Selasa, 15 Januari 2013

Be-te



Kemarin siang, setelah satu jam lamanya nongkrong di stasiun tanpa ada kepastian datangnya kereta yang akan kunaiki ke Jakarta, akhirnya terdengar juga pengumuman dari pengeras suara stasiun yang kurang lebih bunyinya begini, “Kepada para penumpang Tujuan Jakarta ataupun Bogor, kami mohon maaf karena untuk sementara ini belum ada kereta yang dapat diberangkatkan dari Stasiun Bogor ke a rah Jakarta, maupun dari Stasiun UI ke arah Bogor karena sedang ada demo mahasiswa yang menyabotase rel di antara Stasiun UI dan Stasiun Pondok Cina sehingga tidak dapat dilalui oleh kereta.”

Hadew! Apa-apain sih ini?!
Aku bukan melarang mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdemo yang katanya mereka sedang memperjuangkan nasib para pedagang dan pemilik kios-kios yang berada di sekitar Stasiun, tapi aku justru menyayangkan cara mereka menyabotase fasilitas umum sehingga merugikan atau mengabaikan kepentingan masyarakat yang lain yang menurutku sungguh bukan tindakan yang wise.

Semua demo-demo ini bermula ketika pihak PT KAI mengadakan perubahan besar-besaran terhadap penampakan seluruh Stasiun KRL sepanjang Bogor ke Jakarta (Aku tidak tahu apakah stasiun-stasiun dari Bekasi dan tangerang juga mengalami hal yang sama), yaitu membersihkan semua Stasiun dari kios-kios dan pedagang asongan yang ada di sekitar Stasiun. Semua yang semula seperti pasar kecil di dalam stasiun, sekarang jadi plong, terang, legaaa….

Sebetulnya kasihan juga para pedagang asongan dan kios-kios yang sudah sekian tahun menggantungkan hidup dari sini harus di usir begitu saja, sebab kenyataannya memang para pedagang itu amat sangat membantu para penumpang, terlebih kaum ibu yang pulang kerja sudah malam, sedangkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga juga harus tetap dipenuhi yaitu menyediakan hidangan untuk keluarganya, mereka jadi tidak perlu repot-repot pergi ke pasar lebih dulu sebab di stasiun semua kebutuhan sudah ada (mulai dari bumbu, sayuran basah/mentah sampai ayam potong). Mereka juga menjual dengan harga yang bersaing dengan pasar tradisional, atau dengan kata lain : murah. Tapi di pihak lain, ketika stasiun mulai membongkar kios-kios itu, pemandangan yang segar, bersih dan tertata mulai tampak menyenangkan juga.

Nah, ketika acara gusur-menggusur pedagang dan kios-kios ini akan sampai di Stasiun UI, terjadilah demo dari para mahasiswa yang tidak ingin sarana kebutuhan mereka (seperti warnet, fotocopy, dan lain-lain) ini diratakan dengan tanah, yang mana dalam konteks lain mereka juga ingin membela para pedagang ini dari penggusuran pihak PT KAI yang dianggap sewenang-wenang. Aku sempat melihat beberapa kertas bertulisan “Kami Bukan PKL” yang tertempel di kios-kios di Stasiun UI yang belum juga dibongkar ketika seluruh Stasiun yang lain sudah melaksanakan pembongkaran.

Yang agak dipertanyakan adalah kenapa demo itu hanya dilakukan saat-saat pembongkaran untuk wilayah  Stasiun UI saja, kenapa tidak dilakukan pada saat rencana itu baru dimulai yaitu ketika PT KAI mulai menggusur kios-kios dari Stasiun yang lain? Kan kesannya jadi tidak fair dan tidak adil untuk pedagang yang lain sedangkan kondisi seluruh pedagang itu juga sama? Mereka sama-sama membayar untuk sewa kios dan sama-sama tidak mendapatkan ganti rugi apapun.

Dalam hal ini permasalahannya sudah sangat kompleks, sudah terlalu lama kondisi kios-kios itu berada di sana dan itu semua adalah ulah oknum petugas yang mengkomersialkan area stasiun sehingga menjadi kumuh seperti kondisi terakhir, yang sudah tentu uang sewa kios itu tidaklah masuk ke dalam kas Negara.

Masyarakat kita juga begitu, budaya selalu ingin dilayani selalu saja mengedepan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Budaya ingin dilayani ini tercermin dari adanya para pedagang asongan yang datang menghampiri pembeli. Tidak perlu bersusah payah berjalan sekian meter ke toko tertentu atau ke pasar untuk membeli kebutuhannya, semua disorongkan tepat sampai ke depan hidung pembeli.

Terus terang selama ini aku juga menikmati semua kemudahan itu, sekedar membeli tissue ataupun permen saja tidak mau berjalan, tapi diam di tempat sambil menunggu pedagang asongan datang menghampiri. Malas! Sehingga ketika semua itu tidak ada, sempat terkaget-kaget juga, harus mencari-cari dulu, di mana tempat terdekat untuk membeli semua kebutuhan itu.

Untuk melakukan perubahan dari yang sudah ada menjadi hal yang lain, selalu ada yang harus dikorbankan, dan sayangnya sekali lagi memang harus masyarakat kecillah yang menjadi korban kondisi ini. Kondisi oknum-oknum yang korup yang menyalah gunakan kekuasaan dan akhirnya menyengsarakan masyarakat. Aturan dibuat sendiri dengan imbalan sekian rupiah yang ujungnya juga tidak bertanggung jawab.

Jadi, kalau memang mahasiswa itu mau berdemo, demolah instansi atau oknumnya yang membuat semua ini terjadi, bukan menghambat atau menyabotase jalur kereta yang penumpangnya tidak ada kepentingan langsung dengan aturan itu. Apakah tidak terpikirkan oleh mereka bahwa penumpang kereta itu semua punya kepentingan juga yang harus tetap mereka lakukan? Yang akhirnya harus berantakan karena adanya sabotase itu? Yang akhirnya harus merobah semua jalan kehidupan mereka, padahal mereka sungguh tidak bersalah?



Bogor, 15 Januari 2013
(Sambil nulis ini aku masih be-te, padahal kata seorang teman, untuk meredam ke be-teanku, sehari tadi aku disuruh mlungker aja di rumah)

Sabtu, 12 Januari 2013

Serba Salah atau Memang Harus Begitu?



Tadi aku pulang naik Comuter Line Kereta Khusus Wanita, jadi rangkaian kereta sebanyak 8 gerbong ini penumpangnya wanita semua dan balita. Hari Sabtu, jam tiga sore, keretanya sudah lumayan penuh walaupun tidak sepadat kalau gerbong campuran. Sudah banyak ibu-ibu yang duduk di lantai kereta beralaskan koran di bagian pintu yang tidak terbuka (seperti kelakuanku).

Aku berdiri sampai sekitar stasiun UI Depok, sebab ibu-ibu yang duduk di depanku tampaknya akan turun di Pondok Cina. Akupun duduk di tempat ibu-ibu tadi, lumayanlah masih lima stasiun lagi untuk sampai di tempat tujuanku.

Aku melepaskan pandanganku ke seluruh ruangan/gerbong. Semua penumpang adalah wanita termasuk kondekturnya, kecuali petugas keamanan kereta dan beberapa anak laki-laki kecil (balita). Sebab ketika ada seorang ibu membawa anak laki-laki yang berusia 6 tahunpun dipersilahkan turun oleh petugas. Diberitahu untuk naik kereta berikutnya saja yang campuran.

Hal seperti itu beberapa kali kutemui ketika aku naik kereta rangkaian khusus wanita ini, anak laki-laki di atas 5 tahun tidak boleh naik. Makanya suatu ketika, waktu aku mengajak anakku yang laki-laki (usianya 11 tahun), dan terpaksa naik ke gerbong khusus wanita karena saat itu kereta sudah mau jalan, akupun berusaha mencari jalan untuk pindah ke gerbong campuran. Tapi ada ibu-ibu yang bertanya padaku, “Mau kemana Bu?”
“Mau ke gerbong sebelah Bu, anak saya kan laki-laki…” jawabku.
“Ah, sudahlah di sini saja, tidak apa-apa…, orang masih kecil gitu…” jawab ibu itu. Kudengar beberapa orang juga menyatakan setuju.
“Iya Bu, nggak papa… di sini saja…”
Akhirnya akupun tetap di gerbong itu. Dan kulihat ibu-ibu yang lain juga tidak merasa keberatan. Mereka akan tampak keberatan kalau ada anak laki-laki yang tampaknya ABG atau yang usianya mungkin usia anak-anak SMP ke atas. (Ya iyalaaahhhh…, itu sih bukan anak-anak lagi, tapi laki-laki dewasa…. Hehehe…)

Waktu melihat ibu-ibu dengan anak laki-laki umur 6 tahun yang dipersilahkan turun di stasiun berikutnya oleh petugas, beberapa ibu-ibu tampak membicarakannya, “Kasihan,” kata mereka.

Iya sih, aku juga merasa kasihan sebetulnya. Tapi itu peraturan, dan di kereta rangkaian khusus wanita ini memang peraturannya agak ketat dalam artian betul-betul berusaha memenuhi semua aturan yang ada. Kursi prioritas untuk Ibu Hamil, Membawa Balita, Manula ataupun Penyandang Kekurangan Fisik, adalah kursi yang paling terakhir terisi. Bila terisipun pasti akan diminta bila ada penumpang dalam kondisi tersebut naik. (Penumpang yang tiap hari naik kereta akan sebisa mungkin menghindari kursi tersebut karena sudah tahu konsekwensinya kalau duduk di situ, yaitu bakalan diminta pindah…. Hehehe…)

Nah, tadi ketika di Stasiun Citayam ada ibu-ibu yang membawa tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil naik ke kereta yang kutumpangi dan berdiri di depanku, akupun berdiri. Ada dua alasanku untuk berdiri, pertama karena anak-anak itu semua masih balita (berentet deh pokoknya, mungkin setahun sekali ibu itu melahirkan), yang ke dua karena tujuanku juga tinggal satu stasiun lagi.

Ketika kondektur menghampiri si ibu untuk menanyakan tiketnya, si ibu menjawab, “Saya numpang ke Bojong Bu…”
“TIdak bisa begitu bu, ini kereta Comuter, ibu tidak bisa menumpang begitu saja. Ini anak ibu semua? Tiga orang? Ibu dikenakan denda 50 ribu.” kata kondektur. Si Ibu itu diam saja.
“Biarpun cuma satu stasiun, ibu tetap harus beli tiket. Kecuali ibu naik ekonomi, ibu masih bisa numpang-numpang begitu.” si Ibu diam saja. Yah, mungkin pikir si ibu kalau mau diturunin ya turunin saja, orang tujuannya memang cuma satu stasiun.

Ketika kondektur meninggalkan tempat si ibu dan mencari temannya, mungkin mau melapor, kudengar anak si ibu yang paling besar mengatakan pada ibunya kalau dia takut. Ibunya membentaknya sambil mengatakan, kenapa begitu saja takut?

Aku jadi pusing melihat pemandangan ini. Untung aku bukan kondektur kereta yang mungkin akan sering sekali mengalami hal seperti itu setiap harinya. Kalau dibilang kasihan ya memang kasihan, apalagi melihat anak-anaknya yang berentet begitu. Tapi kalau melihat dari sisi kondektur tadi ya memang tidak boleh begitu, karena kalau dilanggar sedikit-sedikit nanti jadi kebiasaan dan peraturan itu lama-lama hanya akan berupa peraturan saja tanpa makna.

Tak lama kemudian kereta sampai di stasiun Bojonggede.  Aku turun, si Ibu dan anak-anaknya juga turun di belakangku. Sudah sampai. Mau apa lagi?



Bogor, 12 Januari 2013

Jumat, 07 Desember 2012

Stasiun Bojonggede



Ada moment yang terlewatkan untuk kujadikan bahan tulisan, yaitu saat ada peristiwa tanah longsor sekitar dua minggu lalu yang mengakibatkan jalur kereta dari Jakarta – Bogor dan sebaliknya Bogor – Jakarta mengalami gangguan, sehingga rute itu menjadi Jakarta – Bojonggede dan sebaliknya Bojonggede – Jakarta karena longsor itu terjadi di antara Stasiun Bojonggede dan Stasiun Bogor.

Stasiun Bogor sebagai Stasiun Tujuan akhir memang adalah Stasiun Besar dan dikondisikan untuk menampung ribuan penumpang setiap saat, beda halnya dengan Stasiun Bojonggede yang hanya sebagai Stasiun Kecil dan belum dikondisikan untuk menampung ribuan penumpang yang turun dari kereta di jam-jam pulang kerja yang frekwensinya setiap sekian puluh menit sekali.

Stasiun Bojonggede yang hanya terletak di sebuah jalan kelas tiga di Wilayah Kecamatan, selama ini hanya menampung sekian persen jumlah penumpang kereta. Para penumpang itu adalah para karyawan penghuni perumahan yang berada di sekitar Kecamatan Bojonggede.

Nah, ketika longsor itu terjadi, semua jadwal kereta kacau balau. Tetapi sebagai sarana utama transportasi masyarakat, kereta harus tetap difungsikan dengan tujuan akhir dari Jakarta menuju Bogor hanya sampai di Stasiun Bojonggede saja, yaitu dua stasiun lagi sebelum Stasiun Akhir Bogor.

Frekwensi kedatangan kereta yang cukup sering di setiap sore sampai malam hari dengan jumlah penumpang yang turun ribuan orang yang sebagaian besarnya masih harus menyambung dengan angkot ke Bogor, benar-benar membuat jalan di sepanjang depan Stasiun Bojong menjadi macet total. Para penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanannya ke Bogor saling berebut angkot, dan angkot-angkotnya sendiri sampai kuwalahan melayani membludaknya kebutuhan penumpang. Belum lagi ditambah beberapa kendaraan lain yang kebetulan lewat depan Stasiun Bojonggede, orang-orang yang belum berhasil mendapatkan angkot dan kemudian berjalan di sepanjang jalan menambah penuhnya jalanan itu.

Seorang tetanggaku bercerita ketika suatu saat dia baru pulang kerja. (Tetanggaku ini biasa membawa motor sendiri dari rumah dan diparkir di Tempat Parkiran sekitar stasiun yang banyaknya seperti jamur di musim hujan. Setiap halaman rumah atau sedikit lahan yang agak lengang pasti langsung disulap jadi tempat parker). Ternyata situasi macet parahnya di jalanan sepanjang Stasiun Bojonggede itu sungguh luar biasa.

Jarak yang dalam situasi normal biasanya hanya ditempuh sekitar lima menit saja, ketika macet itu dia baru sampai di rumah kira-kira satu jam kemudian. Hadewww…      Aku sendiri memilih naik ojek dari Stasiun ke rumah karena tukang ojek yang nota bene adalah penduduk asli di Bojonggede ini pasti kan tahu jalan-jalan tikus yang dapat dilaluinya untuk sampai ke rumahku, sehingga aku tidak perlu ikut terjebak kemacetan di antara orang-orang Kota Bogor yang terpaksa terdampar di Bojonggede ini.

Terganggunya rute dan perjalanan KRL dari Jakarta – Bogor dan sebaliknya Bogor – Jakarta, sungguh besar sekali dampaknya ke hal-hal yang lain. Salah satunya adalah kios-kios pedagang kaki lima mulai yang jualan pulsa sampai jualan sayuran dan ikan mentah yang tadinya berada di dalam Area Stasiun dan menjadikan Lokasi Stasiun menjadi mirip pasar, sekarang sudah tidak ada lagi. Suasana Stasiun Bojonggede jadi lega dan terang benderang….. hehehehe…. (Susahnya, aku tadi mau beli tissue dan permen saja  nggak jadi karena nggak ada lagi orang yang jualan. Kasihan, mereka jadi jualan di mana ya….).

Memang setiap hal kan selalu ada resikonya, baik resiko bagus atau resiko jelek. Seperti sebuah pilihan, selalu ada yang harus diabaikan. Sedih memang kalau harus ada yang dikorbankan. Tapi mau bagaimana lagi, sekali lagi hidup ini adalah pilihan.



Bogor, 7 Desember 2012

Senin, 03 Desember 2012

Melihat dari Atas Awan



“Melihat dari Atas Awaannnn,… sejauh mata kulepaskaaannn…. “ Eh, salah ya…. Hehehe….  Itu kan syair lagu yang bunyinya ‘Melihat dari Atas Bukiiiittt, … sejauh mata kulepaskaaannn…’

Kalau melihat dari atas awan, seolah aku punya ilmunya orang-orang dulu yang bernama ‘ngrogoh sukmo’, bisa memonitor diri sendiri dari awang-awang dan melihat tubuhnya jauh di bawah sana.

Dari atas awan aku juga bisa melihat aku yang sedang berjalan seolah berputar saja tak tentu arah. Sekali-sekali kepinggir arena nyamperin seseorang yang sebelah kakinya terikat tapi tangannya dapat menggamitku. Terkadang lagi ada seseorang yang berjalan di sampingku menemani sampai titik tertentu. Tapi ada juga yang hanya dapat memperhatikan aku dari balik pagar tanpa dapat mendekatiku. Ada juga pintu yang terbuka untuk didatangi, tapi sayang di sana tidak ada penghuninya.

Tiba-tiba aku melihat dua sosok bernuansa kontras, boleh hitam dan putih, boleh merah dan putih, boleh apa saja…., asal mencerminkan dua karakter yang bertentangan, yang datang menghampiriku.

Yang berwarna, berekor dan bertanduk  tampak memelukku dengan gaya sok akrab. Di tangannya memegang sebuah hati yang kelihatan menggiurkan karena masih berlepotan cinta, emosi dan nafsu… Sementara yang putih hanya mengikuti saja setiap langkahku dengan tenang.
“Ambil nih, hati ini bisa jadi milikmu…..” bisik makhluk berekor.
“Emangnya gak ada yang punya?” kudengar aku menjawab dengan hasrat berbinar.
“Ah, tadi kutemukan di suatu tempat…, sepertinya memang menunggumu untuk mengambilnya.” kurasa aku jadi ge-er mendengar rayuan itu. Aku meraih sepotong hati itu dengan haru. Kubawa ke dada untuk kuletakkan di sana.

Tiba-tiba, makhluk putih yang dari tadi hanya diam saja menghampiriku dan mengelus kepalaku dengan sayang (yang ini tampaknya juga sok akrab deh…). Yang berekor sedikit terlempar ke belakang.
“Sebaiknya jangan langsung diambil, sebaiknya periksa dulu baik-baik. Apakah benar hati itu tidak ada yang punya?” bisik makhluk putih dengan lembut dan nyaris tidak terdengar. Aku sampai harus memanjangkan kupingku supaya dapat mendengarnya dari atas awan ini.
“Tenang saja, tadi sudah kuperiksa koq…., aku yakin hati itu memang untukmu…” teriak makhluk berekor dari belakang.
“Kembalikanlah….” bisik makhluk putih itu lagi.

Kulihat aku menjadi bimbang. Naluri manusia dan egoku tampaknya sudah terbujuk. Aku pasti membayangkan indahnya dunia bila berhasil memiliki hati itu. Kesepian pasti terobati. Kerinduan pasti terlunasi.
“Kenapa harus kukembalikan kalau aku dapat memilikinya sekarang? Kenapa aku tidak boleh memilikinya?”
“Cobalah untuk bertahan, mungkin nanti atau di tempat lain, akan ada hati yang memang benar-benar dapat jadi milikmu…” bisik si putih lagi.

Dengan bercucuran air mata, aku meletakkan hati itu di sebuah batu di bawah pohon yang rindang supaya tidak kering tersengat matahari.

Tiba-tiba saja si makhluk berekor memukul kepala si putih dengan tombak besinya. “Tunk!!!!”
“Eh, apa-apaan sih kamu…, kalah ya kalah aja, gak usah marah gitu kaleeee…..” si putih balas melempar makhluk berekor dengan kilatnya, "Dhuarrr..!!!"

Dari atas awan ini aku jadi gemas pada mereka semua, giman sih ini…. Masak hati itu ditaruh begitu saja di atas batu, nanti kalau disemutin gimana? Si putih dan makhluk berekor itu juga o’on, ngapain juga mereka jadi perang sendiri di sana?
“Biar kuambil saja hati itu…., biar nggak disemutin…..” pikirku.

Eh, tiba-tiba saja kuping kananku ada yang menjewer….., “Eit, tidak boleh…” aku menengok. Eh, ternyata di situ juga ada makhluk putih yang sedang mengikat kaki kananku dengan tali awan.

Huhuhu……, ya udah, aku jadiin sambal goreng hati aja deh….!!  Aku menengok ke kiri, ternyata di sana juga ada makhluk berekor yang juga sudah membelit kaki kiriku dengan ekornya….., bibirnya tersenyum dan matanya dikedipkan satu ketika aku melihat padanya….

Hastschihhhhh…….., aku bangun aja deh.



Bogor, 4 Desember 2012

Kamis, 29 November 2012

Udin dan Wuri, Rrruarrrr Biasa






Tentang dua orang anak manusia ini, aku dulu juga sudah pernah menulisnya. Waktu itu aku begitu kagum dengan kisah cinta mereka yang kudapat hanya dari cerita beberapa teman dan juga dari katanya si ini katanya si itu. Dulu cerita tentang mereka kutulis dengan judul Cupid Bekerja Dengan Rahasia.

Kuanggap kisah cinta mereka begitu rrruarrrr biasa, sehingga aku tidak bisa tidur kalau belum menuangkannya dari dalam kepalaku. Sebuah kisah cinta yang bukan bermula dari jatuh cinta pada pandangan pertama, bukan pula cinta buta menggebu-gebu yang dapat melahirkan kalimat ‘sampai tidak bisa bernafas tanpamu’. Ini hanyalah kisah cinta sederhana yang tumbuh karena ketulusan hati, dari kebutuhan saling melindungi, tetapi hasilnya adalah cinta gila yang rrruarrrr biasa.

Kemarin, nyaris seharian aku bersama mereka yang kebetulan sedang datang ke Indonesia untuk mengambil data di beberapa kota (sekalian liburan, katanya) guna kuliahnya di University of Hull, Negara Ratu Elizabeth sana. Nah, selama makan siang (sampai waktunya makan malam juga lewat), sambil ngobrolin apa saja mulai dari nostalgia sampai hal-hal terkini itulah aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa apa yang selama ini kudengar tentang kisah mereka itu memang begitulah adanya. Malah yang kudengar hanya lewat cerita saja rasanya menjadi kurang lengkap, padahal biasanya yang namanya gossip itu kan lebay ya…., hehehe…

Mulanya waktu aku dan Iis temanku masih berada di dalam taxi yang baru akan merapat ke Plaza Senayan, kami melihat pemandangan di sebelah kiri yang selama ini sudah tidak asing lagi di benakku, karena aku memang belum pernah melihat mereka dalam keadaan berdua secara langsung. Yaitu pemandangan Udin yang sedang mendorong kursi roda Wuri dengan penuh kasih. (Cerita mereka bermula ketika aku sudah lulus dan tidak pernah datang lagi ke kampus)

Aku dan temanku langsung meminta sopir taxi berhenti dan kamipun melompat keluar, mengejar mereka berdua. Tadinya kami mau mengikuti saja mereka dari belakang, tapi rupanya mereka mendengar suara ribut kami sehingga merekapun menoleh.

Haaa….,  wajah-wajah surprise kami karena rindu yang menahun, pasti asyik sekali kalau ada yang mengabadikan. Dua puluh tahun lebih tak pernah bersua dan hanya berbincang lewat dunia maya. Pelukan dan ciuman serasa lebih panas dari teriknya matahari Jakarta di atas kami saat itu. Hhhh….. lepasssss………

Setelah puas saling menatap, kamipun meneruskan langkah memasuki Plaza Senayan yang sejuk karena AC dari aliran listrik sekian ribu watt yang mungkin juga ada yang menunggak ke PLN, sehingga imbasnya rumahku yang tak ber AC harus siap sedia dicabut kalau telat membayar rekening tiap bulannya,… hehehe….

Kita kembali pada Udin dan Wuri yang selalu membuatku kagum pada cinta mereka.  Setelah mencari-cari tempat yang nyaman di foodcourt lantai tiga, kamipun membooking sebuah meja di depan ‘Masakan Padang’ karena kami ingin makan sayuran. Dari sini respectku pada mereka berdua semakin bertambah.

Mulai mengambil makanan nih, Udin sudah langsung mengambilkan apa saja yang akan menjadi santap siang Wuri tanpa menanyakan mau makan apa, minum apa? Kemudian segelas es buah yang mereka nikmati berdua. Sebotol air mineral yang mereka nikmati berdua. Se cup es krim yang tadinya dinikmati sendiri oleh Wuri akhirnya disikat pula oleh Udin.

Sekarang tentang bahan pembicaraan nih, betapa kudengar mereka saling melengkapi setiap kalimat yang keluar dari bibir masing-masing. Begitu juga halnya tentang prinsip, visi, dan isi otak mereka berdua yang kurasa benar-benar sama.

Tentu saja hal ini membuatku terkagum-kagum. Amazing, kata Tukul. Begitu kompaknya mereka, dua kepala dan dua jiwa yang berbeda, bisa menjadi satu. Ketulusan itu benar-benar tampak diantara mereka karena keduanya adalah pemegang prinsip putih adalah putih, hitam adalah hitam, tidak ada dalam kamus mereka yang namanya abu-abu. Semua harus terang benderang dan berjalan di relnya masing-masing.

Tulisan ini kubuat sebagai ucapan selamat jalan buat mereka berdua yang akan segera kembali ke Inggris, tempat Wuri masih harus menyelesaikan 2 tahun lagi masa studynya di sana. Aku tidak tahu kapan kami dapat bertemu lagi, walaupun dalam asa selalu terucap kata, semoga masih ada umur kita untuk bertemu lagi. Terima kasih untuk waktu yang indah kemarin, Udin dan Wuri. Love you.


Bogor, 30 November 2012