Senin, 24 Februari 2014

Selamat Jalan Ustadz



Sekitar seminggu yang lalu, kalau tidak salah tanggal 17 Februari 2014 siang, aku lupa tepatnya jam berapa, ada SMS dari tetangga di Bogor yang mengabarkan berita duka.
“Inna Lillahi Wa’inna Illaihi Roji’un, telah berpulang ke Rahmatulloh Ustadz Toha Anwar…..” isi SMS itu. Aku kaget dan menanyakan sakitnya apa, sebab aku koq nggak pernah dengar beliau sakit. Ternyata katanya gulanya naik sampai 400 dan sempat jatuh di depan rumahnya, kemudian dibawa ke RS dan meninggal.
Sorenya tetanggaku SMS lagi, “Alhamdulillah Mamie Itek, yang mensholatkan Pak Toha tadi banyaknya seperti Sholat Tarawih hari pertama, banyak banget…” katanya.
“Alhamdulillah, beliau memang orang baik…” jawabku di SMS.

Pak Toha ini (begitu aku biasa memanggil beliau), adalah salah satu Ustadz yang tinggal di Lingkungan Perumahan kami dan kebetulan juga adalah salah seorang pelanggan setia warnetku sewaktu aku masih membuka warnet kemarin.
Biasanya Pak Toha datang ke warnet antara jam 10.00-11.00 pagi atau terkadang juga sore setelah sholat ashar. Kalau pagi yang dibuka adalah situs Koran-koran online baik Dalam Negri maupun dari Luar Negri untuk mencari bahan ceramah maupun kuliah karena kebetulan beliau juga mengajar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di seputaran Depok. Kalau sore biasanya download ataupun buka e-mail.

Kalau kebetulan hari itu aku sedang tidak jalan, biasanya aku menemaninya ngobrol di warnet. Banyak banget topic bahasan kami  karena kebetulan kami berdua sama-sama doyan ngobrol, hehehe…. Mulai dari ceritanya waktu masih muda, kuliah, mendapat bea siswa dan tinggal di Luar Negri, tentang putri-putrinya yang juga mendapat bea siswa, sampai ke bahan kuliah untuk mahasiswanya.

Ada satu topic bahasan mata kuliah yang pernah diceritakannya padaku yang tetap kuingat dengan jelas sampai sekarang, yaitu bagaimana tidak setujunya beliau pada Bank-Bank yang menggunakan embel-embel Syariah saat ini.
Menurut beliau, semua Bank-Bank Syariah saat ini bukanlah Syariah. Mereka hanya mengganti nama dan sebutan-sebutan atau istilahnya saja tetapi pada prinsipnya ya sama saja dengan Bank-Bank yang lain. Mereka tidak menerapkan apa yang disebut Syariah itu dalam pengoperasiannya.
“Salah satu contohnya, sebagai Bank Syariah, seharusnya mereka mau membantu memberikan pinjaman atau menyalurkan kredit kepada masyarakat  atau pedagang kecil tanpa agunan dan tanpa embel-embel bahwa orang tersebut harus sudah punya usaha yang sama selama sekian tahun. Itu yang namanya membantu masyarakat kecil, tapi kalau yang dibantu hanya yang sudah punya usaha, terus mereka yang belum punya usaha harus minta bantuan kemana?  Kemudian kalau Bank tersebut takut uangnya tidak kembali, ya bantulah orang atau pedagang  tersebut dalam hal pemasarannya, ambil semua hasil produknya dan jualkan atau paling tidak memfasilitasi penjualannya… Seperti Program Anak Angkat itulah….” katanya.
“Tapi karena saya tidak punya kekuatan untuk merealisasikan pemikiran itu saat ini, maka yang saya lakukan sekarang adalah mencoba meracuni mahasiswa saya dengan ide-ide seperti itu…, supaya kelak merekalah yang dapat mewujudkan pemikiran itu.” katanya lagi.

Aku tidak tahu beliau mengajar mata kuliah apa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta itu, tapi semoga diantara mahasiswanya ada yang sempat teracuni pikirannya dan kelak ketika menjadi  salah seorang ‘Pengambil Keputusan’, mereka dapat mewujudkan ide-ide mulia almarhum dosennya ini.

Ada lagi pola pikir dari Pak Toha ini yang sempat diutarakannya padaku, yaitu ketika aku menceritakan  seorang keponakan tetanggaku yang meninggal dunia dan kebetulan tinggalnya juga di Perumahan yang sama dengan kami.
“Koq saya nggak dengar ada orang yang meninggal ya….” katanya.
“Yang meninggal bukan muslim pak, jadi biasanya pemberitahuannya terbatas…” jawabku.
“Harusnya nggak apa-apa diumumkan di Masjid kalau ada yang meninggal biarpun bukan muslim…, sebut saja ‘Mendiang’ adalah Bapak A yang tinggal di Blok D, atau ‘Mendiang’ adalah  Ibu B yang tinggal di Blok N, dan seterusnya, nggak usah disebut ‘Almarhum’ atau ‘Almarhumah’ karena sebutan itu sebetulnya adalah untuk muslim.”
“Emang bisa pak?” tanyaku.
“Kenapa nggak bisa? Kalau menurut saya, Masjid itu seharusnya dapat menjadi pusat informasi dan pusat aktifitas social dalam bermasyarakat….” jawabnya.
“Iya ya Pak, bahkan lampu mati saja diumumkan di Masjid ya Pak…” kataku.
“Lha itu, lampu mati, anak hilang, pemilu, semua diumumkan di Masjid, kenapa yang sesama manusia meninggal nggak boleh diumumkan di Masjid?” katanya.

Aku tidak tahu, apakah pemikiran beliau yang open mind itu sudah dari sononya, ataukah hasil terkontaminasi waktu tinggal di luar Negri, ataukah memang sudah seharusnya begitu?! Yang jelas, banyak hal-hal yang tadinya aku tidak tahu, akhirnya menjadi jelas ketika aku ngobrol dengan beliau.

Satu lagi, waktu aku berniat menutup warnetku, terus terang beliau ini adalah termasuk yang memberatkanku dan ada dalam pikiranku. “Kalau kututup warnet ini, nanti Pak Toha ngenetnya di mana ya?”

Aku sama sekali tidak menyombongkan diri dengan mengatakan kalau warnetku adalah satu-satunya yang terbaik. Sama sekali tidak. Sebab sebetulnyapun beliau punya Lap Top dan Modem yang dapat digunakannya untuk mengakses internet, tapi katanya kalau pakai Lap Top dan Modem suka lelet, terus kalau ada yang beliau nggak faham (misalnya mau download atau copas suatu artikel) kan biasanya bisa langsung nanya ke suamiku, atau kadang malah Lap Topnya sedang dipakai putrinya.
Warnet di lingkungan perumahanku kalau nggak salah ada 4 dan jadi 5 dengan warnetku, tapi beliau tidak nyaman pergi ke 4 warnet tadi karena mereka semua membuka game online yang selalu penuh dengan anak-anak dan berisik. Di tempatku tidak ada game online dan yang ngenet hanya anak-anak yang mengerjakan tugas sekolah, karyawan yang mengerjakan kerjaannya, atau orang-orang yang membuat program/design, atau sekedar browsing dan FB-an. Ada juga sih anak-anak perempuan kecil yang main game dari google dan biasanya nggak berisik karena mereka biasa main game masak-masakan atau Barbie.

Ternyata, tidak sampai dua bulan sejak aku menutup warnetku, beliau sudah dipanggil menghadapNya. Beliau sudah tidak perlu lagi ngenet mencari bahan untuk berceramah, beliau sudah tidak perlu lagi mengirim e-mail pada rekan sejawatnya atau harus berpusing ria membuat soal ujian untuk mahasiswanya. Perjalannya cukup sampai di sini. Semoga semua ilmu dan pemikiran yang pernah diberikannya pada kami semua  menjadi pahala yang dapat membantu memperlancar jalannya menghadap Yang Kuasa Allah SWT. Aamiin.

Selamat Jalan Ustadz M. Toha Anwar.


Surabaya, 24 Februari 2014

Minggu, 16 Februari 2014

Galau Nih!



Memang Ibu Kota sama sekali bukanlah kota yang ramah, tetapi geliat dan langkah kakiku sudah seirama dengat ritmenya. Kehidupan yang keras tiap harinya demi sesuap nasi, itu adalah clue-nya. Setiap bagian dari ujung kaki sampai ubun-ubun, mulai dari sudut hati sampai bilik-bilik otak, semua aktif bersinergi. Walaupun terkadang aku terjerembab di sela langkahku, tapi aku sudah terlalu lama terbiasa dengan kondisi ini dan setengah usiaku sudah kulalui dengan meminum air serta menjejak buminya.
Bahkan akupun seolah menjadi orang asing di Kota Kelahiranku sendiri, Surabaya. Kota di mana aku dilahirkan dan memulai setengah perjalanan hidupku. Kotaku ini seolah enggan menerimaku kembali.

Ketika dalam suatu keadaan aku harus kembali menjejakkan kaki di Kota Kelahiran ini, aku jadi ragu melangkah. Aku hanya menoleh ke kanan dan kekiri mengawasi situasi yang sudah amat sangat berbeda.  Bumi seolah mencengkeram erat kedua kakiku, tak rela melepaskan aku melangkah.

Aku harus bagaimana?
Begitu asingkah aku di Kota ini? Tidakkah aku dapat diterima kembali? Tidak adakah lagi ruang bagiku?

Aduh,….. aku galau!! (kata bahasa anak muda sekarang)
Mungkin aku memang belum siap untuk melangkah di Kota Kelahiranku ini lagi, mungkin aku harus kembali dulu ke Ibu Kota dan berdamai dengan hatiku supaya aku ikhlas untuk meninggalkannya.

Baiklah Ibu Kota, aku akan kembali ke pelukanmu dan menikmati kembali belaianmu sebelum aku melepasmu untuk menerima pelukan Kota Kelahiranku nanti.
Untuk Kotaku, tunggulah sejenak, aku akan segera datang padamu dan mulai mencumbumu…..




Surabaya, 16 Februari 2013
(Memutuskan ketika otak sudah amat sangat butek!)

Sabtu, 08 Februari 2014

Nenekku


                                                                             nenekku




Ini nenekku, namanya Astoechah, menurut KTP lahir di Mojokerto Jawa Timur pada tanggal 30 Juni 1925. Kalau tahun kelahirannya aku yakin benar, yang tidak kuyakin adalah tanggal dan bulan kelahirannya. Aku yakin tahun lahirnya memang 1925 karena ibuku pernah cerita kalau selisih usia ibu dan nenekku adalah 20 tahun.

Kalau dihitung sampai tahun ini, usia nenekku sudah menginjak 88 tahun. Usia yang cukup renta untuk ukuran orang kita, beda dengan orang Barat yang di usia 90 tahun tubuhnya masih terlihat segar. (Ini kuambil rata-rata saja ya, walaupun tidak menutup kemungkinan kalau masih ada juga nenene-nenek seusia nenekku di sekitar kita ini yang masih terlihat bugar).

Di kondisinya saat ini, kalau dibilang pikun sih kurasa nenekku belum terlalu pikun. Beliau hanya kalah di pendengaran. Nenekku ini masih aktif melakukan semua aktifitas kehidupannya sehari-hari mulai dari belanja di tukang sayur, memasak, dan mencuci bajunya sendiri. Ini semua adalah keinginannya untuk tetap melakukan semua aktifitasnya sendiri. Sebab pernah di satu saat, beliau ikut tinggal di rumahku yang beliau tidak kubiarkan melakukan semua aktifitas itu. Beliau bangun tidur sudah kusiapkan sarapan di meja, mencuci juga sudah kukerjakan, jadi beliau tinggal duduk-duduk saja menikmati hari mulai dari pagi sampai malam.

Eh, ternyata kondisi itu hanya bertahan selama 3 bulan. Di tempat duduknya sehari-hari, setiap beliau sudah pergi tidur, aku selalu menemukan secarik kertas yang bertuliskan kata-kata seperti berikut : aku di sini capek, ngantuk terus, di sini nggak boleh apa-apa, di sini nggak boleh ke mana-mana, aku pingin pulang, dan lain-lain kalimat-kalimat senada yang ditulis dengan menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Jawa. Menginjak bulan ke empat, beliau minta pulang ke rumah ibuku di mana semua aktifitas masih dapat dilakukannya dengan bebas.

Oh iya, nenekku ini memang dapat membaca dan menulis latin dengan lancar karena di jaman Belanda dulu, beliau masih sempat mengecap pendidikan setara SD  di jaman sekarang. Malah dulu pernah cerita, ketika pulang dari sekolah ada anak laki-laki yang suka padanya, maka dia akan berubah jadi galak. Misalnya nih, nenekku pulang sekolah memakai payung karena hujan, eh… tiba-tiba ada anak laki-laki yang menggodanya karena sebenarnya memang suka, si anak laki-laki itu ikut jalan di sampingnya dan menumpang payung. Maka, langsung deh itu payung ditutup sama nenekku dan mereka bertengkar di bawah hujan.

Waktu jaman Jepangpun katanya beliau sempat bekerja di pabrik gula sebagai mandor. Sempat juga ditaksir atasannya tapi ditolak. Beliau juga mahir membatik dan bermain karawitan di posisi Memainkan Bonang kalau nggak salah ingat. Jadi masa mudanya memang selalu aktif berkegiatan di luar rumah.

Sekarang, walaupun belum pikun, banyak kata-katanya yang terkadang memang agak lebay. Tapi aku berusaha memahaminya sebagai ungkapan rasa ingin diperhatikan karena di usia tuanya ini beliau merasa kesepian. (Telinga berkurang fungsinya itu membuat sepi). Usianya hampir 90 tahun lho! Di mana sudah masanya beliau kembali ke sifat anak-anak.

Denganku sendiri, sampai saat ini belum ada masalah (dan jangan pernah bermasalah atau aku menganggapnya sebagai masalah), karena selama ini terus terang saja aku adalah cucu kesayangannya. Aku cucu pertama yang sejak bayi dirawat oleh beliau, dan ini yang lebih penting: sejak aku menikah, aku jarang pulang, sehingga intensitas pertemuanku dengan beliau juga jarang sekali. Kan kata orang, semakin kita jarang bertemu semakin harumlah nama kita, tapi kalau semakin sering bertemu, maka akan semakin jeleklah diri kita…, hehehe…., iya apa iya sih?

Kalau dengan ibuku dan adik-adikku yang selama ini sering sekali bertemu, beberapa kali terjadi konfrontasi antara mereka, perang urat syaraf dan perang dingin sering terjadi…., hehehe… Tapi yaaah, itulah tadi kubilang, sifat beliau sudah kembali ke anak-anak, jadi mestinya yang lebih muda memahamilah. Biarkan saja semua kata-kata dan tindakannya yang mungkin agak kurang mengena di hati, dengarkan saja tapi jangan dimasukkan ke hati. Coba bersikap netral dan jangan berusaha membalas supaya tidak semakin kacau. Namanya juga orang tua. (Tidak menyalahkan juga sih kalau terkadang timbul emosi ketika mendengar kata-kata yang tidak sesuai kenyataan…)

Di lingkungan rumah ibuku, nenekku ini lumayan terkenal. Dari ujung ke ujung banyak orang yang mengenalnya. Gara-garanya ya itu tadi, beliau masih suka ke sana kemari sendiri, belanja, ambil pensiun, dan lain-lain. Sehingga banyak orang baru juga yang tidak tahu asal-mula cerita, sering mengeluarkan kalimat seperti ini : kasihan sekali ya orang tua, semua-mua harus dikerjakan sendiri.  Banyak orang yang memberinya makanan, pakaian, uang, dll. Intinya ibuku merasa seolah disalahkan karena menterlantarkan orangtuanya. Akhirnya ibukupun marah-marah ketika hal tersebut sampai ke telinganya.

Ketika aku diceritakan semua itu, aku sih mendengarkan saja tanpa berkomentar. Berusaha tidak menyalahkan ke sana atau ke sini. Habis, mau gimana lagi? Apa kita harus membungkam dan menjelaskan pada semua orang kondisi yang sebenarnya? Kurasa sih tidak perlu, biarkan saja mereka dengan pikirannya masing-masing. Kalau mereka wise, mereka pasti tahu, bahwa yang ada di depannya adalah orang tua yang sifatnya sudah kembali ke anak-anak, sehingga banyak kata-katanya yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya…. Berikan perhatian secukupnya tanpa perlu menjudge keluarganya dengan mengatakan kalau keluarganya tidak ada yang perduli pada orang setua ini. Itu saja.

Nah, itu tadi sedikit cerita tentang nenekku yang sudah amat renta, baik fisik maupun pikirannya. Aku hanya ingin berbagi rasa bahwa kelak kitapun akan menjadi tua, akan menjadi reseh dan menyebalkan buat mereka yang lebih muda. Jadi bersiap-siaplah mulai dari sekarang. (Jangan bilang : Aku kelak tidak akan menjadi orangtua yang menyebalkan! Ah,… who's knows?!)



Surabaya, 8 Februari 2013
(otak sedang beku, lemot, dan sama sekali tidak produktif)

Rabu, 01 Januari 2014

Tentang Teman Suamiku



Saat ini semua orang tahu, -- maksudnya semua orang adalah, semua orang dari berbagai suku dan agama--, bahwa berkhitan bagi setiap pria itu baik dilakukan demi kesehatan.. Jadi tidak melulu di dominasi warga muslim yang memang sudah diwajibkan dari dulu.

Kenapa aku juga menekankan kata ‘saat ini’, itu juga karena beberapa waktu yang lalu masih banyak orang yang belum paham manfaatnya untuk kesehatan, terlebih bagi kalangan non muslim atau etnis tertentu.

Kisah-kisah yang mewarnai timbulnya atau niat untuk berkhitan bagi kalangan non muslim atau etnis lain juga macam-macam, banyak yang melakukannya ketika sudah dewasa karena jaman dulu orang tua mereka belum tahu tentang ini. Ada yang berkhitan ketika  menjelang menikah, atau ada juga yang membaca artikel kesehatan dan langsung pergi ke dokter sendiri, dan lain-lain.

Yang satu ini aku punya cerita lucu tentang teman suamiku yang kebetulan memang berasal dari kalangan non muslim dan etnis tertentu.
Malam itu suamiku langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu temannya pulang dari rumah kami.
“Ada apa sih pie, kesambet ya…?” tanyaku yang melihatnya tertawa ngakak malam-malam.
“Hahahahaaa….. si ‘R’ itu tadi lucu…….., hahahahaaaa….” katanya masih tertawa.
“Iya lucu kenapa….?!” tanyaku nyaris ikut tertawa hanya gara-gara melihatnya tertawa seperti itu, padahal aku belum tahu ceritanya. Melihat orang tertawa itu ternyata menular ya….? Hehehe…
“Dia bilang tadi pergi ke RS, langsung minta opname…, padahal dia datang dengan gagah, pakai jaket dan tas ransel, karena baru pulang dari kerja. Ya jelas aja ditolak sama RS…., hahahahaaaa….”
“Ngapain tiba-tiba minta opname?!” tanyaku geli.
“Kan dia batuk beberapa hari ini toh, nah itu dijadiin alasan sama dia buat minta opname. Ya susternya kagetlah…, malah bisa-bisa susternya takut kali, dikira nggak waras….., jadi dia disuruh ke UGD dulu sama susternya. Atau disuruh minta surat pengantar dari dokter umum dulu baru boleh opname…”
“Terus?” tanyaku.
“Ya terus dia keluar dari RS langsung pergi ke sini tadi….., sampai sini tadi kan dia langsung ngomel-ngomel, katanya mau opname aja ribet, pakai ditanyai macam-macam, diminta surat macam-macam…., padahal kan harusnya RS seneng ada orang minta opname…” kata suamiku.
“Lagian, cuma batuk aja koq minta opname…” timpalku.
“Tadi papie juga ngomong gitu…, tapi ternyata alasan sebenarnya dia mau opname itu sebenarnya dia tadi pingin dikhitan….., hahahahaaaaa……, katanya rencananya gini, kalau tadi dia diterima opname, nah besok atau lusa dia mau minta dikhitan sekalian….. “ kata suamiku.
“Pingin dikhitan aja kenapa pakai opname?! Khitan ya langsung khitan aja sama dokter…” jawabku.
“Kalau ke dokter kan bayar mie, lagian dia kan kost sendirian, takut nggak ada yang ngerawat. Padahal papie juga sudah cerita kalau Ndiek kemarin ke dokter pakai laser kan gak sampai sejuta. Eh, dia bilang kalau di Surabaya nggak dapat sejuta, orang dia sudah nanya katanya….. hahahahaaa……, ya papie bilang, oh iya mungkin lebih mahal karena kamu sudah alot…., hahahahaaaa…..”
“Katanya dia mau manfaatin asuransi kesehatannya, sedangkan asuransi kan gak mau biayai kalau gak ada gara-garanya, jadi ya papie bilang: kalau gitu kamu cepitin aja dulu ke apa kek gitu… biar ada gara-garanya….., hahahahaaaa…. Dia bilang kalau belum khitan kayak dia gitu, nanti kalau finish dia takut gak diterima…., hahahahaaaa….” suamiku kembali terpingkal-pingkal. Akupun jadi ikut terpingkal-pingkal. Ada-ada saja…..

Sorry buat yang baca kalau misalnya ada yang tersinggung ya, sebab aku hanya ingin berbagi kisah lucunya saja koq….., (Piss Koh ‘R’……, semoga dia gak baca, hehehe…..)



Bogor, 1 Januari 2013

Minggu, 29 Desember 2013

Serba Salah

                                                    Ibuku, di RSAL 30 Nopember 2013



Melihat dan menjaga orang terdekat sakit itu benar-benar suatu dilemma. Sungguh sangat serba salah karena rasa sayang yang kita punya terkadang dapat mengalahkan logika.

Ibuku sudah lama sakit, sudah bertahun-tahun mengidap sakit Gula atau istilah medisnya adalah Diabetes. Beberapa tahun terakhir ini tampaknya diabetesnya sudah menyerang ginjal sehingga ginjal menjadi berkurang fungsinya. Air seni yang harusnya terbuang keluar menjadi terhambat dan tidak lancar lagi pembuangannya. Perut ibukupun membesar seperti orang hamil sepuluh bulan, dua belas bulan malah.

Sekitar satu tahun lalu, ibuku sudah pernah mengalami tindakan medis berupa sedot cairan  dengan cara dicoblos secara langsung di bagian perutnya (aku lupa istilah medisnya apa), selain obat minum yang membuatnya amat sangat sering buang air kecil tiap malam sehingga dipakaikan diapers supaya tidak terlalu sering ke kamar mandi. Setelah itu, harusnya tiap 3 bulan sekali dilakukan ritual coblos perut ini, tapi ibuku selalu mengelak tidak mau dan mengulur-ulur waktu terus. Ya siapa sih yang mau masuk dan tinggal di RS, orang yang sehat aja bisa jadi sakit, apalagi yang sakit..., bisa lebih parah sakitnya karena bosan.

Selama ibuku sakit, ayahkulah satu-satunya orang yang selama ini ada dan selalu siap sedia merawat ibuku. Kami anak-anaknya hanya bisa menyalahkan ayah kalau tiba-tiba ibuku anfal karena salah makan sesuatu. Kami anak-anaknya selama ini tidak pernah mengetahui bagaimana perasaan ayahku selama merawat ibu.

Kenapa hanya ayahku saja yang merawat ibuku? Kenapa anak-anaknya tidak?
Pertanyaan ini dapat sangat telak mendepak perasaan kami anak-anaknya kalau saja dilontarkan dengan nada menuntut. Sebab, terus terang saja, bukannya anak-anaknya tidak ada yang mau merawat ibuku, tetapi adalah karena ibuku sendiri yang hanya merasa nyaman kalau ayahku yang merawatnya. Misalnya saja kalau ibuku merasa sakit di kaki,  hanya ayahku yang cocok dan benar cara memijatnya menurut ibuku. Ketika ibuku merasa pegal di punggung, hanya ayahku yang tahu letak pasti sakit itu dan bagaimana cara memijat yang benar. Mau ganti diapers, mau makan, apa menunya, seberapa ukurannya, semua hanya ayahku yang tahu.

Sebetulnya kasihan ayahku karena ayahku jadi tidak pernah punya waktu lagi untuk dirinya sendiri, hampir seluruh waktunya selama 24 jam adalah di sisi ibuku dan mengurusi semua keperluannya.

Beberapa waktu yang lalu, aku berkesempatan nungguin ibuku yang anfal dan harus nginep selama 10 hari di RS. Padahal aku baru saja 2 minggu balik dari Surabaya ketika adikku mengabari kalau ibu masuk RS. Akupun balik lagi ke Surabaya. (Waktu kutinggal kembali ke Bogor tempo hari, ibuku tampak baik-baik saja, hanya tampak agak kelelahan karena habis melakukan perjalanan darat PP Surabaya – Bogor – Surabaya, tetapi rupanya fisiknya tidak kuat menahan lagi rasa lelah itu).

***(Melihat kondisi ibuku yang sakit, harusnya perjalanan darat dari Surabaya ke rumahku (Bogor) kemarin itu tidak perlu dilakukan, tapi ibuku yang memaksa. Bahkan, kata adikku, kalau adik-adikku tidak ada yang bersedia menyupiri mobilnya, mereka berdua (ayah dan ibuku) akan berangkat sendiri, dan ayahku akan menyupir pelan-pelan…. Gimana coba?!
Terus terang dalam hati juga sering terpikirkan, kenapa ayahku harus selalu menuruti apa keinginan ibuku? Bukankah hal-hal semacam itu menurut logika adalah kelewatan? Harusnya kan bisa ditolak saja, toh ibuku tidak akan mungkin nekad merangkak dari Surabaya ke Bogor?
Itu tadi adalah pikiran dan perasaanku yang tidak pernah ikut merawat ibuku selama ini, yang bisanya hanya menyalahkan ayahku saja)***


Selama menunggu ibu di RS, aku berbagi tugas dengan adikku. Adikku selalu (bertugas) mengajak ayahku makan di luar RS, sekalian mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikiran ayahku dari rutinitasnya menjaga ibu sehari-hari. Adikku berkata, “Kalau kita nggak datang ke RS, apa bapak sempat makan ya? Orang ibu sama sekali nggak mau ditinggal bapak….” katanya. Aku baru tersadar, benar juga ya? Kan RS tidak menyediakan makanan buat penunggu pasien. Kondisi ibuku pasti baik-baik saja karena ada ayahku yang menjaga. Tapi kondisi ayahku, apakah terpikirkan?

Tugasku adalah menemani ibuku di RS dan berusaha mencegahnya melakukan hal-hal diluar control seperti misalnya keinginannya untuk ‘nggelosor’ tidur di lantai RS karena katanya tidur di kasur RS malah bikin badannya sakit semua, dan aku juga berusaha memijat bagian-bagian tubuhnya yang sakit walaupun mungkin pijatanku tidak senyaman pijatan ayahku.

Setiap kali ayah dan adikku pergi, ibuku selalu merengek minta turun biar bisa tidur di lantai RS. Yang ini aku benar-benar tidak pernah menurutinya walaupun hatiku sebenarnya tidak tega melihatnya tidur sambil duduk. Aku kan tidak tahu ada bakteri, kuman, atau monster apa saja yang bersarang di lantai RS ini.

Ada satu saat, ibuku merengek terus, menangis minta pulang karena sudah tidak tahan lagi (saat itu albumennya dianggap masih terlalu rendah, jadi belum bisa diambil tindakan medis dengan cara coblos perut itu), duduk sakit, berbaring tidak bisa karena perut besar, nafas sesak karena cairan perut yang sepertinya sudah sampai di ulu hati, tidurpun tidak pernah lebih dari lima menit, selalu kesakitan di mata kaki kanannya yang aku takut memijatnya karena kondisi kedua kakinya yang bengkak.

“Ibu sabar ya, ibu ingin apa, asal jangan minta pulang atau tidur di lantai…., nanti kalau aku tidak kuat menahan tubuh ibu terus kita nggelundung berdua gimana?” kataku sambil menahan mataku yang panas. Terus terang dalam hati aku sempat berdoa, kalau seandainya Allah mau memanggil ibuku sekarang, aku ikhlas, aku benar-benar tidak tega melihat penderitaannya. Mungkin orang akan menganggapku anak durhaka, ingin ibunya cepat meninggal, biar saja, mereka tidak tahu apa yang ada di dalam hatiku.

“Ibu mau jeruk.” jawab ibuku. Aduuuuh….., kenapa ingin jeruk? Itu adalah makanan yang juga dilarang untuk ibuku saat ini.
“Kayaknya nggak boleh bu, tapi nanti coba kutanyakan suster dulu ya, kalau boleh nanti kubelikan jeruk….”
“Boleh-boleh…, dikit aja koq…., pasti boleh….” katanya memelas. Aku benar-benar tidak tega, karena memang tidak ada makanan lain yang dapat masuk ke lambungnya dengan cukup. Bubur dua sendok saja katanya perutnya sudah penuh, nggak muat lagi.

Tidak lama, ada temanku datang menjenguk ibuku dengan membawa buah-buahan. Diantaranya ada jeruk dan anggur yang tidak boleh untuk ibuku. Ibuku terlihat menatap penuh nafsu pada buah jeruknya.
“Ibu minta jeruknya dong, dikiiiiit aja…., Cuma buat nyegerin mulut….” rengeknya ketika kami tinggal berdua.
“Kamu koq tega sih sama ibu…” katanya sambil mau nangis.
Akhirnya, sambil menunduk aku mengupaskan ibuku buah jeruk. Kucoba dulu, ternyata manis, tidak asam koq. “Ini bu, satu aja ya…. “ kataku sambil menyuapkan ibuku satu potong. Ibuku mengangguk kegirangan dan menikmati satu potong jeruk itu dengan kebahagiaan yang tampak jelas di matanya.
“Hmmm, segernyaaa…. Enak sekali…” desahnya. Aku menunduk menyembunyikan air mataku. Maafkan aku bu…, aku menyuapimu racun, kataku dalam hati sambil menangis. Gemuruhnya perasaanku seolah badai di lautan, sungguh sulit diungkapkan.
“Yang lain kusimpan ya bu, nanti aku dimarahi semua orang….” kataku sambil memasukkan jeruk yang sudah kukupas tadi ke dalam tasku.
Kurasa seperti inilah perasaan ayahku setiap ibuku merengek meminta sesuatu yang seharusnya tidak boleh untuknya. Kualami hal itu sekarang….. Maafkan aku yang selama ini hanya dapat menyalahkanmu Pak…., kataku dalam hati.

Saat ini kondisi ibuku agak membaik dibanding sebelum masuk RS. Kalau ditanya apakah ibuku sudah sembuh? Kurasa kondisi sembuh adalah mukjizat dari Allah, jadi kami sudah cukup bersyukur dengan kondisi ibu saat ini. Semuanya kuserahkan pada Yang Mengatur, Sang Pemberi Kehidupan.

Terimakasih pada semua teman, sahabat, dan saudaraku yang sempat menjenguk ibuku dan turut mendoakan kesehatannya. Semoga yang kalian lakukan Dibalas pahala yang berlimpah oleh Allah AWT. Aamiin.



Bogor, 29 Desember 2013
(kembali ke Bogor untuk ringkes-ringkes)