Sabtu, 02 Februari 2013

Anakku Sakit



Hari senin pagi anak sulungku yang tinggal di Malang menelpon, “Mamie, Itek badannya nggak enak semua, kepala pusing, badan lemes….” katanya.
Itek itu nama panggilan yang diciptakannya sendiri sejak kecil waktu dia belum dapat menyebut namanya dengan benar dan tetap dipakainya sampai sekarang kalau dia sedang berbicara padaku, pada Papienya ataupun pada beberapa keluarga saja.
“Terus maunya gimana?” tanyaku.
“Itek masuk kerja nggak ya…., sakit banget nih kepalanya…, tapi kalau nggak masuk nanti gaji Itek dipotong dong…”
“Emang kakak dapat liburnya kapan?” tanyaku.
“Tanggal 29…” katanya.
“Tanggal 29 kan besok kak…” kataku.
“Iya apa? Eh, iya….. tanggal 29 besok, ya udah deh… Itek hari ini tetep masuk ya Mie, besok kan libur jadi bisa istirahat seharian…”

Selasa siang kutelpon anakku, “Gimana kak, kakak jadi sakit?” tanyaku.
“Iya nih Mie, dari semalam di tempat kerja tuh sambil nahan sakit kepala yang rasanya sudah pingin meledak.” jawabnya. Suaranya  terdengar lemah.
“Tadi malam pulangnya gimana, sama siapa?” tanyaku. Sebelumnya anakku ini sering mengeluh setiap dapat jadwal masuk malam, sebab di jam dia pulang itu sudah tidak ada kendaraan umum yang menuju tempat tinggalnya lagi, jadi dia harus mencari tumpangan teman-temannya. Bulan lalu sih dia masih abonemen jemputan, tapi sudah sebulan ini tidak pakai jemputan lagi karena katanya selalu ada temannya yang menawarkan tumpangan atau dengan sukarela mau menjemputnya pulang kerja. Lumayan ongkos jemputan bisa buat makan, katanya.
“Semalam numpang mbak Sisca, kebetulan kemarin dia juga masuk malam…” Sisca ini sempat ikut kost di tempat anakku dua bulan ini, tapi mulai bulan depan sudah nggak kost lagi, mungkin tiap hari pulang ke rumah orang tuanya di Dampit.

“Kakak sudah makan?” tanyaku.
“Belum, ini baru bangun banget. Hujan lagi. Kata mbak Sisca, semalam badannya Itek panas banget Mie, keringatnya keluar terus-terusan… padahal mbak Sisca kedinginan.” katanya.
“Sekarang masih panas?” tanyaku.
“Masih, dan Itek sudah ganti baju tiga kali sebab basah terus….” katanya. Terus terang, setiap mendengar anakku mengeluh tidak enak badan atau sakit, hatiku serasa diiris-iris. Kasihan dia. Kasihan dia harus jauh dari rumah dalam keadaan seperti ini.  Apalagi saat ini, anakku yang satu juga panas badannya. Tadi pagi tidak masuk sekolah. Hati dan otakku serasa mengalami hempasan angin ribut. Kacau sekali.
“Nanti sore cari dokter ya kak…” kataku.
“Iya, nanti kalau sudah reda hujannya Mie…, ini sekarang masih hujan deres.” jawabnya.

Sore sebelum maghrib kutelpon lagi anakku, “Sudah ke dokter kak? Sudah makan belum?”
“Belum Mie, masih hujan…, nanti aja cari makannya sekalian ke dokter…” katanya.

Malamnya kutelpon lagi anakku, “Gimana kak, tadi sudah ke dokter?”
“Sudah Mie, tapi Itek keluar lagi, nggak jadi periksa…” katanya.
“Emang kenapa?”
“Pas Itek masuk, ternyata di dalam ada tulisannya ‘PENGGUNA JAMSOSTEK’, jadi Itek keluar lagi, kan Jamsostek Itek belum jadi….” katanya. Astaghfirullah, ternyata anakku ini o’on banget ya…
“Kakak ini gimana siiiiih, kalau kakak belum punya Jamsostek, ya kakak bayar ke dokternyaaaaa…” kataku.
“Emang boleh Mie? Jadi Itek tadi cuma beli roti aja buat makan, sekarang ketambahan meler nih gara-gara Itek jalan hujan-hujan cari dokter. Badannya juga panas lagi kayaknya…”
“Emang gak pakai payung? Kan waktu itu Mamie kirimin payung….” kataku.
“Pakai payung sih, tapi tetap aja basah Mie… hujannya deres…” jawabnya. Aaaahhhh…,kalau aku mempunyai daya atau aku punya sayap, pasti saat ini sudah terbang aku menemaninya.
“Ya sudah, kalau gitu sekarang makan rotinya terus tidur. Istirahat yang banyak…, besok pagi ke dokter lagi.” kataku sambil mencoba menahan getar suara dan air mataku yang sudah ingin keluar seperti tanggul  yang nyaris jebol. Aku membayangkan dia tidur sendirian di kamar kostnya sambil menahan sakit.

Jam 02.30 pagi anakku SMS. “Mamie, Itek habis muntah-muntah…”
Langsung kutelpon dia, “Emang apalagi yang sakit kak?”
“Giginya ikutan sakit Mie, jadi Itek minum obat sisa waktu ke dokter gigi yang terakhir tempohari. Obatnya kan kapsul… karena leher Itek sakit banget jadi kapsulnya Itek buka…, ternyata rasanya pahit banget sampai Itek muntah-muntah. Itek buka  kapsul satu lagi, barusan Itek minum.” katanya.
“Itu kapsul apaan koq sisa berobat tempohari?”
“Kayaknya sih antibiotic, tapi karena baru beberapa kali minum giginya sudah nggak sakit, ya Itek berhenti minum, soalnya harganya mahal Mie…, biar bisa dipake lagi…”
“Yah kak, kalau antibiotic itu harus dihabiskan biar penyakitnya nggak imun…” kataku.
“Apa itu?” tanyanya. Kujelaskan kalau penyakitnya imun, nanti giliran dikasih obat sudah nggak mempan lagi. Dia mengeluh menyadari ketidak tahuannya. Terus kusuruh dia untuk tidur lagi. Gantian aku yang tidak bisa tidur karena memikirkanya.


Besok paginya kutelpon anakku, “Gimana kondisi hari ini kak? Masih nggak enak badannya?”
“Masih, Mie… malah lebih parah kayaknya…. Lidah Itek putih banget, leher sakit kalau buat nelen…”
“Bisa bangun nggak? Cari dokterlah sekarang…. Naik ojek aja, sekalian cari makan dulu…” kataku.
“Di sini nggak ada ojek Mamie….., dan kayaknya nggak bakalan bisa makan deh, orang nelen air aja sakit..” katanya. Aku lupa, terbiasa di Bogor dan Jakarta yang di mana-mana banyak ojek.
“Ya naik apalah, becak masak nggak ada juga?! Pokoknya kakak harus cari dokter…, kalau perlu hari ini nggak usah masuk dulu.” kataku.
“Iya sih, tadi temen Itek juga sudah bilang kalau mau maintain ijin buat Itek, besok baru masuk tapi harus bawa surat dokter. Tapi Itek takut dimarahi…..” katanya.
“Ya ampun kak, kalau kakak sakit siapa yang mau maksa?”
“Ya udah, nanti sore Itek ke dokternya…, sekarang mau tidur aja.” katanya.

Malamnya, sebelum aku sampai rumah, anakku SMS yang mengatakan kalau dokter yang kemarin dia datangi tapi keluar lagi ternyata tutup dan dia nggak tau di mana ada dokter lagi, malah katanya yang ada dokter spesialis kandungan. Padahal dia sudah maksain jalan ke tempat dokter itu.
Ya ampuuun, masak sih di sekitar situ nggak ada dokter lagi? Lagian itu dokter kenapa juga bukanya nggak setiap hari? Kenapa bukan hari minggu aja tutupnya? Kasihan anakku.

Kamis pagi kutelpon anakku,”Sekarang cepet cari dokter kak…, biar tahu kakak sakit apa dan segera dikasih obat. Kalau nggak ada dokter yang praktek pagi, kakak cari PUSKESMAS. Nggak mungkin di satu kelurahan nggak ada puskesmas-nya.” kataku.

Sekitar jam sepuluh pagi anakku SMS, “Itek sudah habis dari PUSKESMAS Mie, tapi Itek jadi ragu dan dokternya nyeremin…”
Langsung kutelpon dia, “Nyeremin gimana kak?”
“Masak bayarnya cuma tiga ribu Mie, udah gitu dokternya malah yang nanya Itek sakit apa, lha kan dia yang dokternya bukan Itek….” katanya. Aku tertawa mendengarnya, “Terus?...” tanyaku.
“Ya Itek bilang aja kalau Itek radang tenggorokan…, terus Itek di suruh mangap… dan dia dari tempat duduknya yang lumayan jauh dari Itek manggut-manggut sambil bilang ‘iya’….. Itu tanpa mendekat ataupun menyentuh Itek sama sekali…. Terus Itek dikasih resep, terus Itek bilang kalau kayaknya Itek juga batuk…, resepnya diambil lagi, terus ditambahin obat batuk ‘kali.”
 
Aku tertawa mendengar suaranya yang terdengar kesal.
“Pas Itek mau keluar, dokternya bilang, ‘Ini saya kasih obatnya untuk dua hari, kalau dua hari nggak ada perubahan, silahkan complain ke mari atau ke rumah saya, atau langsung aja ke rumah sakit.”
“Coba Mie, gimana Itek nggak takut dengernya, masak ngasih obat tapi kalau nggak sembuh disuruh langsung ke rumah sakit, berarti dia ngasih obatnya cuma coba-coba dong….., jangan-jangan Itek dijadiin percobaan…, habis pas Itek ambil obat, Itek tanya harganya berapa, eh katanya gratis…. Itu kan meragukan Mamie…, ini gimana dongggg… Itek takut. Surat dokternya juga jangan-jangan palsu….” katanya.

Aku tertawa lagi mendengarnya, ya begitulah memang kalau ke PUSKESMAS. Mentang-mentang nggak bayar, layanan terhadap masyarakat ya suka-suka. Obatnya sih mungkin nggak suka-suka, karena dari pemerintah, jadi ya mudah-mudahan dapat menyembuhkan sakit anakku.
“Lagian kenapa kakak bilang kalau kakak sakit radang tenggorokan? Kenapa kakak yang mutusin? Kenapa kakak nggak bilang kalau dokternya bukan kakak?” tanyaku sambil tertawa.
“Habisnya dokternya yang nanya….” jawabnya.
“Ya udah, obat dari dokter itu nanti diminum dan nanti atau besok Om Eko juga mau anter obat buat kakak…., diminum juga ya….” kataku membesarkan hatinya. Eko ini teman baikku yang kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari tempat kost anakku.(Trimakasih banyak buatnya). Dia khawatir kalau typhus anakku kambuh, karena aku cerita kalau dulu anakku ini sudah pernah kena typhus, makanya dia anterin pil cacing buat membantu   proses penyembuhan. (Tapi aku nggak bilang anakku kalau yang dianter Eko itu pil cacing,… hehehe…., nanti dia nggak mau minum….)

Sampai saat aku nulis ini, (hari sabtu), anakku tetap berangkat kerja sejak hari kamis dan dia merasa yakin (pada diagnosanya sendiri) kalau dia hanya terkena radang tenggorokan.

Setiap saat pula aku hanya dapat berdoa dan berharap bahwa anakku memang hanya sakit radang tenggorokan karena sampai saat ini aku belum dapat menjenguknya untuk sekedar menyentuh keningnya dan memeriksa suhu tubuhnya ataupun mengompresnya kalau perlu. Keep be strong my daughter….



Bogor, 2 Februari 2013
(menunggu keajaiban yang dapat membawaku ke sisi anakku)

Selasa, 15 Januari 2013

Be-te



Kemarin siang, setelah satu jam lamanya nongkrong di stasiun tanpa ada kepastian datangnya kereta yang akan kunaiki ke Jakarta, akhirnya terdengar juga pengumuman dari pengeras suara stasiun yang kurang lebih bunyinya begini, “Kepada para penumpang Tujuan Jakarta ataupun Bogor, kami mohon maaf karena untuk sementara ini belum ada kereta yang dapat diberangkatkan dari Stasiun Bogor ke a rah Jakarta, maupun dari Stasiun UI ke arah Bogor karena sedang ada demo mahasiswa yang menyabotase rel di antara Stasiun UI dan Stasiun Pondok Cina sehingga tidak dapat dilalui oleh kereta.”

Hadew! Apa-apain sih ini?!
Aku bukan melarang mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdemo yang katanya mereka sedang memperjuangkan nasib para pedagang dan pemilik kios-kios yang berada di sekitar Stasiun, tapi aku justru menyayangkan cara mereka menyabotase fasilitas umum sehingga merugikan atau mengabaikan kepentingan masyarakat yang lain yang menurutku sungguh bukan tindakan yang wise.

Semua demo-demo ini bermula ketika pihak PT KAI mengadakan perubahan besar-besaran terhadap penampakan seluruh Stasiun KRL sepanjang Bogor ke Jakarta (Aku tidak tahu apakah stasiun-stasiun dari Bekasi dan tangerang juga mengalami hal yang sama), yaitu membersihkan semua Stasiun dari kios-kios dan pedagang asongan yang ada di sekitar Stasiun. Semua yang semula seperti pasar kecil di dalam stasiun, sekarang jadi plong, terang, legaaa….

Sebetulnya kasihan juga para pedagang asongan dan kios-kios yang sudah sekian tahun menggantungkan hidup dari sini harus di usir begitu saja, sebab kenyataannya memang para pedagang itu amat sangat membantu para penumpang, terlebih kaum ibu yang pulang kerja sudah malam, sedangkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga juga harus tetap dipenuhi yaitu menyediakan hidangan untuk keluarganya, mereka jadi tidak perlu repot-repot pergi ke pasar lebih dulu sebab di stasiun semua kebutuhan sudah ada (mulai dari bumbu, sayuran basah/mentah sampai ayam potong). Mereka juga menjual dengan harga yang bersaing dengan pasar tradisional, atau dengan kata lain : murah. Tapi di pihak lain, ketika stasiun mulai membongkar kios-kios itu, pemandangan yang segar, bersih dan tertata mulai tampak menyenangkan juga.

Nah, ketika acara gusur-menggusur pedagang dan kios-kios ini akan sampai di Stasiun UI, terjadilah demo dari para mahasiswa yang tidak ingin sarana kebutuhan mereka (seperti warnet, fotocopy, dan lain-lain) ini diratakan dengan tanah, yang mana dalam konteks lain mereka juga ingin membela para pedagang ini dari penggusuran pihak PT KAI yang dianggap sewenang-wenang. Aku sempat melihat beberapa kertas bertulisan “Kami Bukan PKL” yang tertempel di kios-kios di Stasiun UI yang belum juga dibongkar ketika seluruh Stasiun yang lain sudah melaksanakan pembongkaran.

Yang agak dipertanyakan adalah kenapa demo itu hanya dilakukan saat-saat pembongkaran untuk wilayah  Stasiun UI saja, kenapa tidak dilakukan pada saat rencana itu baru dimulai yaitu ketika PT KAI mulai menggusur kios-kios dari Stasiun yang lain? Kan kesannya jadi tidak fair dan tidak adil untuk pedagang yang lain sedangkan kondisi seluruh pedagang itu juga sama? Mereka sama-sama membayar untuk sewa kios dan sama-sama tidak mendapatkan ganti rugi apapun.

Dalam hal ini permasalahannya sudah sangat kompleks, sudah terlalu lama kondisi kios-kios itu berada di sana dan itu semua adalah ulah oknum petugas yang mengkomersialkan area stasiun sehingga menjadi kumuh seperti kondisi terakhir, yang sudah tentu uang sewa kios itu tidaklah masuk ke dalam kas Negara.

Masyarakat kita juga begitu, budaya selalu ingin dilayani selalu saja mengedepan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Budaya ingin dilayani ini tercermin dari adanya para pedagang asongan yang datang menghampiri pembeli. Tidak perlu bersusah payah berjalan sekian meter ke toko tertentu atau ke pasar untuk membeli kebutuhannya, semua disorongkan tepat sampai ke depan hidung pembeli.

Terus terang selama ini aku juga menikmati semua kemudahan itu, sekedar membeli tissue ataupun permen saja tidak mau berjalan, tapi diam di tempat sambil menunggu pedagang asongan datang menghampiri. Malas! Sehingga ketika semua itu tidak ada, sempat terkaget-kaget juga, harus mencari-cari dulu, di mana tempat terdekat untuk membeli semua kebutuhan itu.

Untuk melakukan perubahan dari yang sudah ada menjadi hal yang lain, selalu ada yang harus dikorbankan, dan sayangnya sekali lagi memang harus masyarakat kecillah yang menjadi korban kondisi ini. Kondisi oknum-oknum yang korup yang menyalah gunakan kekuasaan dan akhirnya menyengsarakan masyarakat. Aturan dibuat sendiri dengan imbalan sekian rupiah yang ujungnya juga tidak bertanggung jawab.

Jadi, kalau memang mahasiswa itu mau berdemo, demolah instansi atau oknumnya yang membuat semua ini terjadi, bukan menghambat atau menyabotase jalur kereta yang penumpangnya tidak ada kepentingan langsung dengan aturan itu. Apakah tidak terpikirkan oleh mereka bahwa penumpang kereta itu semua punya kepentingan juga yang harus tetap mereka lakukan? Yang akhirnya harus berantakan karena adanya sabotase itu? Yang akhirnya harus merobah semua jalan kehidupan mereka, padahal mereka sungguh tidak bersalah?



Bogor, 15 Januari 2013
(Sambil nulis ini aku masih be-te, padahal kata seorang teman, untuk meredam ke be-teanku, sehari tadi aku disuruh mlungker aja di rumah)

Sabtu, 12 Januari 2013

Serba Salah atau Memang Harus Begitu?



Tadi aku pulang naik Comuter Line Kereta Khusus Wanita, jadi rangkaian kereta sebanyak 8 gerbong ini penumpangnya wanita semua dan balita. Hari Sabtu, jam tiga sore, keretanya sudah lumayan penuh walaupun tidak sepadat kalau gerbong campuran. Sudah banyak ibu-ibu yang duduk di lantai kereta beralaskan koran di bagian pintu yang tidak terbuka (seperti kelakuanku).

Aku berdiri sampai sekitar stasiun UI Depok, sebab ibu-ibu yang duduk di depanku tampaknya akan turun di Pondok Cina. Akupun duduk di tempat ibu-ibu tadi, lumayanlah masih lima stasiun lagi untuk sampai di tempat tujuanku.

Aku melepaskan pandanganku ke seluruh ruangan/gerbong. Semua penumpang adalah wanita termasuk kondekturnya, kecuali petugas keamanan kereta dan beberapa anak laki-laki kecil (balita). Sebab ketika ada seorang ibu membawa anak laki-laki yang berusia 6 tahunpun dipersilahkan turun oleh petugas. Diberitahu untuk naik kereta berikutnya saja yang campuran.

Hal seperti itu beberapa kali kutemui ketika aku naik kereta rangkaian khusus wanita ini, anak laki-laki di atas 5 tahun tidak boleh naik. Makanya suatu ketika, waktu aku mengajak anakku yang laki-laki (usianya 11 tahun), dan terpaksa naik ke gerbong khusus wanita karena saat itu kereta sudah mau jalan, akupun berusaha mencari jalan untuk pindah ke gerbong campuran. Tapi ada ibu-ibu yang bertanya padaku, “Mau kemana Bu?”
“Mau ke gerbong sebelah Bu, anak saya kan laki-laki…” jawabku.
“Ah, sudahlah di sini saja, tidak apa-apa…, orang masih kecil gitu…” jawab ibu itu. Kudengar beberapa orang juga menyatakan setuju.
“Iya Bu, nggak papa… di sini saja…”
Akhirnya akupun tetap di gerbong itu. Dan kulihat ibu-ibu yang lain juga tidak merasa keberatan. Mereka akan tampak keberatan kalau ada anak laki-laki yang tampaknya ABG atau yang usianya mungkin usia anak-anak SMP ke atas. (Ya iyalaaahhhh…, itu sih bukan anak-anak lagi, tapi laki-laki dewasa…. Hehehe…)

Waktu melihat ibu-ibu dengan anak laki-laki umur 6 tahun yang dipersilahkan turun di stasiun berikutnya oleh petugas, beberapa ibu-ibu tampak membicarakannya, “Kasihan,” kata mereka.

Iya sih, aku juga merasa kasihan sebetulnya. Tapi itu peraturan, dan di kereta rangkaian khusus wanita ini memang peraturannya agak ketat dalam artian betul-betul berusaha memenuhi semua aturan yang ada. Kursi prioritas untuk Ibu Hamil, Membawa Balita, Manula ataupun Penyandang Kekurangan Fisik, adalah kursi yang paling terakhir terisi. Bila terisipun pasti akan diminta bila ada penumpang dalam kondisi tersebut naik. (Penumpang yang tiap hari naik kereta akan sebisa mungkin menghindari kursi tersebut karena sudah tahu konsekwensinya kalau duduk di situ, yaitu bakalan diminta pindah…. Hehehe…)

Nah, tadi ketika di Stasiun Citayam ada ibu-ibu yang membawa tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil naik ke kereta yang kutumpangi dan berdiri di depanku, akupun berdiri. Ada dua alasanku untuk berdiri, pertama karena anak-anak itu semua masih balita (berentet deh pokoknya, mungkin setahun sekali ibu itu melahirkan), yang ke dua karena tujuanku juga tinggal satu stasiun lagi.

Ketika kondektur menghampiri si ibu untuk menanyakan tiketnya, si ibu menjawab, “Saya numpang ke Bojong Bu…”
“TIdak bisa begitu bu, ini kereta Comuter, ibu tidak bisa menumpang begitu saja. Ini anak ibu semua? Tiga orang? Ibu dikenakan denda 50 ribu.” kata kondektur. Si Ibu itu diam saja.
“Biarpun cuma satu stasiun, ibu tetap harus beli tiket. Kecuali ibu naik ekonomi, ibu masih bisa numpang-numpang begitu.” si Ibu diam saja. Yah, mungkin pikir si ibu kalau mau diturunin ya turunin saja, orang tujuannya memang cuma satu stasiun.

Ketika kondektur meninggalkan tempat si ibu dan mencari temannya, mungkin mau melapor, kudengar anak si ibu yang paling besar mengatakan pada ibunya kalau dia takut. Ibunya membentaknya sambil mengatakan, kenapa begitu saja takut?

Aku jadi pusing melihat pemandangan ini. Untung aku bukan kondektur kereta yang mungkin akan sering sekali mengalami hal seperti itu setiap harinya. Kalau dibilang kasihan ya memang kasihan, apalagi melihat anak-anaknya yang berentet begitu. Tapi kalau melihat dari sisi kondektur tadi ya memang tidak boleh begitu, karena kalau dilanggar sedikit-sedikit nanti jadi kebiasaan dan peraturan itu lama-lama hanya akan berupa peraturan saja tanpa makna.

Tak lama kemudian kereta sampai di stasiun Bojonggede.  Aku turun, si Ibu dan anak-anaknya juga turun di belakangku. Sudah sampai. Mau apa lagi?



Bogor, 12 Januari 2013

Jumat, 07 Desember 2012

Stasiun Bojonggede



Ada moment yang terlewatkan untuk kujadikan bahan tulisan, yaitu saat ada peristiwa tanah longsor sekitar dua minggu lalu yang mengakibatkan jalur kereta dari Jakarta – Bogor dan sebaliknya Bogor – Jakarta mengalami gangguan, sehingga rute itu menjadi Jakarta – Bojonggede dan sebaliknya Bojonggede – Jakarta karena longsor itu terjadi di antara Stasiun Bojonggede dan Stasiun Bogor.

Stasiun Bogor sebagai Stasiun Tujuan akhir memang adalah Stasiun Besar dan dikondisikan untuk menampung ribuan penumpang setiap saat, beda halnya dengan Stasiun Bojonggede yang hanya sebagai Stasiun Kecil dan belum dikondisikan untuk menampung ribuan penumpang yang turun dari kereta di jam-jam pulang kerja yang frekwensinya setiap sekian puluh menit sekali.

Stasiun Bojonggede yang hanya terletak di sebuah jalan kelas tiga di Wilayah Kecamatan, selama ini hanya menampung sekian persen jumlah penumpang kereta. Para penumpang itu adalah para karyawan penghuni perumahan yang berada di sekitar Kecamatan Bojonggede.

Nah, ketika longsor itu terjadi, semua jadwal kereta kacau balau. Tetapi sebagai sarana utama transportasi masyarakat, kereta harus tetap difungsikan dengan tujuan akhir dari Jakarta menuju Bogor hanya sampai di Stasiun Bojonggede saja, yaitu dua stasiun lagi sebelum Stasiun Akhir Bogor.

Frekwensi kedatangan kereta yang cukup sering di setiap sore sampai malam hari dengan jumlah penumpang yang turun ribuan orang yang sebagaian besarnya masih harus menyambung dengan angkot ke Bogor, benar-benar membuat jalan di sepanjang depan Stasiun Bojong menjadi macet total. Para penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanannya ke Bogor saling berebut angkot, dan angkot-angkotnya sendiri sampai kuwalahan melayani membludaknya kebutuhan penumpang. Belum lagi ditambah beberapa kendaraan lain yang kebetulan lewat depan Stasiun Bojonggede, orang-orang yang belum berhasil mendapatkan angkot dan kemudian berjalan di sepanjang jalan menambah penuhnya jalanan itu.

Seorang tetanggaku bercerita ketika suatu saat dia baru pulang kerja. (Tetanggaku ini biasa membawa motor sendiri dari rumah dan diparkir di Tempat Parkiran sekitar stasiun yang banyaknya seperti jamur di musim hujan. Setiap halaman rumah atau sedikit lahan yang agak lengang pasti langsung disulap jadi tempat parker). Ternyata situasi macet parahnya di jalanan sepanjang Stasiun Bojonggede itu sungguh luar biasa.

Jarak yang dalam situasi normal biasanya hanya ditempuh sekitar lima menit saja, ketika macet itu dia baru sampai di rumah kira-kira satu jam kemudian. Hadewww…      Aku sendiri memilih naik ojek dari Stasiun ke rumah karena tukang ojek yang nota bene adalah penduduk asli di Bojonggede ini pasti kan tahu jalan-jalan tikus yang dapat dilaluinya untuk sampai ke rumahku, sehingga aku tidak perlu ikut terjebak kemacetan di antara orang-orang Kota Bogor yang terpaksa terdampar di Bojonggede ini.

Terganggunya rute dan perjalanan KRL dari Jakarta – Bogor dan sebaliknya Bogor – Jakarta, sungguh besar sekali dampaknya ke hal-hal yang lain. Salah satunya adalah kios-kios pedagang kaki lima mulai yang jualan pulsa sampai jualan sayuran dan ikan mentah yang tadinya berada di dalam Area Stasiun dan menjadikan Lokasi Stasiun menjadi mirip pasar, sekarang sudah tidak ada lagi. Suasana Stasiun Bojonggede jadi lega dan terang benderang….. hehehehe…. (Susahnya, aku tadi mau beli tissue dan permen saja  nggak jadi karena nggak ada lagi orang yang jualan. Kasihan, mereka jadi jualan di mana ya….).

Memang setiap hal kan selalu ada resikonya, baik resiko bagus atau resiko jelek. Seperti sebuah pilihan, selalu ada yang harus diabaikan. Sedih memang kalau harus ada yang dikorbankan. Tapi mau bagaimana lagi, sekali lagi hidup ini adalah pilihan.



Bogor, 7 Desember 2012