Minggu, 23 Februari 2020

Cerpen tapi agak panjang : Ketika Cinta Tak Bisa Memilih


(harapan, angan-angan, mimpi, semuanya bisa menjadi do’a)

Rrrrrrrr.......hhh.......zzz....
Akhirnya mesin motor Meyta mati setelah tiba-tiba melambat dengan sendirinya. Padahal tadi tidak kenapa-napa dan baru dua hari lalu dibawa ke bengkel untuk servis rutin. Tadi juga sudah isi bahan bakar di POM samping kantor.

“Aduh Beb, kenapa kamu tiba-tiba ngambek sih?” kata Meyta pada motornya sambil mencoba menstater beberapa kali tapi tetap tidak mau hidup juga. Huft!
Meyta menengok ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Sepi. Tidak terlihat seorangpun di jalan itu. Mungkin karena habis hujan, orang-orang jadi pada malas keluar rumah.

Meytapun kemudian menuntun motornya ke tepi jalan sambil berpikir. Kalau di dunia dongeng dan legenda, biasanya orang yang sedang mengalami musibah seperti ini tuh langsung memohon begini, ”Barang siapa yang bersedia menolongku menghidupkan motor, kalau cewek akan kujadikan saudara, kalau cowok akan kujadikan pacar, tapi kalau semi ke laut ajah... Hihihi....” Meyta geli sendiri.

Memang jalanan yang dilalui Meyta ini bukanlah jalan utama yang biasa dilaluinya setiap berangkat dan pulang kerja. Jalan ini adalah jalan alternatif lewat perkampungan dan lahan kosong yang agak kecil, tetapi aspalnya lebih halus dan yang paling penting adalah tidak macet.

Rasanya Meyta patah hati sekali ketika berangkat dan pulang kerja harus mengalami kemacetan yang setiap hari semakin parah saja. Walaupun sebetulnya wajar sih kalau macet, karena di ujung pertigaan jalan utama yang biasa dilewatinya itu sedang diadakan pelebaran jalan untuk akses keluar masuk tol yang baru. Nanti kalau proyeknya sudah kelar juga bakalan lancar lagi.

Jadiiii...., sebelum proyek itu kelar, mendingan Meyta mengambil jalur alternatif saja dulu. Dan itu sudah dilakukannya hampir dua minggu ini. Supaya pikiran dan perasaannya tidak ikutan ruwet selama di perjalanan, sehingga urusan kantor dan kerjaan tetap lancar jaya. Karena efeknya ke periuk nasi Cynnn....

Meyta memarkir motornya di depan sebuah pos ronda yang kebetulan tidak jauh dari motornya mogok tadi, kemudian duduk di pos ronda itu dan mengeluarkan ponselnya. Dicobanya mencari layanan servis keliling dari ponselnya, sebab seperti kebanyakan cewek pada umumnya, Meyta benar-benar buta tentang ilmu permesinan. Kalau mogok ya harus panggil montir, daripada memeriksa tutup pentil ban yang jelas nggak ada hubungannya dengan mesin. Nanti malah diketawain kucing.

“Selamat sore Mbak...., kenapa motornya?” tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah berdiri di samping motor Meyta.
“Saya lihat tadi motornya dituntun ya?” sambung pemuda itu.
“Eh sore..., iya Mas..., itu..., motor saya tiba-tiba mati.” Meyta kaget. Saking asyiknya menggeser-geser layar ponsel, sampai tidak menyadari ada yang datang. Wow, permohonannya diijabah ternyata.... Ada penolong yang turun dari langit. Apa dia harus dijadikan pacar?

“Maaf, boleh saya coba...?” tanya pemuda itu sambil memberi isyarat akan menstater motor Meyta yang kontaknya memang masih tergantung.
Meyta mengangguk, “Boleh Mas..., silahkan...”
Pemuda itupun mencoba menstater motor Meyta, dan ternyata, “Nggreeeeng.....”  langsung nyala.

“Nggak apa-apa tuh Mbak....” kata pemuda itu sambil menjauh dari motor Meyta yang mesinnya sudah hidup lagi.
“Waah, alhamdulillah, terimakasih Mas....” Meyta girang. Koq ajaib sih..., tadi distater sendiri kenapa nggak mau nyala? Jangan-jangan motornya suka sama pemuda ini...., hihihi....

Meyta pura-pura mengamati motornya, tapi diam-diam mencoba melirik pemuda itu, ingin melihat wajahnya sekali lagi.

“Orang nggak saya apa-apain koq Mbak. Tapi lain kali kalau motornya ngadat begitu, jangan berhenti di tempat sepi begini.... Tuntun saja ke tempat ramai Mbak..., paling tidak di depan rumah orang.” kata pemuda itu.
“Eh, iya Mas....iya...., makasih...”

Lagi-lagi Meyta melihat kanan-kiri yang memang tidak nampak rumah. Kebetulan pos ronda ini berada di depan lahan kosong.

“Nama saya Langgeng Mbak, rumah saya di depan situ.....” pemuda itu tiba-tiba menyebutkan namanya. To the point banget nih orang ngajak kenalannya.
“Boleh pinjam hp-nya Mbak?” pemuda itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Meyta mengangguk dan memberikan ponselnya.

“Saya sudah masukkan kontak saya Mbak. Kalau misalnya ada apa-apa di sekitar sini, kontak saya saja...., barangkali saya pas di rumah, jadi saya bisa bantu... Bahaya di sini sendirian.” pemuda itu mengembalikan ponsel Meyta. Koq dia nggak menanyakan namaku ya, pikir Meyta.

Seperti tersihir, Meyta menerima ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.

“Oke Mas, makasih banyak ya....” kata Meyta yang hampir terpeleset karena mendadak jadi gugup ketika bersiap akan menaiki motornya. Dadanya tiba-tiba seolah ingin meledak. Meyta merasa mukanya seperti terbakar ketika sekali lagi pemuda itu tersenyum padanya.

“Hati-hati Mbak...” jawab pemuda itu sambil mengangkat tangannya sebagai ganti ucapan selamat jalan.


*****   *****   *****


(delapan jam kemudian)

Sudah lewat tengah malam, tapi Meyta masih berguling ke kanan dan ke kiri di ranjangnya dengan mata segar. Melotot seperti mata ikan mas koki yang nggak pernah kelilipan.

“Kamu kenapa Mey..., daritadi Mama dengar suara gedebugan dari dalam kamarmu...” tiba-tiba Meyta melihat kepala Mamanya yang nongol dari balik pintu.
“Aman Ma..., nggak kenapa-napa koq..., cuma nggak bisa tidur aja.” jawab Meyta.
“Mau Mama bikinin coklat hangat?”
“Nggak usah Ma, makasih, nanti malah ngompol...”
“Hus, kamu itu...” Mama Meytapun hilang di balik pintu.

Sejak tadi pula sudah dicobanya berjongkok, push-up, senam, lari di tempat, khayang, koprol, dan lain-lain, kecuali nempel di dinding. Tapi tetap saja matanya tidak juga mau terpejam. Sama sekali tidak mengantuk dan pikirannya melayang ke peristiwa tadi sore ketika motornya ngambek, kemudian perjumpaan yang  tidak terduga dengan pemuda tadi.

Pemuda tadi penampakannya lumayan oke. Dengan sepasang alis mata yang rapi dan tebal mirip bentuk sebatang golok dan sorot matanya tajam.  Kulitnya putih bersih, berambut hitam lurus, dan lumayan tinggi. Mungkin Meyta hanya setinggi bahunya, padahal untuk ukuran seorang gadis, 160cm itu kan sudah termasuk tinggi lho.

Sosok pemuda itu mengingatkan Meyta pada aktor pemeran 007, Pierce Brosnan atau pemeran Mr. Steele dalam tivi seri lama, Remington Steele. Film kesukaan Mama. Tapi ada visual Asia juga sih, seperti Jo In Sung, aktor Korea kecintaannya yang keren banget waktu main di That Winter, the Wind Blows......, huhuhu....

Tapi kalau melihat bentuknya dengan deskripsi itu, orang mungkin akan menduga kalau pemuda tadi, siapa namanya, Langgeng..., ya Langgeng, mungkin orang akan menduga kalau suara dan tindakannyanya dingin serta kasar. Padahal sesungguhnya ternyata orangnya sopan dan kaleeemmmm. Memory Meyta berputar terus seolah sedang menayangkan adegan ulang sebuah scene film. Terus menerus menampakkan wajah Langgeng.

Meyta mengambil ponselnya dan melihat kontak Langgeng yang ditulisnya sendiri tadi. Ada WA-nya, tapi tidak ada foto profilnya. Hanya gambar orang-orangan bawaan dari aplikasinya.

“Ah, mungkin dia orangnya pemalu....” pikir Meyta sambil tersenyum sendiri, walaupun sedikit kecewa. Hei..., padahal mukanya nggak malu-maluin lho.

Senyumannya juga bikin hati langsung meleleh. Yang membuat  Meyta tadi seolah tersihir dan langsung menuruti semua kata-katanya.

Heran juga Meyta pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa sejinak itu pada orang asing yang baru pertama kali dijumpainya. Melongo seperti monyet terkena sambit.

Coba seandainya pemuda itu penjahat, pasti motor dan ponselnya sudah raib dibawa kabur. Orang Meyta dengan sukarela menyerahkannya begitu saja.

“Langgeng memang bukan penjahat yang mencuri motor atau ponsel, tapi mencuri hatiku dan dibawa kabur entah ke mana...., hihihi.....” Meyta tersipu sendiri dan menutup wajahnya dengan selimut.

Membayangkan wajah Langgeng saja, membuat dada Meyta berdegup dengan kencangnya. Seolah ada lomba memukul genderang di sana. Semoga ini bukan gejala sakit jantung. Meyta mulai panik dan meraba dahinya, tidak panas atau keluar keringat dingin koq. Tanpa sadar Meytapun tertidur dengan membawa seberkas wajah penuh senyum di benaknya.


*****   *****   *****


(besok sorenya)

Kali ini sengaja Meyta melambatkan laju motornya ketika melewati tempat motornya mogok kemarin. Kata Langgeng kan rumahnya tidak jauh dari pos ronda itu, agak ke depan sedikit. Barangkali dia ada di rumah, pikir Meyta sambil melemparkan pandang mencari-cari bangunan rumah di sekitar situ.

Cuaca cerah. Jalanan tidak sesepi kemarin. Ada beberapa  kendaraan yang melintas, walaupun tidak seramai jalan utama. Dan terlihat juga orang-orang yang melakukan aktifitas seperti biasa di depan rumahnya.

Meyta masih mencari-cari, sampai akhirnya..... Itu dia dekat tikungan kecil.

Ada sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas. Tampak juga sebuah Jeep berwarna hijau tua di depan garasi yang sepertinya sedang dicuci. Ada selang yang mengitari mobil itu, tapi tidak kelihatan orang yang sedang memegang ujung selangnya.

Meyta penasaran sekali sampai nyaris menghentikan motornya untuk melihat siapa yang sedang mencuci mobil. Apakah Langgeng? Dug. Dug. Dug. Meyta deg-degan.

Tapi pikiran sehat serta gengsinya segera menyergap, yang membuatnya terus melajukan motornya dan tidak jadi berhenti.

“Apa-apaan kamu Meyta..., dasar tidak tahu malu....” katanya merutuki dirinya sendiri.

Tapi senyuman Langgeng kembali bermain di benaknya, membuat wajahnya kembali panas dan dadanya berdegub tidak beraturan. Ini sudah berkali-kali menimpanya hari ini. Membuatnya tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, padahal berkas Proposal Renovasi Gedung harus diserahkan ke Atasannya besok pagi.

“Ya ampun...., apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Meyta melajukan motornya seperti ada yang mengejar. Di tikunganpun dia sampai miring-miring. Rossy aja lewat dah!

“Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?” Meyta merasa otaknya ikutan kacau.

Bertemu orangnya juga cuma sekali. Itupun tidak lama. Siapa dia, apakah masih single atau sudah menikah juga tidak tahu. Tapi kenapa pesonanya begitu mengikat? Kenapa bayangannya tidak mau pergi dari kepala? Apakah dia pakai pelet? Hah?!

Meyta menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir wajah Langgeng dari benaknya.
Husss...!
Husss...!!
Tidak boleh begini!
Tidak boleh begini!!


*****   *****   *****


(delapan jam kemudian)

Berada di tempat tidurnya, kembali Meyta mengalami hal seperti kemarin. Tidak dapat memejamkan matanya walaupun dia sudah ingin sekali tidur. Hati dan pikirannya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Ngitung anak ayam turun seribu sampai anak ayamnya bercicit juga nggak tidur-tidur.

“Baiklah, kucoba sekali aja deh..., biar nggak penasaran... Nyapa doang....” Meyta mengambil ponselnya dan mulai mencoba mengirim chatt ke kontak Langgeng via WA.

{Hai....}
{Ini Meyta Mas, yang beberapa hari lalu motorku mogok dan Mas Langgeng bantuin aku...} Meyta mengetuk tanda kirim di ponselnya.

Satu detik. Dua detik...., lama sekali sih......, huft!

Sebetulnya belum juga satu menit, tapi rasanya Meyta sudah menunggu selama tigabelas tahun. Meyta mempelototi terus ponselnya, menunggu jawaban. Rasanya lebih menegangkan dibanding menunggu hasil ujian SIM yang pengujinya galak.

Tingtong tingtong...

Ponsel Meyta berteriak di tangannya. Meytapun langsung bangun dari rebahan dan melihat ke layar ponselnya. Yihaaa...!!

{Oh, iya Mbak Meyta..., apa khabar?}
{Koq belum tidur?} begitu balasan Langgeng.
{Habis ini tidur koq...}
{Cuma mau ngomong kalau tadi tuh aku lewat depan rumah Mas Langgeng, dan kebetulan lihat mobil yang sedang dicuci...} Meyta sengaja membuat kalimat terbuka, biar nggak kentara banget kalau pingin tahu.
{Iya, aku tadi memang lagi nyuci mobil...., tapi motornya nggak mogok lagi kan?} jawab Langgeng. Cuhuii...., dia sudah pakai kata ganti ‘aku’ sekarang. Nggak formal banget kaya kemarin itu, pikir Meyta.
{Aman mas..., aku selamat sampai rumah koq...} jawab Meyta.
{Kalau lewat depan rumah lagi, Mbak Meyta silahkan mampir lho...}

Ternyata Meyta nggak langsung tidur seperti katanya tadi, sebab obrolan berlanjut sampai hampir dua jam. Macam-macam yang diobrolkan. Mulai dari a sampai z deh pokoknya.

Dari situ Meyta jadi tahu kalau Langgeng tinggal sendirian di rumah itu karena sebetulnya rumah itu hanya semacam rumah peristirahatan. Ya biasalah..., orang-orang yang sibuk dan punya duit selalu punya tempat untuk melarikan diri dari kejenuhan. Apalagi lokasinya pinggiran kota di kaki pegunungan seperti ini. Sungguh tempat yang ideal untuk menyepi.

Semua keluarganya tinggal di Surabaya. Langgeng sendiri  juga sedang liburan dari kuliah S2nya di London. Dan ini yang paling penting, katanya sih, saat ini Langgeng sedang Zero alias kosong alias sedang nggak punya pacar, makanya dia bebas ke mana saja, ngapain saja, sampai berapa lamapun sesukanya.

Ada harapan nih. Setan genit mulai menggoda. Mengkilik-kilik hati Meyta.

{Berarti nggak lama lagi balik ke London dong?} Meyta mencoba bertanya biasa saja, padahal tiba-tiba dia merasa ada batu yang mengganjal di lehernya yang membuatnya jadi sulit bernafas.
{Kira-kira sampai akhir bulan masih di sini.}

Alamak. Akhir bulan itu nggak sampai dua minggu lagi, pikir Meyta dengan dada sesak seolah merasa di PhP pacar.

Malam ini Meyta tidur dengan mimpi buruk. Mimpi kaki digigit ular, tapi kemudian ularnya mati keracunan darah Meyta. Jadi bukannya Meyta yang keracunan bisa si ular. Haduuh, dasar mimpi nggak sopan, bikin cerita sendiri yang nggak sesuai dengan pakem.


*****   *****   *****


(besok sorenya)

Meyta memarkir motornya di depan pagar rumah Langgeng, dan baru akan memencet bel ketika tampak Langgeng keluar dari garasi.

“Motornya bawa masuk aja, daripada dibawa orang...” kata Langgeng sambil membuka pintu pagar lebar-lebar dan mengambil alih menuntun motor Meyta.

Meyta mengikuti Langgeng yang membawa motornya sampai ke depan garasi.

“Nih, tadi aku sekalian lewat Mas...” Meyta menaruh dua  cup es kopi susu dan sekotak pisang bolen di meja teras setelah keduanya duduk.
“Kamu bawa bekal sendiri takut kalau seandainya di sini nggak ada apa-apa ya?” kata Langgeng sambil tertawa.
“Padahal kamu ingin apapun, aku pasti akan usahakan ada...” sambungnya.
“Ih, kaya Jinnya Alladin dong...., mau apa tinggal clink.....” Meyta tertawa.
“Yaah, kurang lebih seperti itulah....” Langgeng tersenyum sambil menatap Meyta.

Ssst..., sejak semalam di chatt, Langgeng sudah tidak lagi memakai embel-embel ‘mbak’ tiap memanggil nama Meyta. Pokoknya mereka berdua sekarang sudah akrab gitu deh.

Langit memang seolah akan selalu berhiaskan pelangi dan bertabur bintang bila dua hati yang berpijar sudah bersambut dan saling mengait, bukan saling menyambit lho. Semuanya luar biasa, tidak terkira. Begitu juga yang dirasakan Meyta saat ini.

“Halaman seluas ini, siapa yang rapihin?” tanya Meyta sambil memandang berkeliling. Rumput yang terpotong rapi, bunga-bunga juga tampak bermekaran dengan indah. Serta tidak ada sehelai daun keringpun yang merusak keindahannya. Seperti lukisan.

“Semua kukerjakan sendiri..., kan aku lagi nganggur. Seharian nggak ngapa-ngapain bosen juga...” jawab Langgeng.
“Ya jangan di rumah terus dong, sesekali main ke mana gitu...” usul Meyta.
“Sudah. Tadi siang aku main ke kantormu...” jawab Langgeng santai.
“Hah? Emang tau di mana kantorku?” tanya Meyta tidak percaya.
“Kan aku ikutin kamu, waktu tadi pagi berangkat lewat sini...” jawabnya.
“Emang iya?”Meyta masih tidak percaya, “Koq nggak masuk atau menyapaku?” sambungnya.
“Aku cuma ingin memastikan kalau perjalananmu aman, selamat sampai tujuan aja...” jawab Langgeng.

Pipi Meyta merona seolah terbakar. Hati Meytapun seperti ingin meledak karena kegirangan. Senang sekali rasanya ketika ada seseorang yang mulai mengkhawatirkanmu dan menjagamu supaya tetap aman.

“Mau lihat-lihat ke dalam?” Langgeng menawarkan wisata rumahnya, hehehe....
Sekali lagi Meyta kagum dengan kerapian isi rumah Langgeng. Benar-benar tampak seperti di foto-foto iklan perumahan atau mebel. Semuanya tertata dan terkomposisi dengan baik. Bukan mewah, tapi sungguh elegant.



*****   *****   *****


(suatu malam, satu minggu kemudian)

{Besok mau nitip dibawain apa?} tanya Meyta sebelum mengakhiri chatting mereka.
{Nggak nitip apa-apa dan kamu juga nggak usah bawa apa-apa...} balas Langgeng.
{Kamu datang aja aku sudah senang, dan kamu juga tinggal bilang kamu ingin apa, nanti pasti kusiapin}

Meyta yang biasa insomnia, kali ini kebalikannya.

Ketika Meyta sudah sangat mengantuk dan matanya berkali-kali merem sendiri, dia tetap saja bertahan untuk tidak tertidur supaya bisa berlama-lama ngobrol dengan Langgeng. Rasanya sayang sekali kalau waktu yang ada dipakai untuk tidur. Kalau perlu kelopak mata diganjel pakai batang korek api.

Konyol memang, karena besok pagi Meyta kan harus berangkat kerja dan beraktifitas seharian. Tapi namanya orang sedang jatuh cinta, semua hal konyol itu terasa membahagiakan.

Kalau bisa, waktupun disuruh berhenti.
Ayam yang mulai berkokokpun disumpahin.
Aurora yang mulai mengintip malu-malu segera diusir kembali.
Apollo yang siap menyergap Daphne diikat dari belakang.

Intinya adalah, waktu ini janganlah pernah berlalu. Kemesraan ini, janganlah pernah berlalu.

Orang jatuh cinta memang selalu ingin mengacaukan dunia persilatan. Eh, dunia normal ding.

Kukuruyuuukkkk......



*****   *****   *****


(rindu yang tertahan)
(besok sorenya lagi)

“Maaf Mbak, jalannya ditutup kecuali penghuni. Banyak pohon tumbang karena hujan tadi siang. Sekarang masih belum selesai dibersihkan. Rumah-rumah juga banyak yang tersapu angin puting beliung.”

Motor Meyta dihentikan oleh para warga yang nampak sedang bersama-sama membersihkan jalan alternatif yang biasa dilewati Meyta akhir-akhir ini.

Tadi siang memang hujan deras sekali disertai angin puting beliung yang menerjang kota ini secara merata. Meyta sendiri juga melihat bagaimana seremnya pepohonan yang meliuk-liuk tersapu badai dari lantai dua kantornya.

Wah, gimana kondisi rumah Langgeng ya...., semoga dia baik-baik saja. Pikir Meyta sambil memutar kembali motornya dan terpaksa lewat jalan utama yang sedang macet menyebalkan itu.

Sampai di rumah, Meyta segera masuk kamar, melemparkan tasnya entah ke mana. Kemudian merebahkan diri di ranjang dan mengambil ponselnya.

{Mas, aku tadi nggak boleh lewat jalan depan rumahmu. Katanya banyak pohon tumbang}
{Gimana kondisimu...}

Meyta menunggu jawaban dari Langgeng yang lamanya seperti tujuhbelas tahun.

{Iya nih..., rumahku kacau balau. Tertimpa pohon randu yang tumbang} akhirnya jawaban Langgeng masuk juga.
{Tapi kamu nggak apa-apa kan?} tanya Meyta.
{Aku sih nggak apa-apa...., hanya harus beberes sedikit}
{Sementara, kamu juga jangan lewat jalan sini dulu deh, masih berbahaya. Banyak pohon yang rawan tumbang}
{Aku juga lagi mikir, apa pindah aja ya...}

Meyta membaca chatt Langgeng sambil berpikir separah apa kondisi rumahnya, koq sampai membuat Langgeng mau pindah.
Malam ini gimana tidurnya?

Terbayang kembali dalam ingatan Meyta keindahan dan kerapian rumah Langgeng di semua sudut. Pasti dia tidak betah melihat kondisi rumahnya yang berantakan. Pasti parah.

Meytapun bertekad, besok pagi ketika akan berangkat kerja, dia akan nekad lewat jalan itu. Apapun yang terjadi, dia harus melihat kondisi rumah Langgeng. Kalau motor nggak boleh masuk, jalan kaki juga nggak apa-apa.

Cie cieee, ....



*****   *****  *****


(seperti mimpi di siang bolong)

Meyta sengaja berangkat ke kantor agak pagi sebab ingin mampir dulu ke rumah Langgeng. Ingin melihat seberapa parah kerusakan rumahnya. Mungkin dia bisa bantu sesuatu.

Jalanan sudah dibuka. Banyak kendaraan yang lewat seperti biasanya.
Di kanan kiri jalan tampak beberapa onggok bekas patahan ranting-ranting pohon dan dedaunan. Sisa kekacauan kemarin.

“Ciiiit.......” Meyta mengerem motornya. Lho, koq tiba-tiba motornya sudah sampai di ujung jalan? Rumah Langgeng mana? Apa Meyta tadi melamun, sampai-sampai nggak terasa kalau rumah Langgeng sudah terlewat?

Terpaksa Meyta memutar kembali motornya, berbalik arah menuju rumah Langgeng.

Sampai di tikungan kecil dekat rumah Langgeng, Meyta melihat sebuah mobil pick-up yang diparkir  dan beberapa orang laki-laki yang sedang memotong pohon randu yang tumbang dengan gergaji mesin.

Benar seperti yang Langgeng bilang kemarin, ada pohon randu yang tumbang dan jatuh ke rumahnya, Pikir Meyta.

Tapi mana rumah Langgeng?

Tidak ada apa-apa di lahan kosong tempat tumbangnya pohon randu itu kecuali semak belukar dan para pekerja itu.

Apa Meyta salah lokasi?

Meyta melemparkan pandangnya berkeliling mencoba mengingat tanda-tanda yang mungkin dikenalnya.

Tidak salah lagi, pasti di sini rumah Langgeng. Tapi kenapa tidak ada?

“Maaf Pak, selain ini, apakah ada pohon randu lagi yang tumbang di jalan ini?” Meyta yang penasaran mencoba bertanya pada salah seorang pekerja itu.
“Nggak ada Mbak..., pohon randu di jalan ini ya tinggal ini. Kalau dulu sih memang banyak tumbuh di sepanjang jalan ini...., tapi sudah pada tumbang atau dipotong...” jawab salah satu pekerja itu.
“Apa...... di sini tadinya ada rumahnya Pak?” lirih Meyta mengucapkan kalimat yang sebetulnya, sejujurnya, tidak ingin didengar jawabannya.
“Nggak ada mbak, dari dulu tanah ini dibiarkan kosong seperti ini oleh pemiliknya. Saya kan asli sini...”

Dhuarrrr!!

Meyta merasa seolah langit runtuh di depannya.

Kakinya tiba-tiba terasa lemas, keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya yang gemetar.

“Di mana Langgeng? Siapa dia sebenarnya?” Pikiran rasional dan irasional Meyta berkelahi sendiri. Saling mencoba mencari pembenaran masing-masing. Saling menyalahkan masing-masing.

Gustiiiii....., apa yang terjadi?

Akhirnya terucap tanya sebagai puncak ketidak mampuan diri.

Meyta benar-benar merasa jiwa raganya sakit, sehingga memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Biarlah hari ini dia membolos kerja. Percuma juga ke kantor kalau jiwa dan raganya berjalan sendiri-sendiri.



*****   *****   *****


(peperangan)

Sampai di rumah, suasana gelap dan sepi, sepertinya Mamanya sedang pergi. Meyta segera masuk kamar, melemparkan tasnya entah kemana. Kemudian merebahkan diri di ranjang dan melemparkan ponselnya. Kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Seisi jagad raya tidak akan ada yang tahu perasaannya saat ini. Meyta mengambil sehelai selendang dan mengikat kepalanya.

Jangan berpikir. Jangan berpikir.

Tingtong tingtong....

Ketika sangat tidak diharapkan berbunyi, kenapa ponselnya sekarang malah berbunyi sendiri?

Meyta enggan melihat ponselnya. Tapi takut juga kalau orang kantor mencarinya, walaupun tadi dia sudah ijin. Galauuu.

Tingtong tingtong....
Tingtong tingtong....

Berturut-turut ponselnya berteriak mencari perhatiannya. Meyta melirik ponselnya yang berada di ujung kasur dengan sudut matanya yang sedikit terbuka.

Terlihat Langgeng mengirim pesan padanya. Tapi diabaikannya. Ditariknya selimut untuk menutupi seluruh wajahnya.

Meyta bukan gadis penakut. Dia tidak pernah takut pada jin, hantu, atau yang lainnya. Dia tahu pasti situasai dan kondisi yang dialaminya saat ini. Sehingga diapun paham batas-batas yang dapat ditolerir dan membuatnya sulit menerima.

Tingtong tingtong....

Mau apa lagi dia? Siapa dia? Mau apa lagi dia? Siapa dia? Mau apa lagi dia? Siapa dia? Tidak terasa, sebutir air bening menetes dari sudut mata Meyta.

Hatinya sakit.

Pantas saja kondisi rumah Langgeng begitu asri dan apik bagaikan lukisan, orang semuanya buatan. Apa lagi itu S2 di London? Prettt!!



*****   *****   *****


(semakin memuncak)

Butuh tiga jam buat Meyta untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Butuh tiga jam sampai akhirnya pergolakan dalam dirinya mencapai titik jenuh.

Senyuman dan suara hangat Langgeng terus bermain di benaknya. Candanya. Perhatiannya. Semua masih segar dalam ingatan, serta begitu nyata. Membuat Meyta luluh.

“Please, buka ponselmu.....” tiba-tiba sebuah suara berdengung dalam hati Meyta.

“Please...”

Akhirnya Meyta bangun dan duduk, kemudian meraih ponselnya serta membuka pesan dari Langgeng.

{Meyta...}
{Maafkan aku...}
{Aku memang salah sudah membohongimu}
{Ijinkan aku menemuimu sekarang...}
{Please...}

Meyta terpekur. Sekali lagi Meyta bukan gadis penakut. Dia hanya belum siap menerima kalau hal seperti ini harus dialaminya. Kenapa harus terjadi padanya? Tapi dia butuh kepastian.

{Baiklah...} Meyta mengetuk tombol kirim.
{Trimakasih....} balas Langgeng.
{Sekarang tolong pejamkan matamu dan buka perlahan-lahan...}

Meyta memejamkan matanya dan menarik nafas panjang, kemudian perlahan-lahan membuka matanya.

Clink!!!

Sosok itu ada di sana. Ada tepat di depan mata Meyta. Di dalam kamarnya. Dan mereka berdua saling bertatapan.

Degub jantung Meyta berdetak tidak karuan. Kalau bisa melompat, mungkin jantungnya sudah kabur daritadi. Antara percaya dan tidak percaya. Tapi dia harus percaya.

Penampakannya tetap seperti biasanya, sorot matanyapun masih tetap seperti Langgeng yang kemarin dijumpainya.

Meyta beringsut mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin Mamanya mati berdiri ketika melihat ada laki-laki dalam kamarnya saat pulang nanti.

“Kamu sudah tau siapa aku?” suaranyapun masih tetap seperti kemarin. Meyta mengangguk pasrah.
“Maafkan aku kalau kamu harus tahu dengan cara seperti ini dan membuatmu terkejut. Aku tidak merencanakan seperti ini...” Langgeng menarik kursi  mendekat ke depan Meyta yang duduk di tepi ranjangnya.
“Apa maumu?” Meyta to the point. Kepalanya serasa kosong, entah menguap ke mana isinya.
“Aku menyukaimu...”

Karena kepala Meyta masih kosong, maka diapun tidak dapat langsung mencerna kalimat itu. Dia hanya diam dengan wajah datar ketika mendengarnya. Bernafaspun sampai lupa caranya. Hanya sepasang matanya yang berkedip yang menandakan kalau dia masih belum pingsan.

“Sejak hari pertama kamu lewat jalan itu, aku sudah menyukaimu.... Apa kamu ingat ketika sepulang kantor selendangmu hampir terlepas dan kamu berhenti di tepi jalan untuk membetulkannya?” tanya langgeng.

Isi kepala Meyta perlahan-lahan berdatangan kembali dan mulai memenuhi tengkorak kepalanya sehingga mampu membuatnya memutar kembali peristiwa hari itu.

Benar. Hari itu adalah hari pertama Meyta mengambil jalan alternatif. Dan karena terburu-buru waktu pulang kantor, dia asal mengalungkan begitu saja selendang ke lehernya. Yang kemudian di tengah perjalanan hampir terlepas.

Meyta ingat berhenti di tepi jalan untuk membetulkan ikatan selendangnya. Dan sekarang, kalau diingat-ingat lagi...., tepi jalan itu adalah di bawah pohon randu yang tumbang tadi. Tepat di depan rumah Langgeng.

Aaaahhh....., Meyta memegang kepala dengan kedua tangannya.

“Sejak saat itu, aku selalu menunggumu lewat dan berusaha mencari cara untuk bisa berkenalan denganmu...”
“Sampai akhirnya kutemukan cara untuk membuat motormu seolah-olah mogok...., maafkan aku ya...”

Jadi kejadian motor mogok itupun sudah direncanakan? Itu semua ternyata adalah hasil rekayasa? Jahat sekali dia. Bagaimana kalau saat itu benar-benar ada perampok?

“Aku sudah jatuh hati padamu, aku benar-benar tidak dapat mengabaikannya. Aku ingin selalu melihatmu dan bersamamu..., walaupun aku tahu kita berdua berbeda.”
 “Apakah kamu tidak punya rasa yang sama? Walaupun cuma sedikit?” suara Langgeng memelas.

Tidak dapat dipungkiri kalau Meytapun sebenarnya juga merasakan hal yang sama terhadap Langgeng. Tapi apakah ini mungkin? Kalau ini mimpi, Meyta ingin segera bangun dari mimpi ini karena dia sungguh tidak tahu bagaimana harus mengakhirinya.

Meyta sedih dan bingung, yang tanpa sadar kemudian meneteslah airmatanya , “Beri aku waktu...” akhirnya Meyta memutuskan.

“Baiklah, tapi jangan menangis...., aku tidak tahan melihatmu sedih.” Langgeng mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Meyta yang lama-lama sederas air sungai.
“Aku tahu ini semua berat bagimu, dan aku tidak ingin menjadi beban buatmu. Bolehkah kutunggu sampai besok apakah kamu mau menerimaku atau tidak?”

Sekali lagi, Meyta hanya sanggup menganggukkan kepalanya.

“Pakailah cincin ini. Kalau besok kamu sudah siap menjawab dan menerimaku, gosoklah mata cincin ini sambil memanggil namaku. Maka aku akan segera muncul di depanmu. Kalau kamu tidak ingin menjumpai aku lagi, lepaskan cincin ini dan buanglah.” Langgeng memasangkan sebentuk cincin cantik bermata merah delima ke jari manis tangan kiri Meyta.



*****   *****   *****


(akhirnya)

Sudah hampir satu jam Meyta duduk di ranjang sambil memandangi cincin cantik di jari manisnya dengan perasaan yang tidak menentu. Angannya kembali melayang ke hari-hari kemarin. Ketika hatinya dipenuhi bunga-bunga rindu pada Langgeng, dan kemudian rasa bahagia yang meledak ketika mereka bertemu.
Angannya juga melayang membayangkan adegan di mata orang lain yang seolah tampak dia berbicara dan tertawa sendiri, padahal sesungguhnya dia sedang bercengkrama dengan Langgeng.
Pilihan mana yang harus dibuatnya? Kenapa pilihan cintanya begitu rumit?
Hati atau Nalar?
Akhirnya Meytapun mengambil keputusan, diciumnya cincin itu sambil mengucap, “Bismillah.....”



                               ***** selesai ah, terusin sendiri-sendiri*****



Malang, 23 Februari 2020
**) terinspirasi pohon randu dekat rumah yang ditebang.

Jumat, 07 Februari 2020

Mengigau


Tadi waktu aku sedang mengerjakan laporan kerjaan, anakku yang tinggal di Malang mengirim SMS padaku. Dia menceritakan kengeriannya ketika mendapati teman sekamarnya ternyata mengigau ketika sedang tidur.
“Tadi di Bogor gempa ya mie?” tanya anakku.
“Emang kapan ada gempa? Mamie nggak kerasa tuh…” jawabku sambil mencoba mengingat apakah tadi memang sempat merasakan goncangan di bumi.
“Tadi sore  katanya di Bogor ada gempa, terus mati lampu se Bogor…” kata anakku lagi.
“Masak sih, tapi di rumah hari ini nggak mati lampu tuh…” jawabku, "Mamie kan seharian tadi nggak keluar rumah..." sambungku.

Anakku kemudian beralih topik pembicaraan tentang giginya yang sakit.
“Kakak hari ini minum obat campur-campur dan macem-macem, tapi ga ada yang mempan…” katanya.
“Ya kalau gigi yang sakit itu memang ga bisa dipertahankan lagi, ya dicabut aja…” jawabku. Aku nggak tega kalau ingat  tiap kali dia SMS  malam-malam sambil nangis nggak bisa tidur semalaman karena sakit gigi.
“Hah, operasi lagi?!” tanyanya, "Yang tempo hari aja habis operasi kecil itu kakak lemesnya dua hari nggak ilang-ilang." katanya lagi.

“Temen kakak sudah balik ke kost?” aku menanyakan teman sekamarnya yang kemarin katanya lagi cuti dan pulang ke rumahnya.
“Belum. Tadi malem sih sudah balik ke sini dan waktu semalam kakak gak bisa tidur itu, dia sudah tidur duluan. Eh, terus ngigau, serem banget kayak orang kesurupan..”
“Ya dibangunin lho…” jawabku.
“Ya kalau itu bukan dia terus kakak diterkam giman? Mendingan pura-pura gak lihat..” katanya.
“Tapi kalau dibiarin kadang suka ada yang kebablasan terus meninggal lho kak…” jawabku.
“Meninggal?  -_______-  …., temennya kakak horor banget sih, semalam aja ketawa-ketawa sendiri sambil tangannya di ke-atasin. Trus lama-lama dia kayak kesakitan gitu, tangannya kayak gak bisa digerakin. Ya udah deh, kakak langsung pura-pura tidur.” katanya.
“Koq ngigaunya ketawa-ketawa sih, biasanya tuh mamie taunya orang nggau itu cuma ngomong sendiri atau teriak-teriak…”
“Makanya horror kan? Ketawanya juga beda, aneh mie.....” katanya. Aku bayangkan anakku pasti ketakutan, hehehe....
“Hahahahaaaa….., mamie ketawa sampai keluar air mata nih…” kataku sambil  tertawa terpingkal-pingkal, sampai-sampai huruf di HP kabur semua karena mataku penuh air mata.
“Habis itu temen kakak bilang  'ah ah ah ah…. Sakiiit,..!!' sambil mringis gitu. Kayak di ‘Dunia Lain’ di TV yang tangannya mulai gerak-gerak sendiri, dan itu kejadiannya tengah malam mie, gimana kakak nggak shock sendiri -___-“ katanya.
“Hahahahaaaaa……” aku tetap tertawa.
“Jangan ketawa, ini serius horror -____- “ katanya.
“Hahahahaaa…., netbook mamie sampai ketetesan air mata kak…”
“Oke, ini lebay..” katanya.
“Iyalah…” jawabku.
“Tapi seriuuus Mamie yang lebay, ketawa sampai banjir…” katanya.
“Ya habis, ngigau koq menari? Emang dia penari?”
“Siapa yang bilang nariii….”
“Itu tangannya ke atas ngapain? Masak dia mimpi jualan gorengan kayak jaman dulu yang pakai tampah terus ditaruh di atas kepala itu…?”
“Udah ah, gak mau bayangin… -____-“
“Ya udah, mamie mau bikin laporan.” jawabku. SMS kami terhenti dan aku meneruskan kerjaanku.

Ketika aku akan tidur, ternyata aku masih tertawa geli membayangkan betapa takutnya anakku waktu melihat temannya mengigau. Sebab dulu waktu adiknya sakit panas dan sering mengigau, dia juga selalu ikutan menangis karena ketakutan.

Aku sendiri waktu itu merasa jantungku hampir copot karena melihat anakku yang kecil tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan melotot ke arah luar jendela yang gelap sambil menceracau nggak karuan. Dia menyebutkan bayangan putih di samping jendela, kepala gundul, dan beberapa bentuk horor lainnya.

Antara takut dan perasaan ingin menenangkan anakku, saat itu aku langsung membaca bacaan doa’a apapun yang terlintas di kepalaku, mulai dari Al Fatehah, Surat-surat pendek, sampai Ayat Kursi. Semuanya, seingatku, kusebut sambil memeluk anakku yang sedang panas itu erat-erat.

Tapi waktu si kakak dulu mengigau, igauannya tidak menakutkan, malah lucu menurutku. Waktu itu kan kakak masih SD, masih kecil, dia tertidur di depan TV, terus kubangunkan untuk kuajak pindah tidur ke kamar. Tiba-tiba saja, dia duduk di sampingku sambil tangannya seolah mencomoti sesuatu dari pahaku padahal celana panjang yang kukenakan berbahan polos dan sama sekali tidak ada apa-apa yang dapat dicomoti dari situ.
“Kakak lagi cari apa?” tanyaku sambil mengamati tingkah lakunya.
“Ini lho Mie,… banyak sekali…” katanya sambil terus mencomoti pahaku.
"Apanya yang banyak?" aku tertawa dan menggandengnya masuk ke kamar. Rupanya dia kaget karena sedang nyenyaknya tidur, tiba-tiba saja kubangunkan.  Matanya juga terbuka, bukan merem….. tapi mungkin saat itu kesadarannya masih 75%,hehehe...
Sebetulnya masih banyak kisah-kisah lucu atau menakutkan tentang mengigau ini yang pernah kusaksikan, tapi sekarang aku sudah mengantuk banget dan berharap segera tertidur karena besok  aku harus berangkat pagi-pagi.  Tapi ada satu lagi, aku  berharap tidak akan pernah mengigau dalam tidur walaupun aku mimpi teramat indah atau teramat menyeramkan sekalipun.



Bogor, 19 Desember 2012

Sabtu, 18 Mei 2019

Operasi


Kamis pagi 28 Maret 2019. Aku harus puasa sejak subuh untuk persiapan operasi hari ini. Tapi sebetulnya sih makan dan minum terakhir ya malam sebelum tidur. Aku tidak biasa sarapan pagi-pagi.

Kusiapkan beberapa baju ganti dan kain yang kira-kira akan dipakai nanti kalau nginep di RS. Paling kan biasanya 3 hari. Biar nanti Kk yang packing. Dia sudah nyiapin carrier dan matras buat alas tidurnya ketika nanti nemenin aku di RS. Kusiapkan juga sebuah bantal boneka buat dibawa.

Aku juga nyiapin teh buat diantar ke tempat Poci di depan SMK Telkom. Nanti pas aku dan Kk berangkat, bisa sekalian kami bawa.

Begitulah, setengah sembilan pagi, aku dan Kk berangkat naik motor menuju RS.
Terus terang, sebetulnya perasaanku seolah masih di awang-awang. Aku masih tidak pasti apakah aku betul-betul mau melakukan operasi ini. Rasa takut itu masih ada.

Tanpa memahami kegundahan hatiku, petugas RS langsung menanganiku sesuai prosedur persiapan operasi ketika aku dan Kk mendaftar ke IGD dan menyerahkan hasil foto rontgen di Lab luar kemarin.
“Mari bu, silahkan ibu berbaring di sini, dan pakaiannya dilepas ya....” seorang petugas (entah perawat atau bukan, sebab tidak pakai seragam) mengantarku ke sebuah ranjang periksa yang hanya berbatas tirai sambil menyerahkan sepotong baju atasan RS warna hijau.

Kulepas baju atasan dan bra, kemudian berganti baju RS tadi, dan berbaring berselimutkan kain yang ada di ranjang.

Tidak lama petugas laki-laki datang akan memasang infus di lengan kiriku. Aduuuh...., aku mencoba mengingat-ingat bagaimana rasanya dulu ketika jarum infus masuk ke lenganku waktu akan melahirkan Ndiek.

“Mau operasi jam 11.00 ya bu...., maaf, saya pasang infus dulu ya...” katanya.  Aku mengangguk.
Pertama dicoblosnya punggung tanganku dengan jarum, dan dimasuki dengan jarum yang lebih panjang. Tapi kemudian ditahan dan dibongkar lagi, bekas lubang jarum ditekannya dengan sangat kuat.
“Maaf, saya pindah ke pergelangan tangan saja ya bu. Yang di punggung sepertinya terlalu halus, uratnya pecah. “ kata petugas itu. Sekali lagi aku hanya sanggup mengangguk. Pikiranku masih belum mantab.

Sempat ditanya juga sama petugas aku alergi apa. Kubilang dulu sih sepertinya pernah alergi obat, tapi lupa obat apa. 

Waktu kuliah dulu, aku pernah sakit. Terus, sama mas Ary yang Mahasiswa Kedokteran, aku dikasih obat. Ternyata beberapa hari kemudian seluruh persendian jari-jari tanganku bentol-bentol gatal, dan aku dikasih incidal. Saat itu dikasih tahu kalau aku alergi obat titik-titik itu, disuruh ingat-ingat sih..., tapi ya namanya lupa masak boleh disalahin?

Mas Ary ini kakaknya mas Tomy, kakak kelasku di FISIP Unair yang sudah seperti kakakku sendiri. Tiap nunggu jam kuliah, biasanya aku nunggu di rumahnya yang memang tidak jauh dari kampusku. Mereka tinggal di Perumahan Dosen di dalam Kampus B.

Mendengar aku ada alergi obat, petugas RS-nya kemudian menyuntikkan sesuatu di lengan kiriku. Untuk test alergi. Kulihat reaksi obat itu berbuih seperti mendidih membentuk gelembung (busa) kecil-kecil. Rasanya seperti serrrrr....

Selain itu aku sepertinya juga alergi kepiting, sebab setiap kesenggol daging kepiting sedikit saja, perutku seperti diaduk-aduk.

Terus aku dikasih gelang satu lagi di tangan kananku. Tadinya sudah ada dua gelang, sekarang jadi ada tiga dan warna-warni. Sayang aku lupa motretnya. Lumayan buat ganti sekumpulan aksesories gelang batu yang biasa kupakai dan terpaksa harus dilepas karena mau operasi ini.

Sambil menunggu itu kucoba berdoa dan ingat kata-kata ibuku kalau aku harus memantabkan hati dan pasrah sama Allah. Berharap semoga semuanya lancar.
Selama itu Kk yang mondar-mandir menyiapkan semua urusan yang diminta. Mulai surat-surat , beli popok di apotek, sampai kain untuk kubawa ke kamar operasi.

Tiba-tiba adikku Dodi datang, “Jam berapa jadwalnya?” tanyanya.
“Katanya sih jam 11.00 nanti. Tapi ya nggak tau lagi, soalnya kudengar hari ini dokternya operasi 5 atau 7 orang gitu lho...”  jawabku.
“Ya sebentar lagi...” kata adikku sambil melihat arlojinya.

Kemudian datang perawat yang sepertinya sedang hamil dan memeriksa selang infusku.
“Ibu pindah ke ruang operasi ya..., dan maaf tolong ditunggu di luar ya...” katanya pada Kk dan adikku sambil membuka selimutku.
“Lho, koq celananya belum dibuka? Berarti belum cukur bu?” katanya lagi begitu melihat di bawah selimut itu aku masih memakai celana panjangku.
Aku disuruh membuka celana panjang termasuk CD-ku dan berbaring untuk ‘diurusnya’.
“Nanti pemati rasa dilakukan dari pinggang ke bawah ya bu..” katanya. Sebetulnya aku pingin bilang kalau aku mau dibius total saja, tapi tidak sebuah katapun keluar dari bibirku.

Setelah selesai, kain selimut tadi diikatkan dipinggangku dan seorang petugas laki-laki datang membawa kursi roda.

Sebendel surat-surat, popok, dan kainku ditaruh di sisi kursi rodaku.
“Bapak dan mbak-nya silahkan ditunggu di ruang ujung sana, saya akan masuk lewat sini...”  kata petugas yang mendorong kursi rodaku ke adikku dan Kk.

Akupun didorong masuk ke sebuah ruangan yang ternyata sudah ada dua ibu-ibu muda duduk di kursi roda sepertiku di sana.

“Nah, sudah sampai bu...., tunggu giliran ya..., silahkan buat group trio ya...” kata petugas yang mendorongku tadi dan kemudian meninggalkan aku di situ. Posisiku berada di belakang dua ibu-ibu itu.

Dua orang ibu-ibu itu menoleh dan tersenyum padaku. Mereka berdua tampak ngobrol seru. Sepertinya teman lama yang sedang reuni.
“Ibu operasi juga?” tanya salah seorang.
“Iya, myom...” jawabku, “Ibu?” sambungku bertanya.
“Saya cesar bu.” Jawab ibu di depan kiri.
“Kalau ibu, cesar juga?” tanyaku ke ibu di depan kanan.
“Iya bu, saya anak kedua.” Jawabnya.

Subhanallah. Aku sempat blank melihat pemandangan dua orang ibu-ibu di depanku ini. Mereka begitu santai, bercerita-cerita sambil tertawa-tawa. Padahal beberapa saat lagi akan melahirkan.

Beda banget dengan suasana di ruang bersalin tempatku dulu yang akan melahirkan secara normal, tidak operasi. Ada erangan-erangan tertahan menahan sakit. Termasuk aku sendiri yang tidak bisa berbaring enak dan terus menggeliat-geliat karena sakit. Aku berusaha setengah mati untuk tidak mengeluarkan kata-kata keluhan dan hanya berdo’a segala macam do’a yang sempat terlintas. Semua do’a.

Kira-kira seperempat jam kemudian ibu di kanan depan dibawa masuk. Tinggal aku berdua ibu-ibu di kiri depan.

“Saya akan cesar kedua kali bu, tapi sebetulnya ini anak ketiga. Yang pertama meninggal dalam kandungan bu...” katanya.
“Saya belum pernah operasi. Kedua anak saya lahir normal, dan sekarang sudah besar-besar...” kataku.

Tidak lama, terdengar tangis bayi dari dalam ruangan. Satu kehidupan baru telah hadir ke dunia ini.

Tidak sampai setengah jam kemudian, ibu inipun dibawa masuk. Dan seperti tadi, tidak lama kemudian terdengar tangis bayi dari dalam ruangan.

Hatiku benar-benar masih kacau, tapi bukan karena balon merahku habis meletus lho ya... Aku masih tetap belum merasa mantab dan takut. Tapi aku harus terus melakukannya, pikirku.

Saat itulah aku jadi ingat kalimat-kalimat bijak saat menonton Drama Korea. Katanya, berani itu bukan tidak takut. Tapi berani itu adalah tetap melanjutkan ketika perasaan tidak berani itu datang. Jadi aku harus berani. Kata di Drama Korea: Hwaiting!!

Tapiii..., tau nggak. Ruang tunggu giliran ini sungguh sepi.  Hanya ruang kosong kecil sekitar 3X3 meter tanpa tivi ataupun perabotan lainnya. Suasananya terkesan dingin. Dan aku seolah sedang menunggu giliran untuk dijatuhi hukuman. Hiii....

Tiba giliranku dibawa masuk. Aku disuruh naik keranjang operasi. Disuruh duduk sebentar dan ditembak bagian belakangku dua kali. Nggak tau sebelah mana. Dess dessss!!

Kemudian disuruh berbaring, dan diapasang kain pembatas di daerah dada.
“Coba kakinya diangkat bu..., yang tinggi...” kata petugas.
“Sudah...” kataku sambil mengangkat kedua kakiku.
“Coba diangkat lagi bu....”
Kucoba mengangkat kakiku lagi, tapi koq nggak mau terangkat. Malah mulai kerasa kesemutan. Aduuuh...., pingin dipindah posisinya nih kaki..., nggak enak banget kan kalau kesemutan.
“Tolong dong kaki saya diangkatin sebentar, dipindahin posisinya. Kesemutan nih...” kataku.
“Ya memang begitu rasanya kalau dibius bu...” jawab petugas.
“Iya..., tapi tolong pindahin dikit deh, geser dikit gitu..., ini nggak enak banget rasanya...” aku tetap ngeyel. Tapi petugasnya nggak mau nurutin.

Haduuuuh, ini adalah momen paling tidak nyaman selama episode dibius. Sungguh aku ingin bangun dan menggeser sedikit kakiku. Tapi aku tidak bisa bangun karena kedua tanganku direntangkan dan sepertinya diikat.

“Ibu kalau ngantuk tidur aja, jangan dilawan, nanti pusing.” Entah siapa yang ngomong itu. Seperti suara dari antah berantah.

Aku memang mau tidur. Siapa juga yang mau lihat dokter mengobrak-abrik perutku, pikirku. Maka akupun tidur. Lep. Tidak dengar ataupun ingat apapun. Kapan dokternya datangpun aku nggak tau.

Ketika kubuka mata, kedua tanganku bersidekap di perut. Bajuku sudah bukan baju RS lagi. Selimut yang dililitkan di bagian bawahku tadi sudah berganti Kain Bali yang kubawa dari rumah. Ruanganpun sudah berganti dari yang tadi. Tapi aku masih belum bisa menggerakkan kedua kakiku.

Tampak di sisiku juga ada sebuah ranjang yang lain. Aku mencoba menengok, dan kulihat ibu yang tadi di depan kiriku tersenyum padaku. Kubalas senyumnya.
Tidak ada kata-kata yang terucap diantara kami, karena aku juga tidak tahu harus ngomong apa. Otakku masih kosong. Masih mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Sampai akhirnya ranjang si ibu tadi didorong ke tempat lain.

Tiba-tiba, dokter Luwang menghampiriku.
“Sudah selesai operasinya ya bu..., myom ibu sudah saya keluarkan. Gede lho bu..., segini...” katanya sambil membentuk bulatan dengan kedua tangannya.
“Cepat sembuh ya..., sekarang saya tinggal dulu...” katanya lagi. Aku masih juga tergugu. Tidak dapat berucap sepatah katapun. Ini mungkin yang disebut shock.
Ranjangkupun didorong ke tempat lain yang ternyata ke samping ibu tadi. Tapi perasaanku masih kacau balau dan kaki masih belum juga dapat digerakkan. Ada botol infus di sebelah kiriku. Kepalaku sih enteng.

“Bu, kita ke kamar ya sekarang...” akhirnya beberapa petugas dan perawat menghampri ranjangku. Mendorongku keluar dari ruang eksekusi ini.

Keluar dari lift, aku melihat Ndiek yang sepertinya sedang memastikan apakah yang sedang dilihatnya saat itu adalah mamienya.

Sampai di kamar, aku dipindahkan ke ranjang dan kedua kakiku masih belum dapat digerakkan. Sepintas kulihat ada Kk, Ndiek, adikku, dan suamiku. Tapi aku pingin tidur, belum pingin ngobrol. Jadi akupun tidur.

Bangun tidur, adikku sudah pulang. Sudah lewat maghrib ternyata.
Nggak lama kemudian suamiku pulang bawa motor Kk dan ngurusin rumah. Kk dan Ndiek yang bakalan campink di RS nemenin aku.

“Mamie pingin miring dong, punggungnya nggak enak nih...” kataku.
“Nggak boleh mie...” kata Ndiek.
“Boleh. Ayo kak, tolong pasang bantal di punggung mamie, mamie mau miring...” kataku. Kakiku masih belum bisa digerakkan, dan rupanya ada selang kateter yang dipasang. Aduh, ribet banget sih.

Dua orang anakku bingung. Antara mau nurutin maunya mamienya atau gimana.
Tiba-tiba perawat datang nganter obat.
“Suster, saya boleh miring kan?” tanyaku.
“Oh, boleh bu..., nggak apa-apa... Tetap bergerak seperti biasa nggak apa-apa...” jawabnya.

Baru deh Kk menaruh bantal boneka buat ganjal punggungku supaya aku bisa bertahan miring.

Ada jatah makan malam yang sudah disiapkan. Tapi siapa yang bisa makan di kondisi itu, sebab saat itu perutku sudah mulai terasa ngilu, ngilu, sakit, dan semakin sakiiit sekali... Setetes airpun tidak ingin kutelan.

Ketika selang infus di tanganku merah, Kk memencet bel memanggil perawat. Ternyata botol infusku sudah kosong. Diganti botol infus yang baru.
Kalau Cuma cairan infus yang dimasukkan ke tubuh sih nggak terasa apa-apa. Tapi ketika selang insusnya dimasukin obat, haduuuh...., itu baru terasa sakit.

“Suster, boleh minta pereda nyeri lagi dong..., ini perut saya sakit sekali...” kataku.
“Nggak boleh bu, sudah ada dosisnya yang diberikan tiap 8 jam sekali.” Jawabnya.
8 Jam sekali???!!! Astaghfirullah, bisa koít aku karena sakit.
“Kasih resepnya aja deh suster, biar ditebus sendiri sama anak saya ke apotek...” kataku lagi.
“Nggak ada ibu..., nanti sebentar lagi sudah reda koq sakitnya...” jawabnya.
“Ibu sudah buang angin belum?” tanyanya. Aku menggeleng. Males njawabnya. Orang minta pereda nyeri saja nggak boleh, pikirku.

Reda apanya?! Semakin lama sakitnya setengah mati. Haduuuuh, ini momen terparah setelah operasi. Sakitnya bukan main. Amit-amit banget aku nggak akan lagi mau operasi beginian. Kapok banget aku.

Sekitar jam 21.00 mbak Ririt, sobat Wanalaku datang dengan keponakannya. Aku jadi ingat ceritanya yang juga kesakitan waktu operasi serupa. Waktu itu dia sedang merayuku supaya mau operasi.

“Operasi itu memang sakit An, tapi ada obatnya koq buat ngatasi rasa sakit itu...” katanya.
“Mbak, obat apa yang kata mbak Ririt penghilang sakit itu..., kasih tau Rieke dong biar dia beli sendiri di apotek...” tanyaku.
“Sudahlah An, tahan sebentar. Ini aja sudah cukup koq...” jawabnya. Dan tetap nggak mau ngasih tahu biarpun aku tanya sampai berkali-kali.
Waaah, mbak Ririt ini nantang aku ya..., saking aku masih tidak berdaya. Coba aku sehat, kuajak gulat dia! Oh ya, kakiku sudah mulai bisa digerakkan.

Sekitar jam 02.00 atau 03.00 pagi, tiba-tiba perutku campur mulas, seperti ingin BAB.
“Kak, tolong anterin mamie ke toilet dong, kayaknya pingin BAB nih...”  kataku ke Kk yang sedang  kebagian jaga. Ndieknya lagi tidur. Tapi bangun juga begitu melihat aku turun dari ranjang berjalan ke toilet diantar Kk. Kk harus pegang botol infus dan kantong kateter.

Tapi sudah nongkrong lama sampai kesemutan di closet, tidak ada apapun yang keluar, bahkan sepotong kentutpun tidak.
“Bisa?” tanya Ndiek begitu aku dan Kk dari toilet.
“Nggak bisa. Nggak ada apa-apa yang keluar.” jawabku.
“Ya gimana ada sampahnya, orang mamie nggak mau makan apa-apa, minum aja nggak mau...” katanya. Aku cuma menggelengkan kepala. Siapa yang nafsu makan kondisi begini Dek...
Kuputus dulu ceritanya ya, biar nggak bosan.


Malang, 19 Mei 2019