumah masing-masing aja nih?” Kata Fahmi menyindir. Hehehe..., maafkeun ya gank.... Rendy ini memang kadang suka lebay gini.

“Mi, Lo apa Septian aja deh yang duduk depan, nemenin gue melek.” Kata Rendy ketika melihat Fahmi dan Septian yang memposisikan diri mengambil tempat duduk di bangku paling belakang.
“Ogah, gue mau tidur.” Jawab Fahmi, yang disambut anggukan setuju oleh Septian.
“Lhah gue kagak tau jalan....” Kata Rendy sambil menyalakan musik. Teman Hidup by Tulus.
 “Pakai maps! Susah amat sih hidup Lo!” Sahut Indah sambil menyusul Silva dan Fani yang duduk di bangku tengah.

 Dia indah meretas gundah, Dia yang selama ini kunanti/Memanja sejuk, memanja rasa/Dia yang selalu ada untukku/

Nada-nadanya memang harus aku yang duduk di depan menemani Rendy melek dan nyetir. Hoaahhmmm...., padahal aku juga ngantuk karena semalam di kereta  nggak bisa tidur gegara ada yang nyalain musik kencang-kencang. Berisik banget. Nggak seperti suara Tulus ini nih.

Di dekatnya aku lebih tenang/Bersamanya jalan lebih terang/

“Kita ke Rangkasbitung ya Mi?” Tanya Rendy sambil mengaktifkan maps di hpnya.
“Iyaaaa!!” Fani dan Silva serentak menjawab.
“Eit, ngapain....?! Langsung aja tujuan Ciboleger.” Sahut Septian.
“Kan biasanya kita ke Rangkas dulu...”  Kata Indah.
“Itu kalau naik angkutan umum, kita ke terminal Rangkas buat cari kendaraan yang ke Ciboleger.”  Kata Septian.
“Jadi, langsung ke Ciboleger nih....” Rendy memandang padaku minta persetujuan.
“Iya ‘kali....” Aku mengangguk tak pasti.
“Gimana sih....” Sungut Rendy sambil mendengus, “Nyasar bodo amat nih ya.”  Katanya sambil mulai menjalankan mobilnya menyibak mentari yang menyengat.

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku/ Berdua kita hadapi dunia/Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju/Bersama arungi derasnya waktu/
Bila di depan nanti/Banyak cobaan untuk kisah cinta kita/Jangan cepat menyerah/Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu/

Suara Tulus membuat kantukku semakin menggayut ketika sejauh mata memandang, di depan mata adalah lautan mobil pribadi dan angkot yang sedang saling berebut jalan. Macet.

“Makan dulu yuk!! Gue lemes nih...” Aku hampir melompat  mendengar suara Rendy yang tiba-tiba membelah mimpi. Bagaikan suara petir Dewa Zeus yang menggelegar di siang bolong menyambar kepalaku. Eh, bukan ding...., ternyata tangan Rendy yang menyentuh kepala membangunkanku. 
Aku mengerjabkan mataku. Yihaa!! Ajaib!!  Baru juga sekerjaban mata, ternyata kami sudah sampai di....., tunggu, kulihat dulu sekeliling....., ternyata ada di depan Tugu Singa! Artinya kami sudah sampai di Jasinga, dan Rendy juga sudah memarkir mobilnya di depan sebuah warung lalapan.

“Cepet amat sampai sini, baru juga berkedip.” Kataku dengan mata berat.
“Enak aja berkedip!! Lo ngorok sejak masuk mobil...” Sahut Indah dari belakang kupingku. Ah, apa iya?! Terus siapa dong yang nemenin Rendy melek? Aku mengikuti langkah kaki mereka memasuki warung lalapan.

Ajaib!! Lagi-lagi ajaib!. Ternyata setelah perut kenyang mataku jadi melotot lebar, sedangkan menurut teori, biasanya kalau perut kenyang kan mata jadi ngantuk. Sepertinya dunia sedang berbalik 180 derajat buatku. Semoga ini awal yang baik. Aamiin.

“Yuk kita lanjuuut, masih setengah perjalanan lagi kan ke Ciboleger?” Kataku bersemangat.
“Iya yuk, buruan...., biar ga kemalaman nyampenya...” Fani menimpali sambil bergegas naik ke mobil.
“Kita keburu kan Mi?” Tanyaku pada Fahmi sambil melirik Rendy. Posisi duduk di mobil masih seperti tadi.
“Kalau menurut langkah kaki gue sih insha Allah keburu. Maximum maghrib deh...” Jawab Fahmi.

Langkah kaki penduduk lokal pasti keburu, jalan mereka cepat sekali. Langkah kaki Fahmi dan Septian insha Allah keburu. Langkah kakiku, Indah, dan Fani, semoga juga keburu. Terus langkah kaki Rendy? Aduuuh....., gimana nanti langkah kaki si Rendy ini???? Perjalanan pakai kaki nanti bisa 4 sampai 5 jam lho....

Rasa galau memikirkan bagaimana langkah kaki Rendy nanti sedikit terobati dengan tersajinya pemandangan elok nan rupawan dari negeriku tercinta ini. Hawa sejuk khas alam pegunungan sungguh membuat hatiku berbunga-bunga. Melupakan segala lara yang ada. Bukit berbunga..., bukit yang indah... Kalau tidak salah, jaman dulu ada syair lagu seperti itu, jamannya mamaku.

Waktu terus merangkak, dan tidak seperti tadi ketika aku berkedip sekali tiba-tiba sudah setengah perjalanan, kali ini sudah sampai berkejab-kejabpun ternyata belum nyampai juga. Berarti tadi aku tertidur lumayan lama ya..., hehehe... Sorry Rennn...., kedua mata cantikku tidak mampu menahan kantuk.

                                                            ***   ***

Ciboleger. Gerbang menuju Bumi Kanekes tegap menyapa. Seolah memanggil semua jiwa untuk berbahagia ketika melewatinya. Ada rindu yang membiru, menggayut di ujung ranting bambu malu-malu. Membuat hati tidak tahan untuk tidak mencintainya.

Suasana Baduy sudah terasa kental sekali, terlebih ketika di toko-toko sepanjang jalan menuju gerbang masuk rata-rata memajang kain  ikat kepala tradisional masyarakat Baduy yang berwarna biru dengan corak khas mereka.

“Sep, Lo cari si Aa’ yang biasa nemenin kita, gue udah kontak dia kemarin, sekarang gue ke Jaro dulu...” Kata Fahmi pada Septian. Septian mengangguk dan berjalan menuju sekelompok laki-laki berikat kepala warna putih dan berbaju putih atau hitam. Di bahunya tergantung tas tradisional khas Baduy. Mereka adalah orang Baduy Dalam yang siap mengantar pelancong-pelancong menembus hutan dan huma menuju pekampungan mereka.

“Mobil diparkir sini aja nih?” Tanya Rendy sambil membuka pintu bagasi dan mengeluarkan bawaan kami.
“Harusnya sih jangan ditinggal di sini. Harusnya  Lo gendong naik sampai ke atas...” Jawabku. Indah, Silva, dan Fani ngakak mendengar kata-kataku.
“Daritadi jawaban Lo ke gue ngeselin abis dah...” Kata Rendy sambil melotot dari balik kaca mata minusnya.
“Iya..., gue juga perhatiin tuh...” Timpal Silva sambil senyum-senyum kompor. Indah dan Fani mengangguk-angguk. Aku mendengus lirih. Mereka tahu kalau aku pasti kesal memikirkan nasib Rendy nanti. Kalau kami kan memang sudah biasa berkutat dengan alam lepas, mau ke gunung kek, hutan kek, no problemo. Lha ini, Rendy, si Tuan Arsitek yang biasanya cuma berkutat dengan diktat, proyek, dan mall, eeeh...., tiba-tiba ikut! Haduuuhhh.....

“Mana Septian, belum balik dia?” Tiba-tiba Fahmi muncul. Kami menggeleng. Septian belum nampak.
“Mi, ini yang mau dibawa yang mana aja nih?” Rendy menunjuk bawaan kami.
“Semua, kecuali carrier Nuna sama oleh-olehnya .... Tapi terserah sih, ‘kali aja anak-anak mau bawa....” Jawab Fahmi.

Biasanya kami memang tidak membawa banyak perlengkapan tiap jalan ke sini, paling juga sepasang baju cadangan, jaket, snack, dan air. Kan besok juga sudah balik.

Setelah menitipkan mobil ke petugas pengelola parkir, kami mulai berjalan pelan-pelan memasuki gerbang wilayah Baduy, sambil nunggu Septian yang belum juga nongol. Di kanan-kiri jalan setapak dekat gerbang ini, ada rumah-rumah tradisional beratap jerami, berdinding anyaman bambu, berbentuk panggung yang menjual pernak-pernik dan asesoris khas Baduy. Mulai dari gelang, gantungan kunci, teko, gelas, sendok garpu, tas, selendang, kaos, dan lain-lain yang semuanya dibuat dari bahan-bahan alami seperti serat kayu dan batok kelapa. Di beberapa rumah juga tampak ada ibu-ibu yang sedang menenun selendang dengan alat pintal tradisional. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.

“Hoii..., kita langsung jalan nih?” Tiba-tiba Septian muncul dari arah belakang bersama si Aa’dan seorang anak kecil sekitar umur sepuluh tahunan.
“Maaf, tadi lagi di toko sekalian belanja...” Kata si Aa’sambil menyalami kami satu persatu. Begitu juga si anak laki-laki tadi. 

Aa’ini dulunya tinggal di Baduy Dalam, tapi setelah menikah tinggal di Baduy Luar. Orangtuanya masih tinggal di Baduy dalam, dan anak laki-laki kecil itu adalah adiknya.

“Ah, nggak apa-apa A’.... Oke, kita langsung jalan aja deh...., ya guys?!” Kata Fahmi sambil memberi isyarat pada kami untuk mulai jalan.
Si Aa’ jalan di depan bareng Fahmi, terus diikuti Fani, Silva, Indah, Aku, Rendy, Septian, dan terakhir adalah adik si Aa’.

“Si Rendy tanggung jawab Lo ya...” Septian sempat berbisik padaku sebelum kemudian dia menempati formasi di belakang Rendy. Aku hanya mengangguk pasrah.

Jalanan berbatu dengan tanjakan dan tikungan tajam saling silih berganti. Huma dan hutan sesekali juga silih berganti. Pemandangan luar biasa mempesona saja yang selalu setia mengiringi kami.

Untuk menghemat nafas, kami juga tidak banyak bicara. Semuanya fokus pada langkah kaki masing-masing.

Perjalanan satu jam masih terlampaui dengan mulus. Masuk hitungan dua jam, ritme langkah kaki Indah mulai kendor. Aku dan Rendy mengganti posisinya. Indah melangkah di belakang Rendy.

Masuk jam ketiga, iring-iringan kami mulai berjarak. Tidak sengaja terbentuk kelompok-kelompok  kecil yang mulai sering berhenti untuk beristirahat.

Si Aa’, Fahmi, Fani, dan Silva tetap konsisten dalam langkah di depan. Indah yang dijaga Septian dan adik si Aa’ semakin melambat. Aku dan Rendy di tengah-tengah dengan kondisi juga mulai melambat.

Entah kenapa, tiba-tiba saja perutku terasa mual dan kepalaku jadi berat. Otomatis dua hal itu membuat irama langkahku tidak sinkron lagi dengan otakku. Tapi gengsiku lebih mengalahkan lunglaiku. Masa’ kalah sama Rendy yang baru sekali ini seumur hidupnya menggunakan sepasang kakinya untuk berjalan jauh mendaki bukit menuruni lembah? Jadi ingat Ninja Hatori film kartun di TV jaman dulu.

“Na..., semalam gue mimpi dihadang Harimau Putih waktu jalan begini. Kira-kira ngaruh nggak sama perjalanan kita ini?” Tanya Rendy.
“Nggak ada hubungannya sama sekali. Mimpi itu kan  waktu Lo tidur...., nah sekarang Lo jalan kaki beneran, bukan tidur. Lagian, di sini ga ada binatang buas, apalagi harimau.” Jawabku.
“Mungkin ada mitos-mitos apa gitu?” Tanya Rendy lagi.
Ga ada Reeennn.... Cuma selama di sini ya kita harus ikuti aturan-aturan mereka. Mereka punya kearifan lokal yang terjaga secara turun temurun dari nenek moyangnya...” Jawabku.
“Paling nanti tuh, di Tanjakan Cinta depan situ tuh. Katanya, kalau Lo bisa ngelewatinnya dengan lancar, maka kisah cinta Lo nantinya juga bakalan lancar...” Sambungku.
“Emang iya gitu?! Kata siapa?”
“Kata gueee...., kan barusan juga gue yang bilang...” Sahutku sambil menahan mual yang rasanya semakin mengaduk-aduk perut.

Langkahkupun semakin berat karena kepalaku semakin pusing. Kelompok Fahmi menghilang di tikungan depan, kelompok Indah terhalang tikungan di belakangku. Kakiku melemas, aku terduduk di sebuah batu, hampir muntah. Rendy segera melepas tas punggungku dan meraba dahiku.

“Perut gue Ren.... Sama kepala gue....“ Aku mengernyit menahan sakit.
“Minum dulu nih!” Rendy menarik tubuhku menyender ke dia dan memaksaku minum. Aku minum seteguk.
Lo masuk angin ini. Istirahat aja dulu..., lurusin kaki...” Katanya sambil tetap memaksaku bersender padanya dan menuangkan minyak kayu putih ke tanganku. “Gosokin di perut.” Katanya.  

Aku menurut dan memejamkan kedua mataku. Sejenak, dua jenak. Kenapa rasanya nyaman sekali berada dalam dekapan Rendy? Tidak ada rasa canggung, tidak ada rasa gengsi, tidak ada yang kupikirkan lagi. Rasanya ingin begini terus. Seolah berasa di rumah.

Tapi itu tidak mungkin terus kulakukan. Aku harus bangun. Perjalanan masih panjang. Masih harus melewati tanjakan terheboh itu, Tanjakan Cinta yang panjangnya sekitar setengah kiloan.
“Jalan lagi yuk, gue sudah enakan koq...”  Kataku sambil bangkit dari zona nyaman dan meraih tas punggungku.
“Sudah, biarin sama gue....” Rendy menggendong tas punggungku di depan dadanya.
“Ini yang tadi gue bilang Tanjakan Cinta...., Lo jalan duluan deh. Gue ngerangkak aja pelan-pelan...” Aku mendorong tubuh Rendy supaya berjalan lebih dulu ketika kami sampai di depan tanjakan.  

Tapi Rendy meraih tanganku dan setengah ditariknya supaya aku tetap melangkahkan kakiku bersamanya melewati tanjakan cinta yang seolah tak berujung. Genggaman tangannya kokoh dan mantap menggenggam tanganku.

Dua kali aku terpeleset dan tiga kali hampir tiarap kalau saja Rendy tidak menahan tubuhku. Kenapa Rendy si anak kota ini tiba-tiba sekarang jadi Superman di pedalaman ini? Kenapa ternyata tenaganya tidak setipis tubuhnya? Kenapa juga dia seolah tahu apa yang harus dilakukannya di tempat seperti ini? Bukankan ini adalah pengalaman pertamanya? Kepalaku pusing lagi memikirkan berbagai pertanyaan tentang Rendy. Nyut nyut nyut.

Akhirnyaa!! Ulalaaa!!!

Tanjakan Cinta yang seolah tak berujung inipun sampai pada ujungnya, dan kemudian menampakkan wajah- wajah yang tadi sudah jauh di depan kami, Fahmi cs yang sedang duduk beristirahat sambil makan-minum dengan santainya.

Lo kenapa Na?” Tanya Silva yang mungkin melihat pucatnya wajahku.
“Mau pingsan dia...” Jawab Rendy. Siapa juga yang pingsan, pikirku. Tapi aku malas membantah, jadi aku diam saja, sibuk mengatur nafas yang tinggal satu-satu.

Aku merebahkan tubuhku di rerumputan. Dengkulku mau copot. Rendy duduk di sampingku sambil memijit telapak tangan dan jari-jariku. Lumayan juga, sakit kepalaku jadi berkurang. Sampai akhirnya Indah cs tiba dan ikutan tiarap tidak jauh dariku. Warna mukanya sudah merah seperti kepiting rebus.

“Gimana, termasuk lancarkah langkah gue ketika tadi melewati Tanjakan Cinta?” Tanya Rendy ketika aku nyaris tertidur. Aku mengangguk dengan mata terpejam.
“Berarti kisah cinta gue nanti lancar dong?” Tanya Rendy lagi. Aku mengangguk lagi sambil mata tetap terpejam.
“Apakah dalam mitosmu juga disebutkan, kalo yang ngelewatin adalah cowok-cewek, apa nanti mereka bakalan jadian?” Tanyanya  lagi. Aku melotot. Haahhh??!!
Mitos darimana itu?!” Fani yang mendengar kalimat Rendy langsung menyahut.
Mitosnya Nuna...” Jawab Rendy.
“Tapi gue nggak bilang ada acara jadian segala...” Sanggahku sambil bangun dari rebahan dan duduk. “Minyak kayu putihnya tadi mana?” pintaku ke Rendy.
“Jadi maksudnya Lo nggak mau jadian sama gue?” Tanya Rendy sambil memberikan botol minyak kayu putih.
Lo gila ya?!” Balasku.
“Serius ini.... Lo mau ga kalo kita jadian?” Rendy menatapku sambil tersenyum. Aku terhenyak. Masih belum yakin dengan kupingku. Jadi ceritanya si Rendy nembak aku nih? Nggak ngasih coklat, nggak ngasih bunga.... Malah ngasih botol minyak kayu putih. Nggak romantis amat!!

Kulihat wajah para sohibku tampak tidak terkejut. Mereka cuma senyam-senyum nggak jelas. Aku jadi curiga mereka memang sudah tahu.

“Abaikan dulu mereka, jawab gue..., mau nggak?!” Desak Rendy.
Lo berharap gue jawab apa?”.Aku masih berusaha mengelak.
“Jawaban apa itu, jelas aku maunya kamu jawab iya.”  Kata Rendy.

Lho..., koq dia jadi menyebut aku dan kamu, bukan Lo gue lagi....

“Aku maunya besok kamu datang ke wisudaku sebagai pasanganku, bukan sekedar teman kecilku. Apa selama ini kamu nggak pernah sedikitpun punya rasa yang berbeda padaku? Nggak pernah sekalipun mencoba menganggap aku sebagai orang yang lain? Padahal mereka aja tahu kalau aku suka sama kamu, masak kamu nggak ngerasa sih?” Sambungnya panjang lebar. Edan dia, ini semua dikatakan di depan publik men!

“Perjalanan ini sudah direncanakan sejak sebulan lalu, termasuk Fahmi jalan jauh di depan dan Indah jadi lelet. Sejak itu juga aku joging tiap hari. Latihan fisik. Biar nanti di sini minimum aku nggak bikin kamu jengkel... Eh, ternyata kamu pakai acara masuk angin segala, jadi deh rencanaku biar nampak keren di matamu makin mulus. Aku tadi keren kan?”
“Iya, keren! Tapi apa kamu pikir aku akan menjawab tidak, koq kamu ngomongnya jadi banyak banget gitu?” Aku berusaha menahan malu ketika akhirnya mengatakan itu. Kurasakan pipiku panas sekali seperti terkena tamparan, tapi tamparan cinta lho yaaaa....
“Artinya kamu mau?”
Aku mengangguk. Tersipu. “Iya. Aku kan bukan robot yang nggak bisa merasa...” Jawabku. Selama ini aku memang merasa nyaman dengannya. Nyaman dengan semua perlakuannya padaku, sehingga tidak merasa perlu mencari orang lain dalam banyak hal. Mungkinkah itu cinta?
Yessss!!!! Makasih sudah mau menjawab Iya.”  Rendy mengacaukan rambutku dengan gemas.

Horeee...., cie-cieee....., suit-suittt..... Rame sekali sambutan pemirsa melihat tontonan live di depan mata. Kecurigaanku terbukti, mereka sudah tahu tujuan Rendy ikut kali ini dan mendukungnya. Dasar, sekongkolik....!!

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku/ Berdua kita hadapi dunia/Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju/Bersama arungi derasnya waktu/
Kau milikku, ku milikmu/Kau jiwa yang selalu aku puja/



                                    ***                  selesai              ***



           
2 Nopember 2018