Jumat, 11 Oktober 2013

Sesuaikan Diri pada Kondisi




Kemarin petang waktu pulang kerja, ketika kereta comuter yang kutumpangi hampir memasuki Stasiun UI, tiba-tiba kudengar suara temanku yang berdiri di dekat pintu, “Tolong dong, minta tempat duduknya… ini ada yang mau pingsan…” teriaknya.
Dalam kondisi yang bergerak saja susah, kami, para penumpang  lain berusaha melongok mencari tahu siapa yang mau pingsan itu.
Tiba-tiba saja, “Glodak…!!” suara seseorang yang jatuh ke pintu.
Aku masih belum kelihatan tuh, siapa yang pingsan. Tapi sepertinya seseorang yang duduk dekat situ sudah memberikan tempatnya. Posisiku jauh di tengah-tengah dan tidak dapat bergeser sedikitpun, padahal tadi tuh aku juga berdiri dekat pintu dengan temanku yang berteriak tadi. Maklumlah, kalau pulang di jam kerja begini, jangan berharap bisa bergandengan terus dengan temanmu, karena dorongan dari penumpang yang terus-terusan naik akan mendesakmu dan pelan-pelan akan membuatmu berada di mana dan temanmu ada di mana….

Biasanya kalau sampai pingsan di kereta itu, alasannya adalah mungkin jarang naik kereta dan tidak biasa dengan kondisi pindang memindang di kereta, atau juga karena kondisi tidak fit, sehingga perut serasa diaduk-aduk serta pandangan sering menggelap. Kondisi terakhir itu sempat beberapa kali menimpaku karena mau sakit atau justru setelah sakit. Kalau pas dalam kondisi seperti itu sih, biasanya aku langsung jongkok, tidak menunggu sampai jatuh…, bodo amat mau diinjak orang kek, pokoknya jongkok dulu.

Sejak kereta ekonomi dihapuskan dan diberlakukan e-ticketing ini, kondisi kereta sama sekali tidak pernah sepi, terutama di jam-jam kerja begini. Semua kereta selalu penuh sesak dengan penumpang, karena semua penumpang sekarang tidak dapat memilih. Semua sama. (kebayang kan bagaimana kondisi kereta ekonomi dulu?)

Yang aku agak heran adalah, di jam-jam padat seperti ini, masih saja ada ibu-ibu yang pergi dengan membawa anak balitanya…, yang terkadang anaknya bukan hanya yang digendong saja, tapi masih ada juga yang digandeng.
Aku tidak tahu, apakah si ibu ini terlalu polos dan naïf, sehingga tidak tahu kondisi kereta, atau memang nekad dengan pikiran, kan bawa anak, pasti nanti akan diberi tempat duduk oleh penumpang yang lain.
Halllooowww…, ini bukan masalah diberi tempat duduk atau tidak ibu-ibu yang cantik…, tapi masalahnya akan membuat repot yang lain ketika ibu yang menggendong bayi akan turun di Stasiun tujuan yang bukan Stasiun Akhir. Ibu akan kesulitan menuju pintu dan tidak bisa turun karena padatnya penumpang. Bahkan di jam kerja begini, masing-masing orang sudah sibuk menjaga kakinya supaya tidak tertukar, makanya tolonglah hindari bepergian di jam berangkat dan pulang kerja.

Seperti yang terjadi kemarin juga, aku dengar ada ibu-ibu yang bicara pada seseorang ketika kereta memasuki Stasiun Cawang.
“Mbak, nanti kalau sudah lewat Stasiun Kalibata, berdiri ya…, siap-siap… nanti nggak bisa keluar lho…” katanya pada seorang ibu muda yang sedang duduk dan menggendong anaknya serta seorang lagi dipangkunya. Gile, aku menggelengkan kepala…
“mau turun di mana?!” kudengar suara yang menimpali.
“Dia mau turun di Pasar Minggu, tolong kasih jalan, nanti nggak bisa keluar…” kata si ibu yang pertama.
Mau kasih jalan gimana coba, sedangkan ibu-ibu yang mau turun saja sampai harus miring-miring, nyelip-nyelip, menahan nafas, dan menaruh tas serta bawaannya di atas kepala supaya bisa menuju pintu. Belum lagi anaknya yang digandeng menangis karena terhimpit-himpit dan mungkin pusing melihat pindang manusia.
“Emangnya tadi dari mana koq pulang jam segini?” ada ibu-ibu lain yang bertanya.
“Dari Rumah Sakit Husada…” jawab si ibu polos.
“Siapa yang sakit?” tanya suara yang lain.
“ Tetangga, tadi habis bezoek orang sakit…”
“Ya ampun, kenapa harus pulang jam segini…, lain kali kalau dari mana-mana dan bawa anak begini jangan pulang jam segini…”
“Kan jam bezoeknya memang jam segini…” jawabnya tanpa dosa. Kudengar suara-suara tidak jelas yang menimpali. Mungkin menggerutu atau apa tidak jelas, seperti suara lebah mendengung… ngung ngung ngung…
“Terus ini hanya pergi bertiga?”
“Ada bapaknya di gerbong sebelah…” jawab si ibu polos. (Gerbong yang kami naiki adalah gerbong terdepan, khusus wanita dan anak-anak)
Oh, bapaknya juga o’on, pikirku. Masak iya sih mereka tidak tahu kondisi kereta. Paling tidak masak tidak punya tetangga yang suka naik kereta sehingga bisa bercerita kondisinya.

Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu juga ada kejadian yang hampir sama. Bedanya, kereta baru mulai berangkat dari Bogor, tapi semakin ke arah Jakarta kan semakin padat, namanya juga masih hari kerja dan jam kerja.
Tiba-tiba pas kereta mau masuk Stasiun Depok, ada nenek-nenek yang diminta berdiri oleh anaknya karena sudah mau turun. Nenek-nenek naik kereta memang biasa, tapi ada yang rrruuuaaarrrrr biasa dengan nenek ini, yaitu ternyata dia membawa 3 buah koper besar-besar dan 1 buah tas buesaaarrr…… Si anak itu sendiri adalah seorang ibu muda yang  memakai pakaian santai plus topi besar (seperti mau piknik tuh) dengan warna senada baju serta menggendong anak balita. Pada akhirnya, pas mau turun, itu letak topi sudah amburadul dan nggak jelas nangkring di mana, kepala atau punggung.... (Saranku buat yang begini nih, lain kali kalau naik kereta nggak usah dandan macem-macem, berdandanlah seolah siap perang, sebab di kereta nggak ada yang merhatiin koq..., sudah sibuk dengan diri masing-masing. Peace!!)

“Ya ampun, itu kemana lakinya sih…” kudengar suara ibu-ibu di sampingku.
“Pak! Pak…!! Tolong ini ada yang mau turun bawa barang banyak…” kudengar seorang ibu-ibu memanggil petugas. Petugas menghampiri dan menaruh barang-barang ibu itu di dekat pintu.
“Mau turun di mana?!” tanya petugas.
“Di UI….”
Terus kudengar si anak bercakap bahasa Padang dengan ibunya dan seseorang lain, tampaknya menceritakan kalau si nenek tadi baru datang dari kampuang.

Aku terus berpikir, kalau si nenek bawa tas-tas besar dari kampuang, itu artinya tadi baru turun dari DAMRI dari Bandara Soetta di Baranangsiang dan dijemput oleh anak dan cucu ini.
Tapi kenapa pula mereka harus merepotkan diri naik turun  kereta sedangkan jarak hanya Bogor – Depok? Setahuku kalau dari Baranangsiang ke Stasiun Bogor, mereka tadi pasti naik angkot atau mungkin taxi ke Stasiun, baru mereka naik kereta ini. Gimana tadi cara bawa tas-tas itu ya? Apa pake kurir?
Padahal nih, dari Baranangsiang itu ada bis yang langsung menuju Terminal Depok, nah mereka kan dari terminal Depok tinggal naik taxi ke rumah, tidak perlu naik turun kereta dengan bawaan seperti itu. Mana cuma berdua…, eh, bertiga dengan balita…. (bener kata si ibu sebelahku, ‘kemana lakinya? Apa tidak memberikan solusi transportasi terbaik untuk menjemput sang nenek?’)
Tau nggak, letak Stasiun UI itu lumayan jauh dari jalan raya, dan di sana tidak ada kurir seperti di Stasiun-stasiun luar kota. Gimana coba mereka bawa barang-barang itu ke halte UI? (sepintas kudengar mereka akan ke halte UI). Hfft...

Kondisi kereta seperti ini juga yang tempohari sempat membuatku nyaris batal ngantor hanya gara-gara disuruh ke kantor pakai rok. Aku sih mending tidur di rumah atau jaga warnet saja daripada ngantor pakai rok padahal harus naik turun ojek dan kereta. (Alasan lainnya adalah aku tidak punya rok…., hehehe….)
Untungnya permintaan pakai rok segera diralat, “Boleh pakai celana panjang asal bukan bahan jeans..” sehingga akupun tetap dapat ngantor dengan enjoy….. hehehe….


Bogor, 11 Oktober 2013

Jumat, 04 Oktober 2013

Tukang Ojekku Hari Ini



Seperti biasanya, kalau berangkat kerja agak siang di hari jum’at, aku dan temanku pasti kesulitan mencari tukang ojek. Padahal sih belum jam 11.00 siang, tapi mungkin para tukang ojek itu segan kalau kelihatan masih nongkrong di pangkalannya karena sebentar lagi orang-orang pada shalat jum’at. (kebetulan pangkalan ojek terdekat dari rumahku adalah di depan masjid).

Tadi siangpun begitu, dan ketika aku dan temanku sedang berjalan pelan-pelan di sekitar pangkalan ojek sambil mencari-cari, tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki memakai celana seragam abu-abu dan atasan kaos putih (sepertinya kaos Olah Raga) dengan motornya, “Ibu mau naik ojek bu?” tanyanya.
“Iya, nih… “ jawabku.
“Mari bu,…” katanya.
“Lho, ini ojek? Kamu ngojek? Beneran  ini mau narik?” tanyaku setengah tidak percaya. Sebab kalau melihat tongkrongannya, anak ini pastilah bukan tukang ojek, tapi anak-anak yang baru pulang dari sekolah.
“Iya bu,…, mari saya antar…” katanya.
“Ya udah, lu naik aja dulu…” kata temanku.
Eh, tidak lama setelah aku naik, ternyata datang lagi seorang anak laki-laki sebaya anak yang pertama tadi yang langsung menghampiri temanku. Temankupun naik.
“Emang sering ngojek?” tanyaku pada ‘tukang ojekku’.
“Enggak bu….” Jawabnya.
“Masih sekolah kan? Sekolah di mana?” tanyaku.
“Di SMK di Kemang bu….”
“Kelas berapa?”
“Kelas dua jurusan akutansi perkantoran….” Ini aku agak lupa, jurusan akutansi perkantoran atau administrasi perkantoran.
“SMK di Kemang ini apanya SMPN 1 Kemang?” tanyaku, sambil mengira-ira letaknya di sebelah mana Sekolahan anakku.
“Sebelumnya bu, kalau siang gini dijadiin kampus tempat kuliah…” katanya.
“Tinggalnya di mana? Ini pasti ngojek buat main game ya?” tanyaku lagi.
“Di Cimanggis bu…” jawabnya.
Hmm, aku salut juga pada anak-anak semacam ini. Tidak perduli duitnya nanti buat apa, yang penting dia berusaha mencarinya dengan cara halal. Mau dipakai main gamepun kurasa sah-sah saja, karena mereka tidak mencuri atau merampok. Kurasa, tadi itu mereka pasti sedang lewat entah mau main ke rumah temannya atau bagaimana, terus melihat aku berdua temanku yang terlantar di pangkalan ojek karena tidak ada ojek sebutirpun, maka timbullah niat mereka buat ngojekin kami.
“Ibu mau diantar sampai ke mana?” tanyanya.
“Ke Stasiunlah…., tau kan?” tanyaku.
“Iya bu…” jawabnya.
Ketika akhirnya kami tiba di depan stasiun, kuberikan ongkos ojeknya tujuh ribu rupiah sambil bilang, “Kalau main game nggak usah sampai kecanduan ya…, sayang duitnya… Makasih ya…” kataku. Dasar ibu-ibu, biarpun tadi aku bilang sah-sah saja buat dia  main game, tapi naluri emak-emak cerewet tetap saja tidak dapat di rem…, hehehe….
“Iya bu, trimakasih…” jawabnya.
Akupun melangkah menyebrang masuk ke Stasiun sambil berpikir, semoga saja anak itu tadi tidak bercita-cita menjadi tukang ojek dan tetap meneruskan sekolahnya dengan benar (karena tergiur menjadi tukang ojek ternyata enak juga, sekali antar tujuh ribu rupiah sampai stasiun sedangkan bensin yang dipakai mungkin baru habis satu liter setelah empat atau lima kali antar).


Bogor, 4 Oktober 2013

Jumat, 27 September 2013

Bibit Premanismekah?



Dulu katanya kalau punya anak laki-laki bisa lebih tenang, lebih enjoy bila dibanding punya anak perempuan yang harus senam jantung setiap saat. Huft..!! Siapa bilang?! Sama saja coy!!

Dalam hal pelajaran, waktu SD anak laki-lakiku ini benar-benar menguras kesabaranku. Mulai kasus malas sekolah dan seminggu hanya masuk dua hari (karena waktu itu aku tugas ke luar kota selama 3 bulan, dan dia hanya mau sekolah kalau aku pulang), sampai kalau di suruh belajar matematika matanya merem. Setiap ulangan sumatif dia nggak punya jadwal, jadi nggak pernah tahu besok pagi ulangan apa. Disuruh les nggak mau ke tempat les lain, maunya les sama guru kelasnya saja di sekolah yang hasilnya tidak dapat maksimal karena kebanyakan peserta.

Sekarang, ketika sudah mulai menginjak di SMP, aku agak bernafas lega dalam urusan pelajaran karena ternyata dia cukup bersemangat menjalani sebagai siswa baru (mungkin merasa sudah gede, sudah remaja, bukan anak-anak lagi ). Kalau ada PR, langsung dikerjakan sendiri hanya terkadang minta ditemani karena tidak berani sendirian di dalam rumah.
Yang terakhir itu kemungkinan karena keseringan nonton acara TV yang berbau misteri dan dunia lain, sehingga di rumah sendiri saja nggak berani sendirian.

Yang jadi masalah sekarang ini, yaitu ternyata di lingkungan anak laki-laki selalu saja ada acara bully membully dan palak memalak. Pusing aku.
“Duit jajannya jangan utuh mamie, recehan aja. Gopekan, ribuan, sama dua ribuan.” katanya ketika kuberikan uang jajan selembar lima ribuan. Dia sendiri yang minta jajannya lima ribu saja karena di Sekolahannya tidak ada penjual makanan yang dia suka. Katanya hanya ada penjual kripik-kripik, cilok, dan minuman gopekan yang dia tahu kalau aku tidak memperbolehkannya beli, dan dia selalu membawa minum dari rumah.
“Kenapa harus recehan, recehannya buat mamie kembalian orang ngenet nanti…” jawabku.
“Nanti buat yang minta duit….” katanya lirih. Mungkin keceplosan, mungkin maksudnya tidak akan bercerita padaku.
“Ada yang suka minta duit? Siapa?!!” tanyaku.
“Ada, itu si A sama si B…”
“Teman jemputan? Rumahnya mana? Kenapa nggak lapor ke bu guru?” tanyaku.
“Bukan teman jemputan tapi sekelas…, rumahnya nggak tau di mana, mungkin dekat sekolahan…” katanya.
“Koq nggak lapor bu guru?” tanyaku.
“Biarin mamie, mintanya nggak banyak koq, cuma gopek jadi ngancamnya juga sedikit…” katanya santai.
“Pakai ngancam juga?!!” aku mulai jengkel.
“Iya, tapi cuma ngomong doang…., awas lo ya kalau bilang siapa-siapa…, gitu doang…” katanya lagi.

Hh…, ya sudahlah biarin saja, kan cuma minta gopek gopek, pikirku terpengaruh kalimat anakku tadi. Tapi, eittt…. Tunggu dulu!! Aku jadi berpikir keras, apa iya harus dibiarin walaupun hanya minta gopek…, sebab bukannya itu bibit-bibit premanisme? Belajar dari gopek dulu nanti lama-lama menjadi gobang!! (gobang=senjata). Tapi pikiranku itu akhirnya terpinggirkan dengan hal-hal yang lain. Maklum, manusia hidup, hehehe…., ada saja masalah di otakku yang ngantri untuk dicari solusinya.

“Mie, besok tolong jilidkan tugas kliping IPS ya…, sudah Ndiek simpan di FD…" katanya  sebelum tidur.
Malamnya kusempatkan memeriksa dulu tugas kliping yang minta dijilidkan itu dan merapikan sedikit formatnya biar besok tinggal di print dan dijilid.

“Nih Dek, sudah mamie jilidkan…” kataku sepulang kerja sambil menyodorkan pesanannya.
“Tau nggak Mie, kan si C minta dibuatkan juga klipingnya sama Ndiek…” katanya.
“Koq minta dibuatkan? Enak aja…, suruh bikin sendiri dong. Emang gimana ngomongnya, kenapa nggak bikin sendiri?”
“Ren, bikinin juga gua klipingnya ya! Awas lo kalau nggak lo bikinin, tau sendiri nanti!!” kata anakku.
Hhhh…hhh…, aku mulai kesal juga. Masak pergaulan anak laki-laki di luaran sana begitu amat sih? Apa ini karena Lokasi Sekolahan anakku yang amat jauh di Perkampungan, sehingga menganggap semua yang tinggal di Perumahan wajib di pajakin? Tapi itu kan Sekolah Menengah Pertama Negeri?!!
Aku jadi ingat, bertahun-tahun lalu, ketika anak tetangga sebelah rumahku pulang dari sekolah tanpa sepatu alias ‘nyeker’. Ceritanya, sepulang sekolah dia bersama beberapa orang temannya (anak laki-laki semua dan masih SMP), mampir main ke Taman Topi di dekat Stasiun Bogor. Ketika mereka sedang nongkrong, mereka dihampiri serombongan anak laki-laki dari Sekolah lain dan dipaksa menyerahkan sepatu yang sedang dipakainya itu. Sepatu temannya yang lain tidak diminta karena sepatu biasa, sedang sepatu anak tetanggaku itu memang kelihatan kalau sepatu mahal. Gila kan?!

Kata anakku, nanti kalau mamie lapor ke Sekolahan, Ndiek bakalan akan semakin dikerjain, bisa-bisa dihajar ‘kali…. Aku terdiam.
“Kenapa sih koq Ndiek sering dipalakin? Apa karena Ndiek badannya kecil? Apa yang lain enggak?” tanyaku.
“Yang lain juga banyak mamie, yang malakin itu ada juga yang bukan dari sekolahan, mungkin sudah lulus tapi nongkrongnya di kantin sekolah.  Falah yang badannya segitu gede aja hampir nangis kalau dipalakin…” kata anakku.

Gimana dong ini? Kalau aku lapor ke Sekolah, pasti anakku nanti jadi incaran, dan aku nggak yakin kalau orangtua anak-anak yang lain juga tahu kalau anaknya pada dipalakin. Anak-anak lainnya mungkin nggak sepolos anakku yang semua hal diceritakan ke orangtuanya.
Kata tetanggaku, yang kebetulan sempat kuceritakan hal ini (anaknya perempuan seumuran anakku dan sekolah di Sekolah Swasta berbasis agama yang full disiplin di Bogor Kota, beda kondisi banget), mending aku lapor via SMS saja ke Sekolah/Guru/Wali Kelas, tapi pakai nomer HP lain, jangan nomer HP-ku.

Anakku sempat cerita kalau beberapa waktu yang lalu juga ada beberapa anak yang mendapat hukuman karena ketahuan memalak temannya. Katanya sih sempat dijemur di lapangan sambil disuruh berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Tapi ternyata anak itu belum jera juga dan masih tetap melanjutkan kegiatan memalaknya dan mengerjain si pelapor. Waduh!!

Ada pikiran jelek yang menggelayutiku, yaitu…. anak-anak sebangsa anakku ini, yang tidak mempunyai daya upaya, nantinya nih, demi menyelamatkan diri supaya tidak selalu menjadi korban palak, maka mereka akan menerima tawaran geng pemalak itu untuk menjadi anggotanya…. Aduuuh, koq jadi kayak mafia ya? Aku terlalu parno nggak sih? Aduuuhhh…., gimana dong?! (Tuh, kan…. Siapa bilang punya anak laki-laki lebih santai daripada anak punya anak perempuan?)


Bogor, 27 September 2013
(lagi tepar di rumah, nggak bisa cari duit: akhirnya parno deh…)

Kamis, 19 September 2013

Reuni Lagi




Setelah kira-kira seperempat abad tidak pernah jumpa, akhirnya hari itu aku bertemu lagi dengan seorang sahabat lama. Namanya Supratmi, seorang dokter hewan yang saat ini menjadi salah satu pejabat eselon 3 di Kementrian Pertanian urusan (apa ya?) Perhewanan mungkin… di Kabupaten Lamongan,  (hehehe, aku nggak tahu pasti jabatannya sekarang apa, yang jelas pasti nggak jauh-jauh amat dari ngurusin hewan dan ternak….)

Kami bertemu terakhir kali ketika masih sama-sama kuliah dan tergabung di Kelompok Pecinta Alam yang sama di Universitas Airlangga, Wanala namanya. Setelah masing-masing lulus, ya…. bertebaran ke sana kemarilah kita. Masing-masing mencari langkahnya sendiri. Tetapi karena kecanggihan tekhnologi dan kejeniusan manusia yang berhasil membuat Jejaring Sosial, akhirnya kamipun dapat berhubungan lagi.

Hari itu, aku bertemu bertiga dengan seorang sahabat juga…, tapi yang ini lumayan ada beberapa kali bertemu karena kebetulan dia tinggal di Depok, tidak terlalu jauh dari rumahku, namanya Iswanti. Dulu dia dari Psikologi tetapi perjalanan kakinya membawanya bekerja di bidang akuntansi. Melenceng amir dari kuliahnya dulu….
(sssttt…, jangan ribut ya…, kurasa akupun tidak konsekwen dengan jurusan kuliahku dulu, dari Sosial Politik, sekarang malah jadi Interviewer di Riset Pemasaran,…. Harusnya kan jadi Menteri,… Hihihi….)

Foodcourt di Botani Square Bogor siang itu benar-benar luber dengan manusia,  sampai kami harus berputar-putar dulu mencari bangku kosong dan dengan muka tebal berdiri menunggu di dekat  satu keluarga yang sepertinya akan segera bangkit dari duduknya.
“Aku pingin pecel, di sini ada pecel nggak ya…, mulutku sudah seminggu nggak ketemu pecel…” kata Supratmi begitu kami mendapatkan tempat duduk.
“Nggak ada deh kayaknya, paling juga yang ada gado-gado…” kataku dan Iswanti.
Akhirnya mereka berdua pesan gado-gado, sedang aku pilih makanan favorit masyarakat sajalah…., bakso, yang ternyata itu adalah pilihan yang tepat, sebab kata kedua temanku itu, rasa gado-gado pesanan mereka kurang mengena di lidah….

Seperti umumnya teman-teman yang lama tidak saling jumpa, kamipun bernostalgia dengan cerita-cerita masa lalu. Ngerumpiin teman-teman dari masa lalu juga, sambil cekikikan bertiga.
Mengenang jaman dulu ketika Supratmi ini kuliah dengan berkacamata dan berekor kuda, prinsipnya lumayan keras, agak susah dibelokkan. Tapi sekarang dia ternyata lebih banyak bercanda dan tampak tidak sekeras dulu. Hanya satu yang tidak berubah, tubuhnya tetap ceking seperti dulu.

Kalau sahabatku yang satunya, dari dulu memang wajahnya sudah bulat, senang tertawa, yang  sekarang semakin nyempluk, serta masih suka tertawa, dan dikuti tubuhnya yang lumayan agak mengembang… hehehe….

Kalau aku, kata mereka aku sekarangpun jauh lebih nyempluk daripada dulu, tubuhkupun sudah mengalami pemuaian dan kegosongan karena sering terkena panas… (maklum, kerjaan interviewer kan memang di jalanan terus, menjadi anak matahari…….)

Tapi apapun chasing kami sekarang ini, isi hati kami tetap seperti dulu, saling sayang sebagai sebuah keluarga besar dari terakibatnya kutukan yang membanggakan, yaitu sebagai anggota Pecinta Alam UA, yang semoga tidak akan terkudeta oleh labil hati, hihihi…. Salah ya, labil ekonomi…..

Foto kami bertiga itu sengaja pakai auto kamera, karena kata Iswanti kami nggak pede kalau harus minta tolong mbak-mbak atau mas-mas yang jaga di sana, sebab takut kelihatan bulet. Tapi aku protes lihat hasilnya, karena pipiku tampak nyempluk banget di situ….., itu karena kesalahan posisi dan kamera…. Sehingga tidak sesuai aslinya…. Hehehe…. (karena aku yang jepret, jadi aku kan paling dekat tuh…, jadi nyempluk deh….)



Bogor, 19 September 2013