Minggu, 08 Mei 2016

Sukabumi, Bogor, dan Bekasi



Kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan, dan kesempatan yang ada seringkali tidak akan pernah datang dua kali. Begitu juga yang terjadi padaku.
Pagi itu, setelah menyiapkan stock yang akan kubawa ke kios Poci di Singosari, aku mengeluarkan hp ku dari dalam tas. Ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari Jakarta, dan ada pesan di WA.
Tidak lama, hp berbunyi lagi, yang langsung kuangkat.
“Hallo mbak, apa khabar?” suara mas Agung di seberang sana.
“Alhamdulillah khabar baik. Tumben nelpon, ada apa hayoooo….” tanyaku.
“Mbak Aan posisi di mana sekarang?”
“Di Malang. Tapi bisa ada di manapun sesuai permintaan…., hehehe…”
“oke. Ada kerjaan riset di Jawa Barat mbak, Sukabumi, Bogor, dan Bekasi selama tiga minggu…. Dst dst dst…”
“Oke mas, aku ambil…” jawabku memastikan.

Selanjutnya aku mulai mengkondisikan pekerjaan di Malang selama akan kutinggalkan kurang lebih sebulan.
Beruntungnya adikku sudah punya orang-orang loyal yang bekerja padanya, sehingga akupun tidak terlalu bersusah payah dalam mengkondisikan sesuatu.
Tidak banyak yang kutahu sebelumnya tentang situasi lapangan di lokasi yang akan kami observasi, hanya saja aku harus siap untuk medan yang terburuk karena tujuan agak di pedalaman. Itu clue-nya.

Tujuan pertama adalah Sukabumi.
Team Leaderku, mas Inang Winarso menawarkan kalau ada yang mau bareng dengan beliau menuju Sukabumi, maka kami harus berkumpul di Stasiun Bogor, hari jum’at pagi tanggal 15 April 2016 jam 09.00 wib.
Aku, numpang tidur semalam di rumah Frida (staff BSK) di Komplek BIN Kalibata, dan keesokan harinya aku menuju Bogor dari Stasiun Pasar Minggu Baru.
Ketika aku baru turun dari mobil Frida, ada kereta yang akan berangkat menuju Bogor, sedangkan aku belum beli karcis. Yah, lama deh…, pikirku.
Tapi ternyata tidak, baru saja aku membeli karcis, ternyata sudah ada kereta yang akan masuk lagi di jalur dua. Akupun buru-buru menyebrang rel dan menuju peron Bogor sambil lelarian karena tampaknya gerbong terakhir kereta akan agak jauh ke depan. Tasku yang besar dan berat rupanya agak memberatkan langkahku. Maklum, persediaan baju selama tiga minggu (saat packing, aku mengesampingkan kemungkinan sempat mencuci baju). Belum lagi tas cangklong dan tas laptop. Pokoknya ribet dah…
Dengan keyakinan penuh, akupun melompat masuk ke gerbong delapan, gerbong wanita. Fuihh…, penuh juga. Tapi setelah kuedarkan pandanganku, rata-rata umurnya masih belia, seumuran anakku. Pasti mereka mahasiswi yang pada mau kuliah di UI, dll.
Benar dugaanku. Gerbongpun mulai sepi ketika sampai di Stasiun UI. Akupun berjalan pelan-pelan pindah ke gerbong yang agak depan. Aku mencari tempat duduk yang enak sambil menikmati suasana dan pemandangan yang sdh lebih setahun kutinggalkan. Nostalgia ceritanya…
Waktu di Stasiun Citayam, kereta berhenti agak lama. Aku sibuk menyiapkan hp buat nanti mau mengambil gambar Stasiun Bojonggede, tempat dimana banyak tahun dan cerita selama aku dan keluargaku masih tinggal di sana.
Sambil memandang keluar jendela dengan hp di tangan, tiba-tiba aku melihat simpangan rel, dan kereta yang kunaiki mengambil jalur yang ke kiri. Deg!! Kemana kereta ini???
“Pak, maaf…., kereta ini tujuannya ke mana ya?” tanyaku pada dua orang lelaki muda yang berpakaian seragam polsuska dan duduk di seberang bangkuku.
“Ke Cibinong bu….” Jawabnya.
Alamaaakkk….. Akupun shock. Dan semakin shock ketika melihat jam di hp ku menunjukkan angka 08.30 wib.
“Habis dari Cibinong, keretanya balik ke Jakarta lagi pak?” tanyaku.
“Ke Nambo dulu bu, nanti balik dari Nambo sekitar jam 08.50 wib.” katanya.
Haduuuh, gimana iniiii……
Koq gak ada yang bilang sih kalau sekarang sudah ada kereta yang ke Cibinong?
Akhirnya aku berhasil menghubungi team Jawa Barat, dan mas Inang berbaik hati mau menungguku di Stasiun Bogor.

Team Jawa Barat yang ikut mobil mas Inang adalah mbak Intan (asisten tem leader), Kiky, Puput, dan aku. Insan dan Widya naik motor sendiri. Perjalanan ke Sukabumi sebetulnya lancar jaya kalau tidak ada oknum polisi yang sok tegas dalam menjalankan peraturan tapi sambil iseng-iseng berhadiah.
Ceritanya gini.
Mobil kita ada di belakang Truk Box. Nah, ketika Truknya belok kanan, ya kita lurus dong… Eh, ternyata di depan tiba-tiba di stop sama seorang polisi yang sedang bertugas di situ. Katanya kita melanggar lampu merah.
Lha, ada lampu merah toh? Ajaibnya, kita berempat nggak ada yang melihat lampu itu. Yang kelihatan di depan kita kan mobil box tadi. Rupanya rambunya tertutup box.
Berhentilah kita ke tepi jalan. Mas Inang keluar, menunjukkan surat-suratnya, dan pak polisi mengeluarkan buku tilang.
Biasanya nih, setelah kasih tahu kesalahan kita, pak polisi akan menulis pelanggaran, STNK ditahan, kemudian kasih surat tilangnya,  dan sudah.
Tapi ini tidak saudara-saudara…… Mas Inangnya lama banget di bawah, dan suratnya nggak ditulis-tulis sama si bapak polisi.
Setelah masuk lagi ke mobil, mas Inang cerita kalau tadi si bapak oknum polisi itu sebenarnya ingin kalau kita ngajak damai aja. Memang nggak ngomong langsung menawarkan damai, tapi setengah menakut-nakuti yang sebenarnya malah jadi lucu dan kelihatan blo’onnya. Harusnya dia lihat dulu dong, model seperti apa yang ditakut-takuti. Apa mas Inang itu tampak seperti anak kecil atau apa?
Contoh dialognya gini,
“Ini bener nih, bapak mau ditilang aja? Nanti apa nggak repot ngurusnya?”
“Polsek sini belum kerjasama dengan BRI lho, jadi nggak tau nanti masuk ke rekening siapa…”
Dan masih ada beberapa dialog konyol lagi yang aku sudah lupa….
Kenapa harus seperti itu bapak oknum polisi?
Jadinya sepanjang perjalanan menuju Sukabumi, ada bahan bercanda yang bikin agak jengkel juga kalau ingat.

Lokasi survey di Sukabumi adalah di kecamatan Cicurug, dan kantor CDP GNI Sukabumi masih dekat dengan jalan besar dan pusat keramaian. Bahkan tempat nginap kitapun disediakan di  hotel.
Kalau urusan ke lapangan, itu lain cerita. Medannya yang aduhai terbayar dengan pemandangan gunung yang memukau.
Masing-masing enumerator mendapat jatah desa yang berlainan, jadi kita jalan sendiri-sendiri mencari jalan hidup masing-masing…, hehehe…, lebay ya…..
Jatahku di desa Kebon Kawung, yang ternyata penduduknya baik-baiiikkkk deh. Dua hari berkeliaran di daerah itu, dua kali pula aku dijamu makan siang oleh para ibu, penduduk di sana. Bahkan katanya kalau mau pulang, aku disuruh mampir lagi sebab mau dibuatkan keripik singkong dan pisang buat oleh-oleh. Tapi sayangnya waktu yang terbatas tidak dapat membawaku kembali ke desa itu buat ambil oleh-oleh. Biarlah. Kurasa mereka masih dapat menjual keripik yang sedianya akan dibawakan ke aku itu, kan biasanya mereka juga menjual atau memasokkan keripik itu ke toko oleh-oleh. Trimakasih banyak buat penerimaannya padaku dan niat baiknya yang kuterima dengan senang hati, ibu-ibu di Kebon Kawung.

Yang bisa kucatat adalah, para staff CDP GNI Sukabumi ini ternyata sangat dekat dekali dengan masyarakat binaannya, dan mereka bahkan mengenal satu demi satu anak-anak sponsor (yang mendapat program bantuan dari GNI dalam upaya pemenuhan hak-hak anak) begitu juga anak-anak juga sangat mengenal mereka. Padahal wilayah yang mereka tangani cukup luas. Para staffnya sigap dalam setiap bantuan ke masyarakat. Acung jempol buat mereka.
Sayangnya kedekatan itu seperti membuat masyarakat semakin tergantung, dan enggan melepaskan GNI dari wilayah mereka (atau begitu juga sebaliknya dengan para staff?), hehehe…
Program yang berjalan seolah membuat mereka terus menerus mengharapkan bantuan, walaupun menurutku pribadi sebetulnya mereka banyak yang tidak tepat lagi untuk menerima bantuan karena mereka mampu secara materi. Terlepas dari itu, barang gratis sekecil apapun, memang selalu berdaya tarik ya.
Anak-anak di wilayah ini sepertinya lebih berani mengungkapkan keinginannya, mengungkapkan cita-citanya. Mereka bisa berkomunikasi dengan baik, dalam artian tidak diam saja dan malu-malu ketika ditanyain (wawancara).
Walaupun ada juga yang lebih tertarik bekerja di pabrik selepas SMP dan tidak ingin meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini karena banyaknya pabrik-pabrik di sekitar sini yang tentu saja memang membutuhkan banyak tenaga kerja. Iming-iming modernisasi seperti mempunyai HP sendiri, tentu adalah salah satu sebab godaan itu.
Dengan berjalannya waktu, di sisa-sisa batas waktu program, semoga para staff CDP Sukabumi ini berhasil membawa masyarakat untuk bertransformasi, memberdayakan masyarakat menjadi masyarakat yang mandiri dan tidak terus-terusan hanya mengandalkan bantuan. Menjadikan masyarakat masa depan Indonesia benar-benar membanggakan. Aamiin.

Miss You Sukabumi,
(Oh, ya… ada yang lupa kutulis, ternyata jalan di Sukabumi ini macetnya sudah sama parahnya dengan Jakarta…, byuhhh….)


            Botraman di kantor CDP GNI Sukabumi sesaat sebelum kami meninggalkan Sukabumi




Jakarta, 8 Mei 2016
Bogor dan Bekasi bersambung yaaa……



Jumat, 01 April 2016

Ragam Kehidupan



Sejak pindah tempat tinggal, aku hampir tidak sempat lagi menulis. Padahal sebenarnya begitu banyak hal-hal menarik di sekitarku yang dapat menjadi bahan tulisan. Tapi apa daya, tangan dan kaki hanya sepasang, dan tubuhpun hanya satu.

Kali ini, ada lagi hal yang menggelitik hatiku dan tidak dapat  menahanku untuk tidak menulisnya. Yaitu tentang anak.
Ya, anak. Anak adalah titipan Tuhan. Kita hanya dapat menerima apapun yang Diberikan oleh Tuhan, kemudian berusaha menjaga titipan itu semaksimal mungkin. Bagi yang belum sempat Dititipi oleh Tuhan, hanya dapat berdo’a dan berupaya.

Nah, ada seorang kenalan baru yang bercerita padaku. Dia dan suaminya sudah 15 tahun menikah dan belum dikaruniai momongan. Segala do’a dan upaya sudah dicobanya, tetapi rupanya memang masih belum mendapatkan anugerah itu.
Di salah satu upayanya beberapa tahun yang lalu, adalah upaya yang menurutku cukup miris dan menyesakkan dada.
Dia bercerita:
“Waktu itu aku sudah beberapa tahun menikah mbak, dan sudah ingin sekali menimang anak. Tiba-tiba rekan kerjaku yang sedang hamil bercerita padaku, bahwa dia sejak gadis sampai menikah itu belum pernah sama sekali menstruasi. Ya, dia tidak pernah mendapat haid sama sekali padahal dia wanita tulen. Tapi saat ini dia sedang hamil.”
“Ternyata rekanku itu dapat hamil karena dia pergi ke ‘orang pintar’ mbak, dan dia menawarkan padaku, apakah aku mau mengikuti jejaknya.”
“Pikiranku gini, dia yang nggak pernah haid saja bisa hamil, masak aku yang normal tidak dapat hamil. Jadi akupun mau mbak. Aku dikasih alamat ‘orang pintar’ itu.”
“Akupun hamil mbak…”

“Tunggu. Tunggu….!!” Kusela ceritanya.
“Gimana caranya koq jadi hamil karena pergi ke dukun? Emang disuruh ngapain??!!” Aku benar-benar penasaran.
Kenalanku ini meneruskan ceritanya:
“Aku dan suamiku tiap hari datang ke ‘orang pintar’ itu, rumahnya daerah Krian. Aku dikasih air yang harus kuminum. Itu saja. Syaratnya aku nggak boleh ke dokter.”
“Aku memang hamil. Diperiksa lab di situ juga hasilnya positif hamil.”
“Tapi ada perkembangan di janin nggak? Perut tambah gede nggak?!!” tanyaku.
“Aku nggak tau mbak, kan nggak boleh periksa ke dokter. Tapi yang jelas badanku memang tambah gemuk mbak, dan aku juga nggak dapat haid.” Jawabnya.
Bisa begitu ya, pikirku. Dukun tadi sakti amat ya….
“Terus, pas usia kandungan sekitar tujuh bulan, aku ngerasa aneh. Koq badanku sakit semua dan perutku tidak ada pergerakan sama sekali. Akhirnya aku sama suami berembuk, dan nekat pergi ke dokter.”
“Hasilnya….., saat itu juga dokter menyuruh aku kuret. Harus.”
“Emang kenapa? Meninggalkah bayinya?” Tanyaku.
“Aku nggak tau mbak, suamiku yang dikasih tau dokter…., aku nggak boleh tau…” Katanya.
“Terus, teman kerja tadi kehamilannya gimana?!” tanyaku penasaran.
“Setelah hamil kan aku keluar kerja dan nggak ada kontak lagi sama teman tadi mbak…”
“Tapi orang yang ingin hamil dan pergi ke ‘orang pintar’ tadi bukan cuma aku mbak…., banyyakkk….”
“Waktu itu bayar berapa ke dukun itu?” Tanyaku.
“Yaah, lupaa…., tapi ya lumayanlah…” Katanya tersipu.
Wah, kaya tuh si dukun, pikirku.

Terus terang aku gemas mendengar cerita kenalanku ini, sebab sungguh ajaib di jaman sekarang ini koq dia dan suaminya masih percaya sama hal yang nggak masuk akal itu.
Sama ajaibnya kalau ingat cerita ibuku dulu, bahwa katanya ibuku dulu pernah kehilangan kehamilannya yang sudah usia tujuh bulan.
Jadi ceritanya ibuku hamil nih, sudah usia tujuh bulan (kalau nggak salah, hamil ‘adikku’ yang ke sekian). Nah, suatu malam, tiba-tiba dalam tidurnya ibuku bermimpi didatangi seorang laki-laki tidak dikenal yang bilang gini, “Nduk, anakmu tak jupuk yo..”
Dan keesokan paginya, perut ibuku sudah kempis. Hamilnya hilang. Ibuku pergi periksa ke dokter, kata dokter tidak ada janin lagi, tapi memang rahimnya bekas hamil. (???)
Cerita yang ajaib kan?!
Bagaimana menurut anda???
Hehehe…..



Malang, 1 April 2016
#sampai sekarang tetap nggak habis pikir

Senin, 11 Mei 2015

Tentang Dua Ekor Anak Kucing


Ada kisah pendek tentang dua ekor anak kucing ini. Hanya kisah biasa sih, tapi daripada terlupa kalau tidak ditulis, mending kutulis saja ya….

Beberapa hari yang lalu, ibuku bercerita kalau ada serombongan kecil keluarga kucing yang mengikuti langkah kaki orang yang lewat depan rumah. Tapi ketika sampai depan rumah ibuku, kedua ekor anak kucing itu tiba-tiba berhenti dan ikut masuk ibuku ke dalam rumah.

Dengan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah kasihan dan mungkin dapat mengusir tikus-tikus yang sudah membuat kerajaan sendiri di rumah ibuku ini, diterimalah kedatangan kedua ekor anak kucing itu dengan hati lapang.

Hari kedua si kucings ada di rumah, datanglah seekor kucing betina dengan putting susu yang menggayut seolah masih menyusui. Sambil mengeong-ngeong, dia mungkin memanggil kedua ekor anak kucing itu. Tapi kedua ekor anak kucing itu malahlari ketakutan.

Hari ketiga, si kucing betina datang lagi. Kali ini kedua ekor anak kucing menghadapi kucing betina itu dengan menggeram, memberdirikan (bahasa apa ini?!) seluruh bulu di tubuhnya sampai badannya melengkung posisi siaga siap menyerang atau membela diri.

Lho, koq gitu?
Kenapa kedua anak kucing ini menjadi dua ekor anak kucing yang durhaka?
Kenapa setelah mendapatkan tempat yang layak, mereka jadi lupa dan tidak mengakui lagi pada induknya?!
“Ooooh, kenapa kalian jadi malin kundang kucing anak-anakku……” kira-kira begitulah sedu sedan si kucing betina ketika berjalan pergi keluar dari halaman rumah ibuku.
(ini drama yang kubuat)

Ternyata, malam pertama mereka di rumah ibuku, seekor kucing dewasa jantan telah menyerang keduanya sampai dedel duwel. Kedua anak kucing itu terluka di kepala, perut, paha sampai berdarah-darah.

Kemarin, kata ibuku malah yang seekor sempat tercebur di got karena lari menyelamatkan diri dari kejaran tikus tong-tong yang gedenya dua kali lipat tubuh mereka. Hahahahaaaa….., yang ini aku jadi terpingkal-pingkal mendengarnya. Lha koq jadi terbalik?
It’s okey, tidak apa-apa. Kan kedua anak kucing ini masih kecil, masih bocah….., nggak imbanglah melawan tikus bangkotan yang sudah nyaris botak kepalanya. Tunggu beberapa waktu lagi.
(tapi sampai kapan?! Keburu kerajaan tikus di rumah ibu ini melebarkan sayapnya menyerang dan menduduki kamarku yang kebetulan terletak di belakang di sebelah dapur)

Nah, yang lucu tadi pagi….
Ketika terdengar hiruk pikuk di luar kamar, akupun keluar.
Kulihat beberapa ekor tikus tong-tong berseliweran di garasi, berlarian kabur ke got melihat kedatanganku, sementara dua ekor anak kucing itu berdiri berhimpitan ketakutan.
(mungkin waktu aku belum datang ke garasi tadi, mereka berdua sedang mendapat ancaman dari para tikus tong-tong sampai mereka berdua pucat dan gemetaran…., hihihi…., ini juga hasil rekaanku…)

Di atas itu foto kedua ekor anak kucing  yang sedang ketakutan berdua, agak kurang jelas memang, karena kufoto dari dapur sedangkan hp ku tidak mampu mengambil focus obyek sejauh itu (kira-kira 4 meter).

Sudah. Itu saja tentang kedua ekor anak kucing itu untuk hari ini.



Surabaya, 12 Mei 2015

Senin, 20 April 2015

Ini Mistery atau Horor?





Mistery. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, mistery adalah bagian dalam hidup ini. Hampir di setiap hal, kesempatan, moment apapun, mistery ikut andil di dalamnya. Mistery itu rahasia Yang Punya Hidup, itu menurutku, dan aku percaya.

Beberapa waktu yang lalu adik suamiku meninggal dunia. Di detik-detik terakhir hidupnya, seolah dia sudah mempersiapkan diri dengan siap untuk meninggal dunia. Kata istrinya, sekitar lima menit sebelum roh nya pergi meninggalkan tubuhnya, adik suamiku ini meluruskan kedua kakinya, kedua tangannya sedakep, terus dia minta ijin pada istri, adik dan kakaknya yang menunggui untuk melepaskan selang oksigen dari hidungnya. Dia minta maaf karena sudah tidak kuat lagi, jadi setelah itu minta dituntun doa dan tidak sampai lima menit, diapun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tentang adik iparku ini, aku tidak mau memikirkannya secara ekstreem, apakah dia bunuh diri atau tidak. Sebab kata istrinya, sejak sakit, setiap diajak ke RS, dia selalu menolak dan mengatakan kalau dia ke RS, besoknya pasti dia akan meninggal. Dan ketika akhirnya harus dibawa ke RS, malamnya, sebelum besok paginya dia meninggal dunia, dia beberapa kali melepas selang oksigen dari hidungnya sambil bilang, “Kalau selang ini kucopot, aku mati lho…”

Tentu saja istrinya bilang, “Ya kalau gitu jangan dicopot lho, nggak kasihan sama aku? Aku nanti sama siapa?”

Terlepas dari dia menentukan sendiri kapan harus melepas selang oksigen yang dipasang, aku dan kami semua (keluarga) sudah mengikhlaskannya untuk kembali ke pangkuan Illahi Robbi.

Menjelang kepergian adik suamiku yang ke 40 harinya. Omnya bercerita, bahwa sebelum istri adik iparku ini menelponnya, beliau sudah mendapat telepon dari nomer yang sama tetapi ketika diangkat tidak ada suaranya. (Nomer itu adalah nomer HP adik suamiku yang meninggal yang akhirnya dibawa istrinya)

“Waktu kamu nelpon Om kemarin itu jam berapa?” Tanya Om waktu kami semua datang di acara doa 40 hari meninggalnya adik iparku ini.
“Lupa Om, mungkin jam delapan lebih…” katanya.
“Sebelum nelpon Om yang langsung Om terima itu, apakah kamu sudah pernah mencoba menelpon sebelumnya?”
“Enggak Om, karena HP nya nggak ada pulsanya. Jadi saya beli pulsa dulu baru nelpon Om, dan langsung Om terima itu…”
“Tuh kan…, jadi HP nya nelpon sendiri ke Om ya?...... Mungkin dia memang mau pamitan, sebab malam sebelumnya waktu Om sedang doa, pintu kamar Om diketuk dari luar, dan ketika dibuka, tidak ada siapa-siapa….. Tante kan sedang ke Tiongkok, control, anak-anak juga nggak ada di rumah…. Dulu waktu mamimu mau 40 hari, pintu kamar Om juga diketuk dari luar dan ketika dibuka, tidak ada siapa-siapa….”

Kami semua yang mendengar ceritanya terdiam. Sebab kami yang lain tidak mengalami yang terjadi pada Om.

Kemudian istrinya bercerita, bahwa di hari suaminya meninggal, dia sempat pulang ke rumahnya (saat itu jenazah suaminya ada di rumah duka Adiyasa Surabaya) untuk mengambil beberapa baju suaminya yang akan dimasukkan ke peti jenazah.

Tiba-tiba HP nya berbunyi, dan ketika dilihat, ternyata nomer suaminya memanggil, padahal HP suaminya saat itu juga sedang dia pegang. Maka diapun berkata ke kerabat yang mengantarnya saat  itu bahwa suaminya menelpon. (sayangnya dia tidak mengangkat telepon itu…, sejujurnya aku penasaran….)

Waktu sedang ada urusan ke rumah kakak suaminya (kakak suamiku juga), kembali hal tersebut berulang. HP nya berbunyi dan ketika dilihat, nomer mendiang suaminya memanggil. Dia sempat memberitahu istri kakaknya kalau suaminya menelpon, padahal HP nya juga sedang dia pegang. Sekali lagi, dia juga tidak mengangkat telepon itu dan langsung mematikannya. (dan sekali lagi, aku makin penasaran)

Kalau cerita dari adikku lain lagi. Istrinya kan juga meninggal kira-kira 50 hari sebelum adik suamiku ini meninggal.

Istrinya sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun sebelum meninggal, karena di saat-saat terakhir sebelum kondisinya koma, dia dan istrinya masih ngobrol dan bercanda dengan tamu  yang bezoek. Ketika kemudian suster memasukkan obat ke infusnya, saat itu juga istrinya mengeluh dadanya sakit, tidak dapat bernafas, biru, pingsan, koma……, sampai esok paginya meninggal dunia.

Kondisi shock seolah tidak percaya istrinya sudah tidak ada, menjadi beban pikirannya selama berhari-hari (karena begitu tiba-tiba). Mulut pasti bilang ikhlas, tapi dalam hati kecilnya dia pasti merintih, bertanya-tanya kenapa… Kesedihannya dapat termaklumi walaupun kita tidak dapat merasakan seperti apa yang dia rasa.

Setiap hari sejak istrinya meninggal, dia tiap hari pergi ke makam. Sambil bertanya di dalam hatinya, apakah ini nyata? Kenapa istrinya tidak memberi tanda sedikitpun padanya? Kenapa istrinya tidak berpamitan padanya? Mimpi atau apalah, dia sangat ingin bertemu istrinya untuk terakhir kalinya….

Ketika acara tahlilan hari yang ke sekian, aku lupa hari ke berapa…, sepertinya menjelang ke 7 hari, adikku bercerita kalau salah seorang kawan dekatnya seolah mendengar bisikan di telinganya, sepertinya itu adalah istrinya yang minta tolong disampaikan ke dia  untuk menyiapkan baju gantinya setiap pagi.

Adikku menangis, karena dia tidak mendapatkan pesan itu langsung dari almarhumah. Tapi disiapkannya baju ganti 4 setel di tepi tempat tidur seperti biasanya ketika dia sedang merawat istrinya yang sakit.
“Aku tidak tau dia ingin pakai yang mana, makanya kusiapkan 4 setel biar dia memilih sendiri…” kata adikku.
“Waktu selesai sholat shubuh, ketika sedang berdoa….., tiba-tiba sekelebatan aku melihat dia lewat seolah memberi tahu kalau mau ke kamar mandi dengan memakai salah satu baju yang sudah kusiapkan…. Akupun membuka pintu kamar mandi dan menyemprotnya dengan disinfectan seperti biasa tiap dia mau ke kamar mandi sejak sakit itu….”
“Sekarang hatiku sudah plong, aku lega dia sudah berpamitan padaku. Aku benar-benar ikhlas melepasnya menghadap Sang Khalik, karena aku percaya bahwa kami akan dipertemukan kembali kelak….” Katanya sambil berkaca-kaca.

Karena pada dasarnya aku memang cengeng, jadi setiap mendengar cerita-cerita seperti ini, banjir bandang tidak dapat lagi kuhindari. (Pun saat aku menulis ini…., ujung bajuku sudah kuyup karena air mata bercampur ingus)
Aku hanya bisa mengerti tanpa dapat ikut merasakan kesedihannya. Kesedihan dan rasa sakit itu murni miliknya. Kesedihanku ketika adik suamiku meninggal dan istri adikku adalah kesedihan berbeda. Sakitnya berbeda dengan yang mereka rasakan.

Kalau cerita selanjutnya bukan mistery kesedihan, tapi lebih ke mencekam ke rasa (hati) dan pikiran. Ini bermula ketika aku dan anak laki-lakiku hanya berdua menginap di rumah baru kami di Malang.

Siangnya adalah saat membawa sebagian perabotan dari rumah Ibu ke rumah baruku ini. Sorenya semua pengantar yang terdiri dari Ibu, Bapak, Adik-adikku, beberapa orang Teman, dan para tukang pada pulang. Tinggal kami berdua.

Di suasana yang sepi itu, aku mematikan semua lampu kecuali teras dan kamar mandi karena takut kalau misalnya ada orang jahat yang tahu kalau ternyata di rumah ini hanya aku berdua anakku dan timbul niat jahat isengnya.

Aku nyaris terlelap karena capek, ketika tiba-tiba anakku membangunkanku.
“Mie, mamie…. Dengerin deh….” bisiknya.
Sayup-sayup tadinya aku memang mendengar suara gemeresek di luar kamar sebelum anakku membangunkanku, tapi kucuekin karena mengantuk. Ternyata anakku terbangun dan mendengar juga.
Sayup kudengar suara ‘dep’, seperti orang yang meloncat. ‘Deg’ jantungku hampir copot. Aku takut ada orang yang datang.
Kemudian suara langkah seperti hilir mudik dan bunyi tas kresek yang berisik seolah orang sedang sibuk banget berbenah atau membungkus sesuatu.
“Biarin aja dek, paling tikus atau kucing…” jawabku menenangkan anakku. Akupun pura-pura tidur suapaya anakku juga tidak ketakutan. Tapi diam-diam kuintip dari sela-sela bulu mataku. Kulihat dia melek, tapi diam tidak bergerak. Tegang mendengarkan suara berisik di luar kamar.
Akhirnya kupeluk dia, dan diapun miring menghadap tembok.
Dalam diamku aku berpikir sendiri. Apa iya itu tikus atau kucing yang sedang berisik di luar kamar?
Kalau tikus, tikus dari mana? Apa iya, kebawa di antara barang-barang dari rumah ibu? (agak mustahil)
Kalau kucing, kucing dari mana? Pintu dari ruang belakang sudah kututup, jadi misalnya kucing itu lompat dari atap terbuka (hanya teralis) ke dapur, pasti tidak dapat masuk ke ruang tengah dan mengeong-ngeong karena tidak bisa balik lompat ke atas. (jadi inipun mustahil)
Kalau orang, masuknya darimana? Belakang sudah tertutup atap dan teralis, pintu depan tadi sudah kuganjal sapu, kursi, beserta perabotan yang pasti berisik kalau dibuka paksa dari luar. (ini juga mustahil)
Jadi, hanya ada dua kemungkinan yang kira-kira dapat menghasilkan suara itu, yaitu; pertama adalah serangga dan sebangsanya yang terjebak di dalam tas kresek, atau yang kedua yaitu ‘sesuatu’ yang ingin kenalan dan mengucapkan selamat datang padaku dan anakku. Walaupun sejujurnya, selama hidupku ini, belum pernah sekalipun aku mengalami langsung interaksi dengan ‘sesuatu’ itu, kecuali sekarang, kalau itu memang benar ‘sesuatu’.

Akupun mulai melafalkan ayat kursi entah berapa ribu kali, yang jelas sampai aku tertidur. Ketika aku kembali terbangun, kulihat jam di HP ku sekitar pukul 23.15 WIB. Oh, belum jam dua belas malam, pikirku. Suara-suara berisik tadipun sudah tidak ada lagi. Suasana sunyi senyap. Kulihat anakkupun sudah tertidur pulas.

Kuambil HP ku dan membaca beberapa pesan yang masuk serta membalasnya, dan tidak tahu jam berapa, akupun tertidur lagi sampai tiba-tiba kulihat suasana yang terang dari arah dapur (jendela kamar yang terhubung ke dapur). Subuhpun terlewat dengan sukses, astaghfirullah al adziim.

Aku keluar kamar. Sudah pagi ternyata.
Kuperiksa barikade yang kubuat di pintu depan masih utuh. Tas kresek berisi mie cup instan juga bersih, tidak ada serangga apapun yang kemungkinan terjebak di dalamnya….
So? Harap disimpulkan sendiri kira-kira suara apa yang kudengar tadi malam, sebab akupun tidak tahu…. Hanya ada sedikit tambahan, “Mie, lain kali mamie pasang cctv dong biar tau suara apa tadi malam.” Kata anakku.
“Ngapain pakai pasang cctv dek, lain kali kalau kita di sini dan bunyi lagi, ya langsung kita lihat aja, kita intip…” jawabku.
“Kalau diintip nanti suaranya berhenti…” jawab anakku.
Aku tersenyum sendiri. Berarti anakku semalam juga tidak percaya waktu kujawab: kalau nggak tikus ya kucing……
Hehehe…..


Surabaya, 21 April 2015
(Kondisi kegerahan karena tidak ada AC), Surabaya panas bingiiiitttssss……