Sabtu, 01 September 2012

Baru Kusadari



Baaruuu… kusaaadariiii….., cintaku bertepuk sebeelaah tangaan. Hehehe, itu tadi syair lagunya Dewa beberapa tahun yang lalu yang terlintas begitu saja ketika aku membuka halaman ini. Yang akan kutulis kali ini juga tidak ada hubungannya dengan syair lagu itu maupun arti kalimatnya. Tapi kalau mau diprobbing terus dan dicari hubungannya, mungkin akan nyangkut sedikit ‘kali yeee…., yaitu makna patah hati-nya (maksa.com), hehehe…

Terus terang aku memang jadi agak patah hati melihat fenomena yang sering kujumpai di sekelilingku akhir-akhir ini. Maksud di sekelilingku adalah di dalam krl… hehehe…, karena di dalam krl inilah aku punya waktu ekstra untuk mengamati keadaan sekeliling. Kalau sudah di tempat lain, pikiranku sudah harus konsentrasi pada yang lain juga. Mulai dari tagihan rekening listrik, belanja, sampai arisan panci… (wowwww… ibu-ibu banget ya….).

Kalau di krl ekonomi, kebanyakan para penumpangnya sudah saling mengenal dan mereka selalu naik di gerbong dan jam pemberangkatan kereta yang sama setiap harinya. Intinya mereka sudah komit untuk selalu bareng-bareng. Sehingga ketika di dalam kereta, yang dalam kondisi bernafas saja susah, mereka masih bisa tertawa-tawa dan bercanda. Bahkan ketika masinis suatu saat mengerem ataupun melajukan keretanya secara tiba-tiba yang mengakibatkan jalan kereta tidak stabil dan penumpang roboh ke sana ke mari, hal itu malah dipakai bercanda, saling dorong dan saling timpa antara mereka. (Kalau pas ada penumpang asing di tengah-tengah komunitas itu, ya derita dialah…, hehehe…. seperti yang pernah kualami, terjebak di dalam komunitas asing).

Nah, di dalam krl ekonomi ini, suasana selalu ramai oleh candaan dan gelak tawa mereka. Berisik sekali, yang bahkan terkadang candaan itu terdengar agak kurang pantas bagiku yang berada dalam posisi sebagai out sider. Tapi toh buat mereka hal itu wajar saja, karena mereka mungkin sudah terbiasa dan itu adalah bahasa mereka sehari-hari.

Lain lagi kalau berada di krl commuter, khususnya gerbong wanita. Penumpangnya yang lebih terlihat wah dalam penampilan dan gayanya itu jarang sekali saling bertegur sapa dengan penumpang lainnya, kecuali memang temannya yang naik bareng-bareng ataupun ketemu di dalam kereta. Tapi kelompok itupun tidak pernah banyak, paling banyak mungkin hanya 5 orang. Padahal diantara mereka juga pasti sering bertemu dalam gerbong yang sama karena berangkat pada jam yang sama.

Dalam gerbong kereta commuter ini, sering juga terdengar suara tawa tergelak-gelak yang cukup kencang, sampai membuat sebagian besar penumpang menoleh padanya, ataupun terlihat cekikikan, ataupun tersenyum-senyum karena merasa lucu. Hanya saja, bedanya dengan penumpang krl ekonomi, para penumpang commuter ini ternyata sedang tertawa-tawa, cekikikan dan tersenyum-senyum dengan hapenya. Iya, mereka asyik dengan hapenya sendiri-sendiri, bukan dengan makhluk hidup yang ada di sebelahnya ataupun di depannya.

Sungguh dua pemandangan yang amat berbeda. Di krl ekonomi, hanya sedikit penumpang yang bermain-main dengan hapenya. Pertama mungkin takut pencopet. Ke dua mungkin karena makhluk hidup di sampingnya lebih asyik untuk diajak bercanda. Ke tiga mungkin malu karena hapenya bukan hape mahal dan canggih…. (yang ke tiga ini aku banget deh kayaknya…. Hehehe…)

Sedang di commuter, hampir semua penumpang selalu memegang hape di tangannya. Tidak perduli saking penuhnya dan hanya kaki satu yang nempel di lantaipun mereka tetap saja bisa bermain hape. Mulai dari yang sedang bertelepon dan tertawa terbahak-bahak dengan teman bicaranya di seberang sana sampai dengan yang ngobrol serta chatting dengan teman di jejaring social. Semuanya asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan yang dapat tempat duduk bisa membuka netbooknya ataupun tab-nya dengan gaya….. (Sempat terpikir olehku, apakah sepenting itukah urusannya sehingga harus membuka netbook ataupun tabnya di atas kereta yang paling lama perjalanannya hanya 60 menit?).

Aku agak sedih dan patah hati karena di kereta ekonomi para penumpangnya yang punya kelompok-kelompok itu biasanya hanya care pada teman kelompoknya saja yang membuat orang di luar komunitas itu jadi merasa jengah dan menyesali dirinya sendiri kenapa sampai harus terdampar dan terjebak di dalam komunitas mereka.

Kalau di commuter, aku jadi agak sedih dan patah hati karena di dalam kereta ini para penumpangnya sudah mulai terkikis rasa kepeduliannya pada orang yang berada di sekitarnya. Merasa lebih enjoy berinteraksi dengan benda mati dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Menyedihkan bukan kalau menyadari bahwa sekarang ini masyarakat kita sudah semakin egois dan individualistisnyapun semakin menebal. Rasa kekeluargaan semakin lama semakin menipis. Sayang sekali….


Bogor, 1 September 2012
(Sambil mencoba mengingat-ingat syair lagu Dewa yang lainnya…. Hehehe…)

Sabtu, 25 Agustus 2012

Imajinasi


Liburan yang hanya beberapa hari ini benar-benar kumanfaatkan untuk mengembalikan stamina dan berat tubuh yang hilang karena aktifitas yang lumayan padat. Sehingga, waktu terbanyak dari 24 jam sehari itu kupakai untuk tidur tidur dan tidur. Barangkali dengan tidur seharian selama berhari-hari (mirip tupai yang lagi hibernasi), bobotku bisa kembali naik barang sekilo dua kilo lagi, biar nggak kelihatan peot banget gitu. Kasihan kan kalau para penggemarku melihat keadaanku yang sekarang? Pasti mereka akan kecewa berat dan beralih mencari idola baru,… hehehe….. (imajinasi sebagai artis).

Begitu melek mataku dan kondisi masih berada di ambang batas kesadaran, telingaku menangkap suara cempreng Sponge Bob dari TV. Kucoba melirik ke tempat TV, hhhhh…….. anak bungsuku terkekeh-kekeh melihat ulah Patrick yang blo’onnya selangit itu.
“Ya ampun dek, memangnya nggak ada film kartun yang lain? Film ini kan sudah sepuluh ribu kali diputar dekkkk……. Nggak bosen apa?” kataku.
“Nggak tuh, Sponge Bob ini nggak bosenin mamie….” Jawabnya sambil tetap tertawa-tawa. Padahal, ya ampuuuunnnn…., episode yang diputar ya itu lagi itu lagi….
“Tapi mamie bosen lihatnya dek…” kataku lagi.
“Soalnya mamie lihatnya nggak menghayati, coba mamie ikuti jalan ceritanya… pasti deh mamie nanti nggak bosen lagi. Habis ini nanti kan Patricknya bla bla bla…., terus blab la bla….” jawabnya sambil menceritakan kelanjutan ceritanya. Nah, itu… bahkan dia saja sampai hafal jalan ceritanya, tapi koq ya nggak bosen-bosen… Bener-bener imajinasi yang hebat, bisa membuat bintang laut, spons, gurita, kepiting, bahkan plankton terangkai jadi satu dalam sebuah kisah yang aneh tapi herannya disukai oleh banyak orang di seluruh belahan bumi ini.

Terus terang aku sendiri juga suka sekali nonton film kartun anak-anak, tapi kalau film itu gambarnya bagus dan ceritanya menarik…., lumayan buat refreshing. Seperti film film Barbie, Peri-peri, Avatar, dan lain-lain…. Pokoknya yang gambarnya bagus dan seperti sungguhan. Bahkan aku juga pernah menangis hanya karena menonton film kartun yang sedih (tapi aku lupa film apa ya dulu itu).

Aku selalu kagum pada inspirasi, imajinasi dan daya cipta yang dimiliki oleh pembuatnya. Hebat banget gitu, gambaran tangan bisa bergerak (walaupun dimainkan oleh computer) dan bertingkah laku seperti manusia beneran……, kemudian imajinasinya yang menggiring kita untuk ikut larut di dalam ceritanya…. Serta  inspirasinya untuk membuat semua itu menjadi tontonan yang menarik…. Wow wow wow…., jempol lima deh…. Hehehe….. (yang satu pinjam jempol tetangga).

Imajinasi. Ya, imajinasi inilah yang paling membuatku terkagum-kagum. Bagaimana seseorang dapat melepas bebas imajinasinya sehingga menghasilkan satu runtutan cerita yang indah…., (yang selalu ingin kumiliki). Aku ingin punya imajinasi yang bebas lepas seperti itu…, sebab yang kupunya masih banyak sekali direcoki kekangan dan hambatan di sana-sini, sehingga imajinasiku sering harus mandeg dan terbuang di tengah jalan karena tidak dapat lagi berlanjut.

Anak bungsuku ini tampaknya mempunyai jiwa seni yang cukup besar dibandingkan anak-anak sebayanya. Maka dari itu, aku berusaha memberinya keleluasaan dalam berimajinasi, berekspresi dan mencipta. Kubiarkan dia bereksperimen dan mengeluarkan semua yang ada di kepalanya. Aku ingin dia melepaskan semua kekangan asal masih dalam batas kelayakan untuk anak seusianya. Hasilnya, dia selalu membuat sendiri mainannya dari kertas-kertas, kardus, kaleng dan sebagainya sampai rumahku setiap hari seperti memelihara tuyul karena selalu penuh sampah dari potongan kertas, kardus dan kaleng bekas yang sudah dibentuknya menjadi bermacam-macam, tergantung imajinasinya saat itu. Mainan itupun akan dimainkan sendiri dengan serunya seolah dia sedang bermain dengan sekelompok teman-temannya. (Waktu itu tetanggaku sampai melongok ke rumahku, ingin melihat dengan siapa anakku bermain karena terdengar heboh banget, dan diapun hanya tersenyum waktu melihat anakku yang ternyata sedang bermain sendiri).

Coba bayangkan bila manusia diciptakan Tuhan tanpa imajinasi, mungkin dunia ini akan sangat sangat membosankan. Kita ambil contoh satu bentuk benda saja ya,… misalnya kotak. Maka mobil bentuknya hanya kotak saja tanpa lekukan-lekukan eksotis di bodynya. Kue-kue juga, misalnya donat… mungkin bentuknya bukan seperti itu, tapi kotak macam balok bekas gergajian tukang yang bikin kusen rumah. Baju juga gitu, kalau nggak ada bentuk lain dalam kepala manusia, mungkin semua modelnya sama… macam robot pakai baju zirah…. (bahkan baju zirah aja nggak kotak semua bentuknya). Aaahhh, pokoknya nggak asik deh kalau manusia nggak punya imajinasi dan semua isi kepala seragam. Pasti semuanya stag aja. Bener nggak sih?!

Saat nulis ini, aku sambil mengamati tetanggaku yang sedang menyiram jalanan dan bunga-bunga yang ditanamnya karena kemarau yang cukup panjang membuat jalanan berdebu yang mengepul-ngepul setiap saat. Tiba-tiba saja terlintas di kepalaku, bagaimana ekspresinya kalau ternyata yang keluar dari selang airnya bukan lagi air bening hasil sedotan sumurnya, tapi kuah rawon dengan potongan daging dan sandung lamur di dalamnya…., hehehe…… (ini imajinasi orang dengan perut yang lapar, padahal di dapurnya hanya ada nasi putih dan kerupuk).

Tidak terasa, ternyatasSekarang sudah hampir maghrib…. Akupun harus menghentikan aliran isi otakku ini sampai di sini dulu, aku harus mencari sesuatu untuk pengganjal mulut cacing-cacing dalam perutku, sebab imajinasi orang yang kelaparan akan berbahaya nantinya. Bisa-bisa sajadah dianggap onggokan daging dan sandung lamur yang siap dimasukkan ke dalam perut…., hehehe…. Salam…



Dalam kekuatan imajinasi ‘perut lapar’,
Bogor, 25 Agustus 2012

Minggu, 12 Agustus 2012

Penjaja Akting


Pulang kerja naik krl ekonomi menjelang maghrib, penumpangnya tidak sepadat hari-hari biasa waktu belum bulan puasa. Mungkin sebagian ada yang pulang lebih awal, atau mungkin malah menunggu buka puasa dulu baru pada pulang, yang jelas kereta jadi lumayan lengang, sorga bagi para penumpang… hehehe…

Para pedagang asongan semangat banget mondar-mandir, “Ayo, persiapan-persiapan…., sebentar lagi buka…., yang dingin yang dingin, ayo persiapan….. “ begitu teriak para penjual minuman. Kebanyakan memang yang lewat hanya penjual minuman dan buah. Mungkin para pedagang asongan yang lain juga pada istirahat nunggu buka puasa dulu.

Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam dari ujung gerbong, “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…, dan salam sejahtera pada para penumpang semuanya.”
Aku sempat menengok dan melihat seorang laki-laki gondrong berpakaian hitam-hitam dengan ikat rambut batik membawa tas kain dan sebuah seruling berdiri di sana. Setelan bajunya seperti pakaian orang Baduy atau Madura dengan celana lebar tiga perempat. Pokoknya penampilan etnik gitu.

“Permisi bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, saya minta waktunya sebentar untuk bersedia mendengarkan saya. Saya berasal dari sanggar bla bla bla…. yang ingin mengungkapkan isi hati….” Aku lupa nama sanggar yang dia sebut, dan masih ada beberapa kalimat panjang pembuka yang diucapkannya, tapi aku lupa. Intinya semacam protes social pada para pemimpin begitu.

Kemudian dia langsung menjatuhkan diri bersimpuh di lantai kereta sampai nyaris bersujud sambil mulai meniup serulingnya yang melengkingkan penderitaan. Aku sih tidak terlalu faham dengan bahasa music, tapi kalau yang seperti ini sih, kurasa semua orang juga tau kalau suara lengkingan seruling itu adalah suara kesedihan karena mendayu-dayu mirip orang merintih.

Selanjutnya aksi theatrikalnyapun berlanjut, diselang-seling antara suara seruling dan puisi serta gerakan-gerakan tubuhnya yang mengekspresikan kalimat-kalimatnya. Kulihat beberapa penumpang  menahan tawa dan ada juga yang cekikikan karena tidak bisa menahan tawanya.

Aku jadi berpikir, apakah pertunjukan ini tepat sasaran? Disuguhkan pada masyarakat penumpang kereta ekonomi yang sudah lelah lahir batin dalam memperjuangkan hidup sehari-hari. Apakah pertunjukan ini tidak terlalu berat bagi mereka? Apakah mereka dapat memahami apa maksud dan tujuan pertunjukan ini? Apakah tidak sia-sia pertunjukan ini digelar di hadapan mereka?

Ataukah sang actor memang sengaja mencari penumpang kelas ini karena merekalah yang paling mudah tersulut api bila disuguhi kata-kata yang sedikit bernada protes pada para pemimpin, sehingga lebih gampang mengambil simpati mereka dan mendapatkan recehan dari mereka? Hehehe…., pikiran setan mulai menggelitikku,  mulai berandai-andai dan merangkai prasangka-prasangka negative.

Di akhir pertunjukannya, sang actor kembali bernarasi, mengucap doa keselamatan bagi para penumpang kemudian berkeliling mengacungkan tas kainnya yang sudah kumal. Kulihat banyak juga yang memasukkan recehannya ke dalam tas kain itu, termasuk yang tadi kulihat menahan tawa dan cekikikan melihat pertunjukannya.

Hehehe, kurasa sang actor pasti bersyukur karena pertunjukannya berhasil menarik simpati para penumpang sehingga mereka bersedia mengeluarkan recehannya. Atau mungkin hanya sekedar rasa kasihan tanpa tahu sama sekali arti pertunjukan itu karena tadi melihat sang actor yang sampai bersimpuh seperti itu?!..... Ah, tidak tahulah aku, apapun alasannya, yang pasti kantong kain sang actor berhasil menampung recehan itu…. Hehehe…

Kereta semakin melaju, waktupun sudah memasuki saatnya berbuka puasa. Dengan kecanggihan tekhnologi masa kini, khususnya HP yang dimiliki oleh hampir setiap penumpang kereta ekonomi ini, semua penumpang dapat mengakses dengan tepat kapan saatnya berbuka.

Alhamdulillah. Setetes demi setetes air mineral yang melewati tenggorokan, sudah membatalkan puasaku hari ini. Kenikmatan yang eksotis karena berada di atas kereta ekonomi yang rata-rata juga hanya meneguk segelas air mineral, tanpa kolak, es buah, kurma, biji salak,  dan sebangsanya. Semoga puasa hari ini diterima oleh Sang Pemberi Hidup. Aamiin.



Bogor, 10 Agustus 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

Tanah Abang


Awal bulan, pertengahan bulan puasa, beberapa waktu menjelang lebaran. Byuh. Manusia tumplek blek di Pasar Grosir ini. Seumur-umur tinggal di Ibu Kota, sebelumnya aku tidak pernah menginjakkan kakiku ke tempat ini. Sudah males kalau mendengar cerita teman-teman ataupun tetangga yang pernah atau sering pergi ke sana. Bayangin saja, apa enaknya coba, dengan suasana yang panas menyengat, sedang berpuasa, kemudian hiruk pikuk suara pedagang yang saling bersahutan menjajakan dagangannya, suara tangis anak-anak, dan menurutku yang terparah adalah berdesakan dengan para pembeli lain, yang sampai-sampai mau jalan aja susssaaahhh. (Ini suasana di sepanjang lapak-lapak pedagang eceran dan grosir kecil)

Tapi kali ini aku terpaksa harus ke tempat ini karena tuntutan pekerjaan. Hari ini aku harus mengelilingi Pusat Grosir Tanah Abang ini untuk mencari responden yang mau diwawancara.
“Memangnya kita harus lewat sini ya?” tanyaku pada temanku yang jalan di depan karena aku memang tidak tahu sama sekali daerah ini.
“Sebetulnya bisa lewat jalan lain, tapi kejauhan…., lewat sini aja lebih dekat.” jawabnya.

Dalam suasana seperti  itu, hal  yang paling membuatku pusing  adalah banyaknya ibu-ibu yang mengajak anak-anaknya yang masih kecil-kecil ke tempat ini. Kenapa harus bawa anak-anak sih? Apa nggak kasihan sama anaknya? Mereka pada menangis kepanasan dan pasti merasa sangat tidak nyaman, belum lagi yang terinjak-injak. Wewwww, benar-benar kacauuu….

Ketika hampir sampai ke Lokasi Gedung tujuan, ada tempat yang agak lengang. Aku dan temanku berhenti sejenak untuk menarik nafas sebab tadi rasanya mau nafas aja susah. (hehehe… lebay.com….)
Mataku berputar berusaha menangkap moment-moment menarik yang mungkin dapat dijadikan bahan cerita. Biasa, naluri ‘penggosip’…., hehehe….
Betul saja, aku melihat ada sekitar lima orang ibu-ibu yang tampak berembuk, sambil celingak-celinguk dengan muka nggak jelas. Ternyata beberapa orang diantara mereka kecopetan. Aku rasa pasti dompetnya, karena sang copet juga pasti tau kalau ibu-ibu yang datang ke tempat ini pasti bawa duit banyak. Lain kalau di atas kereta, rata-rata penumpang cuma bawa uang pas untuk ongkos dan makan, makanya dompetnya bukan sasaran copet, tapi HP.

Hal seperti itu juga yang membuat daftar malasku untuk pergi ke tempat seperti ini bertambah, sebab seandainyapun isi dompetku cuma sepuluh ribu dan aku kecopetan, pasti rasanya nyesek dan jengkel banget. Lain kalau uang sepuluh ribu itu memang sudah niat mau disedekahkan. Bener nggak?

Suasana di dalam gedung Blok A, Blok B, dan Blok F yang kumasuki juga ramai pembeli, tapi tidak separah yang tadi. Di sini agak tertib karena di dalam gedung ‘kali ya…., dan mungkin juga karena barang dan harganya juga agak beda, hehehe…., jadi yang masuk juga sudah tersaring.

Dari beberapa responden pedagang yang berhasil kuwawancara, rata-rata omzetnya tiap hari aja sudah puluhan juta, per bulannya berapa, per tahunnya berapa? Woww…., perputaran duit yang kenceng sekali…. Itu baru di sini, di Tanah Abang. Di tempat lain, apakah juga seperti ini? Membludak dengan lautan manusia yang ingin membelanjakan duitnya?

Apakah itu artinya masyarakat kita juga banyak duitnya? Katanya masyarakat semakin menderita secara ekonomi? Lha ini, koq pada berebut membelanjakan duitnya semua? Hehehe…., tunggu dulu….., orang-orang yang membludak memenuhi pusat-pusat perbelanjaan ini jumlahnya belum mencapai sekian persen dari seluruh rakyat Indonesia lho…
Masih banyak di belahan Indonesia yang lain yang untuk makan hari ini saja susah. Nggak usah jauh-jauh deh contohnya, yaitu copet tadi. Coba dia hidupnya mapan, ada pekerjaan tetap yang dapat diandalkan, apa dia juga mau jadi copet? (Sebetulnya sih, jawabannya relative ya…., sebab ternyata jadi copet itu juga terkadang bukan karena sekedar kepepet tapi karena males. Jadi gimana dong…? Jadi bingung nih nulisnya….., hehehe…)

Oke deh, nulisnya sudah dulu. Aku juga tidak tahu harus nulis apa lagi, aku kan hanya sekedar share perasaan dan pengalamanku ke Pasar Tanah Abang yang baru pertama kalinya kudatangi ini, hanya saja otakku terlalu penuh dan tanganku selalu gatal kalau aku belum mengeluarkannya seperti ini…. Anggap saja ini salah satu referensi pengalaman buat yang tidak pernah bersentuhan secara langsung dengan mereka yang berada di kebanyakan masyarakat kita…..



Bogor, 2 Agustus 2012

Kamis, 28 Juni 2012

Harus Bagaimana?


Beberapa hari lalu, pagi-pagi, waktu aku baru membuka pintu dan akan menyapu teras, kulihat sudah banyak ibu-ibu tetanggaku yang berkumpul di taman depan rumahku. (Sebetulnya sih bukan taman, tapi jalur bebas bangunan karena berada di bawah route kabel listrik tegangan tinggi yang oleh warga ditanami untuk penghijauan).


Akupun ikut nimbrung dengan mereka, yang ternyata sedang membicarakan pendaftaran masuk SD Negri hari ini.


“Jadinya anakmu daftar di mana?” tanyaku pada pembantu tetangga sebelah rumah yang tinggalnya di perkampungan belakang perumahanku.


“Itulah, saya datang ke sekolah di depan itu, tapi formulirnya sudah habis. Padahal di pengumuman baru akan dibuka jam 07.00 pagi, nah saya datang setengah tujuh sudah nggak kebagian. Sebab ternyata yang lain sudah ngantri sejak jam 04.00 subuh tadi.” jawabnya.


Hah? Mau daftar masuk SD Negri di perumahanku ini sekarang sudah harus ngantri sejak jam 04.00 subuh? Benar-benar luar biasa.


Aku jadi ingat 12 tahun lalu ketika akan mendaftarkan anak sulungku ke SD Negri di Bogor. Aku juga harus berangkat subuh-subuh untuk mendapatkan formulirnya, yang ternyata masih tidak kebagian juga. Tapi itu kan dulu untuk mendapatkan formulir di SD Negri Unggulan di tingkat Kotamadya, bukan di tingkat Kecamatan di Kabupaten seperti tempat tinggalku ini.


Benar-benar keinginan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SD Negri ini luar biasa. Semua ingin mendapatkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan gratis tentunya, karena berhubungan dengan Program Wajib Belajar 9 tahun dari Pemerintah. Kalau sekolahan yang dituju benar-benar amanah sih oke-oke saja, semua cara pasti akan dilakukan oleh para orang tua, termasuk berangkat subuh-subuh untuk mendapatkan formulir. Kalau saja misalnya ada yang nggak amanah, sungguh tragis sekali nasib pendidikan kita saat ini.


Buat orang tua yang punya duit dan tidak mau repot, biasanya mereka akan langsung memasukkan anaknya ke sekolah swasta favorit. Tentu saja dengan kompensasi  biaya yang harus dikeluarkan sama sekali tidak murah.


Berhubungan dengan biaya sekolah swasta yang tidak murah ini, aku jadi ingat waktu aku sedang melakukan wawancara dengan responden sebagai bagian pekerjaanku di lembaga riset. Ketika wawancara telah selesai, kami sempat ngobrol-ngobrol tentang hal lain, yang sampai juga pada topic pendidikan.


“Tolong deh mbak, kalau misalnya mbak kenal atau berhubungan dengan seseorang atau lembaga tertentu yang dapat mengupas tentang pendidikan, tolong sampaikan supaya membedah kembali masalah komersialisasi pendidikan yang sekarang ini semakin parah.”


“Sistem yang ada saat ini nampak nyata sekali komersialnya. Contohnya, buku paket. Kalau dulu, jaman kita sekolah kan para guru selalu melarang corat-coret di buku paket, sehingga buku itu masih dapat dipakai beberapa generasi di bawahnya. Kalau sekarang, guru-guru malah menyuruh muridnya untuk mengisi jawaban langsung di buku paket tersebut karena tiap tahun buku paketnya pasti ganti karena buku paket tahun lalu sudah tidak boleh dipakai lagi. Itu baru bukunya, belum uang masuk dan daftar ulang tiap tahunnya. Gila kan?”


Memang iya sih. Saat ini, hampir di seluruh sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA, harga buku paket sudah dipatok langsung sejak awal tahun ajaran baru sampai sekian ratus ribu rupiah. Yang tidak beli di sekolah ya bakalan tidak punya buku, karena biasanya buku-buku itu jarang dijual di luar. 


Respondenku yang mengeluhkan soal mahalnya pendidikan ini bukanlah orang tidak mampu yang terpaksa atau memaksakan diri untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta favorit tertentu, dia adalah Senior Vice President di salah satu Perusahaan Swasta ternama di negara kita ini.


Nah, kalau orang sekelas respondenku itu saja mengeluhkan mahalnya pendidikan saat ini, bagaimana pula dengan nasibku atau nasib mereka lainnya yang tidak mempunyai keberuntungan dalam hal materi? Apakah anak-anak kami yang tidak terjaring di Sekolah Negri harus tidak bersekolah?


Padahal nih, biarpun sekolah sekarang ini mahalnya bukan main, hasil lulusannya tidak lebih baik dibandingkan lulusan jaman dulu yang bukunya saja boleh dapat dari warisan kakaknya, tetangganya, ataupun dari tukang loak. Buktinya, akhlak, kecerdasan,  dan moral hasil lulusan masa kini itu masih perlu dipertimbangkan kembali. 


Memang belum pernah diriset sih, tapi kurasa bahwa batasan-batasan nilai saat ini memang sudah kabur. Contohnya, untuk membuat materi pelajaran anak SD saja tidak tahu batasan boleh dan tidak, pantas dan tidak, layak dan tidak  dan sebagainya. Parah sekali kan.


Ketika aku mau pulang, respondenku itu sekali lagi mengingatkan aku untuk menyampaikan pesannya tadi. Tapi aku sendiri tidak tahu, harus menyampaikan pesan itu pada siapa atau lembaga apa. Mungkin dengan kutulis seperti ini aku akan mendapat respon dari mana saja dan siapa saja. Sebab sebetulnya pesan itu bukan hanya dari respondenku seorang, tetapi dari banyak orang yang saat ini tercatat sebagai warga negara atau masyarakat Indonesia. 




Bogor, 27 Juni 2012

Sabtu, 09 Juni 2012

Itu Pilihan Mereka, Kurasa


“Perhatikan jalur tiga, sesaat lagi akan masuk kereta ekonomi jurusan Jatinegara.” Begitu suara dari pengeras suara di Stasiun Senen mengumumkan.


Aku segera bangkit dari dudukku dan bersiap menunggu datangnya kereta di jalur tiga. Sebetulnya sih aku bukan mau ke Jatinegara,  aku mau pulang ke Bogor. Tapi daripada bengong nungguin keretanya balik dari Jatinegara, mending aku ikut jalan-jalan dulu ke Jatinegara, pikirku.


Aku masuk ke gerbong paling belakang yang nanti akan jadi gerbong paling depan ketika kereta sudah berbalik arah menuju Bogor. Penumpangnya tinggal sedikit. Mungkin tidak sampai sepuluh orang.


Aku duduk sambil mengedarkan pandangan mengamati semuanya. Di depanku agak miring ke kanan duduk seorang laki-laki paruh baya dengan dagangannya di bangku sebelahnya. Dia sedang ngobrol akrab dengan seorang gadis, entah teman atau pacarnya.


Di pintu kereta depanku arah kanan tampak beberapa pedagang asongan yang sedang berdiri, yang tampaknya juga kenal dengan gadis di depanku itu, sebab mereka juga tampak sedang ngobrol.


Loncat tiga bangku di sebelah kananku duduk seseorang yang semula aku ragu, dia laki-laki atau perempuan. Tongkrongannya sangar, badannya gede, kekar gitu, hanya memakai kaos warna kuning  dan sandal jepit. Tapi kalau melihat celana pendek selutut warna biru dari bahan kain dengan motif bunga-bunga, aku rasa dia pasti cewek.


Belum lengkap mengamati semuanya, kereta tiba di Stasiun Sentiong. Tidak banyak yang naik, karena ini memang belum jamnya orang pulang kerja, apalagi pegawai negri, kecuali dia kabur dari kantor.
“Hadoohhh…, laki gue mana sih….” tiba-tiba terdengar suara keras dari arah kiri. Aku menengok, dan terlihat dua orang anak perempuan ABG yang menurut perkiraanku paling banter usianya baru lima belas tahun. Mereka duduk di pintu kereta, padahal sudah jelas bangkunya masih banyak yang kosong.


Anak perempuan berumur belasan dengan santainya berteriak-teriak tentang ‘laki gue’ di tempat umum seperti ini. Sungguh aku jadi merasa tua sekali.


Tiba-tiba masuk lagi beberapa orang anak sebaya mereka tadi, kali ini tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Mereka semua memakai celana pendek dengan penampilan khas anak jalanan. Yang cewek seluruh lengan kirinya bertato, dan salah seorang anak laki-laki tadi ada yang membawa gitar kecil atau ukulele (atau apapun namanya karena aku nggak begitu faham nama alat-alat musik).
Aroma minuman keras langsung menyerang hidungku. Ternyata ada lagi temannya yang duduk di deretanku yang membawa botol plastik bekas air mineral dengan isinya seperti air teh yang kemudian dibagi-bagikan pada mereka semua.


Tepat sebelum kereta berjalan, ada seorang anak laki-laki yang melompat naik dan duduk selisih dua bangku kosong di sebelah kiriku. Yang ini perawakannya putih bersih, pakaian santai, usia lebih tua dari para anak ABG ini. Sama sekali tidak tampak sebagai anak jalanan, jadi kupikir dia juga penumpang biasa. Ini membuatku sedikit lega. Sebab terus terang saja, dengan kondisi kereta yang lengang dan berpenumpang anak jalanan yang sedang minum-minuman keras ini, agak sedikit membuat jantungku berdetak lebih cepat. Tapi aku berusaha menekan rasa takut itu dengan pemikiran bahwa mereka tidak akan mengganggu penumpang lain karena mereka sedang asik dengan kelompoknya sendiri. It’s okay!


Kemudian lewatlah seorang ibu-ibu pedagang kue yang mendorong dagangannya. Kulihat selain roti, ada beberapa jajanan pasar yang tampaknya enak. Sekali lagi, dengan harapan si ibu yang pastilah orang baik-baik ini tidak pergi dari gerbong ini, supaya aku ada temannya, maka kupanggillah si ibu ini.
“Berapaan harganya bu?” tanyaku.
“Yang roti dua ribu tiga, kue-kue lainnya gopek satu. Mau bu?” tanyanya. Hh…, aku sempat sedikit terkejut mendengar dia bilang harga kuenya gopek satu. Gimana rasanya ya, pikirku. Tapi bodo amatlah dengan rasa dan bentuknya, aku hanya perlu si ibu supaya tetap di gerbong ini saja koq. 


Sementara di seberang tempatku duduk, para anak jalanan tadi masih tetap asik dengan kelompoknya sendiri. Malah cewek bertato tadi tampak berpelukan dan berciuman dengan pasangannya dengan santainya, seolah di gerbong kereta ini tidak ada penumpang lainnya. Begitu juga cewek yang tadi berteriak-teriak mencari ‘lakinya’, tampak sedang mendekap kepala anak laki-laki yang sedang memainkan gitar kecil tadi dan bernyanyi dengan suara cempreng yang gak jelas ke dadanya. Jadi posisi anak perempuan itu berdiri di depan anak laki-laki itu.


Sungguh pemandangan yang membuat miris di hati mengingat kalau mereka semua ini masih dalam usia anaki-anak yang wajib sekolah sembilan tahun. Tetapi siapa aku selain hanya sebagai penonton yang punya sebutir tanya di dalam hati, akan menjadi apakah mereka ini beberapa tahun ke depan, akan seperti apakah masa depan yang menanti mereka ini? Juga sedikit selipan pertanyaan, siapa dan bagaimanakah orang tua mereka ini? Bagaimana perasaan mereka?


Ketika sampai di Stasiun apa ya….., aku lupa, tapi yang jelas satu stasiun sebelum Jatinegara, si ibu penjual kue tampak berdiri ngobrol dengan anak-anak jalanan itu di pintu tengah (arah sebelah kiriku), sedang anak laki-laki yang tadi duduk di arah kiriku, ternyata sudah tidak ada lagi.


Tapi tepat ketika kereta mulai jalan lagi, anak laki-laki yang kumaksud tadi, tiba-tiba meloncat naik dari pintu arah kananku dan duduk di seberang tempat dudukku. 


“Biarin aja…” samar-samar aku dengar si ibu penjual kue mengatakan itu pada anak-anak jalanan itu sambil melihat kea rah anak laki-laki yang baru saja melompat masuk tadi. Rupanya dia sedang mengadu pada anak-anak jalanan itu.


Detik itu juga langsung semua anak-anak jalanan itu menyerang si anak laki-laki tadi. Bak buk bak buk. Pukul, tendang, cakar, hantam, tinju, dan sebagainya. Pokoknya dihajar rame-ramelah anak itu. Hancur deh, untung masih hidup.


Penumpang yang lain pada minggir dan semua juga pasti tidak tahu harus berbuat apa. Aku sendiri jadi tercekat dan bingung. Apa aku harus pergi dari tempat dudukku ini, atau tetap bertahan di situ dengan situasi seperti ini. Aku diam tak bergerak, bernafaspun satu-satu dengan detak jantung yang sudah tidak karuan lagi iramanya.


Beruntung keretapun sampai di  Stasiun Jatinegara. Petugas kereta yang tadi ada di ruang loco langsung masuk dan melerai anak-anak itu. Mungkin dari tadi dia juga sudah tahu kejadian ini, tapi karena kereta masih berjalan, diapun tidak dapat berbuat apa-apa, karena pintu penghubung dari ruang loco ke gerbong penumpang rupanya macet, tidak bisa  dibuka lagi. Maklumlah kondisi gerbong kereta ekonomi. Anak laki-laki putih tadi dibawa turun oleh petugas yang tampaknya akan diserahkan ke petugas keamanan stasiun. Ternyata anak itu juga anak jalanan, hanya saja dia berasal dari daerah  dan kelompok yang berbeda dengan anak-anak yang ini.


 “Inget lo, berani ke Sentiong mampus lo sama gue dan laki gue!!” teriak anak perempuan yang tadi teriak-teriak mencari lakinya di pintu kereta, dan ternyata anak laki-laki yang disebut lakinya tadi memang garang banget ketika menghajar orang. Bahkan sempat terlihat olehku dia sudah pegang gesper gede banget… entah dari mana ngeluarinnya. 


Tak lama kemudian petugas keamanan stasiun datang dan menyuruh anak-anak itu keluar, “Lo lo lo semua turun! Keluar dari kereta sekarang juga!” katanya pada rombongan anak-anak itu.
“Saya nggak salah pak, anak tadi ngancam penumpang…” kata anak laki yang pegang gesper tadi.
“Penumpang mana yang diancam?” tanya petugas.
“Tuh, si ibu…” jawab anak laki tadi.
Si ibupun dibawa turun oleh petugas, mungkin dia tahu kalau si ibu adalah pedagang asongan, bukan penumpang. Dagangannya ditinggal begitu saja di kereta. Sementara anak-anak yang lain tiba-tiba saja juga tidak nampak lagi.


“Dagangan si ibu gimana tuh?” tanya seorang penumpang pada anak laki-laki tadi.
“Nggak apa-apa pak, saya yang jaga. Kita sesama anak jalanan harus toleransi sama yang lain. Tapi kalau misalnya yang digangguin dan diancam-ancam anak tadi sesama  laki-laki sih bodo amat. Ini nenek-nenek bo!!” kata anak laki-laki itu. 


Ketika kereta mulai bergerak kembali ke Bogor, anak laki-laki tadi berjalan ke gerbong yang lain. Sementara di ujung gerbong yang lain itu nampak si ibu penjual kue datang mengambil dagangannya.
Sepanjang perjalanan menuju Stasiun Sentiong masih ada salah seorang anak laki-laki dari rombongan tadi yang mungkin ketuanya berjalan hilir mudik dari gerbong ke gerbong seperti ronda atau sedang menyatakan secara tidak langsung pada anak jalanan lain kalau batas ini adalah wilayahnya.


Selepas Stasiun Sentiong menuju Stasiun Senen, tampaknya mereka sudah tidak ada lagi. Sudah turun di Sentiong mungkin. Di  Stasiun Senen dan seterusnya sampai ke arah Bogor, kurasa tidak akan mudah lagi para anak jalanan seperti itu masuk ke Stasiun kecuali para pedagang asongan, karena masing-masing stasiun sekarang sudah cukup ketat menyeleksi calon penumpang. Tanpa karcis, tidak akan bisa masuk ke peron.


Gila kan? Ternyata  pengalaman jalan-jalanku kali ini cukup memacu adrenalin. Cukup membuat jantungku hampir tidak kerasan tetap di tempatnya. Hehehe….





Bogor, 6 Juni 2012
(Sambil makan kue gopek’an dagangan si ibu tadi)