Rabu, 14 Agustus 2013

Styrofoamkah Itu?




Seminggu lebih tidak keluar rumah, otomatis jadwal acaraku adalah nonton TV, browsing, tidur, dan masak mie instan kalau lapar. Sudah, itu saja berulang-ulang sampai rasanya jadi orang paling tidak berguna sedunia.

Mengikuti jadwal nonton TV anakku, aku masih bisa bernafas lega sebab ternyata acara yang ditontonnya masih dalam kategori yang kuijinkan. Dia masih suka nonton Mr. Bean, Sponge Bob, Si Bolang, Pengetahuan tentang Alam, Flora dan fauna, serta beberapa acara komedi. Aku tidak suka kalau dia nonton sinetron yang gak jelas-gak jelas, gak ada manfaatnya.

Salah satu acara komedi bersetting wayang modern dari salah satu stasiun televise swasta yang tiap malam ditontonnya itu lumayan menghibur juga. (Mungkin akan ada yang bilang kalau aku ketinggalan jaman ya, karena acara itu kan sudah lama…., kemana aja selama ini?! Hehehe…., maklum, aku kan jarang di rumah, jam-jam acara itu ditayangkan biasanya aku masih di perjalanan atau bahkan mungkin masih di lokasi survey)

Sungguh, acaranya inovatif dan kreatif, para pemainnyapun ekspressif. Akupun sering tergelak-gelak ketika menontonnya. Tetapi ada satu yang mengusik hatiku tentang property yang digunakan yang selalu ditulis di bawah layar yang menjelaskan kalau property itu tidak berbahaya. Tidak berbahaya dalam artian tidak sakit kalau dipukulkan, jadi anak-anak dilarang meniru memukul temannya dengan kursi, balok, atau apapun lainnya yang terbuat dari bahan aslinya karena yang di tivi itu bukan asli. Kurang lebih pasti seperti itu maksudnya.

Tapi bagiku, aku  melihat property itu sangat berbahaya untuk kehidupan masa depan. Kalau nggak salah, property itu terbuat dari Styrofoam ya? Styrofoam yang kata lainnya adalah sampah abadi? Sampah yang tidak akan pernah terurai sampai kapanpun. Walaupun katanya sekarang ada bahan lain yang dapat ditambahkan pada proses pembuatan Styrofoam itu sehingga benda ini menjadi ramah lingkungan dan akan dapat terurai dalam waktu 4 tahun. Memang lumayan ekstreem bila dibandingkan sampah plastic yang baru akan terurai selama 500 tahun.

Walaupun misalnya Styrofoam ini dapat terurai dalam waktu 4 tahun, tapi kalau tiap hari limbah yang dihasilkan dari acara-acara tivi semacam ini bisa satu ruangan banyaknya…., belum lagi yang dijadikan pembungkus makanan, rasanya tidak perlu waktu lama lagi untuk dapat membuat bumi ini segera tertutup dengan limbah tersebut dan kita semua berenang di atasnya. Selamat datang dunia baru, Dunia Styrefoam!

Yang kuherankan lagi, kenapa juga benda ini masih terus diproduksi dan dipakai untuk berbagai hal di dunia ini, sedangkan para ilmuwan sudah mengisyaratkan dampaknya? Bahkan sebagai pembungkus makananpun benda ini berbahaya untuk kesehatan. Komponen dalam Styrofoam ini (benzen, carsinogen, dan styrene) dapat menimbulkan kesrusakan pada sumsum tulang belakang, menimbulkan anemia dan mengurangi produksi sel darah merah hingga meningkatkan resiko kanker. Apakah hanya karena nilai ekonomisnya yang tinggi sehingga kita harus mengorbankan anak cucu kita?

Di sisi lain kita sudah dihimbau untuk sehemat dan sebijaksana mungkin dalam menggunakan kertas, karena semakin banyak kertas yang kita pakai, akan semakin banyak pula pohon yang kita tebang. Ini kan katanya supaya kita membantu menjaga bumi ini supaya tidak cepat gundul dan mengulur serta mengurangi dampak global warning. Tapi kenapa di sisi lain malah memproduksi limbah?

Entah apa yang kulihat di tivi ini memang benar Styrofoam ataukah hanya mata dan otakku saja yang parno sehingga melihat semua benda seolah calon limbah semua.




Bogor, 15 Agustus 2013

Senin, 05 Agustus 2013

Kolong Jembatan




Kolong Jembatan Layang di Grogol. Siapa yang pernah lewat situ? Yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya mungkin pernah kan? Minimal naik mobil dan melintas di bawahnyalah…. Tapi mungkin tidak banyak yang memperhatikan kalau sungai yang memisahkan dua lajur jalan raya itu airnya hitam lehek-lethek kayak lumpur, kotor buanget-nget-nget-ngetssss…

Beberapa kali aku sempat menapakkan kaki di area itu ketika aku turun dari busway untuk berburu responden yang kebetulan tinggal di daerah itu, dan beberapa kali pula aku sempat memperhatikan betapa kotornya air sungai itu.

Berbagai macam limbah menyatu di sana dan membentuk ‘kelethekan’ itu, ffuuih!! (Aku belum menemukan padanan kata ‘kelethekan’ dalam Bahasa Indonesianya, jadi buat yang tidak mengerti artinya, mohon maaf… hehehe…..). Kulihat permukaannya seolah tidak mengalir, entah di bagian dalamnya yang aku belum pernah masuk menyelaminya dan tidak akan pernah mau, tapi banyak  gelembung-gelembung kecil yang muncul ke permukaan dan tidak lama kemudian pecah.

Kucoba menggunakan kekuatan sinar X dalam pandanganku (yang ternyata aku tidak punya) untuk mencoba menembus apa yang ada didalam air sungai ini. Apakah ada organisme hidup yang mampu bertahan di dalam situ? Kalau bukan organisme hidup, darimana pula gelembung-gelembung itu muncul?

Puas memandangi air sungai, aku melepaskan pandanganku ke sekeliling. Loket penjualan tiket busway yang berada di wilayah ini, seolah menyatu dengan komunitas sekitar. Entah siapa yang duluan ada. Loket tiket busway ataukah komunitas itu karena sekarang ini semuanya sudah saling berhubungan.

Ada area parkir motor dan mobil, ada pedagang asongan yang standby di sekitar jembatan busway, dan ada banyak lapak-lapak tempat tinggal yang kebanyakan hanya menggelar alas tidur saja tanpa atap. (Mungkin kalau membuat dinding dan atap kardus, area itu akan tampak sangat kumuh dan pasti akan segera dibongkar KAMTIB). Tetapi perlengkapan hidup mereka lumayan juga. Ada tempat memasak dan menyimpan pakaian. Serta adanya sumur-sumur yang dibuat di pinggir sungai itu.
Bagaimana tingkat kejernihan atau kelayakan air sungai itu? Akupun tidak tahu, tapi yang jelas aku pernah melihat aktifitas ibu-ibu yang mencuci pakaian, bahan makanan dan anak-anak yang sedang mandi ketika melintas di situ.

Yang lebih menarik dan membekas di kepalaku sampai sekarang adalah, aku pernah melihat seseorang yang sedang belajar dan bermain dengan anak-anak kolong jembatan itu. Sayangnya saat itu aku sedang terburu-buru sehingga tidak sempat berhenti untuk mencari tahu. Kamera HP-ku juga tidak cukup canggih untuk mengabadikan suasana saat itu.

Yang jelas aku melihat seorang laki-laki putih bersih, sekitar umur 30-an, berkacamata, memakai baju batik merah lengan panjang, bersepatu kulit warna hitam yang dibahunya tergantung megaphone. Dia berdiri di tengah dan dikelilingi anak-anak yang sedang bernyanyi. (Tidak jelas apakah laki-laki ini sendirian saja atau bersama seseorang atau rombongan, karena kulihat banyak juga yang menonton aktifitas ini). Kalau melihat jumlahnya, anak-anak itu lumayan banyak….., kurasa lebih dari 20 orang. Aku juga tidak tahu apakah mereka hanya anak-anak yang tinggal di kolong jembatan ini saja ataukah anak-anak jalanan dari sekitar tempat itu. Sayang benar tidak banyak informasiku tentang ini karena keterbatasanku. Maybe next time.

Tulisan ini adalah salah satu cerita yang sempat tertunda karena keterbatasan waktuku (salahkan saja terus si waktu ini), yang membuat memoriku selalu memutar gambar orang berbaju batik merah itu. Semoga setelah kutuangkan ke sini, bayangan orang berbatik merah itu tidak akan terus menghantuiku, walaupun sangat sedikit yang dapat kutulis….. hehehe…..


Bogor, 6 Agustus 2013

Senin, 29 Juli 2013

Cobaan




Pengeras suara di Stasiun Pasar Minggu memberitahu kalau Kereta Comuter Line jurusan Bogor masih belum berangkat dari Stasiun Jakarta Kota, tapi Comuter Line yang hanya sampai Stasiun Depok Lama sudah berangkat dari Stasiun Cawang dan Stasiun Juanda. Oke deh, aku naik Kereta yang ke Depok ini aja, pikirku sambil melihat jam di HP-ku yang menunjukkan waktu sekitar jam sepuluh malam lebih.

Maka sekitar setengah jam kemudian akupun turun di Stasiun Depok Lama menunggu Kereta jurusan Bogor. Aku duduk di bangku peron 4 yang terbuat dari potongan rel. Pandanganku kuputar sejauh mataku dapat memandang. Masih lumayan banyak calon penumpang yang sedang menunggu Kereta ke Bogor sepertiku, baik laki-laki maupun perempuan. Beda banget dengan suasana Stasiun Senen kalau malam hari. Suasananya sepi, calon penumpang hanya bertiga termasuk aku, lampunyapun merah sehingga meninggalkan suasana seram. Waktu itu aku malah berpikir kalau aku sedang ikut uji nyali, hehehe….

Tidak lama kemudian, Kereta tujuan terakhir Depok Lama kembali masuk. Para penumpangpun keluar. Ada yang sebagian langsung menuju pintu keluar, tapi ada juga yang mencari tempat duduk menunggu Kereta selanjutnya yang tujuan Bogor. Termasuk dua orang wanita muda yang duduk di sampingku. Salah satunya yang berambut pendek menggendong bayi yang tampaknya masih bayi banget, sedang yang berambut panjang membawa tiga tas, termasuk tas bayi dan botol-botol susu.

Aku menengok kepala bayi yang dekat di sebelah kananku dan membantu menutupkan ubun-ubunnya dengan selimut karena agak terbuka. Kasihan, sudah malam, nanti masuk angin.
Tiba-tiba si ibu yang menggendong bayi terisak, aku kaget. “Sudah, jangan nangis ya… sabar…” kata teman jalannya tadi yang sekarang berdiri di depan si ibu sambil mengusap air matanya.
Aku belum sempat bersuara ketika ibu-ibu di sebelah kanannya bertanya, “Umur berapa bayinya?”
“Dua bulan bu….” jawab keduanya.
“Kenapa nangis? Anaknya sakit?” tanya si ibu lagi.
“Ini baru keluar dari Rumah Sakit bu, pulang paksa…” jawab yang berdiri dan agak mudaan dari si ibu yang menggendong bayi, mungkin adiknya, saudara, atau tetangganya.
“Koq pulang paksa? Sakit apa?”
“Dua hari mencret-mencret, kata dokter harus opname…, jadi dari kemarin diopname, tapi hari ini terpaksa harus pulang sebab kakaknya meninggal bu….” kata yang muda.
“Anak saya meninggal bu….” Samar-samar kudengar lirih suara si ibu di sela isaknya.
“Inna Lillahi Wa’inna Illaihi Roji’un, kakaknya siapa yang meninggal?” tanya si ibu lagi. Dalam hati aku juga mengucapkan Inna Lillahi Wa’inna Illaihi Roji’un.
“Kakaknya si bayi, anak pertama ibu ini…” kata yang muda lagi. Sementara si ibu yang menggendong bayi itu masih tetap terisak-isak. Aku hanya mendengar tanpa kata.
“Jadi ceritanya, waktu si bayi harus opname, kakaknya dititipkan ke rumah saudara di Tebet. Saya nemani di Rumah Sakit, bapaknya kalau siang kerja. Nah, pas tadi sore saya ke Tebet mau ambil buat saya ajak ke Rumah Sakit, ternyata anaknya nggak ada. Kata saudara dia pulang sendiri naik Kereta ke Citayam…”
“Umur berapa kakaknya itu?”
“Umur 6 tahun, tapi dia memang sudah berani naik Kereta sendiri. Makanya tadi saya langsung nyusul ke Citayam. Ternyata sampai di Citayam saya dikasih tau pak RT kalau dia meninggal hanyut di kali pas mandi sama teman-temannya. Mayatnya masih di rumah pak RT belum di apa-apain. Saya langsung balik lagi ke Rumah Sakit ngabarin ini ke ibunya. Sekarang bapaknya juga dalam perjalanan ke Citayam naik motor.”

Ya Allah, aku terhenyak mendengar cerita itu. Seperti cerita sinetron rohani ketika musibah datang bertubi-tubi tanpa kita dapat mencegahnya dan hanya berharap keikhlasan serta kesabaran kita dalam menghadapinya. Tapi ini nyata! Sungguh terjadi di depan mataku….. Apakah aku akan dengan gampangnya mengucapkan kata itu; sabar, tabah, ikhlaskan? Aku tahu benar bagaimana perasaan si ibu saat ini. Aku tahu betapa hancur hatinya…. Akupun semakin terdiam.

“Sabar ya,….. jangan terlalu sedih, kasihan bayinya yang sedang sakit…” ternyata si ibu di seberang sana mampu mengucapkan kata itu. Diam-diam aku berdiri dari tempat dudukku dan menjauh. Aku tak ingin ada orang yang melihat buram mataku. Hanya do’aku saja di dalam hati, semoga ibu itu tabah menghadapi semua cobaan ini. Percayalah kalau Allah pasti punya rencana indah yang kita tidak pernah tahu. Semoga juga si bayi cepat sembuh sehingga dapat sedikit menutupi lobang di hati ibunya. Aamiin.


Bogor, 30 Juli 2013
(sedang mengorek kembali peristiwa yang sempat terlupakan karena keterbatasan waktu)

Rabu, 24 Juli 2013

Mistery Illahi



Bengong sendiri di kereta kali ini membuat kedua alis mataku harus tertaut, dadaku sesak dan leherku sakit karena menahan sesuatu yang memang harus ditahan.

Pertama, melihat dua mbak-mbak cantik yang santai saja duduk sedangkan di depannya ada seorang ibu-ibu yang kerepotan menggendong anak balitanya yang pingin tidur. Yang seorang tidak berkerudung tapi memakai kaca mata, sedang yang satu lagi cantik sekali. Memakai kerudung warna coklat muda, alisnya berjejer rapi, bulu matanya yang panjang lentik dengan mascara, dan lipstiknya warna bata.
Mungkin si mbak-mbak itu capek berdiri karena sedang puasa, tapi apakah tidak terlintas juga di benaknya kalau mungkin si ibu yang menggendong anaknya itu juga sedang puasa? Atau merasa sayang, sudah bayar tiket tapi harus berdiri?

Hfft…., cantikmu berkurang 50% mbak, kataku dalam hati. Padahal cantikmu bisa berlipat 200% kalau hatimu juga secantik parasmu. 

Akhirnya si ibu itu dipanggil oleh seseorang yang duduknya agak jauh dan memberikan tempat duduknya. Aku tidak sempat melihat, yang memberikan tempat duduk tadi sesama ibu-ibu atau perempuan muda. Beginilah situasi di gerbong khusus wanita, minim toleransi.

Yang ke dua, aku melihat seorang nenek atau ibu beserta anak perempuan yang ketika kuamati, wajah anak perempuan itu mengingatkan aku pada seorang sepupu jauh (satu buyut) berpuluh tahun yang lalu.
Anak perempuan ini tubuhnya tampak berumur sepuluh tahunan, tapi ketika melihat wajahnya, aku rasa usianya mungkin sudah lebih dari itu, karena ternyata anak perempuan ini menyandang keterbatasan fisik dan mental (kuduga), karena air liurnya sering menetes tidak terkontrol. Nenek atau ibunya itu meletakkan kain selendang didadanya supaya bajunya tidak basah. Keluarganya pastilah amat menyayanginya, bagaimanapun kondisinya, sebab anak perempuan ini didandani dengan cantik. Rambutnya dibelah dua dan dikepang kemudian ditekuk serta diberi pita warna merah muda.

Kuduga lagi, anak ini mungkin juga tidak dapat menggerakkan tubuhnya, karena ketika kuperhatikan, kedua tangannya seperti dibalut penyangga seperti anak-anak yang terkena pholio di jaman dulu. Subhannallah. Hanya kepalanya saja yang dapat menengok ke sana ke mari dan kedua matanya tampak ingin tahu mengamati sekelilingnya sementara mulutnya kadang tersenyum lebar. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. 

Ketika tubuh anak perempuan ini agak condong ke samping, si nenek atau ibu itu menepuk pipinya agak keras sambil menegakkan kembali tubuh anak ini. Menegakkan dengan agak kasar seolah menggerakkan benda mati. Sorot matanya yang memandang nenek atau ibunya itu seolah mengatakan, kenapa?

Dadaku sesak, leherku sakit dan mataku berembun karena mencoba menahan tetesannya. Kasihan anak itu, kenapa harus diperlakukan kasar begitu, sedangkan diapun juga pasti tidak ingin tubuhnya condong. Kalau mampu, pasti dia juga akan bergerak sendiri untuk membetulkan posisi duduknya supaya tidak mengganggu penumpang yang duduk di sebelahnya. 

(Aku teringat sepupu jauhku yang juga mengalami kondisi yang sama seperti anak perempuan ini, tapi sepupuku dulu itu masih bisa berjalan terseok-seok karena tubuhnya hanya sebelah yang berfungsi. Air liurnya juga selalu menetes karena syaraf sebelah tubuh tidak terkontrol. Kalau makan sendiri, suapannya sering melenceng melewati mulutnya, sampai ke hidung-hidung, jadi belepotanlah seluruh wajah. Tapi dia tetap makan sambil tersenyum lebar kalau ada yang melihatnya.)

Tapi aku juga tidak menyalahkan nenek atau ibunya itu, mungkin dia memang tidak ingin anak itu mengganggu orang lain, yang akan merasa jijik karena air liurnya yang menetes terus, dan diapun sudah terbiasa menghadapi anak ini setiap saat. Mungkin baginya (perlakuan yang kuanggap agak kasar itu) sudah biasa, ataupun mungkin ada juga rasa lelah. Aku maklum, dan aku yakin kalau nenek atau ibu itu pastilah sangat menyayangi anak perempuan itu dan sama sekali tidak bermaksud kasar.

(Bayangkan seorang perempuan usia 50-60 an yang membawa gendongan kain yang pastilah untuk menggendong anak perempuan se usia 10 tahunan, kemudian ada dua tas lagi yang mungkin berisi baju dan makanan. Apakah bukan rasa sayang namanya kalau dia mau melakukan hal yang tidak ringan itu?)

Sungguh, sendirian naik kereta tanpa ada kesibukan kali ini ternyata sungguh tidak nyaman. Untungnya tiba-tiba hp-ku berbunyi. Ada SMS. Akupun mengalihkan pandanganku ke layar hp, yang ternyata jadi tidak terbaca karena mataku yang buram.


Bogor, 25 Juli 2013
Hari itu puasaku gak batal kan, kan airnya belum turun…..

Senin, 10 Juni 2013

Mistery



Tadinya aku nggak sadar kenapa sering tertidur di saat menemani anakku nonton acara misteri di salah satu stasiun TV Swasta yang tayang di tengah malam, padahal acaranya juga tidak terlalu lama. Parah amat sih mataku.
Kupikir karena aku sudah kecapek-an pulang kerja dan usia yang sudah tidak muda lagi pastilah bikin mata cepat sekali mengantuk.

Aku baru sadar kalau aku ternyata selalu tertidur di saat tayangan iklan, sehingga bangun-bangun acaranya sudah selesai. Habis, acara yang tidak lama itu ternyata iklannya buanyak bangets deh….
Iseng aku lalu mencoba menghitung saat jeda iklan, berapa iklan sih sekali jeda itu, pikirku. Hasilnya?.... Amboyyyyy…. Aduh duh duh duh aduh banyaknya… sekali jeda bisa 15 – 20 produk…… (sambil nyanyiin ya….)

Kalau melihat iklannya yang bejibun (aku curiga, jangan-jangan tayangan acara dengan iklannya, durasinya lebih banyak iklannya deh…!!), itu sama dengan artinya rating acara ini cukup tinggi. Sebab, kalau nggak ada yang nonton, mana mau pemasng iklan menaruh produknya di acara tersebut. Iya kan? Buat yang belum pernah nonton, coba deh sekali-sekali nonton. Kadang aku tertawa geli sebab ternyata jin itu juga ada yang pinter melucu…. Hehehe…..

Kenapa acara mistery, mistis dan sebangsanya ini disukai penonton? Sampai dibela-belain ngintip dari balik selimut karena ngeri (ini kelakuan anakku kalau nonton, hehehe….).

Jawabannya, mungkin karena masyarakat kita, dalam kesehariannya masih amat mempercayai hal-hal semacam ini. Di  aktifitas sehari-harinya mereka tidak lepas dari kejadian-kejadian seperti ini.
Misalnya saja, kalau ada sebuah rumah kosong di sekitar tempat tinggal kita, biasanya akan ada rumor kalau sering ada penampakan di rumah kosong itu, dan ketika ditelusuri oleh tim-tim mistery itu, ternyata memang di rumah itu ada penunggunya jin A, jin B, dan sebagainya.

Kalau secara pribadi sih aku sendiri tidak yakin apakah aku pernah mengalami hal-hal gaib itu. Sebab aku  merasa biasa saja. Walaupun kata ibuku, waktu masih kecil dulu aku beberapa kali mengalami hal gaib itu. Seperti salah satu cerita, (kalau nggak salah, aku masih umur 4 tahun) ketika kami sekeluarga naik Kereta Api dari Surabaya ke Jakarta untuk liburan ke rumah nenekku dari pihak ayah. Saat itu ayah mengantar aku dan adikku ke toilet karena pingin pipis. Aku yang sudah selesai, oleh ayah di suruh menunggu di depan pintu toilet karena ayahku masih membantu adikku.
Berdiri di depan toilet ternyata tidak nyaman karena berkali-kali nyaris terhimpit orang yang lalu-lalang di depan toilet itu. Maka akupun memutuskan untuk kembali sendiri ke tempat duduk dimana ibuku dan salah seorang adikku yang lain sedang menunggu.
Akupun melangkah sambil menengok kanan kiri mencari tempat duduk ibuku. Tidak ada. Jadi akupun meneruskan melangkah ke gerbong lainnya. Begitu langkah kakiku masuk ke gerbong lain itu, aku melihat banyak orang yang duduk di lantai kereta karena gerbong itu tidak ada kursinya.
“Mau ke mana dik?” salah seorang bapak berpakaian kelasi menegurku.
“Mau ke sana…” aku menunjuk ujung gerbong. (aku tidak tahu kalau gerbong ini adalah gerbong barang paling belakang)
“Ke sana mau mencari siapa?” tanya si bapak lagi.
“Mau cari ibu…” jawabku.
“Oh, mau cari ibu ya…. Ayo, sini om antar…” katanya sambil menggendongku dan dibawa ke arah balik.
Aku ingat si om menanyakan sepanjang gerbong ke gerbong, kira-kira siapa yang kehilangan anak, yang akhirnya berhasil menemukan tempat duduk ibuku di gerbong dua dari depan. Ayahku dan adikku juga sudah ada di tempat duduk dan sedang kebingungan karena aku tidak ada.
Asik kan, aku merasa kalau aku hanya melewati sambungan gerbong itu satu kali, tetapi kenyataannya, aku sudah melewati delapan gerbong sehingga sampai di gerbong paling belakang.
Saat itu kudengar orang-orang dewasa tidak percaya aku melangkah sendiri melewati sambungan gerbong kereta sampai delapan gerbong sebab yang orangtua saja harus berhati-hati melompat ketika melewati sambungan itu. Mereka berpikir bahwa saat itu pasti ada ‘sesuatu’ yang menuntun atau membawaku. Wallahu alam.

Waktu sudah besar, ketika sedang campink atau naik gunung, sering sekali di tengah malam yang sepi  di tengah hutan, di lereng gunung itu aku merasa mendengar suara gamelan jawa seperti karawitan yang sedang digelar untuk sebuah acara. Kalau waktu itu sih aku selalu menganggap kalau saat itu pasti sedang ada orang kampung sekitar situ yang sedang punya hajat. Mungkin nanggap wayang sampai pagi, pikirku.

Kalau beberapa waktu lalu, ketika aku masih sering membuat kue untuk dijual pagi hari, sering sekali di jam-jam antara jam 02.00 dini hari sampai jam 03.00, aku keluar melihat-lihat suasana malam sambil mencari daun pandan atau daun pisang yang sering lupa kusiapkan sorenya.
Saat-saat seperti itu aku seperti mendengar keriuhan yang tidak jelas sumbernya. Seperti suara ibu-ibu ngobrol ataupun seperti suara riuhnya pasar. Hiruk pikuk. Banyak suara sayup-sayup tapi dekat tapi tidak jelas sumbernya di mana.
Kadang aku sampai bertanya-tanya, apa tetanggaku yang ini sedang ada tamu sehingga mereka ngobrol sampai pagi, atau mungkin tetangga yang itu? Tapi  tetangga yang itu tidak ada perempuan dewasa lain di rumahnya,…


Pertanyaan-pertanyan itu dulu tidak pernah kucari jawabnya. Kubiarkan berlalu begitu saja. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu aku menonton tayangan mistery di TV dan salah seorang praktisi supranaturalnya mengungkapkan bahwa suara-suara yang muncul/terdengar itu biasanya adalah rekaman peristiwa masa lalu yang pada saat-saat tertentu dapat muncul kembali. Atau bisa juga, di sekitar tempat terdengarnya suara itu memang adalah tempat berkumpulnya makhluk astral atau jin yang memang sedang melakukan aktifitasnya. (mungkin mereka memang sedang berada di pasar dan melakukan aktifitas jual beli seperti kita, manusia)

Kurasa juga para jin itu pasti bukan sengaja menakut-nakuti aku, tapi mereka memang sedang beraktifitas seperti biasa. Aku saja yang salah waktu, harusnya jam segitu kan sedang nyenyak tidur di kasur yang empuk, bukannya keluyuran di kebun mencari daun pandan ataupun daun pisang…. Hehehe….



Bogor, 10 Juni 2013
(Gerimis menemani aku di malam ini, setelah satu hari yang tidak berpihak padaku…..)