Selasa, 30 Agustus 2016

Reuni = Silaturahmi



Sebentar lagi sudah mau Lebaran Haji, berita-berita tentang reuni dan sebangsanya yang marak mengiringi Lebaran Fitri sudah mereda tampaknya. Akupun mungkin sudah boleh menghela nafas lega.
Kenapa begitu?
Karena salah satu hal yang kutakuti selain kantong bolong setelah Lebaran Fitri adalah reuni ini.

Reuni. Bertemu dengan teman-teman untuk bernostalgia atau sekedar ngobrol adalah sesuatu yang menyenangkan, yang sayangnya aku tidak selalu mendapatkan kemewahan itu.
Kusebut kemewahan karena bagiku kalau sampai aku bisa datang di suatu acara reuni, hal itu adalah kesempatan yang langka dan agak luar biasa bagiku.

Kesempatan. Kemampuan. Keadaan. Setiap orang memilikinya secara berbeda. Banyak hal yang tidak sama lagi setelah sekian waktu berlalu. Si A yang dulu adalah siapa-siapa, sekarang mungkin bukan siapa-siapa. Si B yang dulu bukan siapa-siapa, sekarang mungkin adalah siapa-siapa.
“Ah, nggak usah mikir lain-lain…, yang penting datang aja…, nggak ada itu pikiran macam-macam…” mungkin kalimat seperti itu akan selalu mengalir dari salah satu panitia atau teman yang mengundang kita.

Bagiku itu teori. Karena kenyataannya, kalimat “datang saja” itu artinya tidaklah sesederhana itu. Untuk datang saja, diperlukan kesempatan dan kemampuan dari keadaan saat ini. Kesempatan untuk menyisihkan banyak hal yang harus dikerjakan pada saat acara reuni itu. Kemampuan dalam hal materi dan immateri alias biaya dan mental.
Mungkin akan ada yang mengatakan, “Halaa…., cuma sehari aja masak nggak ada waktu?”
Atau, “Biaya apa?    Paling mulai berangkat dari rumah sampai pulang lagi nggak akan lebih dari seratus ribu…”

Halloooo…
Teman-teman tersayangku. Kondisi setiap orang berbeda.
Satu hari yang disepakati oleh banyak orang untuk suatu acara itu mungkin adalah hari penting bagi seseorang yang menentukan masa depan kehidupannya. Atau kalau kalimat yang kutulis itu agak lebai, contoh lain adalah mungkin hari itu masih hari kerja bagi seseorang.

Tentang biaya, bila banyak orang menganggap uang seratus ribu itu “hanya seratus ribu” karena itu adalah senilai uang minum kopi atau makan siang  kalian, maka jangan lupa bahwa di kehidupan seseorang yang lain, uang seratus ribu itu adalah uang belanja beberapa hari bagi keluarganya.
Jadi kalau teman-temanku yang tersayang masih dapat dengan leluasa meloncat dari reuni satu ke reuni lainnya, bersyukurlah. Karena tidak semua orang mempunyai keberuntungan itu.

Oh ya, ada satu hal lagi yang selalu menggelitik hatiku, yaitu tentang keikhlasan. Kalau sudah bersedia menjadi pasukan berwenang alias panitia dalam komunitas itu, tolong jangan menghitungnya. Misalnya begini, aku nih orang yang selama ini paling sibuk dan selalu hadir di setiap acara, maka kalau aku kelak bikin acara, orang lain juga harus sibuk seperti aku dan harus datang di acaraku.
Atau begini, “Eh, kamu ya…, kenapa tidak datang di rumah si A, padahal waktu kamu sakit dulu kan dia baik sekali sama kamu dan selalu menjengukmu…”

Please jangan begitu ya teman-temanku tersayang. Sekali lagi, setiap orang punya kesibukan yang berbeda. Dan tanpa diingatkanpun seseorang itu tahu balas budi koq.
Ada lagi pertanyaan-pertanyaan pribadi yang mungkin bagi banyak orang adalah hal biasa, tetapi buat seseorang itu adalah pertanyaan yang tidak ingin didengarnya (ini salah satu hal kesiapan mental ketika datang ke salah satu reuni).
“Hei…, kenapa kamu nggak nikah-nikah sih? Sudah tua tau…”
“Eh, dulu ceritanya gimana koq bisa dapat suami/istri si A dan tinggal di planet mars?”
“Kenapa nggak kerja lagi?”
Dan beberapa pertanyaan aneh lainnya, yang bisa membuat seseorang trauma dengan reuni dan akhirnya mengatakan ,”Aku tidak akan pernah datang ke reuni manapun…”**
**kalimat itu pernah kubaca dari internet, tulisan seseorang yang mengatakan kalau saudaranya tidak akan mau datang ke reuni karena dia hanya seorang penjual bensin eceran sedangkan teman-temannya sudah sukses semua dan banyak yang jadi pejabat.

Media Sosial memang sangat berpengaruh dalam komunikasi saat ini. Tetapi kalau yang tidak ikut dalam komunitas  (misalnya aku yang tidak mau ikut group karena keterbatasan alat komunikasiku), atau memang tidak punya akses dengan Medsos itu, apakah harus dibuang? Dikucilkan? Dianggap tidak ada?
Aah…, sayang sekali…

Karena sekali lagi kondisi setiap orang tidak sama. Sudah banyak yang berubah saat ini.
Parahnya lagi kalau di acara itu tiba-tiba komunitas menjadi (entah sengaja atau tidak) terkotak-kotak menjadi beberapa kelompok, misalnya kelompok pejabat, kelompok tukang sapu, kelompok yang sering datang, dan lain-lain.

Reuni adalah suasana silaturahmi yang harusnya menyenangkan sekali dan menjadi kenangan indah setelah nostalgia yang lalu terungkit lagi, jangan jadikan komunitas baru untuk mengabaikan yang lainnya. Reuni adalah milik semua orang, seharusnya.



Malang, 30 Agustus 2016s
**dari yang terpinggirkan dan maaf tidak ingin menyinggung seseorang, hanya beropini saja.

Senin, 25 Juli 2016

Sukabumi, Bogor, Bekasi part 3




Ah, ternyata aku masih punya hutang nulis perjalananku waktu ke Bekasi kemarin. Kembali ke rumah, kesibukanku sudah ngalahin presiden kali…, sampai nulis saja jadi tidak sempat lagi. (Kurasa kesibukanku memang lebih parah dari presiden deh. Presiden kan nggak nyapu, masak, cuci piring, cuci baju, belanja, masak ayam buat mie, order mie, nungguin jualan, ngurusin sewa tempat jualan, ngurusin sekolah anak, buka fb, dll)
Semoga masih banyak ingatan yang tersisa ketika satu minggu aku tinggal di Muara Gembong, Bekasi, beberapa bulan lalu. Eng ing eeeng…….

Kami berangkat jum’at pagi dari apartmen mas Inang di Kalibata City menuju Bekasi dengan mobil Mas Inang. Kali ini nggak ada yang berangkat naik motor, semua dimasukkan jadi satu di dalam mobil. Cukup nggak cukup harus cukup kup kup kup.
Sepertinya jarak Jakarta Bekasi memang tidak jauh, tapi kenyataannya hampir waktunya sholat jum’at kami baru sampai di Giant Harapan Indah. Janjian dijemputnya oleh staf GNI Bekasi memang di Giant ini.
Info yang kami terima adalah daerah tujuan kami  ini cukup terpencil, tidak ada in**mart, atm, dll. Jadi sambil menunggu para lelaki melaksanakan sholat jum’at, kami berbelanja keperluan logistic yang praktis, macam mie instan, sarden, kornet, dan sebangsanya.

Ternyata benar juga, lokasi tujuan masih jauh di ujung dunia. Buktinya sudah lewat satu jam perjalanan tuh, kami belum sampai juga. Oh ya, sebagian penumpang dan bawaan kami dari mobil mas Inang dipindahkan ke mobil staf GNI, jadi sekarang kami dapat bergerak nyaman….      J J
Kami berhenti makan siang di sebuah warung bakso depan pasar, yang katanya itu adalah keramaian terdekat dari lokasi kami nanti. Huft….

Perjalanan dilanjutkan sejam lagi, dan akhirnya sampai deh di kantor CDP GNI Bekasi. Hari sudah menjelang sore (kalau melihat jam, tapi terik matahari seperti  tengah hari bolong).
Muara Gembong. Kuinjakkan kakiku di daerah ini untuk satu minggu ke depan. Air menggenang di mana-mana, sisa banjir yang tertinggal.
Setelah acara perkenalan dengan staf GNI Bekasi dan beberapa orang relawannya, pembagian wilayah untuk besok, dan persiapan segala tetek bengek keperluan pekerjaan untuk besok pagi, kamipun diantar ke rumah penduduk tempat kami akan menginap.
Hari sudah malam saudara-saudara, bayangan kasur dan bantal seolah memanggil-manggil, dan ternyata di sepanjang jalan yang kami lalui untuk menuju penginapan itu, kami melihat banyak penjual makanan seperti warung bakso, ayam goreng, lalapan, dan lain-lain. Lah, katanya, informasinya, daerah ini terpencil…., tapi koq ramai begini? Justru di sini tampaknya kami tidak akan mengalami kelaparan seperti di Cileuksa kemarin, karena minimnya penjual makanan matang.

Tiba di penginapan…., wuiiih…, baru terasa….., haredang saudara-saudara……, dan nyamuknyaaaa…., galak-galak seperti monster. Buanyak dan bandel-bandel…., nggak mempan disemprot……
Sudah dapat dibayangkan kalau seminggu ke depan nggak bakalan dapat bermimpi indah, sebab boro-boro mau mimpi, tidurpun juga pasti akan susah…. Hiksss…..  :’(
Signal yang ada, sama seperti di Cileuksa, hanya in**sat yang konek. Signal dari provider lain malu-malu kucing, kadang nongol kadang ngumpet.

Perjuangan hari pertama dimulai. Aku membawa mobil mas Inang dengan mengangkut semua pasukan cewek (sebab mas Inang dan Insan tidur di kantor GNI) menuju kantor GNI. Di sana para staf dan relawan yang akan mengantar kami menuju masing-masing desa tujuan sudah siap.
Petugas yang akan mengantarku kalau nggak salah ingat namanya mang Aja (sorry kalau salah, aku sudah tua…, ingatan lemah), sudah  siap dengan sepatu boot dari karet dan topi lapangan.
Kamipun berangkat. Tugasku adalah menuju Desa Muara Mati dan Muara Pecah, yang katanya saat ini jalanan menuju ke sana masih lumayan parah karena banjir luapan air sungai Citarum belum asat semuanya.
Subhanallah. Jalanan yang harus kami tempuh adalah benar-benar diluar bayanganku. Jalanan yang lebih mirip disebut kubangan kerbau itu harus dilewati motor. Bekas roda motor terdahulu itulah yang juga diikuti oleh motor kami. Selain betul-betul butuh ketrampilan mengemudi yang lihai, juga harus pandai-pandai mengambil inisiatif ekstreem, maklum selebihnya lebih mirip atraksi.


Sepanjang jalan tanganku tidak lepas berpegangan pada besi di belakang boncengan motor dan tangan satunya erat memegang perlengkapan berburu responden. Kondisinya benar-benar ajrut-ajrutan…. Sama sekali nggak lucu kan kalau belum apa-apa aku sudah harus terjatuh ke kubangan?!
“Bu, sekarang kan jam sekolah…, kita coba ke sekolahannya dulu aja ya…” tawar mang Aja padaku.
“Iya, boleh mang… “ jawabku pasrah. Dengan medan seperti ini, aku mah ngikut aja, nggak sanggup kalau misalnya disuruh jalan sendiri. Bisa-bisa minggu depan baru nyampai satu lokasi.
Setelah perjalanan yang rasanya lima tahun nggak nyampai-nyampai, kamipun sampai di sekolah yang dituju. Eeeeh, si anak nggak sekolah. Baguslah. Menambah PR-ku.
Kata gurunya, sejak banjir melanda daerah ini, anak-anak memang jarang yang masuk sekolah karena medannya tidak memungkinkan. Kebetulan rumah respondenku kali ini harus menyeberang  kali Citarum setiap berangkat dan pulangnya, sedangkan arus kalinya sedang deras-derasnya.
Halaman sekolahnya juga terendam banjir, dan penampakannya lebih mirip sawah yang habis dibajak pak tani.


Kemudian kamipun menuju kali, mencari getek yang akan menyeberangkan kami ke desa Muara Mati. Sambil menunggu getek menepi dan mang Aja menaikkan motornya, aku mengamati dua orang ibu-ibu yang sedang mencuci ayam di pinggiran kali itu. Sepertinya akan dimasak untuk menu hajatan di dekat sekolahan itu.  Apakah bersih? Apakah higienis? Please jangan tanyakan itu sekarang di kondisi seperti ini.


Pandangankupun beralih ke ketinggian air sungai yang kira-kira setengah meter lebih tinggi dari kubangan kerbau eh jalanan motor yang kami lalui tadi. Ya gimana nggak banjir coba…., air meluap sedikit saja ya sudah tenggelamlah desa-desa ini….
Menyeberang naik getek ada sensasi tersendiri. Duduk di tepian perahu sambil nyengir kepanasan, aku mencoba merasakan dan mencari nikmatnya tinggal di tempat seperti ini. (Kalau nggak ada kenikmatannya, nggak mungkin kan banyak penduduk yang tetap bertahan tinggal di daerah ini?)


Sampai di seberang, kondisi jalanannya lebih bagus dibanding yang tadi. Ada becek sedikit, tapi tidak seperti kubangan kerbau. Walaupun kondisi sekolahan yang kami datangi saat ini tidak lebih bagus daripada yang tadi.


Di sekolahan ini aku berhasil menemukan dua orang anak untuk diwawancara, yang seorang lagi tidak masuk sekolah karena sakit, nanti tinggal ke rumahnya untuk wawancara orangtuanya. Perjalananpun dilanjutkan. Yuuukkk…., mariii….

Lalala……, perjalanan ternyata dilanjutkan dengan melalui pematang. Ya, pematang diantara tambak-tambak/empang di bawah teriknya matahari. (Kalau seandainya pulang nanti anak-anakku pangling pada emaknya, aku nggak nyalahin deh…., sebab kenyataannya memang seminggu harus dihajar sengatan mentari setelah kemarin dua minggu di pegunungan)


Ini benar-benar muara, karena sejauh mata memandang, memang yang tampak hanyalah tambak/empang dengan sedikit sekali gerumbulan pohon bakau.
Sebelum ini aku tidak pernah tahu kalau di antara lautan tambak/empang ini ada komunitas social yang dapat tinggal di sana, suatu kehidupan yang sudah lama terbentuk karena keadaan.
Ajaibnya, orang-orang di daerah sini koq ingat ya, harus belok ke mana dan terus ke mana, padahal menurutku semua bentuk empangnya sama, dan bukan cuma melewati satu atau dua empang saja…., tapi puluhan, ratusan, atau malah ribuan empang sejauh mata memandang.



Perburuan dimulai diantara rumah-rumah nelayan. Tidak ada pohon besar di sini, sebab kupikir komunitas desa ini hanya berdiri di atas timbunan tanah lumpur pantai yang sedikit demi sedikit mengeras dan menyerupai daratan. Itupun hanya secuil kecil diantara lautan empang.
Salah satu responden yang tadi nggak masuk sekolah karena sakit, kucari ke rumahnya. Hanya ada ibunya. Si anak ikut ayahnya melaut.
“Lho, katanya tadi di sekolah nggak masuk karena sakit bu…” tanyaku.
“Iya, tadi katanya sudah enakan, makanya terus ikut ayahnya…”
“Emangnya sering ikut ayahnya melaut bu?” tanyaku lagi. Yang kupikir-pikir sebetulnya pertanyaan ini nggak penting banget. Secara, ini desa nelayan…, sudah pasti dari kecil mereka sudah sering melaut. Apalagi respondenku ini sudah kelas 6 SD.
“Sering bu, sebab sama ayahnya suka dikasih uang jajan kalau mau bantuin ke laut. Apalagi hari sabtu minggu begini. Kalau hari minggu ayahnya nggak pergi, dia sudah bisa bawa perahu sendiri buat cari kerang.”
“Sendiri?! Ke laut sendiri?!” tanyaku takjub.
“Iya bu, tapi ya nggak jauh-jauh, dekat-dekat aja….” Jawabnya santai. Alamak…, ke laut nggak jauh-jauh, macam mau main ke tetangga aja, nggak jauh-jauh.
“Ya udah, kalau gitu saya minta tolong bu, besok jangan ikut ayahnya ke laut dulu ya…, nanti uang jajannya saya ganti….” kataku sebelum pergi.

Selesai di desa ini, perjalanan kembali dilanjut, juga dengan melalui pematang menuju desa lainnya. Desa Muara Pecah.
Untuk penampakannya, kondisi daratan di Muara Pecah ini sepertinya lebih kokoh dibanding Muara Mati, walaupun suasana desa nelayannya tidak kalah kentalnya dengan di Muara Mati. Juga ada sungai kecil yang membelah desa tempat berparkirnya para perahu nelayan. Bedanya di Muara Mati sudah dapat melihat laut, kalau di sini hanya empang empang dan empang di sekeliling….
Sebagian besar responden berhasil kutemui di sini, tetapi kami tetap harus kembali besok sebab hari sudah sore. Takut kemalaman di tengah empang, sedangkan jalanannya hanya pematang begitu. Ngeri kecebur.
“Mang, rata-rata empang ini kedalamannya berapa meter?” tanyaku. Untuk antisipasi kalau misalnya aku tercebur, apakah aku masih bisa menyelamatkan diri.
“Kalau semester dua meter mah ada kali bu…” jawabnya.
“Oke, kalau misalnya jalanan nggak memungkinkan buat saya tetap nangkring di motor, tolong jangan sungkan suruh saya turun dulu ya mang…., daripada saya kecebur dan dikerikitin ikan….” kataku. Dan, kenyataannya memang ada beberapa kali aku harus turun dan berjalan dulu beberapa meter sebelum naik lagi ke motor.
Hari minggu pagi, langsung menuju rumah respondenku yang kemarin pergi melaut dengan ayahnya. Eehhh…, baru juga nyampai, si ibu tergopoh-gopoh nyamperin dan minta maaf kelupaan belum bilang ke anaknya supaya hari ini jangan melaut.
“Pagi tadi saya ke pengajian lupa belum bilang bu, dan ketika saya pulang, anaknya sudah terlanjur ikut ayahnya…., maaf…” katanya.
“Ya sudah nggak apa-apa, besok saja saya balik lagi…” jawabku lemas.

Salah seorang relawan bercerita padaku kalau minat anak laki-laki di desa ini untuk sekolah sangat kecil. Mereka lebih suka ke laut karena dapat duit. Jadi istilahnya sekolah asal dapat baca tulis saja sudah cukup. Malah pernah ada katanya, keesokan harinya adalah UNAS, tapi hari ini sengaja pergi ke laut. Sedangkan biasanya sekali melaut yang agak jauh gitu, bisa berhari-hari lamanya.   Akibatnya bisa dipastikan kalau anak tersebut tidak lulus sekolahnya, tidak ada ijazah. Tapi itu nggak masalah buat mereka.
Belum lagi kalau dapat cerita orang-orang yang pernah kerja di kota. Katanya cari kerjaan di kota susah, gajinya kecil, jadi mending jadi nelayan saja, langsung dapat duit.
Langsung dapat duit di sini karena rata-rata nelayan tidak menjual hasil tangkapannya sendiri ke pasar, tapi ada dua orang pengepul di desa itu yang berangkat ke Tanjung Priuk bergantian tiap harinya untuk membawa hasil tangkapan warga dan menjualnya di sana. Dari pengepul itu mereka sudah langsung dibayar.
Relawan ini mengkhawatirkan keinginan respondenku untuk tetap bersekolah, sebab kebetulan teman sebangkunya sudah tidak mau sekolah lagi dan lebih memilih ikut ayahnya tiap hari ke laut, padahal sebentar lagi kan sudah ujian.

Tapi dari beberapa orang tua yang kuwawancara, rata-rata jawabannya adalah ingin agar anaknya dapat sekolah tinggi supaya tidak seperti orangtuanya yang hanya menjadi nelayan dengan penghasilan tidak menentu. Mungkin memang ada orangtua yang ingin anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai nelayan, tapi itu tidak banyak. Pasti ada alasan yang sangat kuat untuk itu.

Hari senin, tinggal satu lagi nih responden yang belum berhasil kutemui. Maka akupun langsung menuju ke rumahnya.
“Anaknya pergi ke sekolah bu…” kata ibunya begitu melihatku dan mang Aja datang. Alhamdulillah anaknya sekolah, bukan melaut. Kamipun cuss ke sekolahan.
“Akhirnyaaa….” begitu kataku ketika melihat seorang anak laki-laki dengan postur yang lumayan tinggi untuk anak kelas 6 SD dengan kulit yang hitam mengkilat karena seringnya melaut.
“Kemarin sabtu katanya sakit, koq malah ikut ayah melaut?” tanyaku.
“Paginya memang kurang enak badan bu, tapi siangnya sudah enakan, makanya saya ikut ayah ke laut..”
“Sepertinya sering sekali ya ikut ayah ke laut?”
“Iya bu…, senang…, enak bisa dapat duit….”
“Enak mana sama sekolah?”
“Enak sekolah…”
“Tapi sekolah kan nggak dapat duit?”
“Buat masa depan bu…”
“Nanti setelah lulus SD masih mau lanjut sekolahnya?”
“Masih bu, saya mau ke SMP di Muara Gembong…”
Alhamdulillah dia masih mau sekolah. Kekhawatiran relawan padanya pupus sudah, semoga tercapai keinginanmu ya nak. Aamiin.

Selesai sudah pengumpulan dataku, nanti tinggal input yang biasanya bikin mata berat banget. Pulangnya aku beli ikan (yang belum terjual di desa ini tinggal ikan belanak, yang lain sudah dibawa ke Tanjung Priuk) buat nanti di makan rame-rame di kantor GNI dan lewat jalan pertama kali aku terjun ke daerah ini supaya aku dapat mengambil gambarnya. Buat bukti bahwa tidak jauh dari Ibu Kota, masih ada jalanan mirip kubangan kerbau yang perlu perhatian.

Di jalan pulang ketemu A Rahmat dan Ega. A Rahmat dan mang Aja mengusulkan supaya mampir ke rumah mbak Maria (relawan juga) dan minta tolong masakin ikannya supaya nanti sampai kantor tinggal makan.
Usul yang bagus, akupun setuju.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Mbak Maria menambahi bawaanku dengan udang-udang segar yang gede-gede….., hmmm enaknyaaa…. (makasih banyak ya mbak Maria)



Hari-hari terakhir di Muara Gembong diisi dengan input data. Setelah itu kita balik ke Jakarta. Entah kapan lagi akan kuinjakkan kaki ke daerah ini lagi.

Ada yang menarik di sini, yaitu staff GNI terdahulu, ternyata membuat angket lebih dahulu buat anak-anak untuk menanyakan kira-kira bantuan apa yang ingin mereka dapatkan dari GNI. Kalau peralatan sekolah, bentuknya apa saja. Kalau buah-buahan, sukanya buah apa… Jadi mereka tidak asal memberi, mereka membuat studi dulu.
Bagus. Hanya saja, program GNI selanjutnya saat ini di daerah ini apa, itu agak sulit kutangkap. Karena rata-rata responden yang kutanya menjawab, bahwa terakhir kali mereka mendapatkan itu semua adalah satu tahun yang lalu.








Malang, 24 Juli 2016
(mengorek sisa cerita dari otak tuaku)





Kamis, 26 Mei 2016

Sukabumi, Bogor, Bekasi jilid 2






Kemarin kan sudah tuh, cerita tentang perjalanan kerjaku di Sukabumi. Nah sekarang aku mau lanjut cerita kisahku selama di Bogor ya…


Keluar dari hotel, aku, Kiky, dan Puput berencana langsung menghadang mobil Elf yang katanya jurusan Sukabumi Bogor dan lewat depan hotel. Beruntung kami tidak perlu jalan terlalu jauh, cukup beberapa meter saja sudah di jalan raya.
Pada saat itulah tiba-tiba berhenti sebuah motor di depan kami.
“Assalamualaikum…” sapa pengendara motor itu begitu turun dari motornya.
“Waalaikum salam wr wr….. A Rahmat…” jawab kami serempak dan setengah surprise ketika melihat siapa yang datang.
Ternyata dia Rahmat, salah satu staff GNI Sukabumi yang arah rumahnya memang melewati hotel kalau dia akan berangkat ke kantor.
“Sudah akan berangkat bu Aan, mbak Kiky, dan mbak Puput?” tanyanya.
“Iya nih A, aku gak jadi minta tolong cariin angkot, sebab kata mbak Myra naik Elf aja sampai Baranangsiang…” jawab Kiky.
“Iya, naik Elf aja…., itu langsung ke Bogor…” kata rahmat menegaskan. “Tuh mobilnya…” katanya sambil menunjuk mobil yang kebetulan berhenti.
“Makasih ya A…., maafkan kalau kita ngrepotin selama di sini…”
“Sama-sama, makasih juga…, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan…”


Kamipun naik ke mobil Elf dan cusss meninggalkan Sukabumi yang sudah menjadi rumah kami seminggu ini. Tetapi sayangnya, cusnya agak tersendat karena macetttt yang amat sangat ketika kami sampai di sekitar daerah  Lido, atau apa ya… yang banyak pabrik deh pokoknya. Di situ, di jalan itu, antara motor, mobil, dan manusia, semua berebut jalan. Suara bising kendaraan masih ditambah suara klakson yang saling bersahutan. Ribet banget. Kurasa supir-supir  di sini bisa stress dan tekanan darah tinggi semua deh.


Sampai pada akhirnya ketika kami berhasil lolos dari lubang semut itu, eh nggak jauh dari situ tampak di depan sana kemacetan kembali menghadang. Supirnya langsung putar balik dan masuk ke jalan alternative.


Jalan alternative ini kondisinya agak sempit, naik turun dan ekstreem, agak memaksa kalau harus berpapasan dengan mobil lain. Pemandangan sawah dan suasana pedesaan ada di sekeliling. Kiri tebing dan kanan jurang atau sungai sudahlah biasa.


Mobil melenggang dengan santai. Tapi begitu sampai di pertigaan, si supir berhenti, ragu-ragu sambil ngomong sendiri, “Lah…. Ka luhur ka handap nya?”
Kami para penumpang semua terdiam. Kirain sih si supir paham lokasi. Ketika kebetulan ada orang lewat, si supir bertanya arah ke Cihideung yang ternyata ke kanan/ka handap.


Cerita tidak berhenti sampai di sini, karena rupanya akan masih ada banyak pertigaan yang kita lalui dan si supir selalu ngomong sendiri; ka luhur ka handap? Ka luhur ka handap? Rupanya dia sama seperti penumpangnya yang tidak tahu ada di mana kita saat itu…., hehehe…


Setelah melewati berbagai kemacetan lagi yang ternyata sudah masuk wilayah Bogor, akhirnya kami sampai di Baranangsiang.


Kiky melanjutkan naik angkot menuju Stasiun Kereta Api karena akan kembali ke Jakarta. Tugasnya hanya di Sukabumi, jadi dia tidak ikut ke Bogor.
Aku dan Puput menunggu mobil Mas Inang yang akan menumpangi kami sampai ke Kantor CDP GNI Bogor di Cigudeg.
(beruntung sekali punya teamleader seperti Mas Inang yang mau mengajak kami bareng-bareng sehingga kami nggak kececeran sendiri-sendiri menuju lokasi. Makasih banyak ya Mas Inang…)


Sampai di kantor CDP GNI Bogor, kami masing-masing dibagi wilayah survey, mau ditaruh desa mana desa mana. Selanjutnya dengan diantar mobil dan supir kantor, malam itu juga kami naik selama dua jam perjalanan melewati hutan sawit, hutan beneran, hutan macam-macam untuk menuju lokasi. Di luar mobil nggak kelihatan makhluk hidup lain selain kita, gelap, dan jalanan banyak berliku. Mana hujan lagi. Serem-serem seru.


Dua jam perjalanan naik itu seolah dua hari lamanya. Saking jauhnya dari peradaban dan keramaian. Desa tujuan kami adalah Cileuksa. Alhamdulillahnya, jalanan beraspal lumayan bagus. Itu katanya, karena ada Ketua DPRD Bogor yang rumahnya di situ.


Kali ini penginapan kami adalah di rumah-rumah penduduk, bukan di hotel seperti di Sukabumi kemarin, hehehe…



Kondisi rumahnya termasuk lumayanlah untuk lokasi yang sungguh jauh di atas gunung begini. Airnya air sumber yang mengalir ke tiap rumah dengan selang dan ditampung di masing-masing kamar mandi warga yang penutupnya bukan dari kran plastic atau logam, tetapi sumbat kayu. WC nya juga permanent, bukan asal cemplung.
Asyiknya lagi, rumah ini masih memasak dengan menggunakan perapian kayu/tungku berbahan bakar kayu dengan para-para dari anyaman bamboo di atasnya. Persis di desa neneknya ibuku duluuuu….



Penduduknya ramah-ramah dengan bahasa sunda yang masih sangat kental (huaa…., aku hanya ngerti sedikit sekali bahasa sunda, selebihnya blank..). Si Nenek yang rumahnya kutumpangi tidur, selalu menggunakan bahasa sunda setiap berinteraksi, seolah aku mengerti semua kata-katanya….., maafkan aku ya Nek, yang pura-pura mengerti semua cerita Nenek….hiks…


Nenek ini baik banget. Tiap pagi selalu menyiapkan air putih hangat dengan gorengan singkong atau pisang. Malamnya, ada nasi, sambal terasi, rebusan daun singkong, dan pepes tahu. Ini sungguh alhamdulillah banget, sebab di desa ini langka penjual makanan matang, apalagi kalau malam….


Tentang respondenku nih, ternyata anak-anak di desa ini geulis-geulis dan kasep. Bener, cantik-cantik, bersih, clink…
Mereka juga cukup berani dalam mengutarakan pendapat, walaupun sayangnya setiap ditanya cita-cita, jawabannya rata-rata jawaban standard; jadi guru atau dokter. Rupanya hanya  profesi itu yang familiar buat mereka.
Tapi ini menarik juga karena tidak ada yang menjawab ingin jadi seperti ayahnya yang rata-rata bekerja sebagai buruh tani atau gurandil penambang emas illegal.
Tentang profesi yang terakhir (gurandil), sebetulnya menurutku agak memprihatinkan.


Seorang respondenku (ibu dari salah seorang anak sponsor) sempat kutanya agak lebih tentang profesi alm suaminya yang bekerja sebagai gurandil ini. Kebetulan saat aku selesai wawancara, hujan turun deras banget, jadi sambil numpang berteduh, aku bertanya-tanya sedikit.


Suaminya meninggal belum terlalu lama, baru beberapa bulan yang lalu karena sakit. Tadinya di samping rumahnya ada peralatan menggiling tanah untuk mencari emas, tapi sudah dijual setelah suaminya meninggal.
“Maaf, saya pingin tahu bu…., gimana caranya untuk tahu (mendeteksi) bahwa tanah yang diambil berkarung-karung itu ada emasnya atau tidak?” tanyaku penasaran.
“Kan mereka bawa piring bu…, jadi tiap lokasi dikikis sedikit untuk dilihat apakah mengandung emas atau tidak. Kalau kelihatannya ada emasnya, ya tanah di sekitarnya digali untuk dibawa.”
“Kemudian, setelah dibawa, apakah benar akan selalu ada emasnya?” tanyaku.
“Nggak tentu bu… Terkadang sampai 5 karung yang dibawa juga nggak ada emasnya…”
“Kalau misalnya ada emasnya, dalam satu karung sampai dapat berapa banyak?”
“Nggak tentu juga bu, terkadang ada juga yang bias dapat satu gram…”
“Terus, satu gram dijual berapa?”
“Dua ratus ribu…”
“Berapa kali dalam sebulan bisa dapat satu gram itu?”
“Nggak tentu juga bu, kadang sekali…, kadang nggak ada sama sekali…”
Aku menghela nafas dalam-dalam.
Bayangkan, dengan kondisi seperti itu, kenapa profesi seperti ini harus terus dipertahankan?


Memang, pernah ada satu atau dua orang yang berhasil mendapatkan emas dalam jumlah besar sehingga dapat membangun rumah laiknya istana (kami sempat ditunjukkan kemegahan rumah gurandil yang berhasil itu ketika dalam perjalanan ke Cipanas).
Nah, keberhasilan gurandil itu seperti magnet buat gurandil-gurandil yang lain untuk tetap menjalankan profesinya, yang bagiku seolah mengejar ilusi/mimpi saja.


Sempat juga mas Inang mempertanyakan angka kematian lelaki dewasa karena sakit yang bukan disebabkan penyakit menular yang tercatat agak banyak. Ini karena apa? Apakah ada hubungannya dengan zat kimia yang dipakai dalam rangka mencari dan mengolah emas ini? Pertanyaan yang belum terjawab sampai kami meninggalkan lokasi ini.


Perlu dicatat, di desa ini hanya ada satu SD Negri, dan SMP Negri kelas jauh yang tiap minggu bergantian lokasinya di dua desa karena kondisinya masih menumpang di gedung SD Negri tadi. Tidak ada SMA di sini. Tidak ada guru SMA di sini. SMA terdekat ada di satu jam perjalanan turun ke desa bawah, dengan ongkos ojek sekali naik Rp. 30.000,-
Ada gedung Kesehatan sederhana (semacam tempat berobat tapi belum setingkat puskesmas) yang tidak berfungsi karena tidak ada tenaga medis yang mau bertugas di sini.
Yang parah lagi desa yang masih di atas sana, katanya kalau ada orang yang sakit, mereka (penduduk) terpaksa membawa pasien dengan tandu dari bamboo yang digantungi kain sarung, dan membawanya turun dengan berjalan kaki nyaris seharian demi mencapai puskesmas terdekat.
Helloo…., ini di Bogor lho ya…., masih di pulau Jawa.



Jadi jangan salahkan kalau tingkat pendidikan di sini cukup rendah. Tidak perlu ke SMA karena biaya tidak ada…. (jangankan mereka yang tinggal di tempat susah transportasi begini, aku sendiri aja kalau misalnya tiap hari harus mengeluarkan ongkos ojek enam puluh ribu, ya bisa mencret-mencret…., ini tidak termasuk buat yang banyak duit lho ya…, sebab yang banyak duit bisa beli motor).


Salah seorang respondenku yang lain mengatakan, bahwa anak-anak perempuan di desa ini yang tidak mampu sih merasa sudah cukup sekolah sampai lulus SD saja dan kemudian pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Aku sempat tercenung mendengarnya, kemudian kutanya, “ Begini bu,  maaf,saya mau tanya nih…., setelah lulus SD kemudian pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Kira-kira pekerjaan macam apa yang ibu harapkan dengan pendidikan yang lulus SD itu?”
“Ya pekerjaan rumah tangga bu….” Jawabnya.
“Maksudnya?” aku penasaran.
“Jadi pembantu bu….”
Speechless deh.


Mungkin, sekali lagi mungkin nih, solusinya adalah menyediakan tempat (rumah kontrakan) yang diusahakan pemerintah desa untuk anak-anak yang kurang mampu di desa tempat SMAN  berada buat mereka yang memang berprestasi atau benar-benar ingin meneruskan sekolah. Semacam pondokan dengan biaya terjangkau begitulah.


Demikian juga untuk tenaga medis. Mungkin pemerintah desa dapat menyekolahkan anak-anak yang berbakat di bidang medis dengan ikatan dinas (atau sejenisnya) supaya kelak kalau lulus, mereka dapat bertugas di desanya sendiri.


Sekarang, hubungannya dengan GNI, kalau secara umum, masyarakat di wilayah binaan CDP GNI Bogor ini menyadari bahwa GNI tidak dapat terus-terusan ada di wilayah ini untuk membantu mereka, dan mereka juga punya keinginan supaya dapat swadaya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak tergantung pihak lain.


Ada salah satu hal yang cukup membanggakan, yaitu masyarakat sudah punya produk andalan yang dapat dijual ke luar desa, yaitu Kripik Pisang dengan merek “Cauleksa” yang rasanya sudah lumayan. Ada juga penanaman TOGA yang mulai dijalankan. Kalau yang lain belum kelihatan sih, tapi semoga produk lainnya segera menyusul sehingga keinginan untuk menjadi desa swadaya dapat secepatnya tercapai.
(kalau sistemnya terus berjalan, walaupun GNI sudah tidak di sana, Insya Allah yang ini tetap dapat berlanjut)


Di CDP GNI Bogor ini, staff nya ternyata laki-laki semua, dan mereka adalah anak-anak muda yang berpotensi, serta dapat diandalkan. Bravo buat kalian ya…. (Anto, Jarot, Dodo, Mang Ucup, Herry, Dewa, Yadi, ada juga Mang Odot driver, serta beberapa orang volunteer)



Bertugas di wilayah ini, sungguh mengagumkan. Seolah tepat di bawah langit, di ujung dunia. Pemandangan yang terpampang di depan mata adalah keajaiban dunia, kebesaran Allah SWT. Sungguh tidak terlupakan. Kalau suatu saat sedang memandang sebuah gunung, jangan lupa bahwa ada kehidupan di antara rerimbun hutan gemutan di atas sana.



Termasuk ketika malam terakhir kami di sana dan semua kelaparan dan tidak ada penjual makanan, sehingga kami harus merepotkan Ibu Yunis (ibunya Dewa). Malam-malam dimasakkan Nasi Liwet untuk Bacakan (Botraman kalau di Sukabumi), yang nggak pakai dipersilahkan lagi langsung disantap. Padahal si Ibu besok paginya harus berangkat pagi-pagi. Makasih banyak IbuYunis…, semoga Ibu dapat menantu terbaik untuk Dewa dan sayang sama Ibu seperti harapan Ibu…. Aamiin. (ssst…., sambil menemani Ibu Yunis masak nasi liwet, kami sempat ngerumpi ngalor ngidul, maklum… ibu-ibu.., hehehe….)


Aku tidak tahu, apakah ada kesempatan lainnya lagi kelak untuk datang kembali ke tempat itu dan bertemu dengan orang-orang baik di sana.


(keterangan foto :  ini sebelum berangkat berburu responden, diajak sarapan sama ibu-ibu penduduk desa Cileuksa yang baik dengan menu nasi beras merah, lalapan daun kedondong, leunca, ikan asin bakar, dan sambel terasi...., yummyyy....)





Malang, 18 Mei 2016