Kamis, 04 Januari 2018

Selamat Berbahagia untuk Reza dan Khanza


Sering mendapat undangan Resepsi Pernikahan, dari yang tadinya undangan teman-teman yang menikah sampai akhirnya undangan pernikahan dari anak-anak teman.
Waktu berlalu begitu cepat, seolah baru kemarin masih pergi kuliah, ternyata sekarang anak yang pergi kuliah.

Ternyata pula, sudah tiga tahun lebih aku benar-benar meninggalkan Jakarta dan tidak bekerja lagi. Padahal seolah baru kemarin aku menjelajah Kabupaten Lebak dengan Reza untuk urusan pekerjaan (yang ternyata adalah Job terakhirku bekerja sebagai Interviewer di Nielsen, karena kemudian aku pindah ke Malang)
Reza adalah partner kerjaku di beberapa waktu terakhir sebelum aku keluar dari pekerjaanku. Usianya masih muda, hanya lebih tua kira-kira 4 atau 5 tahun dari anak pertamaku, yang kebetulan pula dia adalah keponakan dari rekan kerjaku juga.

Aku lupa awalnya job apa yang mempertemukan kami sehingga akhirnya jadi partner (yang cukup solid dan kompak, menurutku), tetapi aku ingat kalau dia sms aku dan menanyakan apakah aku sudah dapat teman jalan dan kalau belum, apa boleh dia jalan dengan aku.
Kebetulan saat itu aku memang belum mencari teman buat jalan bareng, jadi ya kuterima saja tawarannya daripada susah-susah cari teman lagi.

Oh ya, jenis pekerjaanku sebagai Interviewer ini mungkin tidak terlalu familiar bagi banyak orang karena aku sendiri juga baru tahu jenis pekerjaan dan cara bekerjanya setelah benar-benar masuk sebagai bagian di dalamnya.

Kantorku adalah Perusahaan Survey Marketting yang dalam operasionalnya membutuhkan banyak sekali petugas lapangan yang disebar ke seluruh wilayah target. Nah, untuk mengakomodir petugas lapangan inilah ada beberapa orang Koordinator yang membawahi beberapa orang Supervisor, dan SPV ini membawahi langsung beberapa orang Interviewer. Interviewer inilah yang melakukan riset di lapangan
.
Sepertinya (di kantorku dulu, nggak tahu kalau sekarang) masing-masing Koordinator punya spesifikasi dalam mengerjakan Job dari Klien.  Ada yang special job mudah, sedang sampai susah. Yang kebetulan aku di bawah Koordinator Spesial Job Susah. Susah di sini dalam artian tingkat kesulitan dalam mencari target responden.  Biasanya berhubungan dengan Instansi Pemerintah, BUMN, Bank, Maskapai, Saham, dan lain-lain, dan sasaran targetnya biasanya minimal Manager Perusahaan.

Kalau yang mudah, biasanya riset tentang popok bayi, mie instan, minuman kemasan, dan lain-lain,  dengan target ibu-ibu rumah tangga di suatu wilayah tertentu. Cari ibu-ibu rumah tangga tidak terlalu susah kan?

Nah, kalau yang kumaksud 'target' tadi adalah Calon Responden, yaitu orang-orang yang akan kita wawancarai untuk ditanya-tanya tanggapannya pada suatu produk tertentu dan kita melakukannya dengan metode tertentu pula.

Masing-masing Job biasanya diserahkan pada SPV untuk eksekusinya. SPV inilah yang akan membrieffing Interviewernya untuk mengerjakan di lapangan. Sifat Jobnyapun berbeda-beda. Ada yang bisa dikerjakan sendiri, ada pula yang harus berpartner. Interviewer yang baru-baru, biasanya akan mencari partner orang lama biar dapat selahnya dalam mencari responden. Sebab kalau belum terbiasa memang agak sulit juga mendapatkan responden. Pertama kurang percaya diri, atau rasa malu untuk menegur seseorang yang belum kenal dan meminta waktu pada orang tersebut untuk melakukan wawancara. Seringkali masyarakat yang kita temui banyak yang menganggap Interviewer sama dengan Sales yang menawarkan dagangan, sehingga baru melihat saja, kita belum ngomong apa-apa, sudah langsung diusir…. #syediiihhuhuhu

Kembali tentang Jobku yang terakhir dengan Reza, aku lupa nama Jobnya apa, tapi Responden kami adalah Pemilik Konter Penjual Pulsa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak Banten dengan alamat tujuan hanya Nama Konter dan Koordinat, tidak ada nama jalannya. Aku sudah pernah menuliskan pengalamanku waktu mengerjakan Job ini duluuu, tidak lama setelah selesai semua. https://aandiane.blogspot.co.id/

Sekarang tentang Reza. Reza sendiri addalah sosok anak muda yang tangguh, yang saat itupun masih berkuliah. Secara fisik, dia gagah, tinggi besar dan handsome. Kalau pas dapat responden gadis-gadis, seringkali kulihat mereka sering mencuri pandang pada Reza dan tersipu malu…. Tapi kalau pas respondennya ibu-ibu yang bawel dan ganjen, Reza suka digodain habis-habisan… Biasanya kubilang kalau dia anakku, badannya aja yang besar, tapi sebetulnya usianya masih muda banget, jadi ngegodanya jangan kelewatan.

Secara kepribadian, Reza anak yang baik, sopan, sayang sekali pada keluarga terutama ibunya, dan bertanggung jawab  serta taat sekali pada agamanya. Anak yang sholeh. Tidak pernah melewatkan 5 waktunya.

Kami partner yang cocok dalam banyak hal, termasuk saling curhat. Reza curhat semua hal tentang dirinya, pacarnya (saat itu), kuliahnya, rumahnya, dan lain-lain. Diapun pernah kuajak menemani aku ketika ada acara ketemuan dengan teman-temanku, sebab biasanya waktunya setelah aku dan Reza pulang dari wawancara responden. Jadi sambil lewat ya sekalian saja.

Pernah satu saat, aku baru datang dari Surabaya dan dijemput Reza karena rencananya kami akan langsung mencari responden. Dia menawarkan apa aku mau diantar untuk menemui suamiku di tempat kerjanya, yang saat itu masih bekerja di sekitar Jakarta Kota dan sudah beberapa waktu tidak ketemu.
Dia duduk menjauh dari aku dan suamiku, “Za, duduk sini aja. Kenapa jauh-jauh gitu…” tegurku.
“Nggak apa-apa bu, ibu ngobrol aja dulu sama bapak, kan sudah lama nggak ketemu pasti banyak yang mau disampaikan secara pribadi….” Jawabnya sambil tetap menjauh.

Ah, banyak sekali kenanganku selama jalan dengan Reza. Malah sering oleh teman-teman yang lain kami disebut pasangan menantu dan mertua, hehehe…. (teman-teman kerjaku tahu kalau aku punya anak gadis yang sudah kuliah)
“Mbak…, koq sendirian…., mantu ke mana mantu?” Tanya temanku kalau kebetulan melihat aku sendirian di kantor.
“Lagi sholat…” jawabku enteng.
“Ada yang lihat mantuku gak ya?” aku sendiri juga sering bertanya begitu kalau di kantor.

Kemudian aku beli rumah di Malang.  Walaupun saat itu sebetulnya aku masih ingin tetap kerja di Jakarta, tapi aku harus melepaskannya. Banyak yang harus kukerjakan di Malang, jadi semuanya harus kutinggalkan.
Barang-barangku di Jakarta juga Reza yang ngurusin, diambil dari tempat kostku dan diantar ke tempat adikku di Depok. Karena saat pulang dari Jakarta waktu itu, aku masih berencana untuk balik.

Ketika aku sudah tidak bekerja lagi di Jakarta, sesekali aku masih berkomunikasi dengan Reza. Satu waktu, dia mengirimkan foto seorang gadis cantik.
“Bu, saat ini saya lagi deket sama cewek ini, namanya Khanza panggilannya Icha, orang Surabaya, cantik kan?” katanya.
“Iya Za, cantik… kenal di mana?” tanyaku.
“Dia punya kios di Tanah Abang bu…” jawabnya.
Hohoho…., tahulah aku bagaimana cara mereka bisa kenalan. Pasti waktu Reza cari responden di Tanah Abang dan secara tidak sengaja nyangkut ke kios si Icha ini, pikirku.

Rupanya kedekatan mereka berlanjut, dan kemarin, tepat hari Selasa tanggal 2 januari 2018, aku menghadiri Resepsi Pernikahan Reza dan Khanza di Surabaya.
Selamat Menempuh Hidup Baru bagi Kalian berdua, semoga menjadi Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah.



Malang, 5 Januari 2018
#akukapanmantuya
#temankusudahbanyakyangmantu

#bahkanadayangsudahbercucu

Senin, 20 Februari 2017

Selamat Jalan Mbahtiku



Menurut KTP, yang tertulis adalah seperti ini:
Nama                       : Astoechah
TTL                         : Mojokerto, 30 Juni 1925

Kalau Nenekku ini lahir tahun 1925, artinya waktu kemarin tanggal 19 Februari 2017 beliau dipanggil Allah SWT, usianya adalah 92 tahun.

Tapi nenekku pernah bilang kalau tahun lalu usianya sudah 96 tahun. Aku sendiri tidak tahu bagaimana asal usulnya KTP itu, mungkin betul data itu dari nenekku sendiri  dan nenekku yang sudah lupa, tapi bisa juga petugas main tembak dan kira-kira karena orang dulu kan banyak yang tidak tahu persis tanggal serta tahun kelahirannya sendiri. (Aku sempat merasa surprise waktu melihat tanggal kelahirannya yang sama dengan anak pertamaku)

Ya sudahlah. Yang jelas, usia nenekku memang lumayan bonusnya hingga dapat mencapai sembilan puluh tahun lebih. Usia yang sering membuatnya sudah merasa capek karena tidak juga dipanggil oleh Allah.
“Ya Allah, kenapa malah mereka yang Kau panggil duluan?” Begitu kata nenekku waktu aku memberitahunya khabar duka tentang dipanggilnya adik-adik iparku, juga beberapa teman dan tetangga yang sudah mendahului.

Nenekku memang mengalami hidup di Jaman Belanda, Jaman Jepang, dan Jaman Kemerdekaan. Tiga masa kehidupan yang berbeda-beda dan dijalaninya dengan berbeda-beda pula.

Menurut ceritanya dulu padaku, waktu di Jaman Belanda, nenekku ini pernah ikut pamannya di Jombang sebentar dan bersekolah di Sekolah Rakyat. Masa mudanya terbilang jutek katanya.
“Dulu waktu masih sekolah, Mbah judes banget, tapi malah banyak teman laki-laki yang suka gangguin…” Cerita nenekku, “Tapi Mbah nggak mau ngeladenin… Contohnya nih, kalau pulang sekolah hujan, Mbah kan pakai payung…., nah itu teman laki-laki suka ada yang pingin numpang berpayung bareng sama Mbah…”
“Terus?” Tanyaku.
“Mbah marahin itu teman tadi, terus tutup aja payungnya dan lari pulang sambil hujan-hujanan…. Biarin aja kehujanan daripada ditumpangi….” Katanya sambil tergelak. Aku ikut tertawa membayangkan bahwa mungkin teman laki-lakinya itu naksir dan pakai modus numpang berpayung, hahaha…..

Kemudian nenekku dijodohkan dengan anak seorang terpandang di kampungnya, tapi tidak bertahan lama dan bercerai karena menurut nenekku, sifat laki-laki itu tidak baik, suka main perempuan, berjudi dan mabuk-mabukan. Dari perkawinan ini nenekku mendapatkan seorang anak laki-laki.
(Ternyata sejak jaman dulu hingga sekarang, perilaku yang namanya anak orang terpandang atau istilahnya berpunya, kebanyakan nggak jauh beda ya…., rata-rata mirip, hehehe….)

Dengan menyandang title janda muda, nenekku bekerja di Pabrik Gula sebagai Mandor pabrik. Aku lupa istilahnya apa, tapi kata nenekku  waktu itu Jaman Jepang.

Ada juga orang Jepang yang suka padanya, tapi nenekku tidak mau, keluar kerja, dan malah dapat kenalan Jejaka Karyawan Kantor Pajak yang kemudian menikah dengannya.

Kurasa masa mudanya dulu nenekku pasti cantik ya, sebab bagaikan kembang, disekelilingnya banyak lebah yang ingin menghisap sari madunya.

Dan Karyawan Kantor Pajak yang berhasil menarik hatinya tadi adalah seorang jejaka lulusan Pondok Pesantren asal Kediri yang sedang ditugaskan di Mojokerto. Namanya Damari Boedi Wijono. Beliau adalah kakekku.

Dari pernikahan ini, Kakek dan Nenekku hanya mempunyai seorang anak perempuan yaitu Ibuku yang lahir di Mojokerto tahun 1945, tapi besar di Surabaya karena kemudian kakekku mendapat tugas di Surabaya.

Tinggal di Surabaya, nenekku mulai aktif di Kelompok Karawitan yang jaman dulu pentasnya selain di kondangan adalah di Radio (RRI) dan (akhirnya ada)  TVRI, sehingga tidak mau mengikuti kakekku yang sebagai pegawai negri harus berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lainnya.

Nenekku tetap tinggal di Surabaya dan kakekku yang setiap minggu sekali atau sebulan sekali pulang ke Surabaya.

Darah seni nenekku lumayan kental, karena  selain suka bermain music (karawitan), dulunya nenekku juga sering membatik. Nenekku bisa menggambar dan mendongeng. Malah kadang menulis puisi, ungkapan hatinya...



Aku ingat, waktu kecil nenekku pernah bercerita bahwa dulunya tuyul itu tidak suka duit. Mereka sukanya bermain-main saja sepanjang hari. Kalau di hutan, mereka sering bermain di kubangan air yang ada banyak ikan atau udangnya. (??? Nyambung gak sih? Di hutan, tapi ada kubangan air yang ada ikan atau udangnya?.... entahlah, mungkin aku lupa itu sebetulnya bukan di hutan melainkan pinggir pantai, atau memang jaman dulu udang bisa juga tiba-tiba ada di tengah hutan yang mungkin memang dibawa para tuyul itu dari pantai….).

Kemudian ada manusia yang memergoki para tuyul liar itu yang akhirnya disuruh nyolong duit tetangganya dengan imbalan-imbalan tertentu. (Kalau dari cerita ini, seolah manusia yang jahat dan mengkaryakan para tuyul liar tidak berdosa. Hah????? Iya nggak sih?)

Ada lagi cerita tentang seekor sapi betina yang tidak sengaja meminum air seni Seorang Raja yang sedang berburu di hutan dan kemudian hamil. Sapi itu kemudian melahirkan 4 orang anak perempuan manusia yang secara tidak sengaja kemudian ditemukan oleh Sang raja yang kembali berburu di hutan itu.

Keempat anak perempuan itu dibesarkan di Kerajaan dan oleh Sang raja diberi nama seperti bagian-bagian buah kelapa (aku lupa apa saja, yang kuingat cuma satu ‘Untir-untiran’).

Suatu saat, ketika para anaknya sudah besar, si sapi datang ke Kerajaan dan minta minum pada anak perempuan pertama serta mengatakan kalau dialah ibunya. Tapi anak perempuan pertama tidak mau memberinya minum ataupun mengakui sapi itu sebagai ibu dan malah melempar kaki si sapi dengan sebuah alat pemintal (kayu) sampai si sapi pincang satu.

Ke tempat anak kedua juga begitu, akibatnya kaki pincang dua.
Ke tempat anak ketiga sama, kaki sapi itupun menjadi pincang tiga.
Ke tempat anak ke empat (bungsu) sambil menggulingkan badannya karena si sapi tidak bisa jalan lagi dengan kaki pincang tiga, barulah si sapi diakui oleh si bungsu dengan bercucuran air mata.

Selanjutnyaa…………………………………………………………………………………………………………………………., jangan marah ya…., aku lupa cerita selanjutnya gimana…., sedang nenekku kemarin sudah meninggal dunia…., gimana dong?????

Sungguh, aku selalu lupa menanyakan akhir cerita itu pada nenekku, sebab biasanya kalau bertemu, kami hanya bercerita tentang masa lalu, masa kecil cucu-cucunya, bukan tentang dongeng.

Bercerita tentang masa lalu kami, nenekku diusia rentanya itu ternyata masih ingat persis. Ingatannya berkurang untuk hal-hal sekarang saja. Tentang apa yang baru dilakukan dan baru dikatakannya. Misalnya, tadi baru mengatakan A, sekarang diulang lagi. Atau, tadi masak air, terus ditinggal tidur. Pendengarannya juga mulai berkurang, jadi kalau bicara dengannya harus dari depan supaya nenekku bisa membaca gerak bibir kita.

Kemarin pagi nenekku ditemukan adik perempuanku sudah meninggal ketika adikku bermaksud akan mengganti popoknya. Selama tiga hari terakhir, katanya nenekku sudah  tidak mau makan, hanya minta minum saja sedikit. Sudah tidak banyak permintaan seperti biasanya yang kadang minta mangga, minta bubur, dan lain-lain.

Kondisi seperti ini sudah sering terjadi, nenekku lemah dan sudah tidak berdaya. Tetapi tiba-tiba saja malamnya bangun sendiri, berjalan ke dapur sendiri, dan besoknya segar lagi.

Siang hari kemarinnya  nenekku hanya istighfar saja. Malamnya tidur seperti biasa, dan akhirnya ditemukan adikku pagi itu. Rupanya kali ini Allah sudah benar-benar memanggilnya pulang. Memberinya tiket yang selama ini sudah dinantikannya.

Aku mengikhlaskan nenekku dipanggil oleh Allah SWT. Tidak hanya aku, kurasa semua keluargaku juga begitu. Adikku bilang, dia sudah tidak tega melihat kondisi nenekku terakhir yang pasti menderita.  Inna Lillahi wa Inna Illaihi Roji’un. Semua kita memang akan kembali padaNya.

Tapi aku sedih.
Aku sedih sebab tidak ikut merawat nenekku di hari-hari terakhirnya. Adik perempuanku yang merawat nenekku selama ini, dibantu adik iparku yang belum lama ini datang dari Jakarta. Trimakasih yang banyak pada mereka berdua untuk waktu dan keikhlasan mereka yang belum tentu kupunya.

Aku memang bukan cucu yang baik, padahal nenekku amat menyayangiku. Aku adalah cucu pertamanya. Semua orang tahu, kasih sayang pada cucu pertama adalah melebihi sayang pada anak sendiri. Betul nggak?

Maafkan aku tidak dapat menjadi cucu yang baik buatmu Mbah….. Terlalu banyak alasan tidak perlu yang  mungkin dapat membuatku seperti ini. Selamat jalan, semoga Allah melapangkan jalanmu, menerima semua amal ibadahmu selama di dunia, mengampuni dosa-dosamu, dan memberikanmu tempat yang layak di sisiNya. Aamiin.

Al-Fatehah  dan Yassin buatmu mbahtiku…



Malang, 20 Februari 2017

Minggu, 22 Januari 2017

Riset

                                                 waktu wawancara di mall Manggadua

Tadi pagi begitu buka FB, diingatkan sama FB tentang kenanganku  4 tahun yang lalu, yaitu statusku yang
berbunyi : Aku tadi wawancara atau interogasi ya? (ampun deh job yang satu ini…, huft…!!).

Penasaran job apa yang kukerjakan 4 tahun lalu, tulisan itupun kuklik. Kubaca komen-komen yang ada di situ yang beberapa diantaranya adalah teman satu kantor di Nielsen.

Nama jobnya DAMITA. Nama yang cantik ya?
Huehehe…, nama job boleh cantik, tapi ngerjainnya setengah mati. Sumprit ini benar-benar job yang ajrut-ajrutan susahnya. Susah di sini adalah dalam artian mencari responden yang harus diwawancara.

Kesulitan utama adalah melihat tebalnya kuesioner dan metode yang harus dipakai. Metodenya adalah, kita wawancara langsung dengan responden, dan selanjutnya responden ditinggalin kuesioner untuk diisi sendiri, dan interviewer akan kembali mengambil kuesioner itu beberapa hari lagi.
Beberapa obrolan teman sekantor di statusku itu mengembalikan lagi ingatan saat-saat ngerjain jobnya.

“Lama sekali ya? Semalam aku juga sudah coba buka studynya, tapi sudah setengah jam masih belum dapat 25%. Gimana nanti kalau witness? Bisa-bisa respondennya kabur.” kata Asri.
“Biar responden gak kabur, kasih kuaci, biar gak terasa lama.” jawab Nina.
“Sumpah Nin, lama banget…” kata Asri.
“Iya, mbak Ratih juga sudah cerita..”  jawab Nina.
“Gileeee…, 3,5 jam… (memang sambil ditinggal bikin susu dan pipis,… tapi 3,5 jam?????), mati aja kalau sama orang yang gak kenal…” kataku.
Selanjutnya Nina bilang, kalau itu memang kebangetan, sebab katanya, peraturan kantor tuh wawancara paling lama cuma boleh maksimal  1,5 jam. (itu juga yang diwawancara sudah memble ngejawabnya)
“Hadeeeeehh…, Gak kira-kira yang bikin studynya.” kata Asri.

“Kalau 1,5 jam itu belum dapat separohnya Nin… (pas briefing aku juga sudah bilang sama Tuan Takur ***sebetulnya nama SPV-nya itu Kurniawan, tapi banyak yang panggil Tuan Takur*** , kalau pas wawancara ini aku harus nginep di rumah responden)

habis brieffing

Kemudian Asri nanya aku dapat PSU mana? PSU singkatan apa aku lupa, tapi itu adalah sebutan untuk wilayah wawancara, misalnya Kelurahan A Kecamatan A, Jakarta Pusat, Barat, Utara, Selatan, atau Timur.

Kubilang aku dapat Booster, tapi dengan minimum income 42 jeti per bulan. Booster itu calon respondennya boleh masuk wilayah (kali ini: Jakarta) mana aja, dengan beberapa syarat khusus, misalnya kali ini dengan income minimum 42 jeti itu.

Untuk yang bukan booster seperti tugas Asri, mungkin income nggak harus minimum puluhan jeti seperti tugasku, tapi tetap berlaku berbagai syarat khusus sebagai calon responden. Lumayan banyak larangan untuk calon responden, untuk job ini misalnya tidak boleh punya warung kelontong, tidak boleh kerja di perusahaan pesaing, tidak boleh ini tidak boleh itu, wiiiuuhhhh…… Belum lagi wilayah sudah ditentukan harus di mana. Belum lagi calon responden menolak diwawancara karena melihat tebalnya daftar pertanyaan yang akan diajukan.

Tugasku yang booster, calon responden boleh di wilayah Jakarta manapun asal minimum incomenya 42 jeti, dengan ketentuan syarat sebagai calon responden sama dengan yang bukan booster, karena ini standard wawancara. Kesulitannya hanya soal waktu, karena orang dengan minimum income puluhan jeti itu kan bukan orang dengan banyak waktu menganggur. Mau nggak dia ditanya macam-macam yang nggak ada untungnya (secara langsung) sama sekali buat dia.

Saat itu, fee yang kudapat per responden kalau nggak salah ingat sekitar 300 ribu rupiah. Lumayan sih kalau bisa dapat banyak. Tapi aku hanya mengambil 5 target saja, sebab aku nggak yakin apakah beberapa orang kenalanku (yang memenuhi syarat sebagai responden) mau diminta waktunya untuk wawancara buanyak pertanyaan yang amat sangat detail. Seperti misalnya apa merk pasta giginya, belinya di mana, belinya berapa kali sebulan, kalau merk itu nggak ada apa mau beralih ke merk lain, kalau iya, merknya apa, dan lain-lainnnn pertanyaan lagi yang tebal halaman kuesionernya sekitar 3cm.

Setelah 5 wawancara kulakukan dan kulaporkan, eeeh….., ternyata dikasih bonus, disuruh cari satu lagi, diwitnes. Diwitnes itu adalah melakukan wawancaranya dengan didampingi (diawasi) orang dari kantor atau klien. Bisa SPV, TA, Koordinator, Siapun orang kantor dengan jabatan apapun, Klien yang menyewa kita,  atau QC. (yang paling akhir itu adalah Quality Qontrol yang lebih banyak cari kesalahan kita kalau wawancara, supaya dia dapat dengan mudah mendepak kita keluar ***baca:dipecat*** itu menurutku lho….., walaupun ada juga sih QC yang ‘agak’ baik).

Tadinya aku menolak karena sudah nggak ada stock lagi buat diwawancara (males menghubungi teman-temanku  lagi, wawancaranya lama), tapi katanya calon responden sudah ada, temannya mbak Winarti yang saat itu masih jadi TA, asistennya SPV.

Yaa…, kalau calon respondennya sudah ada begitu, aku sih mau aja…., okelah kalau begitu. Jadi, aku ditemani mbak Winarti ke rumah temannya yang tinggal di Jakarta Timur. Teman mbak Winarti ini pengusaha Rumah Makan di daerah Cikini, kalau nggak salah ingat. Maklum sudah 4 tahun berlalu. Tapi waktu ambil kuesioner yang ditinggal di responden, aku pergi sendiri ke sana.  Untung orangnya baik, walaupun beberapa pertanyaan masih banyak yang kosong, jadi sambil kutunggui mengisinya, hehehe…

                                                                sedang brieffing

Kalau lihat fee nya yang lumayan, mungkin interviewer yang lain akan ambil kesempatan sebanyak-banyaknya buat ngerjain booster. Mungkin dengan sedikit probbing dan modifikasi di sana-sini, nggak perlu ambil job yang lain bulan itu, konsen di satu job ini aja…. Tapiiiiii, aku lebih males mikir ke belakangnya kalau misalnya sampai kena QC yang ribet.

Contoh kalau misalnya kena QC dan akhirnya dikeluarkan alias dipecat adalah begini, ini aku pernah dengar cerita dari salah seorang yang dikeluarkan karena kena QC.

Ketika kita akan melakukan wawancara, pertama kali kita harus menunjukkan ID Card. Kemudian kita memegang kuesioner di depan responden, responden tidak boleh melihat isi kuesioner, tapi responden kita kasih sebuah buku pedoman jawaban yang disebut Show Card. Di dalam Show Card ini ada jawaban-jawaban yang harus dipilih oleh responden.

Misalnya, kita tanya pertanyaan nomer 5 di kuesioner kita, dimana bapak/ibu bekerja? Maka di ShowCard yang dipegang responden itu ada jawaban nomer 5: a. PNS, b. ABRI, c.Karyawan Swasta, d.Dll.

Ketika responden menjawab: c. Karyawan Swasta.
Kita harus tanya: Karyawan Swasta di Perusahaan apa?
Kalau misalnya responden menjawab: Di Johnson& Johnson.
Misalnya padahal saat itu kita sedang wawancara untuk perusahaan Uinilever, ya wawancara tidak boleh dilanjut karena calon responden ternyata bekerja di perusaan pesaing. Kalau tetap dilanjut juga dan ketika QC mengkonfirmasi (biasanya via telepon) hal itu tetap dilakukan, biasanya kuesioner akan diturunkan dan interviewer dapat peringatan.

Yang parah dan bakalan dikeluarkan adalah pada saat wawancara, kita tidak memberikan ShowCard pada responden. Ini fatal. Alasannya apa aku juga tidak tahu. Yang jelas, banyak interviewer dikeluarkan karena ketahuan tidak menunjukkan Show Card pada responden.

Padahal ada kejadian juga, sebetulnya bukan salah interviewer waktu responden ditanya QC, apakah ditunjukkan Show Card dan responden bilang tidak. Ternyata kata interviewernya, waktu wawancara itu berlangsung memang suasana agak ramai (wawancara di toko), dan responden melayani wawancara sambil melayani pembeli. Jadi responden tidak ingat bahwa interviewer pernah menyerahkan Show Card padanya. Tapi tetap yang seperti ini tidak ditolerir oleh QC. (Biasanya interviewer baru yang agak memaksa wawancara dengan kondisi responden sibuk seperti itu karena takut tidak dapat responden lagi).

Okelah. Kembali pada job DAMITA ku tadi. Waktu itu aku memang hanya mengerjakan 6 saja, sebab aku juga harus membagi waktu dengan job-job yang lain yang juga mendesak waktunya, hehehe…

Oh ya, setiap selesai wawancara, biasanya kita selalu memebrikan sekedar souvenir kepada responden yang sudah kita wawancara sebagai ucapan terimakasih. Walaupun menurutku nilainya tidak berimbang dengan waktu yang sudah diberikan ke kita.
Macam dan jenis souvenir beda-beda, sesuai jenis job dan besarnya kontrak sepertinya, hehehe… Aku pernah memberikan souvenir berupa Voucher Belanja, Jam Meja, Payung, termos, Mug, Tas, dll. (yang paling sering sih Mug dan tas Nielsen)




Malang, 23 Januari 2017
***edisi kangen masa-masa lalu

Kamis, 22 Desember 2016

Baby Blues






Aku memandang sesosok tubuh mungil berselimut yang sedang tidur itu dengan diam. Tanpa rasa. Tanpa ingin menyentuhnya. Bayi perempuan yang mungil dan cantik itu anakku. Ya, dia anakku. Aku sudah punya anak sekarang. Benar-benar anak yang kulahirkan dari rahimku 4 hari yang lalu. Tapi kenapa aku merasa asing ya? Suatu perasaan aneh yang tidak jelas.
Kupandangi terus raut mukanya yang damai sambil tetap bertanya-tanya dalam hati. Kenapa aku tidak seperti ibu-ibu yang lain, yang tampak begitu amat menyayangi anaknya? Kenapa rasa itu tidak ada padaku? Bahkan merasa gemas karena melihatnyapun tidak ada padaku. Aku merasa biasa saja…, amat biasa…
 
Ketika tengah malam suara tangisnya membangunkanku, akupun tidak tergesa mengambilnya dari box bayi. Malah Ibuku yang tiba-tiba sudah muncul di pintu kamarku dan segera memeriksanya. Sejak pulang dari RS, memang hampir semuanya Ibuku yang mengurus.
“Kenapa?” Tanya Ibuku. Aku menggeleng.
“Ooh…, pup dia….” Kata Ibuku sambil menyiapkan popok kain yang baru. Ibuku belum mengijinkan aku memakaikan diapers karena masih umur beberapa hari. Katanya, biar pakai popok kain aja dulu, biar Ibu yang mencuci. Dan memang setiap subuh, Ibuku selalu mengambil tumpukan selimut dan popok kotor dari kamarku. Malah seolah berlomba dengan Nenekku. Mereka berdua cepet-cepetan mengambil kain kotor itu.
Ibuku juga yang setiap pagi dan sore memandikan bayiku, karena aku belum berani. Aku hanya membantunya menyiapkan semua perlengkapan mandi dan baju ganti.
Seperti ibu-ibu yang lain, aku memang menggendong bayiku ketika selesai dimandikan ataupun ketika ada tamu yang menjenguk, memberinya ASI setiap beberapa jam sekali sesuai petunjuk dokter, dan lain-lain. Tapi itu semua kulakukan tanpa rasa. Aku hanya seperti robot, dan menggendong bayiku seolah pencitraan aja. Masak anaknya dicuekin? Aku nggak mau ada anggapan begitu.
Ketika tiap malam bayiku pup beberapa kali dan mencret terus. Aku mulai agak panic. Apalagi tiap hari  Suamiku menelpon menanyakan kondisi anaknya, aku jadi takut terjadi apa-apa pada bayi ini. (Aku pulang ke rumah Ibu di Surabaya ketika akan melahirkan, sedangkan Suami tetap di Jakarta)
Kubawa bayiku ke Dokter Spesialis Anak, kutanyakan kenapa tiap malam mencret beberapa kali? Jawaban Dokter sungguh mengejutkan, “Sepertinya bayi Ibu alergi ASI.”
Haaah?? Bayiku alergi pada ASIku sendiri? Apakah dia merasa kalau aku menganggapnya asing??? Aduuuh…., bagaimana ini?
“Apa Ibu minum jamu? Sebaiknya jamunya untuk sementara di stop dulu Bu…, dan ASI tetap dilanjutkan karena ASI adalah asupan terbaik buat bayi Ibu.” Kata pak Dokter.
Aku berhenti minum jamu, tetapi bayiku masih tetap mencret, dan ASI tetap kulanjutkan. Hanya itu yang dapat menghubungkan aku dengan bayiku.
Tidak terasa, hari berganti minggu. Tiba-tiba, entah mulai kapan, rasa itupun mulai tumbuh di hatiku. Aku tiba-tiba seperti induk ayam pada anaknya. Bayi ini anakku. Hidung mungilnya, mata sipitnya, pipi ranumnya, bibir merahnya, jemari lentiknya, semua milikku. Bayi ini adalah bagian hidupku, aku akan mempertaruhkan apapun demi dia. Tidak kubiarkan seekor nyamukpun mendekatinya.
Akupun tidak pernah keduluan Ibuku lagi kalau tengah malam tiba-tiba bayiku menangis. Aku pasti sudah mendekapnya dalam pelukku ketika ibu datang ke kamarku.
Satu hari, kubaca sebuah artikel tentang ibu baru di majalah. Tentang suatu kondisi ketika tiba-tiba seorang ibu yang baru saja melahirkan diserang gundah gulana, sering marah tanpa sebab, sering menangis sendiri, dan lain-lain yang intinya tidak sesuai dengan biasanya.
Kata artikel itu, perasaan seperti ini dialami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan. Tidak berbahaya dan setelah dua minggu semua akan kembali normal. Kondisi ini dinamakan Baby Blues Syndrome (Postpartum Distress Syndrome). Kalau ternyata lebih dari dua minggu belum juga normal, berarti agak parah dan harus berkonsultasi dengan dokter, namanya Postpartum Depression.
Alhamdulillah, belum dua minggu aku sudah berhasil memeluk bayiku dengan penuh cinta. Rupanya aku sempat terkena Baby Blues Syndrome yang membuatku merasa asing dengan bayiku sendiri, dan bersyukur sekali semua itu sudah berlalu. Alhamdulillah. Sekali lagi, Alhamdulillah. Baby Blues Syndrome, sayang sekali kau tidak berhasil menjadikanku monster untuk anakku sendiri. Aku berhasil mengalahkanmu. Hiyaaaa….!!!!
Anakku adalah kecintaanku, kebanggaanku sebagai wanita dan seorang istri yang dapat mempersembahkan buah hati kepada suaminya. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan bayi cantikku? Kupeluk erat bayiku dalam dada….., love her so much…., muachhhh muachhhh muachhhh…..


Malang, 7 Desember 2016
***suatu hal yang selama ini tidak pernah kuceritakan pada siapapun, hingga pada saat ini.



Tulisan ini kuikutkan Lomba Bangga Menjadi Ibu di vemale.com dan dimuat pada tanggal 8 Desember 2016

 http://www.vemale.com/relationship/ibu-bayi-dan-balita/100031-sungguh-aneh-usai-bersalin-kumerasa-seolah-tak-mencintai-bayiku.html


Selasa, 06 Desember 2016

Pak Tam





Namanya pak Mistam, panggilannya pak Tam. Orang kampung biasa. Lahir di mBaran Mogal Malang tahun 1951, tanggal dan bulannya nggak tau, katanya. Pokoknya pas terjadi G30 S PKI dulu, dia sudah jejaka, sekitar umur 15 tahun.

Sekolah hanya sampai kelas dua SD (Madrasah) sebab waktu itu sering sakit-sakitan. Seringkali setiap sakit tuh ketika akan ulangan atau kenaikan kelas. Akhirnya pak Tam kecilpun berhenti sekolah. Asal sudah bisa baca tulis, ngaji, hitung-hitungan sederhana (tambah, kali, dan bagi), ya sudah.

Orangnya polos dan lugu, malah terkadang suka melucu juga. Sekarang ini tinggal (menjaga)di sebuah rumah yang oleh pemiliknya hanya ditengok sesekali. Untuk kebutuhan hidupnya, dia menggarap beberapa lahan kosong di perumahan tempat tinggalku ini. Tanamannya berganti-ganti sesuai pergantian musim. Sebagian ditanami singkong, cabai, pepaya, jahe, kunyit, dan lain-lain.

Dari ceritanya selama ini, yang dapat kutangkap adalah, pak Tam ini sangat menghargai persaudaraan. Siapapun yang baik padanya, dia akan lebih baik lagi pada orang tersebut. Bahkan pada orang yang tidak baik padanyapun dia tidak pernah merasa sakit hati.

Pernah suatu ketika, aku ditawari memetik cabai di lahannya sementara dia sendiri menyiangi dan mempersiapkan lahan untuk ditanami lagi.

Tidak terasa aku memetik cabai yang merah-merah sampai ke batas ujung timur lahan, sementara pak Tam sendiri sedang asyik di ujung barat. Jarak kami mungkin sekitar 50 meteran. Tiba-tiba, aku melihat sebuah pepaya mengkal tergeletak diantara tanaman cabe. Pohonnya sendiri berada sekitar 3 meter dari buah pepaya itu tergeletak. Aku mendongak ke atas, dan tampak beberapa tangkai buah yang masih meneteskan getah, pepayanya sendiri tinggal beberapa buah yang masih kecil-kecil.

Kuambil pepaya mengkal itu dan berjalan mencari pak Tam.
“Pak Tam, pohon pepaya di ujung sana itu punya siapa?” tanyaku.
“Punya saya bu…” jawabnya.
“Ini, ada yang jatuh, masih mengkal.” kataku sambil menunjukkan buah pepaya tadi.
“Buahnya yang masih di pohon habis ya bu?” tanyanya.
“Iya, kayaknya belum lama dipetik pak Tam, getahnya masih netes koq. Emang siapa yang metik?” tanyaku.
“Orang bu. Kemarin kan ada yang datang ke saya, bilang mau beli pepaya mentah buat dijual di pasar, tapi nggak saya kasih. Saya bilang nggak dijual sebab mau saya kasih ke saudara-saudara. Eh, sekarang koq dipetik sendiri…” katanya.
“Lha kalau tau orangnya ya disamperin aja pak Tam…” kataku.
“Biarin aja bu. Mungkin dia memang butuh banget. Semoga aja berguna buat dia. Tapi kan ya nggak berkah buat dia kalau caranya begitu…”
“Saya cuma kecewa sama caranya. Manusia hidup itu cuma sekali, kenapa harus pakai cara yang nggak baik…, gimana caranya dia kelak mempertanggung jawabkan perbuatannya ke Gusti Allah…”
“Tadinya pepaya itu sudah saya hitung buat bu Bagyo, bu Harsono, bu Ruddy, Salimah…. (aku lupa siapa-siapa lagi yang disebutkan namanya), tapi ya belum rejekinya bu Ruddy dapat pepaya…” katanya sambil tersenyum. Bu Ruddy yang disebutnya itu aku.
Aku terdiam mendengarnya sambil memandang pepaya mengkal di tanganku. Orang ini baik banget. Semua orang yang baik padanya dianggap saudara. Dan buat dia, lebih baik menjaga persaudaraan itu daripada sekedar dapat uang beberapa puluh ribu.
“Ini, pepaya mengkalnya mau diapain?” tanyaku.
“Ya ibu bawa aja, besok mungkin sudah matang. Itu pasti sengaja ditinggal sama pencurinya sebab di pasar nggak laku dijual untuk sayur, sudah kuning….”
“Waduh, jahat banget sih…, maling aja koq pilih-pilih…” pikirku.

Itu tadi salah satu caranya pak Tam menghadapi orang yang sudah tidak baik padanya yang langsung kusaksikan sendiri hasil perbuatan si maling pepaya yang hanya menyisakan beberapa buah yang masih kecil dan mengkal ini.

Ada lagi ceritanya. Kalau ini sih dia ceritakan sendiri waktu datang ke rumah sambil membawa buah pisang satu sisir. (pak Tam ini sering sekali tiba-tiba datang bawa jagunglah, singkonglah, pepaya, dan lain-lain)
Katanya, dulu ada tetangganya di kampungnya yang benci sekali padanya. Ibu ini kaya dan sudah naik haji.
“Pak Tam, aku dulu  itu benci sekali  lho ke sampeyan. Kalau lihat muka sampeyan aku pingin muntah…” kata pak Tam menceritakan kata-kata si ibu haji tetangganya.
“Ya panteslah bu, wong saya ini bukan siapa-siapa, jelek, kurus, penyakitan, miskin. Ya nggak apa-apa kalau ibu benci lihat muka saya..” jawab pak Tam ke tetangganya itu.
“Tapi bu, nggak lama gitu, bu haji itu jadi baik banget sama saya. Suaminya, anak-anaknya, semua jadi baik-baik banget sama saya. Punya apapun semua dikasih ke saya. Lahannya, saya disuruh nggarap gratis…. Saya sampai heran sendiri. Apa mungkin bu haji itu dikasih peringatan sama Allah ya bu…” katanya padaku.
Aku cuma mengangguk-angguk. Mungkin juga pak Tam… Nggak ada yang yang mungkin di dunia ini kalau Allah sudah berkehendak.

Sebetulnya pak Tam ini pernah menikah dengan seorang janda beranak satu, anaknya laki-laki. Kemudian pak Tam sendiri punya anak angkat perempuan, satu juga.  Pernikahannya dengan janda itu tidak mempunyai keturunan sampai istrinya meninggal dunia.

Kalau menurut ceritanya lagi, kuambil kesimpulan kalau anak tirinya itu agak semaunya pada pak Tam. Ada satu saat, pak Tam ini pulang kampung, maksudnya mau nengok sapi atau sawahnya (aku agak kurang jelas, sebab komunikasi kami kan bercampur-campur antara bahasa jawa, bahasa Indonesia, kadang dia pakai bahasa Madura yang aku sama sekali nggak ngerti), tapi yang dicari ternyata sudah berpindah tangan karena dijual si anak tiri tanpa ijin dulu padanya. Pak Tamp-un diam saja, tidak menegur sekalipun pada anaknya itu.

Hasil tanamannya menggarap lahan-lahan di perumahanku juga yang memanen itu anak tirinya. Nanti tinggal dia dikasih uang berapa ratus gitu. Itu juga dia tidak tanya, laku berapa kek, dapat berapa ton kek… Katanya, terserah anaknya. Mau dikasih berapapun ya terserah. Semuanya dipasrahkan ke Allah.

“Saya juga nggak minta yang aneh-aneh pada Gusti Allah, saya hanya berharap ridho’nya atas semua yang saya lakukan…. Asal yang saya lakukan tidak dibenci oleh Gusti Allah, saya sudah senang…”  katanya.

Banyak yang dapat kupelajari dan kucontoh dari cara hidup pak Tam yang lugu ini. Kapasrahan dan keikhlasan dalam menjalani hidup ini bagiku sangat mengagumkan. Pak Tam ini tidak pernah merasa kuatir sedikitpun akan hari esok. Hasil buminya dibagi-bagi tanpa minta imbalan uang, padahal harusnya bisa dijual. Besok makan apa juga tidak pernah dipikirkannya, padahal dia tidak punya kompor. Dia hanya punya magicom yang penggunaannya sangat dia batasi. (Aku pernah mengajarinya menggoreng tahu atau telor dengan magicom, tapi katanya nanti listriknya habis banyak). Oh ya, ada juga tungku kayu bakar yang dipakai untuk merebus air minum.

“Kalau cuma punya nasi, makannya pakai lauk apa pak Tam?” tanyaku.
“Alhamdulillah ada aja orang baik yang suka ngirim lauk bu. Tapi ya gitu, kadang-kadang sehari sampai tiga orang yang kasih, terus besoknya tiga hari nggak ada yang kirim lagi, ya makan pakai sambel aja sudah enak….” katanya sambil tertawa.

Sebetulnya hidup ini memang sederhana ya…, sesederhana pola pikir pak Tam. Hidup dengan bekerja seadanya, mendapatkan hasil sedapatnya, kemudian beribadah dengan ikhlas pada Yang Kuasa. Semua hasil akhir terserah Yang Kuasa. 

Manusia sendiri aja yang suka bikin sulit. Harus sekolah tinggi suapaya punya jabatan tinggi dan dapat duit banyak, biar bisa beli ini itu.  Harus punya WA, BBM, Line, dsb supaya bisa ikut group dan reunian…. , hehehe…


Malang, 29 November 2016
Lagi nunggu pak Tam ngirim singkong

Senin, 07 November 2016

IGD = UGD



Sepertinya aku lebih familiar dengan UGD deh, tapi kan sebetulnya sama saja ya, IGD atau UGD. Nah, sepanjang hidupku yang sudah setengah abad ini, seingatku, baru dua kali aku berurusan dengan IGD.
Pertama waktu akan melahirkan anak keduaku di RS Karya Bakti Bogor. Saat itu jam 02.00 malam, tiba-tiba ketubanku pecah. Jadi deh aku dibawa ke IGD, dan selanjutnya langsung dikirim ke Ruang Bersalin.

Kedua kalinya baru beberapa hari ini, saat kondisi anak pertamaku sedang payah-payahnya setelah dua minggu sebelumnya (kata dokter) terkena typhus. Baru juga enakan dua minggu, eh… tepar lagi.
Sekitar jam 19.00 lebih kami berangkat ke IGD Syaiful Anwar, sampai RS sekitar jam 20.00 an deh, kemudian langsung masuk ruang pemeriksaan. Setelah ditanya-tanya sebentar sama dokter jaganya (bajunya abu-abu), kemudian diambil darahnya  dan disuruh buang air kecil untuk periksa lab. Aku menunggu di kursi di samping kereta dorong anakku.

Selanjutnya kami ditinggalin deh. Sesekali ada juga yang nyamperin, nanya-nanya. Tapi yang datang beda-beda. Sampai kira-kira jam 22.00 lebih. Ada petugas yang datang (dokter juga kali, tapi orangnya bukan yang tadi) yang mengatakan kalau hasil pemeriksaan urine dan darah tadi sudah keluar. Hasilnya sih bagus, negative semua. Mungkin harus periksa penyakit dalam aja, katanya. Tapi tadi urinenya terlalu sedikit, jadi disuruh buang air kecil lagi buat diperiksa ulang.

Sepeninggal dokter tadi, kusuruh anakku segera minum yang banyak biar bisa cepet buang air kecil dan segera diperiksa lagi. Sebab kulihat sudah larut malam, mau sampai jam berapa di sini, pikirku.
Tapi setengah jam kemudian anakku baru bisa buang air kecil, yang langsung diambil oleh petugas perawat (sepertinya dari akper ponorogo yang nggak tau lagi kuliah praktek, atau magang, atau apalah namanya, aku nggak begitu faham dengan kronologi sekolah kesehatan).

Terus, kami (aku tepatnya) nggak ngapa-ngapain lagi deh, sebab anakku tidur.
Kereta dorong di sebelah sudah berganti orang. Tadi ada wanita muda yang ditungguin laki-laki muda (mungkin suami istri) yang masuknya berbarengan dengan anakku. Sudah berganti bapak-bapak agak tua yang batuk terus-terusan.

Diantara anakku dan bapak-bapak itu ada kereta dorong berisi seorang gadis yang terus-terusan muntah. Entah jam berapa, aku lupa, gadis ini pulang  ditemani laki-laki muda.
Nggak lama, masuk lagi seorang gadis muda yang tampaknya sakit perut, diantar dua orang gadis sebayanya.

Si bapak-bapak tua tadi akhirnya pulang ditemani temannya yang juga bapak-bapak tua.
Akhirnya masuk lagi seorang laki-laki ditemani istrinya (aku kepo, si perempuannya memanggil sayang ke yang sakit, jadi kusimpulkan mereka suami istri).

Sekitar jam 03.00 pagi, masuk seorang anak perempuan kecil yang digendong ibunya. Nangis terus, nggak mau diperiksa dokter, minta pulang.
Seorang dokter perempuan berbaju abu-abu tampak sabar menangani anak perempuan ini. Tapi yang membantu dia, masih anak muda (laki-laki) berseragam hijau muda, kelihatan belum terlatih bagaimana harus menangani anak-anak.

Suasana ruang IGD ini benar-benar ramai. Banyak sekali pasien yang keluar masuk. Terlebih di sebelah kiri dari pintu masuk yang sepertinya tempat pasien-pasien yang butuh tindakan segera, itu banyak sekaliiiii.  Kereta dorongnya sampai berjejalan dan petugas yang menangani tampak kelelahan.

Bahkan waktu pertama masuk tadi, di sebelah tempat dudukku, ada seorang gadis gendut berseragam hijau muda yang tertidur karena kelelahan. Setelah sempat tidur sekitar dua jam, dia bangun dan kembali bertugas.
Aku juga sempat memperhatikan seorang anak muda berseragam hijau yang wajahnya ada tanda hitam, jalannya sudah seperti melayang, langkahnya diseret dan wajahnya tampak loyo. Kelihatan sekali kalau dia amat kecapek’an. Kasihan. Mereka mungkin mahasiswa-mahasiswa Universitas Kedokteran yang lagi koass. 

Selamat berjuang ya kalian para calon dokter, semoga pengalaman selama koass ini kelak menjadikan kalian para dokter yang handal. Tapi jangan lupa pada masyarakat kurang mampu, atau yang di pedalaman, tetap care sama mereka ya…., supaya handal kalian menjadi handal yang lahir-bathin. Berguna bagi masyarakat banyak dan berpahala buat tabungan akhirat.

Suasana IGD yang ramai, terang benderang, dan sejuk karena AC ini sungguh tidak membuat takut sama-sekali. Kalau misalnya harus rawat inap di tempat ini, kurasa anakku juga tidak akan menolak. Selama ini yang ada dalam bayangannya kan suasana rumah sakit yang sepi, temaram, dan menakutkan. (Ya memang di kelas yang seperti itu kami mampunya bila seandainya harus nginep, bukan di pavilyun yang nyaman).

Ketika menunggu seperti ini, memang tidak ada yang dapat kulakukan selain mengamati lalu lalang petugas dan kesibukan mereka. Mencoba berempati pada para petugas yang super sibuk.
Sesekali terdengar suara wanita berteriak kencang sekali dari ruang dalam, juga tangis bayi dari arah depan tempat kami menunggu ini.

Kulihat ada tiga mesin incubator yang dibawa masuk dengan masing-masing berisi bayi yang ditempeli selang-selang tau deh apaan.
Satu saat aku mendengar percakapan yang sayup-sayup sampai ke telingaku (karena jaraknya lumayan jauh), nampaknya seorang perawat wanita senior yang berkata pada perawat senior laki-laki:
“Tolong gantiin popoknya pakai yang baru, sementara bayinya kuangkat/gendong.” Kata yang perempuan. Mereka berdua ada di depan mesin yang paling ujung. Popok yang dimaksud sepertinya yang lebar itu, yang biasa buat alas tidur.
Kulihat yang laki-laki segera menarik popok bekas yang dari jauh terlihat kotor, mungkin bekas buang air besar si dedek bayi.

Tampak si dedek bayi dibersihkan kemudian diselimuti pakai popok baru sampai bungkusnya mirip kepompong (sebab tertutup semua sampai kepalanya), kemudian ditimbang, dimasukkan lagi dalam mesin dan ditinggal. Sampai lama aku baru agak berpikir, jangan-jangan bayi itu meninggal, sebab di kedua mesin yang ada, di sana ada keluarganya yang menjaga, kenapa yang ini ditinggal sendirian?

Ternyata benar. Tidak lama setelah aku agak ngeh itu, kulihat ada seorang laki-laki muda yang begitu datang, langsung berdoa di depan mesin itu. Kemudian pergi lagi, dan kembali bersama dua orang. Satu, seorang wanita yang membawa kain yang lantas menggendong jenazah bayi dalam pelukannya, dan satu lagi seorang lagi laki-laki sebaya mereka. Selanjutnya mereka meninggalkan ruangan.

Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Roji’un. Aku tidak kenal mereka, tapi aku ikut merasakan kesedihan mereka ditinggalkan salah satu anggota keluarganya. Semoga mereka sabar dan ikhlas menerimanya.

Sekitar jam 04.00 pagi, datanglah seorang dokter wanita berseragam biru tua yang memperkenalkan diri sebagai dokter Helena. Dia mengatakan kalau hasil lab anakku semua bagus. PH bagus.  Trombosit juga bagus,  144. Jadi tidak perlu dirawat di RS, boleh pulang. Hanya diberi obat untuk menurunkan panas, erosi lambung, dan anti mual/muntah. Tidak ada antibiotic karena belum pasti virus/bakteri apa yang menyerang. Kalau misalnya masih ada keluhan lagi, disarankan untuk periksa ke bagian penyakit dalam.

Sekian jam menunggu, tetapi tidak diketemukan sakit apa? Kulihat wajah anakku kecewa.
“Masak sudah periksa darah tapi gak tau sakit apa sih Mie? Udah tangan jadi sakit semua dicoblos begini….” Katanya. Aku diam saja, tidak puas juga sih, tapi aku juga mengantuk. Selama ini anakku tuh nggak pernah mau dibawa ke dokter karena takut jarum. Dia nggak mau diambil darahnya atau infuse atau apapun lagi yang berhubungan sama jarum suntik.

Seorang perawat menghampiriku dan menyerahkan segepok berkas, menyuruhku menyelesaikan administrasi di depan, kemudian nanti akan dijelaskan lagi sama dia.

Sekitar jam setengah enam pagi, semua beres. Aku menelpon taxi dan kamipun otw pulang. Sudah. Gitu aja.


Malang 5 Oktober 2016