Kamis, 26 Mei 2016

Selamat Jalan Dian Natalina Gamawati





Memang sepertinya tidak terlalu banyak kenangan antara kita di masa lalu. Atau…, mungkin juga memory masa kecilku tidak mampu menyimpan berbagai kenangan indah itu sehingga saat ini hanya sedikit sekali yang kupunya tentang kita.

Serpihan kenangan itu memunculkan selembar foto (yang aku tidak tahu lagi, sekarang ada di mana), dengan suasana dalam kelas anak-anak Sekolah Dasar, dengan tiga orang gadis mungil yang duduk sebangku. Itu kamu, aku, dan seorang teman kita yang lain. Namanyapun masih melekat erat di kepalaku : Dian Natalina Gamawati, Diane Budi Ariaty, Diana Purnamasari. Aku selalu ingat nama-nama itu, karena setiap di absen, nama kita bertiga dipanggil berurutan, dan aku yang terakhir.

Kamu selalu berambut pendek, tapi bukan potongan laki-laki macam rambutku. Model rambutmu lebih feminine, hehehe… Kamu juga adalah seorang gadis cilik yang pendiam, tetapi berotak cerdas. Ya, kamu adalah termasuk murid yang pandai di kelas.

Dulu itu, setiap aku berangkat sekolah, kalau tidak naik sepeda, naik becak, ya jalan kaki. Naaah…., kalau pas tidak naik sepeda itulah biasanya setiap pulang sekolah aku nebeng kamu yang selalu diantar jemput mobil jeep hijau dengan om supir yang setia mengantarmu. Maklum, rumahmu lumayan jauh dari sekolah tempat kita belajar, di Kebun Bibit. Aku ingat kalau hari minggu, bersama beberapa orang teman, kami main ke rumahmu naik sepeda.
Rasanya, jaman dulu jalanan masih amat bersahabat buat kita yang masih anak-anak untuk bersepeda biarpun jaraknya agak jauh, dan sepertinya dulupun kita tidak pernah mengenal kata capek ya….

Sampai saatnya tiba ketika aku tidak dapat nebeng kamu lagi kalau pulang sekolah karena kamu harus ikut ayahmu pindah sekolah ke Kediri. Ayahmu, Bp Usri Sastradireja alm diangkat menjadi Bupati di sana.
Hubungan kita masih berlanjut via surat. Ya, dulu kita selalu bersurat-suratan. Edisi curhat jaman dulu sebelum ada kecanggihan tekhnologi seperti sekarang. Sampai SMA seingatku kita masih saling menyurat, karena aku tahu kamu sekolah di SMAN 1 Kediri.

Setelah itu…, entah kapan, dan entah kenapa, tiba-tiba kita lost kontak. Mungkin karena kita sudah semakin banyak acara dan kegiatan di sekolah, sehingga acara menulis surat mungkin saat itu jadi agak menyita waktu, sehingga harus sering tertangguhkan, sampai akhirnya terhenti.

Kemudian, hari itu….., aku benar-benar merasa surprise sekali…
Saat itu adalah hari pertama kegiatan Pembinaan Mahasiswa Baru untuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) di Universitas Airlangga Surabaya. Pesertanya lumayan banyak, dan kami dikumpulkan di halaman Gedung Koperasi Mahasiswa.
Sebagai mahasiswa baru yang belum banyak kenal orang, akupun hanya duduk tanpa berani tengok-tengok. Takut kena semprot karena katanya senior itu kan galak-galak.

Ketika nama peserta dipanggil satu-satu, aku terkejut mendengar sebuah nama yang disebut : Dian Natalina Gamawati. Deg. Nama yang tidak asing bagiku. Ataukah sekedar kesamaan sebuah nama?
Pelan-pelan kuedarkan pandanganku ke seluruh peserta. Aku mencarimu dalam diam karena mencuri-curi menengok ke belakang (saat itu aku duduk di barisan depan).
Dor! Di sana di sebuah sudut, di barisan paling belakang aku melihatmu. Masih dengan wajah yang sama mungilnya dengan dulu, dan potongan rambut yang sama seperti dulu, sedangkan saat itu rambutku panjang melewati bahu.

Ketika ada kesempatan berpindah posisi, aku beringsut mendekatimu. Kamu menyambutku dengan senyum. Sepertinya saat itu kamu juga sudah tahu kalau ada aku di situ. Tapi ada yang aneh, karena kamu terlihat tegang dan berusaha untuk tidak menarik perhatian sedikitpun dari siapapun.
Kamu duduk sendiri, menyudut, mengecilkan diri, mencoba menghilangkan diri ternyata adalah karena kamu sebenarnya terpaksa mengikuti UKM Pecinta Alam ini karena UKM yang lain sudah fullbooking, hehehe….. Jadi kamu takut dipanggil senior atau disuruh macam-macam yang kamu sebenarnya sangat buta dengan kegiatan ini. Seperti aku yang tiba-tiba dipanggil maju ke depan dan disuruh copot sepatu kemudian merayap naik ke lantai dua gedung Kopma lewat roaster yang bolong kotak-kotak itu (dengan pinggangku diikat tali sih buat belay). Tapi ini juga karena kebetulan senior yang saat itu sedang memberikan materi rock climbing kebetulan pernah dengar kalau aku kemarin habis dari gunung kapur latihan panjat. So, harusnya saat itu kamu nggak perlu takut.
“Kamu koq berani sih disuruh naik-naik begitu An…” katamu waktu itu.

Pertemuan beberapa hari saat Pembinaan Mahasiswa Baru itu hanya menyisakan pengetahuan, bahwa kamu diterima di FK Unair dan aku di FISIP Unair, selebihnya tidak ada lagi karena kita juga tidak pernah ada kontak lagi. Tapi aku maklum koq dengan jadwal kuliah mahasiswa FK, beda banget denganku yang masih amat bisa jalan-jalan. Mungkin juga kamu ngeri ya dengan hobbyku yang satu ini, hehehe….

Berpuluh tahun berlalu. Masa Facebookpun dimulai.
Di dunia maya inilah aku berhasil menjalin kontak denganmu lagi. Kitapun bertukar nomer HP (Dulu belum musim HP sih, jadi kita ilang-ilangan deh….), dan bertukar no PIN BBM. Walaupun sebetulnya aku agak kurang suka BBM an…
Kamu sempat membuat group SD kita dulu di BBM, SDN Pucang Jajar II yang isinya cuma beberapa orang (7 kalau nggak salah; kamu, aku, ukik, rina, wiwik, mbak corny, aku lupa siapa lagi sebab aku jarang banget buka BBM).
Beberapa kali aku sempat menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan padamu. Sampai aku dengar khabar kalau kamu sakit.
“Dian, aku dengar kamu sakit…, gimana kondisimu sekarang?” tanyaku.
“Alhamdulillah aku sudah sembuh An…, tapi sayang ya aku kemarin gak sempat ikut reuni di Pacet, jadi kita gak bisa ketemu..” katanya.
“Ya, semoga nanti kalau ada reuni lagi kamu bisa datang…” jawabku.
Waktu itu kudengar kan kamu sakit DBD, jadi aku juga sempat membicarakan kondisi anaknya karyawanku yang kebetulan juga sakit DBD sama kamu. Kita sempat ngobrol ngalor ngidul tentang DBD.
Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang kamu, tentang sakitmu, dan tentang apapun. Betapa tidak bergunanya aku ini sebagai  temanmu…

Begitu juga ketika aku mendapat khabar kalau kamu masuk RS lagi karena sakitmu sudah parah, adalah ketika aku sudah berangkat ke Jakarta tugas kerja untuk masa sekitar satu bulan. Sakitmu bukan sakit biasa, dan kamu adalah seorang dokter. Bagiku tidak mungkin kalau kamu sendiri tidak mengenali tanda-tanda awal sakitmu ini sejak dini. Ini Le****** Dian…..  :’(  :’(

Selama sebulan di tempat kerja, aku hanya dapat memantau kondisimu dari teman-teman yang berkesempatan menengokmu ke RS. Aku belum punya kesempatan itu.
Sepulang aku dari tugas, aku ke Surabaya untuk menemani anakku yang sedang UNAS SMP. Aku mencoba menghubungi seorang teman dan menanyakan kondisimu sebab aku ingin menjengukmu di RS.
“Kondisi Dian sudah parah sekali, nggak mau makan, dan suaminya mohon supaya selanjutnya mendoakan Dian dari rumah saja…”
“Oh, begitu  ya…. Baiklah, kita harus hargai keinginan keluarganya, sebab merekalah yang lebih berhak atas Dian daripada kita….”
“Iya, betapapun kangennya kita pada Dian dan ingin menengoknya, tapi keluarganya lebih berhak menentukan yang terbaik buat Dian…”
Aku sedih mendengar kondisimu Dian, tapi  aku hanya bisa menangis sendiri dan berdoa untuk kebaikanmu. Kukirimkan doaku dari jauh. Semoga Allah memberikan kesembuhan padamu.

Manusia berusaha dan Allah yang menentukan.
Siang-siang aku mendapat telpon yang mengabarkan kepergianmu. Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Roji’un.
Allah menyayangimu Dian. Allah telah mengangkat sakitmu.

Aku, Ceplik, Ninis, dan Myta (teman Ceplik) sampai di rumahmu ketika hari sudah gelap. Kamu sudah diantar ke peristirahatanmu yang terakhir selepas ashar, tetapi pelayat yang datang masih terus sambung menyambung. Konon itu karena kamu orang baik Dian…., sehingga banyak sekali orang-orang yang ingin mendoakanmu. Kamu orang yang cantik luar dalam. Suami dan dua buah hati terkasihmu juga pasti tak akan pernah lepas dari doa-doanya untukmu.

Kakakmu bercerita bahwa tidak ada secuilpun keluhmu atas sakitmu ini. Kamu menahannya untuk dirimu sendiri. Kamu hanya memejamkan mata dan mengerutkan alis untuk menahan sakitmu. Allah Maha Besar, Allah Maha Penyayang, semoga Allah mengampunkan semua dosa-dosamu. Aamiin.

Sedihku menyengat ketika mendengar bahwa saat kamu sakit, kamu sempat menanyakan aku. Maafkan aku yang tidak sempat menemuimu sampai di akhir hidupmu. Selamat jalan Dian…., semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik di sisiNya. Aamiin.



Malang, 25 mei 2016
masih merasakan sakit di sudut hati ini..., maafkan aku....

Minggu, 08 Mei 2016

Sukabumi, Bogor, dan Bekasi



Kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan, dan kesempatan yang ada seringkali tidak akan pernah datang dua kali. Begitu juga yang terjadi padaku.
Pagi itu, setelah menyiapkan stock yang akan kubawa ke kios Poci di Singosari, aku mengeluarkan hp ku dari dalam tas. Ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari Jakarta, dan ada pesan di WA.
Tidak lama, hp berbunyi lagi, yang langsung kuangkat.
“Hallo mbak, apa khabar?” suara mas Agung di seberang sana.
“Alhamdulillah khabar baik. Tumben nelpon, ada apa hayoooo….” tanyaku.
“Mbak Aan posisi di mana sekarang?”
“Di Malang. Tapi bisa ada di manapun sesuai permintaan…., hehehe…”
“oke. Ada kerjaan riset di Jawa Barat mbak, Sukabumi, Bogor, dan Bekasi selama tiga minggu…. Dst dst dst…”
“Oke mas, aku ambil…” jawabku memastikan.

Selanjutnya aku mulai mengkondisikan pekerjaan di Malang selama akan kutinggalkan kurang lebih sebulan.
Beruntungnya adikku sudah punya orang-orang loyal yang bekerja padanya, sehingga akupun tidak terlalu bersusah payah dalam mengkondisikan sesuatu.
Tidak banyak yang kutahu sebelumnya tentang situasi lapangan di lokasi yang akan kami observasi, hanya saja aku harus siap untuk medan yang terburuk karena tujuan agak di pedalaman. Itu clue-nya.

Tujuan pertama adalah Sukabumi.
Team Leaderku, mas Inang Winarso menawarkan kalau ada yang mau bareng dengan beliau menuju Sukabumi, maka kami harus berkumpul di Stasiun Bogor, hari jum’at pagi tanggal 15 April 2016 jam 09.00 wib.
Aku, numpang tidur semalam di rumah Frida (staff BSK) di Komplek BIN Kalibata, dan keesokan harinya aku menuju Bogor dari Stasiun Pasar Minggu Baru.
Ketika aku baru turun dari mobil Frida, ada kereta yang akan berangkat menuju Bogor, sedangkan aku belum beli karcis. Yah, lama deh…, pikirku.
Tapi ternyata tidak, baru saja aku membeli karcis, ternyata sudah ada kereta yang akan masuk lagi di jalur dua. Akupun buru-buru menyebrang rel dan menuju peron Bogor sambil lelarian karena tampaknya gerbong terakhir kereta akan agak jauh ke depan. Tasku yang besar dan berat rupanya agak memberatkan langkahku. Maklum, persediaan baju selama tiga minggu (saat packing, aku mengesampingkan kemungkinan sempat mencuci baju). Belum lagi tas cangklong dan tas laptop. Pokoknya ribet dah…
Dengan keyakinan penuh, akupun melompat masuk ke gerbong delapan, gerbong wanita. Fuihh…, penuh juga. Tapi setelah kuedarkan pandanganku, rata-rata umurnya masih belia, seumuran anakku. Pasti mereka mahasiswi yang pada mau kuliah di UI, dll.
Benar dugaanku. Gerbongpun mulai sepi ketika sampai di Stasiun UI. Akupun berjalan pelan-pelan pindah ke gerbong yang agak depan. Aku mencari tempat duduk yang enak sambil menikmati suasana dan pemandangan yang sdh lebih setahun kutinggalkan. Nostalgia ceritanya…
Waktu di Stasiun Citayam, kereta berhenti agak lama. Aku sibuk menyiapkan hp buat nanti mau mengambil gambar Stasiun Bojonggede, tempat dimana banyak tahun dan cerita selama aku dan keluargaku masih tinggal di sana.
Sambil memandang keluar jendela dengan hp di tangan, tiba-tiba aku melihat simpangan rel, dan kereta yang kunaiki mengambil jalur yang ke kiri. Deg!! Kemana kereta ini???
“Pak, maaf…., kereta ini tujuannya ke mana ya?” tanyaku pada dua orang lelaki muda yang berpakaian seragam polsuska dan duduk di seberang bangkuku.
“Ke Cibinong bu….” Jawabnya.
Alamaaakkk….. Akupun shock. Dan semakin shock ketika melihat jam di hp ku menunjukkan angka 08.30 wib.
“Habis dari Cibinong, keretanya balik ke Jakarta lagi pak?” tanyaku.
“Ke Nambo dulu bu, nanti balik dari Nambo sekitar jam 08.50 wib.” katanya.
Haduuuh, gimana iniiii……
Koq gak ada yang bilang sih kalau sekarang sudah ada kereta yang ke Cibinong?
Akhirnya aku berhasil menghubungi team Jawa Barat, dan mas Inang berbaik hati mau menungguku di Stasiun Bogor.

Team Jawa Barat yang ikut mobil mas Inang adalah mbak Intan (asisten tem leader), Kiky, Puput, dan aku. Insan dan Widya naik motor sendiri. Perjalanan ke Sukabumi sebetulnya lancar jaya kalau tidak ada oknum polisi yang sok tegas dalam menjalankan peraturan tapi sambil iseng-iseng berhadiah.
Ceritanya gini.
Mobil kita ada di belakang Truk Box. Nah, ketika Truknya belok kanan, ya kita lurus dong… Eh, ternyata di depan tiba-tiba di stop sama seorang polisi yang sedang bertugas di situ. Katanya kita melanggar lampu merah.
Lha, ada lampu merah toh? Ajaibnya, kita berempat nggak ada yang melihat lampu itu. Yang kelihatan di depan kita kan mobil box tadi. Rupanya rambunya tertutup box.
Berhentilah kita ke tepi jalan. Mas Inang keluar, menunjukkan surat-suratnya, dan pak polisi mengeluarkan buku tilang.
Biasanya nih, setelah kasih tahu kesalahan kita, pak polisi akan menulis pelanggaran, STNK ditahan, kemudian kasih surat tilangnya,  dan sudah.
Tapi ini tidak saudara-saudara…… Mas Inangnya lama banget di bawah, dan suratnya nggak ditulis-tulis sama si bapak polisi.
Setelah masuk lagi ke mobil, mas Inang cerita kalau tadi si bapak oknum polisi itu sebenarnya ingin kalau kita ngajak damai aja. Memang nggak ngomong langsung menawarkan damai, tapi setengah menakut-nakuti yang sebenarnya malah jadi lucu dan kelihatan blo’onnya. Harusnya dia lihat dulu dong, model seperti apa yang ditakut-takuti. Apa mas Inang itu tampak seperti anak kecil atau apa?
Contoh dialognya gini,
“Ini bener nih, bapak mau ditilang aja? Nanti apa nggak repot ngurusnya?”
“Polsek sini belum kerjasama dengan BRI lho, jadi nggak tau nanti masuk ke rekening siapa…”
Dan masih ada beberapa dialog konyol lagi yang aku sudah lupa….
Kenapa harus seperti itu bapak oknum polisi?
Jadinya sepanjang perjalanan menuju Sukabumi, ada bahan bercanda yang bikin agak jengkel juga kalau ingat.

Lokasi survey di Sukabumi adalah di kecamatan Cicurug, dan kantor CDP GNI Sukabumi masih dekat dengan jalan besar dan pusat keramaian. Bahkan tempat nginap kitapun disediakan di  hotel.
Kalau urusan ke lapangan, itu lain cerita. Medannya yang aduhai terbayar dengan pemandangan gunung yang memukau.
Masing-masing enumerator mendapat jatah desa yang berlainan, jadi kita jalan sendiri-sendiri mencari jalan hidup masing-masing…, hehehe…, lebay ya…..
Jatahku di desa Kebon Kawung, yang ternyata penduduknya baik-baiiikkkk deh. Dua hari berkeliaran di daerah itu, dua kali pula aku dijamu makan siang oleh para ibu, penduduk di sana. Bahkan katanya kalau mau pulang, aku disuruh mampir lagi sebab mau dibuatkan keripik singkong dan pisang buat oleh-oleh. Tapi sayangnya waktu yang terbatas tidak dapat membawaku kembali ke desa itu buat ambil oleh-oleh. Biarlah. Kurasa mereka masih dapat menjual keripik yang sedianya akan dibawakan ke aku itu, kan biasanya mereka juga menjual atau memasokkan keripik itu ke toko oleh-oleh. Trimakasih banyak buat penerimaannya padaku dan niat baiknya yang kuterima dengan senang hati, ibu-ibu di Kebon Kawung.

Yang bisa kucatat adalah, para staff CDP GNI Sukabumi ini ternyata sangat dekat dekali dengan masyarakat binaannya, dan mereka bahkan mengenal satu demi satu anak-anak sponsor (yang mendapat program bantuan dari GNI dalam upaya pemenuhan hak-hak anak) begitu juga anak-anak juga sangat mengenal mereka. Padahal wilayah yang mereka tangani cukup luas. Para staffnya sigap dalam setiap bantuan ke masyarakat. Acung jempol buat mereka.
Sayangnya kedekatan itu seperti membuat masyarakat semakin tergantung, dan enggan melepaskan GNI dari wilayah mereka (atau begitu juga sebaliknya dengan para staff?), hehehe…
Program yang berjalan seolah membuat mereka terus menerus mengharapkan bantuan, walaupun menurutku pribadi sebetulnya mereka banyak yang tidak tepat lagi untuk menerima bantuan karena mereka mampu secara materi. Terlepas dari itu, barang gratis sekecil apapun, memang selalu berdaya tarik ya.
Anak-anak di wilayah ini sepertinya lebih berani mengungkapkan keinginannya, mengungkapkan cita-citanya. Mereka bisa berkomunikasi dengan baik, dalam artian tidak diam saja dan malu-malu ketika ditanyain (wawancara).
Walaupun ada juga yang lebih tertarik bekerja di pabrik selepas SMP dan tidak ingin meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini karena banyaknya pabrik-pabrik di sekitar sini yang tentu saja memang membutuhkan banyak tenaga kerja. Iming-iming modernisasi seperti mempunyai HP sendiri, tentu adalah salah satu sebab godaan itu.
Dengan berjalannya waktu, di sisa-sisa batas waktu program, semoga para staff CDP Sukabumi ini berhasil membawa masyarakat untuk bertransformasi, memberdayakan masyarakat menjadi masyarakat yang mandiri dan tidak terus-terusan hanya mengandalkan bantuan. Menjadikan masyarakat masa depan Indonesia benar-benar membanggakan. Aamiin.

Miss You Sukabumi,
(Oh, ya… ada yang lupa kutulis, ternyata jalan di Sukabumi ini macetnya sudah sama parahnya dengan Jakarta…, byuhhh….)


            Botraman di kantor CDP GNI Sukabumi sesaat sebelum kami meninggalkan Sukabumi




Jakarta, 8 Mei 2016
Bogor dan Bekasi bersambung yaaa……



Jumat, 01 April 2016

Ragam Kehidupan



Sejak pindah tempat tinggal, aku hampir tidak sempat lagi menulis. Padahal sebenarnya begitu banyak hal-hal menarik di sekitarku yang dapat menjadi bahan tulisan. Tapi apa daya, tangan dan kaki hanya sepasang, dan tubuhpun hanya satu.

Kali ini, ada lagi hal yang menggelitik hatiku dan tidak dapat  menahanku untuk tidak menulisnya. Yaitu tentang anak.
Ya, anak. Anak adalah titipan Tuhan. Kita hanya dapat menerima apapun yang Diberikan oleh Tuhan, kemudian berusaha menjaga titipan itu semaksimal mungkin. Bagi yang belum sempat Dititipi oleh Tuhan, hanya dapat berdo’a dan berupaya.

Nah, ada seorang kenalan baru yang bercerita padaku. Dia dan suaminya sudah 15 tahun menikah dan belum dikaruniai momongan. Segala do’a dan upaya sudah dicobanya, tetapi rupanya memang masih belum mendapatkan anugerah itu.
Di salah satu upayanya beberapa tahun yang lalu, adalah upaya yang menurutku cukup miris dan menyesakkan dada.
Dia bercerita:
“Waktu itu aku sudah beberapa tahun menikah mbak, dan sudah ingin sekali menimang anak. Tiba-tiba rekan kerjaku yang sedang hamil bercerita padaku, bahwa dia sejak gadis sampai menikah itu belum pernah sama sekali menstruasi. Ya, dia tidak pernah mendapat haid sama sekali padahal dia wanita tulen. Tapi saat ini dia sedang hamil.”
“Ternyata rekanku itu dapat hamil karena dia pergi ke ‘orang pintar’ mbak, dan dia menawarkan padaku, apakah aku mau mengikuti jejaknya.”
“Pikiranku gini, dia yang nggak pernah haid saja bisa hamil, masak aku yang normal tidak dapat hamil. Jadi akupun mau mbak. Aku dikasih alamat ‘orang pintar’ itu.”
“Akupun hamil mbak…”

“Tunggu. Tunggu….!!” Kusela ceritanya.
“Gimana caranya koq jadi hamil karena pergi ke dukun? Emang disuruh ngapain??!!” Aku benar-benar penasaran.
Kenalanku ini meneruskan ceritanya:
“Aku dan suamiku tiap hari datang ke ‘orang pintar’ itu, rumahnya daerah Krian. Aku dikasih air yang harus kuminum. Itu saja. Syaratnya aku nggak boleh ke dokter.”
“Aku memang hamil. Diperiksa lab di situ juga hasilnya positif hamil.”
“Tapi ada perkembangan di janin nggak? Perut tambah gede nggak?!!” tanyaku.
“Aku nggak tau mbak, kan nggak boleh periksa ke dokter. Tapi yang jelas badanku memang tambah gemuk mbak, dan aku juga nggak dapat haid.” Jawabnya.
Bisa begitu ya, pikirku. Dukun tadi sakti amat ya….
“Terus, pas usia kandungan sekitar tujuh bulan, aku ngerasa aneh. Koq badanku sakit semua dan perutku tidak ada pergerakan sama sekali. Akhirnya aku sama suami berembuk, dan nekat pergi ke dokter.”
“Hasilnya….., saat itu juga dokter menyuruh aku kuret. Harus.”
“Emang kenapa? Meninggalkah bayinya?” Tanyaku.
“Aku nggak tau mbak, suamiku yang dikasih tau dokter…., aku nggak boleh tau…” Katanya.
“Terus, teman kerja tadi kehamilannya gimana?!” tanyaku penasaran.
“Setelah hamil kan aku keluar kerja dan nggak ada kontak lagi sama teman tadi mbak…”
“Tapi orang yang ingin hamil dan pergi ke ‘orang pintar’ tadi bukan cuma aku mbak…., banyyakkk….”
“Waktu itu bayar berapa ke dukun itu?” Tanyaku.
“Yaah, lupaa…., tapi ya lumayanlah…” Katanya tersipu.
Wah, kaya tuh si dukun, pikirku.

Terus terang aku gemas mendengar cerita kenalanku ini, sebab sungguh ajaib di jaman sekarang ini koq dia dan suaminya masih percaya sama hal yang nggak masuk akal itu.
Sama ajaibnya kalau ingat cerita ibuku dulu, bahwa katanya ibuku dulu pernah kehilangan kehamilannya yang sudah usia tujuh bulan.
Jadi ceritanya ibuku hamil nih, sudah usia tujuh bulan (kalau nggak salah, hamil ‘adikku’ yang ke sekian). Nah, suatu malam, tiba-tiba dalam tidurnya ibuku bermimpi didatangi seorang laki-laki tidak dikenal yang bilang gini, “Nduk, anakmu tak jupuk yo..”
Dan keesokan paginya, perut ibuku sudah kempis. Hamilnya hilang. Ibuku pergi periksa ke dokter, kata dokter tidak ada janin lagi, tapi memang rahimnya bekas hamil. (???)
Cerita yang ajaib kan?!
Bagaimana menurut anda???
Hehehe…..



Malang, 1 April 2016
#sampai sekarang tetap nggak habis pikir