Minggu, 16 September 2012

Tentang Anak Jalanan



Hari ke tiga tinggal di rumah tanpa ada target planning kerjaan yang harus selesai hari ini atau besok koq rasanya aneh juga ya. Maklum, sudah biasa tiap hari dikejar-kejar laporan laporan dan laporan, hehehe…

Mengharap dapat surprise sms seperti dua minggu yang lalu rasanya juga nggak mungkin, sebab dari melek mata subuh tadi hapeku benar-benar anteng, belum bergetar ataupun berteriak-teriak sama sekali (jadi merasa seperti tidak dibutuhkan lagi).

Akhirnya kuambil sapu dan mulai menyapu teras serta warnet. Eh,  waktu aku masih menyapu warnet, tidak lama kemudian ada pengamen yang datang. Sebetulnya dalam hati sempat jengkel juga, masak pagi-pagi sudah ngamen, sedangkan aku nyapu warnet aja masih belum kelar. Tapi kemudian terpikir olehku satu hal, yaitu, mungkin pengamen itu sengaja berangkat pagi-pagi supaya tugasnya mencari nafkah hari ini cepat selesai dan dia bisa pulang lebih cepat sehingga asap di dapur bisa segera mengepul.

Tentang pengamen ini, sebetulnya pikiranku bercabang antara negative dan positif. Sebab, beberapa hari lalu ketika ngobrol dengan teman-teman tentang pengamen dan anak jalanan yang menguasai angkutan umum di Jakarta, wowww…., agak membuatku takut dan ngeri mendengarnya, terlebih yang beroperasi malam hari.

Waktu aku pulang malam berdua dengan temanku, kalau nggak salah sekitar jam sepuluh, kami naik kopaja 75 jurusan Blok M – Pasar Minggu, nanti sampai di Pasar Minggu baru nyambung kereta yang ke Bogor, di tengah perjalanan ada dua orang anak laki-laki yang perawakan dan umurnya kukira tidak jauh beda dengan anakku di rumah, kira-kira masih kelas 5 atau 6 SD. Yang satu naik dari pintu depan sambil membawa mandolin, yang satu lagi naik dari pintu belakang tanpa membawa apa-apa. Tapi ketika anak yang di depan mulai menyanyi, si anak satunya yang di pintu belakang hanya bertepuk tangan mengiringi temannya.
”Tepuk tangan doang lo!” tegur yang di depan di sela-sela nyanyiannya.
“Iya nih, gue capek!” sahut temannya sambil tetap bertepuk tangan.
“Jangan mau enaknya aja lo!” tegur temannya lagi. Waduh, koq mereka jadi bertengkar ya… Akupun menoleh ke belakang mencoba menghitung berapa banyak penumpang di belakang, sebab yang di depan kami cuma 6 orang, 8 orang dengan kami dan itupun cewek semua. Ditambah sopirnya cowok dan keneknya cewek. Ternyata di belakang kami duduk masih ada 2 orang cowok yang duduknya berjauhan.
Aku ngeri membayangkan kalau dua orang pengamen itu jadi berantem di sini, gimana misahinnya? Sementara hati kecilku miris juga dengan kenyataan bahwa anak sekecil itu harus berkelahi dengan waktu (jadi ingat lagunya Iwan Fals).  

Tetapi bersyukurlah, ternyata anak laki-laki yang di pintu belakang kemudian ikut berteriak menyuarakan lagu dangdut milik orang dewasa yang mungkin sekarang sedang ngetren tapi aku tidak tau lagu apa itu. Aku kemudian sibuk mencari recehan buat ngisi kantong yang diedarkan mereka. Kasihan, seharusnya jam segini mereka sudah tidur di rumah.

Kemarin dulu di tempat kerja, ketika aku dan beberapa teman sedang ngerumpi sambil makan siang, ada yang bercerita saat dia sedang naik kopaja (ke arah mana aku lupa, tetapi malam hari juga), pas di lampu merah, tiba-tiba ada dua orang anak  remaja tanggung laki-laki yang berpakaian gaya punk yang melompat naik ke atas bis. Salah seorang dari mereka berteriak ke penumpang, “Hooiii….., siapa yang tadi ngusir adik-adik gue yang lagi cari makan turun dari sini?!” katanya sambil menggebrak body dan atap bis dengan sarung tangan besinya yang berduri-duri itu. Sarung tangan atau senjata apa sih itu namanya yang dipasang di antara jari-jari tangan dengan duri-duri dari besi.
“Eh, ada seorang bapak-bapak yang nyahut, dia ngaku kalau dia tadi yang ngusir anak-anak itu karena mereka tidak sopan.” kata temanku, “Ya ngamuklah itu anak dengarnya… Dia berteriak teriak sambil mengancam si bapak di suruh turun. Tapi si bapak nggak mau turun, dan entah kenapa mereka berdua cuma berteriak-teriak dari pintu doang, bukannya langsung nyeret si bapak turun.”
“Turun sini lo pak, mati lo sama gue!!” kata temanku meneruskan ceritanya. Sementara dalam hatinya dia takut banget dan menyumpahi lampu merah yang nggak hijau-hijau.
“Ya jangan sampai membunuhlah…, eh, si bapak nyahut lagi. Bego banget tuh si bapak.” katanya lagi. Sementara si anak jalanan itu tetap teriak-teriak sambil menggedor-gedor bis.
“Kenapa lo nggak turun aja?!” tanya temanku yang lain.
“Gila lo, ya gue lebih takut lagi kalau turun. Orang mereka pas berdiri di depan gue…., kalau mereka tambah ngamuk liat gue turun dan duri besinya itu digoserin ke pipi gue gimana?!” sahutnya.
“Nah, begitu lampu ijo nyala, turunlah mereka. Si bapakpun langsung diomelin orang-orang se bis. Dibilang, lain kali jangan pakai ngusir-ngusir anak jalanan kayak tadi. Biarin aja, namanya juga anak-anak jalanan, mau disuruh sopan gimana lagi…” kata temanku dengan emosi.
“Iya, kalau di kendaraan umum ada anak-anak pengamen atau yang minta-minta seperti itu, mending kasih seribu daripada bikin masalah. Daripada lo digores siletnya…. Banyak lo yang bawa silet dan disilet-siletkan ke tangannya sendiri sampai berdarah-darah…, bahkan kadang siletnya dikunyah buat nakut-nakutin penumpang…” temanku yang lain menimpali.
“Gue, juga pernah tuh, duduk di belakang. Pas ada sms, gue balesin kan… eh, cewek sebelah gue nyenggol-nyenggol  kasih isyarat ke gue suruh lihat ke arah depan. Ternyata ada dua orang anak jalanan yang matanya langsung melotot ke gue sama hape gue. Langsung tuh hape gue masukin ke tas dan gue dekepin. Bapak-bapak di kiri gue, gue suruh mepetin gue…, biar nggak ada jarak dan anak jalanan itu nggak bisa nyelonong duduk di sebelah gue… Singkong mentah yang tadi gue beli juga gue dekepin di atas tas. Kalau dia mau nusuk, biarin kena singkongnya dulu…” kata teman yang lain.  
“Lo juga yang salah, ngapain ngeluarin hape di tempat kayak gitu, duduk di belakang lagi. Terus, akhirnya gimana?” timpal teman yang lain.
“Akhirnya dia turun tapi sambil nyamperin gue, dan di muka gue dikasih tiga jari tangannya sambil ngatain gue ‘fuck you’…”
Hmmh…. Padahal, kata anak-anak punk… mereka kan bukan criminal, mereka hanya berpakaian berbeda saja dengan orang kebanyakan. Aktifitas dan kegiatan kreatif mereka tidak berbeda dengan yang lain.  Tapi kalau ada anak-anak jalanan criminal yang kebetulan juga berpenampilan ala punk seperti ini, mungkin jangan salahkan masyarakat yang jadi apriori terhadap mereka, sebab kebanyakan orang tidak dapat membedakan dengan jelas, mana anak punk asli dan mana yang palsu, seperti aku juga sih.

Gimana, ternyata aksi anak jalanan yang di bis-bis kota itu lebih mengerikan daripada yang beroperasi di atas kereta ya…  Kalau yang di atas kereta kan paling-paling cuma minta duit sambil mencolekkan tangan dekilnya. Atau kalau yang nyapuin sampah dan nggak dikasih, paling-paling sampahnya ditaroh di kaki kita. Nggak ada yang sampai mau membunuh penumpang kayak gitu. Apalagi pengamennya, nggak ada yang maksa koq. Pengamen di Stasiun Bogor malah banyak kelihatan yang terpelajar.

Kenapa bisa begitu ya…, aku jadi mereka-reka sendiri. Mungkin kalau anak-anak jalanan yang beroperasi di angkutan umum, kalau mereka berbuat kejahatan kan masih bisa lari ke segala arah. Jadi mereka berani bertindak lebih. Sedangkan yang di atas kereta, mau lari ke mana kalau kereta sedang melaju? Apa mau melompat dan kehilangan nyawa? Hehehe…, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa kudapatkan kali ini. Besok, siapa tau aku mungkin dapat pikiran yang lain…., so sekarang udahan dulu ya….




Bogor, 16 September 2012

Sabtu, 15 September 2012

Menata Hati



Saat sang bayu tak lagi
sampaikan salam rindu darinya
Kurasa  harus mulai bersiap diri
menata hati yang mulai poranda

Saat sang bayu tak lagi
sampaikan cerita apapun darinya
Kurasa harus mendekap mimpi
menata hati yang semakin lara

Saat sang bayu tak lagi
menjanjikan apa-apa
Apakah harus berlari
‘tuk sekedar menjemput asa?



Bogor, 15 September 2012
sambil menata hatiku di dalam kulkas (patah hati lagi deh!)

Jumat, 14 September 2012

Rasa Sayang Itu…



Ada dua orang teman kerjaku, seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Mereka berdua itu ibarat amplop dengan perangko, ibarat sendok dengan garpu, ibarat panci dengan tutupnya, ibarat  cobek dan ulekan, ibarat gorengan dengan cabe, ibarat apa lagi ya….., pokoknya yang jelas mereka berdua itu tidak terpisahkan. Dimana ada A di situ ada B. Kalau salah satunya tidak kelihatan, teman-teman yang lainpun ribut bertanya-tanya, kemana buntutnya, koq sendirian aja? Sepertinya memang ada yang kurang pas kalau hanya melihat salah satunya saja.

Tetapi, kedekatan mereka berdua itu, katanya sih hanya sekedar partner kerja saja. Karena sudah terbiasa ke mana-mana ngerjakan tugas berdua, dan kebetulan juga satu team yang selalu dapat tugas yang sama. Apalagi yang cewek sudah berkeluarga dan punya beberapa orang anak. Kalau yang cowok sih memang masih bujangan walaupun sudah beruban…. (dan mereka juga pernah tuh, saling mencari uban seperti tarzan dan titik titiknya ….hehehehe….)

Aku pernah usil bertanya pada temanku yang cewek, “Sebetulnya pernah terlintas nggak sih dalam pikiranmu kalau suatu saat kedekatan kalian ini bermakna lain?”
“Maksudnya mbak?” tanyanya.
“Ya, maksudku… selain kalian saling tergantung dalam hal pekerjaan…., ternyata jauh di lubuk hati ada rasa yang lain…” kataku. Sebab, melihat cara mereka bercanda, berkomunikasi, dan saling memperhatikan, aku koq punya feeling yang lain. Entah kalau aku jadi lebay, tapi biasanya sih feelingku jarang meleset. Seperti dulu, waktu kubilang pada anakku kalau dua orang kakak kelasnya itu saling suka, tapi anakku ngotot kalau mereka berdua hanya bersahabat. Eh… beberapa bulan kemudian ternyata mereka jadian dan sampai sekarang hubungan mereka sudah ada dua tahunan kalau nggak salah.

“Kalau aku sih nggak pernah berfikir sampai sejauh itu mbak, sebab aku kan sudah punya pasangan dengan beberapa buntut…, tapi nggak tau lagi kalau dia… “ jawabnya mengambang, “Aku hanya merasa dia adalah satu-satunya orang yang paling tau bagaimana aku, bagaimana perasaanku…., pokoknya nyaman aja kalau dengan dia.”
“Sering kalau malam-malam aku lagi bête, ku sms dia, kuajak ngobrol sampai larut malam, dan dia juga selalu meladeni.” katanya. Suami temanku ini sering dinas di luar kota, jadi kalau malam dia cuma berteman dengan nyamuk, padahal nyamuk kan nggak bisa diajak ngobrol ya…., makanya dia cari teman ngobrol yang lain, hehehehe…..
“Apa kamu nggak pernah menganggap dia cowok?” tanyaku.
Dia tertawa. Karena hampir semua teman-teman kami selalu menganggap kalau soulmatenya itu agak gemulai, aku jadi ingin tau apa yang ada di dalam hatinya yang paling dalam. Sebab kalau aku sih, aku tidak menganggap aneh penampilan teman kami itu. Aku tetap melihatnya sebagai laki-laki. Sebagai laki-laki dewasa yang juga bisa punya cinta.

Persahabatan antara seorang laki-laki dan perempuan itu sebetulnya wajar saja buatku, karena kebetulan aku sendiri punya banyak sahabat laki-laki. Tetapi aku tetap punya pikiran begini, dua orang laki-laki dan perempuan. Mereka akan bisa dekat (sebagai sahabat ataupun kekasih) kalau dari awalnya ada rasa saling tertarik. Entah itu rasa tertarik secara fisik maupun secara intelektual. Kemudian rasa tertarik itu baru akan berkembang kearah persahabatan ataupun kisah asmara. Kalau sebelumnya tidak pernah ada rasa tertarik mana mungkin akhirnya bisa klik.

Kalau orang Jawa mungkin kebalikannya ya, witing tresno jalaran soko kulino, yang terjemahan bebasnya berarti cinta akan tumbuh karena kebiasaan, karena seringnya bersama-sama.  Kalau dihubungkan dengan kedekatan dua orang temanku itu, aku koq merasa kalau hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi pada mereka berdua. Karena pada kenyataannya, kalau mereka sedang tidak berada di satu tempat yang sama, mereka tetap terus menerus sms-an. Yang dibicarakan temanku itu juga selalu soulmatenya yang sedang berada di tempat lain, jadi kurang tanda-tanda apa lagi coba?

“Gimana ya….” katanya.
“Kamu pikir dia nggak mungkin punya rasa suka ke kamu dan kamu nggak mungkin punya rasa suka ke dia?”
“Nggak tau ya mbak, yang jelas dia memang paling ngertiin aku deh. Pas aku ulang tahun aja dia kasih aku dompet sesuai warna yang kumau dan dia bingung banget pas aku bilang kalau dijual kira-kira laku berapa. Dia pikir aku nggak suka hadiahnya…, padahal aku suka sekali hadiahnya dan aku kan cuma bercanda…” katanya. Kurasa dia mulai berpikir apakah mereka sebenarnya punya rasa yang lain selain yang mereka akui.

Hihihi…., terkadang aku memang usil dan selalu ingin tahu.  Biar saja pertanyaanku tadi jadi pe-er buat temanku itu, kan orang lain tidak ada yang tau isi hati mereka  yang sebenarnya. Biar juga mereka yang menimbang-nimbang sendiri takaran kasih sayang antara mereka. Sebenarnya sejauh apa rasa yang mereka punya… (maksudnya supaya disadari ataupun di akui sejak dini, begituuuu…. Hehehe….).




Bogor, 14 September 2012
(nulisnya ini sambil jadi makanan nyamuk lho)

Rabu, 12 September 2012

Di Stasiun Kereta Tanah Abang



Setelah dua hari selalu pulang (nyaris) tengah malam, akhirnya hari ini bisa juga pulang sore hari…, walaupun sampai rumahnya juga sudah hampir setengah tujuh malam.

Tadi, waktu duduk di peron Stasiun Tanah Abang sambil menunggu kereta yang ke Bogor, aku berdebat dengan temanku tentang jalur mana yang akan dimasuki kereta yang kami tunggu, sebab ketika dari tadi kami sudah menunggu di jalur tiga, ternyata ada kereta ke Depok yang masuk di jalur lima. (Saat itu di jalur tiga memang sedang ada kereta AC Ekonomi Brantas jurusan Kediri yang sudah standby dan siap berangkat)

Kalau dari jalur tiga ke jalur lima tinggal melangkahkan kaki aja sih, kami pasti sudah berada di jalur lima untuk naik kereta ke Depok ini. Tapi, di sini masalahnya adalah, dari jalur tiga ke lima itu kami harus naik tangga dulu, terus nyebrang lewat bangunan di atas rel,  baru kemudian turun lagi masuk ke jalur lima itu. Temanku tidak mau, “Capek!” katanya.

Ya sudah, kamipun tetap duduk di tempat sambil menunggu kereta Brantas ini berangkat, baru kemudian Commuter Line jurusan Depok masuk ke jalur ini. Nanti, setelah sampai di Depok lama kami akan menunggu dan nyambung kereta yang akan ke Bogor.

“Coba tanya ibu-ibu di sebelah itu, dia mau ke mana…” kataku pada temanku sambil menunjuk dengan isyarat mataku pada ibu-ibu yang duduk di samping kiri temanku.
“Ibu mau ke mana?” tanya temanku.
“Oh, saya mau pulang ke Solo…” jawabnya.
“Oh, ibu mau ke Solo? Jam berapa keretanya berangkat bu…?” kata temanku.
“Nanti malam, jam delapan..” jawabnya.
“Jam delapan malam?!” Aku dan temanku bersamaan mengeluarkan kata-kata itu. Saat itu masih jam empat sore lewat lima belas menit.
“Ya ampun bu, apa nggak kelamaan nunggu di sini sampai malam…” kata temanku.
“Daripada di tempat kost anak saya, panas banget dan sumpek. Mending di sini, pikiran saya tenang karena nggak takut ketinggalan kereta karena macet.” jawab si ibu. Aku tersenyum sendiri. Aku setuju dengan si ibu. Memang begitulah rasanya, daripada tinggal terlalu lama di tempat asing, ya lebih baik di tempat umum seperti ini.

“Anaknya laki-laki atau perempuan bu?” tanya temanku lagi.
“Perempuan bu, dan tau nggak…. Anak saya itu bobotnya 107 kg dan hitam banget kayak saya. Bener-bener persis saya…” jawab si ibu. Aku dan temanku langsung tertawa mendengar si ibu yang langsung bercerita tentang anaknya pada kami seolah ibu itu dan kami sudah kenal puluhan tahun.

“Ibu ini bisa aja…” kata temanku.
“Lho, memang bener bu, anak saya ini hitam dan gendut sekali. Kalau diingatkan supaya jangan terlalu sering makan, eh dia malah marah-marah…. Padahal bu, kakaknya yang laki-laki itu baguuuss banget, kulitnya bersih kayak bapaknya…., pokoknya bagus deh….., eh.. kenapa yang perempuan ini koq persis saya banget…” katanya. Aku tertawa dan mencoba mengamati penampilan si ibu yang ternyata memang bentuk fisiknya agak kurang langsing dan berkulit agak gelap…. Hehehe…
“Tapi bu, kalau otaknya…., anak saya ini nomer satu se kabupaten. Matematika, juara olimpiade. Fisika, tok cer…. Pokoknya kalau otaknya, boleh diadu. Dia memang pinter sekali…” kata si ibu lagi.
“Walaupun dia itu sering diejek dan dipandang sebelah mata oleh orang lain, tapi saya selalu besarkan hatinya…, biarpun terkadang saya juga mikir sendiri, kenapa ya, punya dua anak itu koq berbeda jauh dalam hal bentuknya…., sampai-sampai orang nggak percaya kalau anak saya yang laki-laki itu adalah anak saya…” sambungnya lagi.
“Kalau anaknya sendiri nggak minder ya nggak masalah kan bu?” tanyaku.
“Wah, kalau itu sih enggak ya… anak saya biar begitu juga pede banget koq…, tapi pernah juga sih dia bilang ke saya begini…, bu orang-orang itu lho, kusapa koq diam aja, apa karena aku gendut dan hitam sekali ya, sampai kutegur saja nggak merespon.” kata si ibu.
“Saya sih bilang begini ke anak saya, kalau kamu nggak ditegur atau disapa sama orang, ya nggak usah negur lagi….,  begitu. Biarkan saja mereka seperti itu, kelak mereka akan menyesal bila tau kamu akan jadi apa besoknya, siapa tahu jodohmu kelak malah orang bule… Orang pinter dan sukses itu tidak melihat fisik dalam mencari jodoh. Yang penting otaknya.” kata si ibu lagi.

Ibu yang hebat. Dia menerima semua kekurangan anaknya (kalau gendut dan hitam itu dilihat sebagai kekurangan) dengan ikhlas dan jujur, tetapi dia juga sangat bangga pada kelebihan (maksudnya bukan kelebihan berat badan, tapi otak cerdas … hehehe…) yang dimiliki anaknya. Si Ibu percaya bahwa anaknya kelak dapat menaklukkan dunia dengan otak cerdasnya itu.

Aku benar-benar salut pada si ibu yang dapat memberikan harapan indah pada si anak tentang jodohnya kelak, walaupun disamping setuju pada pendapat si ibu tentang jodoh itu, pikiran jahatku juga meloncat-loncat berandai-andai seperti ini?
Apa betul orang-orang pintar dan sukses itu tidak melihat fisik dalam memilih pasangan hidupnya? Sebab yang selalu tampak di TV adalah para pejabat, pengusaha, bahkan ustad yang istrinya cantik-cantik  jelita lho. Mereka semua punya pasangan hidup yang sedap dipandang mata dan dapat dibanggakan alias dipamerkan ke hadapan public.
Kalau kantor atau perusahaan yang mencari karyawan sih memang iya, mereka tidak terlalu perduli pada fisik (kecuali bagian yang berhadapan dengan public ya) asalkan otaknya brilliant, asalkan otaknya dapat dimanfaatkan untuk menumbuh kembangkan perusahaan tersebut. Bukannya begitu?

Astagfirullah al adzim, kenapa aku jadi membicarakan bentuk fisik manusia? Sedangkan semua itu, bagaimanapun bentuknya, mau cantik atau jelek, mau gendut atau kurus, adalah ciptaan Tuhan, yang bahkan manusia itu sendiri membuat sehelai rambut yang terus menerus tumbuh saja tidak bisa.

Seorang sahabatku ada yang pernah bilang begini, aku lebih suka pada orang-orang yang hanya dapat membaca huruf Braille, sebab mereka tidak melihat materi dengan matanya tetapi mereka melihat dengan rasa, dengan hati.

Mudah-mudahan masih banyak lagi orang-orang yang punya pikiran seperti sahabatku tadi, sehingga teori si ibu tadi ada yang mendukung. Semoga harapan (yang dapat berarti doa) ibu kelak terjadi ya ibu ya…., semoga kelak anak perempuan ibu berhasil menaklukkan dunia ini dengan otaknya. Semoga…





Bogor, 12 September 2012
(teori sahabatku tadi indah sekali ya, walaupun istrinya sendiri termasuk cantik jelita… hehehe,…sehingga teorinya agak tidak  mendukung kenyataannya, begituuuu ….)



Rabu, 05 September 2012

Iseng



Nemu coret-coretan lamaku
Ada beberapa yang pernah kukirim ke dinding Bp. Iman Suligi
(yang lain mungkin sudah terbuang/terhapus)




Aku ini punya siapa,
Bila getar itu tidak boleh ada lagi
Bila rasa itu tidak boleh tumbuh lagi
                                katanya,
                                semua itu hanya boleh disimpan di dada
                                supaya aku tetap bersahaja
5 september 2012
 (yang ini baru)



asmara dan asa

kata-kata itu selamanya hanya akan jadi seonggok kata-kata
bila kau tidak pernah mengungkapkannya
rasa itupun selamanya akan berkelana dan mengembara
bila kau tidak menjeratnya dalam rongga jiwa

13 agustus 2012
(mari kita berupaya dalam doa, semoga asmara itu milik kita)




Ada yang harus dijaga
Tapi selebihnya hanya hati yang dapat melakukannya
22 juli 2012




Berteman sepi , untuk mengenali diri
Jiwa melayang tinggi hingga di batas mimpi
Berteman sepi, tiada seseorang ‘tuk berbagi
Untuk menerimaku berserah hati
5 juli 2012




Waktu berlalu begitu cepat
Rindu melongok masa itu
Bolehkah melihatmu
Walau hanya sehabis cangkir kopimu saja
Supaya hangat memoryku tentangmu
9 juni 2012




Siapakah  Yang Akan Datang Hari Ini?
Kuharap seseorang tak hanya mengirim salam rindu
Siapakah yang akan datang hari ini?
Cepatlah ketuk pintu rumahku
Akan segera kubuka pintu hatiku untukmu
(lupa nulis tanggalnya)




Senja mengakhiri cerita
Saat istirahat jiwa dan raga
11 april 2012