Sabtu, 09 Juni 2012

Itu Pilihan Mereka, Kurasa


“Perhatikan jalur tiga, sesaat lagi akan masuk kereta ekonomi jurusan Jatinegara.” Begitu suara dari pengeras suara di Stasiun Senen mengumumkan.


Aku segera bangkit dari dudukku dan bersiap menunggu datangnya kereta di jalur tiga. Sebetulnya sih aku bukan mau ke Jatinegara,  aku mau pulang ke Bogor. Tapi daripada bengong nungguin keretanya balik dari Jatinegara, mending aku ikut jalan-jalan dulu ke Jatinegara, pikirku.


Aku masuk ke gerbong paling belakang yang nanti akan jadi gerbong paling depan ketika kereta sudah berbalik arah menuju Bogor. Penumpangnya tinggal sedikit. Mungkin tidak sampai sepuluh orang.


Aku duduk sambil mengedarkan pandangan mengamati semuanya. Di depanku agak miring ke kanan duduk seorang laki-laki paruh baya dengan dagangannya di bangku sebelahnya. Dia sedang ngobrol akrab dengan seorang gadis, entah teman atau pacarnya.


Di pintu kereta depanku arah kanan tampak beberapa pedagang asongan yang sedang berdiri, yang tampaknya juga kenal dengan gadis di depanku itu, sebab mereka juga tampak sedang ngobrol.


Loncat tiga bangku di sebelah kananku duduk seseorang yang semula aku ragu, dia laki-laki atau perempuan. Tongkrongannya sangar, badannya gede, kekar gitu, hanya memakai kaos warna kuning  dan sandal jepit. Tapi kalau melihat celana pendek selutut warna biru dari bahan kain dengan motif bunga-bunga, aku rasa dia pasti cewek.


Belum lengkap mengamati semuanya, kereta tiba di Stasiun Sentiong. Tidak banyak yang naik, karena ini memang belum jamnya orang pulang kerja, apalagi pegawai negri, kecuali dia kabur dari kantor.
“Hadoohhh…, laki gue mana sih….” tiba-tiba terdengar suara keras dari arah kiri. Aku menengok, dan terlihat dua orang anak perempuan ABG yang menurut perkiraanku paling banter usianya baru lima belas tahun. Mereka duduk di pintu kereta, padahal sudah jelas bangkunya masih banyak yang kosong.


Anak perempuan berumur belasan dengan santainya berteriak-teriak tentang ‘laki gue’ di tempat umum seperti ini. Sungguh aku jadi merasa tua sekali.


Tiba-tiba masuk lagi beberapa orang anak sebaya mereka tadi, kali ini tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Mereka semua memakai celana pendek dengan penampilan khas anak jalanan. Yang cewek seluruh lengan kirinya bertato, dan salah seorang anak laki-laki tadi ada yang membawa gitar kecil atau ukulele (atau apapun namanya karena aku nggak begitu faham nama alat-alat musik).
Aroma minuman keras langsung menyerang hidungku. Ternyata ada lagi temannya yang duduk di deretanku yang membawa botol plastik bekas air mineral dengan isinya seperti air teh yang kemudian dibagi-bagikan pada mereka semua.


Tepat sebelum kereta berjalan, ada seorang anak laki-laki yang melompat naik dan duduk selisih dua bangku kosong di sebelah kiriku. Yang ini perawakannya putih bersih, pakaian santai, usia lebih tua dari para anak ABG ini. Sama sekali tidak tampak sebagai anak jalanan, jadi kupikir dia juga penumpang biasa. Ini membuatku sedikit lega. Sebab terus terang saja, dengan kondisi kereta yang lengang dan berpenumpang anak jalanan yang sedang minum-minuman keras ini, agak sedikit membuat jantungku berdetak lebih cepat. Tapi aku berusaha menekan rasa takut itu dengan pemikiran bahwa mereka tidak akan mengganggu penumpang lain karena mereka sedang asik dengan kelompoknya sendiri. It’s okay!


Kemudian lewatlah seorang ibu-ibu pedagang kue yang mendorong dagangannya. Kulihat selain roti, ada beberapa jajanan pasar yang tampaknya enak. Sekali lagi, dengan harapan si ibu yang pastilah orang baik-baik ini tidak pergi dari gerbong ini, supaya aku ada temannya, maka kupanggillah si ibu ini.
“Berapaan harganya bu?” tanyaku.
“Yang roti dua ribu tiga, kue-kue lainnya gopek satu. Mau bu?” tanyanya. Hh…, aku sempat sedikit terkejut mendengar dia bilang harga kuenya gopek satu. Gimana rasanya ya, pikirku. Tapi bodo amatlah dengan rasa dan bentuknya, aku hanya perlu si ibu supaya tetap di gerbong ini saja koq. 


Sementara di seberang tempatku duduk, para anak jalanan tadi masih tetap asik dengan kelompoknya sendiri. Malah cewek bertato tadi tampak berpelukan dan berciuman dengan pasangannya dengan santainya, seolah di gerbong kereta ini tidak ada penumpang lainnya. Begitu juga cewek yang tadi berteriak-teriak mencari ‘lakinya’, tampak sedang mendekap kepala anak laki-laki yang sedang memainkan gitar kecil tadi dan bernyanyi dengan suara cempreng yang gak jelas ke dadanya. Jadi posisi anak perempuan itu berdiri di depan anak laki-laki itu.


Sungguh pemandangan yang membuat miris di hati mengingat kalau mereka semua ini masih dalam usia anaki-anak yang wajib sekolah sembilan tahun. Tetapi siapa aku selain hanya sebagai penonton yang punya sebutir tanya di dalam hati, akan menjadi apakah mereka ini beberapa tahun ke depan, akan seperti apakah masa depan yang menanti mereka ini? Juga sedikit selipan pertanyaan, siapa dan bagaimanakah orang tua mereka ini? Bagaimana perasaan mereka?


Ketika sampai di Stasiun apa ya….., aku lupa, tapi yang jelas satu stasiun sebelum Jatinegara, si ibu penjual kue tampak berdiri ngobrol dengan anak-anak jalanan itu di pintu tengah (arah sebelah kiriku), sedang anak laki-laki yang tadi duduk di arah kiriku, ternyata sudah tidak ada lagi.


Tapi tepat ketika kereta mulai jalan lagi, anak laki-laki yang kumaksud tadi, tiba-tiba meloncat naik dari pintu arah kananku dan duduk di seberang tempat dudukku. 


“Biarin aja…” samar-samar aku dengar si ibu penjual kue mengatakan itu pada anak-anak jalanan itu sambil melihat kea rah anak laki-laki yang baru saja melompat masuk tadi. Rupanya dia sedang mengadu pada anak-anak jalanan itu.


Detik itu juga langsung semua anak-anak jalanan itu menyerang si anak laki-laki tadi. Bak buk bak buk. Pukul, tendang, cakar, hantam, tinju, dan sebagainya. Pokoknya dihajar rame-ramelah anak itu. Hancur deh, untung masih hidup.


Penumpang yang lain pada minggir dan semua juga pasti tidak tahu harus berbuat apa. Aku sendiri jadi tercekat dan bingung. Apa aku harus pergi dari tempat dudukku ini, atau tetap bertahan di situ dengan situasi seperti ini. Aku diam tak bergerak, bernafaspun satu-satu dengan detak jantung yang sudah tidak karuan lagi iramanya.


Beruntung keretapun sampai di  Stasiun Jatinegara. Petugas kereta yang tadi ada di ruang loco langsung masuk dan melerai anak-anak itu. Mungkin dari tadi dia juga sudah tahu kejadian ini, tapi karena kereta masih berjalan, diapun tidak dapat berbuat apa-apa, karena pintu penghubung dari ruang loco ke gerbong penumpang rupanya macet, tidak bisa  dibuka lagi. Maklumlah kondisi gerbong kereta ekonomi. Anak laki-laki putih tadi dibawa turun oleh petugas yang tampaknya akan diserahkan ke petugas keamanan stasiun. Ternyata anak itu juga anak jalanan, hanya saja dia berasal dari daerah  dan kelompok yang berbeda dengan anak-anak yang ini.


 “Inget lo, berani ke Sentiong mampus lo sama gue dan laki gue!!” teriak anak perempuan yang tadi teriak-teriak mencari lakinya di pintu kereta, dan ternyata anak laki-laki yang disebut lakinya tadi memang garang banget ketika menghajar orang. Bahkan sempat terlihat olehku dia sudah pegang gesper gede banget… entah dari mana ngeluarinnya. 


Tak lama kemudian petugas keamanan stasiun datang dan menyuruh anak-anak itu keluar, “Lo lo lo semua turun! Keluar dari kereta sekarang juga!” katanya pada rombongan anak-anak itu.
“Saya nggak salah pak, anak tadi ngancam penumpang…” kata anak laki yang pegang gesper tadi.
“Penumpang mana yang diancam?” tanya petugas.
“Tuh, si ibu…” jawab anak laki tadi.
Si ibupun dibawa turun oleh petugas, mungkin dia tahu kalau si ibu adalah pedagang asongan, bukan penumpang. Dagangannya ditinggal begitu saja di kereta. Sementara anak-anak yang lain tiba-tiba saja juga tidak nampak lagi.


“Dagangan si ibu gimana tuh?” tanya seorang penumpang pada anak laki-laki tadi.
“Nggak apa-apa pak, saya yang jaga. Kita sesama anak jalanan harus toleransi sama yang lain. Tapi kalau misalnya yang digangguin dan diancam-ancam anak tadi sesama  laki-laki sih bodo amat. Ini nenek-nenek bo!!” kata anak laki-laki itu. 


Ketika kereta mulai bergerak kembali ke Bogor, anak laki-laki tadi berjalan ke gerbong yang lain. Sementara di ujung gerbong yang lain itu nampak si ibu penjual kue datang mengambil dagangannya.
Sepanjang perjalanan menuju Stasiun Sentiong masih ada salah seorang anak laki-laki dari rombongan tadi yang mungkin ketuanya berjalan hilir mudik dari gerbong ke gerbong seperti ronda atau sedang menyatakan secara tidak langsung pada anak jalanan lain kalau batas ini adalah wilayahnya.


Selepas Stasiun Sentiong menuju Stasiun Senen, tampaknya mereka sudah tidak ada lagi. Sudah turun di Sentiong mungkin. Di  Stasiun Senen dan seterusnya sampai ke arah Bogor, kurasa tidak akan mudah lagi para anak jalanan seperti itu masuk ke Stasiun kecuali para pedagang asongan, karena masing-masing stasiun sekarang sudah cukup ketat menyeleksi calon penumpang. Tanpa karcis, tidak akan bisa masuk ke peron.


Gila kan? Ternyata  pengalaman jalan-jalanku kali ini cukup memacu adrenalin. Cukup membuat jantungku hampir tidak kerasan tetap di tempatnya. Hehehe….





Bogor, 6 Juni 2012
(Sambil makan kue gopek’an dagangan si ibu tadi)

Rabu, 06 Juni 2012

Buat Anak Gadisku


Setelah kereta yang dinaiki anakku berangkat, aku mencari tempat duduk di peron stasiun. Tadi memang aku berdiri terus melihat ke tempat duduk anakku, walaupun terhalang dua gerbong kereta yang sejajar.  Peraturan sekarang memang melarang pengantar untuk masuk sampai ke gerbong kereta, sehingga aku tidak bisa mengantar anakku sampai ke tempat duduknya.


Aku bisa masuk ke dalam stasiun karena aku juga akan naik kereta (KRL) untuk kembali ke Bogor, tapi anakku di jalur satu, dan aku di jalur tiga. Kalau mau turun lewat rel sih bisa saja, tapi aku nanti pasti tidak bisa naik kembali ke peron jalur tiga karena tinggi sekali, hampir setinggi dada orang dewasa.


Aku mengeluarkan HPku dan membuka beberapa pesan SMS yang masuk ketika aku tadi sedang mengawasi kereta anakku yang mulai bergerak meninggalkan stasiun.
“Mami duduk aja.”  Ternyata SMS dari anakku. Mungkin dia melihat kalau aku dari tadi berdiri di sana.
“Mi berangkat ya, dadah. Tadi gak sempet salim.”  Dari anakku lagi. Kedua mataku langsung perih, hidung dan pipiku terasa panas. Kutahan sebisa mungkin supaya aku tidak menangis di tempat umum ini. Nanti orang-orang pada bingung. Tetapi air yang menggenangi kedua mataku tidak bisa kutahan lagi, langsung membanjir sendiri.


Kasihan anakku, karena ketidak berdayaanku, dia terpaksa harus terenggut dari mimpinya dengan paksa. Dia harus rela melakukan hal yang diluar kehendaknya demi aku, walaupun kelak apa yang dia lakukan saat ini adalah demi dirinya juga. Demi masa depannya yang harus diperjuangkannya sendiri.


Selama ini aku tidak mau menangis dan terlihat menangis di hadapannya, karena dia tidak boleh melihatku lemah. Aku harus kuat. Sebab kalau aku kuat, dia juga pasti akan kuat. Kalau aku lemah, dia pasti akan ragu dan ikut lemah.


Aku pernah berkata seperti ini padanya, “Kakak pasti dapat melakukan apa yang selama ini kakak pikir tidak dapat melakukannya karena kakak kuat.  Selama ini mamie selalu menganggap kalau mamie ini orang yang kuat, sedang kakak adalah anak mamie. Jadi mamie yakin pasti ada sedikit dari mamie yang turun pada kakak. Kakak pasti bisa.”


Air mata ini adalah air mata sesalku, rasa sesal yang teramat dalam karena saat ini belum dapat mewujudkan mimpimu anakku. Tetapi air mata ini juga adalah air mata haru, karena ternyata bayiku dulu sekarang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang dewasa…, dewasa luar dalam kuharap.


Terimakasih karena mau mengerti keadaan mamie, do’a mamie selalu bersamamu dimanapun kau berada. Selamat jalan anakku, tapaki langkahmu dengan senyum ikhlas, karena ikhlas dan rasa syukur akan berbunga keindahan. Percayalah itu.


Sambil menghapus air mata, aku melompat ke KRL yang membawaku pulang ke Bogor, berlawanan arah dengan kereta anakku yang membawanya menuju masa depannya.




Bogor, 6 Juni 2012

Sabtu, 02 Juni 2012

Bersama Sisi Gelapku


Aku dan Aku
Aku punya cinta, Aku juga punya cinta
Aku punya hati, Aku juga punya hati
Aku punya benci, Aku juga punya galau
Aku punya mimpi yang nyata, Aku punya nyata yang hanya  mimpi
Aku punya rahasia, Akulah rahasia Aku


Bogor, 1 Juni 2012
Ketika insomnia menyerang

Kamis, 10 Mei 2012

Catatan Kecil

HPku berbunyi ketika aku baru saja turun dari kereta jam 18.15 wib. (Masih keburu nonton Tio Bu Ki, pikirku)
“Lo di mana?” tanya Mama Tesa (tetanggaku) begitu kuangkat telponnya.
“Baru aja turun dari kereta. Kenapa?” tanyaku.

Biasanya tetanggaku suka pada nitip di beliin ini atau itu kalau pas mereka butuh sesuatu tapi malas keluar rumah. Mumpung aku masih di jalan.
“Kunci pintu rumah lo patah, jadi anakmu dari siang gak bisa masuk rumah.” katanya.
Hhh, ada-ada aja deh…., aku menghela nafas panjang. Anak kunci itu adalah satu-satunya, duplikatnya sudah lama hilang entah ke mana.
“Oke, aku segera nyampe rumah.” jawabku sambil naik ke boncengan tukang ojek.

Sampai di rumah, suasana gelap gulita. Sementara Mama Tesa dan suaminya sedang mencoba mengutak atik pintu rumahku dengan penerangan lampu senter.
Kulihat anakku yang masih kelas 5 SD duduk di kursi sambil makan nasi dengan ayam goreng  (pasti dari Mama Tesa atau tetangga yang lain), dan masih dengan seragam pramukanya tadi pagi.
Kebayang, seharian dia pasti menahan haus dan lapar, karena tadi pagi hanya membawa uang tiga ribu rupiah untuk jajan. Nasi dan lauk yang kusiapkan buat dia untuk makan siang tadi pasti masih utuh.

Kasihan sekali anakku, sebab dia bukan tipe anak yang sedikit-sedikit berlari ke orang lain untuk minta tolong. Pasti dia bermaksud terus duduk diam di teras sambil menunggu aku pulang.

Ternyata benar. Mama Tesa bercerita, ketika mau ke warung dia melihat rumahku gelap gulita dan anakku masih berseragam pramuka duduk sendirian di teras. Mama Tesapun langsung menghampiri dan bertanya kenapa lampunya mati.

Kemudian Mama Tesa memaksa anakku untuk makan dulu sebab dari siang dia belum makan. Rupanya sejak tadi sudah bergantian tetangga kanan dan kiri rumahku mencoba berbagai cara untuk dapat membuka pintu rumahku tapi belum juga berhasil.

“Gini aja deh, tolong tukang siapa kek… yang badannya kecil, buat masuk lewat atas sini…” kataku pada Mama Tesa yang di rumahnya memang banyak karyawan (pabrik sepatu) yang menginap karena rumahnya luar kota semua.
“Tadi juga Mas Alfath (anaknya tetanggaku yang lain) sudah naik ke atas sini, tapi nggak bisa turun.” kata Mama Tesa.
“Memangnya kalau sudah di dalam terus gimana?” tanya Papa Tesa.
“Buka jendela yang di dalam warnet itu, terus masuk ke warnet dan buka kunci pintu warnet dari dalam.” jawabku. Di teras rumahku ini memang kubuat warnet tapi hanya kubuka kalau aku atau suamiku ada di rumah saja. Kami nggak pakai karyawan.

Akhirnya dipanggillah seorang tukang sepatu dan disuruh naik ke lobang angin di atas pintu yang kebetulan memang kubuat cukup lebar dan untungnya aku tidak suka teralis sehingga dia bisa masuk dan melompat turun. Lumayan tinggi juga sih, setinggi pintu itu.

Setelah itu dia buka jendela yang berhubungan langsung dengan warnetku, masuk ke warnet dan membuka kunci pintu kaca dari dalam. Beres deh.

Anakku kusuruh masuk rumah dan menyalakan semua lampu. Untuk sementara aku dan anakku keluar masuk rumah lewat jendela di dalam warnet ini. Menunggu besok pagi aku memanggil tukang untuk mengganti kunci pintu.

“Emang tadi kuncinya diapain koq sampai patah?” tanyaku pada anakku.
Katanya, karena kuncinya susah diputar, jadi dia pakai tang buat memutar anak kuncinya… Ya jelas aja anak kuncinya patah, orang dilawan pakai tang.

Beruntungnya aku cukup dekat dengan tetangga-tetanggaku dan mereka adalah orang-orang baik yang peduli padaku dan keluargaku. Sering juga kalau sampai lewat maghrib aku belum pulang, tetanggaku bergantian mengirim makanan buat anakku, walaupun mereka juga sambil mengancam karena katanya anakku susah sekali dibujuk untuk mau menerima makanan itu.

Beberapa contoh ceritanya begini, “Ndiek, mamie belum pulang ya…. Ini tante buatin mie goreng. Ayo dimakan.” kata Mama Tesa.
“Nggak usah tante, nggak usah… terimakasih. Sudah makan koq.” tolak anakku.
“Ndiek terima nggak, kalau nggak… tante tumpahin deh mienya… “ kata Mama Tesa. Baru setelah itu anakku menerima piringnya.

Satu lagi dari tetangga kanan rumah, “Ndiek, Bude beli nasi goreng… ndiek mau nasi goreng nggak?”
“Nggak usah Bude, makasih.” tolak anakku.
“Kalau gitu, mie aja ya…” kata Bude.
“Nggak usah Bude…., makasih.” anakku masih tetap menolak. 
Akhirnya Bude beli martabak bulan isi keju dan diberikan ke anakku, sambil ngomong gini, “Ini martabak bulan, ayo dimakan. Kalau nggak mau, Ndiek gantiin bayar ojek Bude buat beli martabak tadi.”
Baru deh anakku mau menerima martabaknya dan langsung bercerita begitu aku pulang.

Kejadian-kejadian seperti itu adalah sesuatu yang harus kubayar karena aku berkegiatan di luar rumah dan meninggalkan anakku yang masih SD sendirian di rumah.  Tetapi harus bagaimana lagi. Saat ini aku belum punya pilihan untuk melakukan yang lain sebab kebutuhan ekonomi keluarga yang menuntut semua ini.

Suamiku bekerja di luar kota yang hanya pulang tiap bulan sekali. Anak sulungku juga kuliah di luar kota. Memang tidak ada orang lagi. Kami hanya berempat tinggal di rantau ini.

Walaupun misalnya ada pilihan yang harus kulakukan, semua juga masih harus berproses, tidak mungkin semudah membalik telapak tangan dan semua hal langsung bisa teratasi dengan sempurna.




Bogor, 10 Mei 2012



Minggu, 06 Mei 2012

Terjebak


Pernah dengar kata ‘terjebak’ kan? Tentu sudah pernah dengar dan kita semua pasti sudah tidak asing dengan kata itu. Kata ‘terjebak’ itu sendiri menurut Kamus Besar bahasa Indonesia mengandung arti masuk (ke tempat yang tidak menyenangkan), menderita, terhalang, dan beberapa pengertian lain yang sejenis.
Memang sungguh tidak nyaman kalau kita yang sedang berada dalam posisi terjebak, hanya saja terkadang kita tidak menyadari kalau sebenarnya kita sedang dalam posisi terjebak itu dan baru menyadarinya setelah kita masuk semakin dalam.
Sebagai contoh, pada satu kesempatan, aku ada janji untuk wawancara riset dengan VP Head of…. Sebuah Bank Pemerintah di Indonesia jam 10.00 WIB di kantornya di Jl Jenderal Sudirman. Untuk mengantisipasi supaya aku tiba tepat waktu dan tidak terjebak kemacetan, aku berangkat pukul 07.30 WIB dari rumah. KRL yang duluan berangkat adalah KRL Ekonomi jurusan Tanah Abang pukul 07.50 WIB, baru setelah itu Commuter Line pukul 08.13 WIB.
Buatku, untuk ukuran Jakarta dengan kendaraan umum, perjalanan dengan selisih waktu 15 menit itu sangat berharga sekali. Daripada terjebak macet sehingga jadi terlambat, mending aku mendahului lawan. Berusaha semaksimal mungkin supaya tidak telat.
Nah, akupun naiklah KRL Ekonomi itu di gerbong 1, paling depan. Karena nanti kalau turun di Stasiun Sudirman, arah pintu keluarnya berada di depan, supaya jalannya tidak jauh-jauh gitu. Aku masuk ke tengah gerbong dan mencari tempat yang masih ada untuk berpegangan dan kelak masih bisa dapat udara dari jendela.
Tasku yang cukup berat karena berisi netbook, souvenir untuk responden dan beberapa berkas urusan pekerjaan kuletakkan di tempat tas di atas tempat duduk penumpang karena perjalanan yang cukup jauh dan lama…. (mungkin sekitar satu jam). Lumayan untuk mengistirahatkan bahu dan punggungku.
Satu stasiun, dua stasiun terlewati, dan keadaan kereta yang makin penuh, membuat tumpuan kaki menjadi tidak stabil karena sudah penuh dengan kaki-kaki penumpang lain, untung saja kaki kanan dan kiriku masih pada tempatnya, bersebelahan. Biasanya malah bisa tertukar dengan kaki penumpang lain (jangan heran membacanya ya…., itu artinya di antara kaki kanan  dan kiriku ada terselip kaki orang lain).
Percakapan antara penumpang kudengarkan dalam diam, coba kurekam dalam ingatan. Mungkin ada yang menarik untuk bahan berbagi cerita. Sebelah kanan, sebelah kiri, di depanku, di belakangku, percakapan itu ternyata saling bersahutan. Saling tanya dan jawab diselingi gurau dan canda.
Tiba-tiba aku tersadar bahwa aku telah masuk dalam sebuah komunitas kecil di dalam kereta ini, di mana penumpang di sekitarku semuanya telah saling kenal dan aku adalah makhluk asing yang tiba-tiba nyempil di antara mereka. Menyadari ini, aku jadi merasa ada yang berputar di dalam perutku. Sungguh rasa yang tidak enak.
Aku sadar kalau aku sudah terjebak, dan untuk dapat keluar dari situasi ini adalah harus ada kemauan dari diri sendiri untuk mencari jalan keluar. Setelah kita berusaha sendiri, orang lain baru akan bergerak untuk membantu kita yang sedang berusaha mencari jalan ini karena mereka tidak tau pasti seberapa parahkah kondisi kita dalam situasi tersebut.
Begitu juga bila kita terjebak dalam masa lalu, kita akan tetap berada di dalamnya selama kita sendiri tidak ingin keluar dari kondisi itu. Mau indah atau pahit, yang namanya masa lalu itu hanya patut dikenang dalam memory saja, bukan membuat kita jadi hanyut di dalamnya.
Terjebak dalam masa lalu ini akan makin diperparah dengan hadirnya harapan-harapan semu dari bagian masa lalu itu yang sampai kini masih kita dapatkan. Di sini kita seolah-olah masih diberi harapan untuk merengkuh kembali masa lalu itu, padahal yang namanya harapan semu tentu saja hasilnya tidaklah seindah kenyataan. Bagaikan memeluk bayangan. Tampaknya ada di depan mata, tapi tidak tersentuh.
Lebih ironis lagi adalah bila kita yang sedang terjebak dalam masa lalu ini tidak menyadari kalau kita sedang terjebak. Karena kita tidak sadar, maka orang lain yang berusaha membantu kita supaya kita keluar dari belenggu ini malah akan kita lawan. Kita akan berusaha melawan mati-matian karena orang itu kita anggap sebagai perusak zona nyaman kita. Apalagi bila lingkungan sekitar malah menyuburkan zona nyaman itu dengan terus menerus memberikan stimulus yang tidak pada tempatnya.
Sungguh aku tidak ingin berada dalam situasi itu. Aku tidak ingin terjebak masa lalu dan aku juga tidak ingin terperangkap dalam mimpi yang terlalu indah. Aku hanya ingin menjalani langkah ini satu-satu, tetapi di setiap langkahku kuberikan seluruh hatiku dengan ridho yang Kuasa. Semoga.





Bogor, 5 Mei 2012
Renungan untuk diri sendiri semoga tetap berjalan dengan hati.

Sabtu, 21 April 2012

Menonton Berita di TV

Beberapa waktu nggak sempat nonton TV, sungguh membuatku ‘terpesona’ menonton berita yang disiarkan oleh TV-TV ini.

Mulai dari buku LKS anak SD yang isinya membuat kuping merah, kemudian cerita tentang geng motor yang mulai mencekam warga Jakarta, sampai dengan minuman ringan ‘gau-jal’ yang bahan bakunya dibuat dari urine sapi, serta beberapa berita heboh lainnya.

Tentang buku LKS anak SD yang ternyata di dalamnya terdapat cerita-cerita atau kalimat-kalimat yang tidak mendidik itu sebenarnya sudah beberapa kali terjadi dan tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi terjadi juga di beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini.

Kalau melihat runtutan prosesnya, menurutku pasti tidak ada unsur kesengajaan dengan tujuan negative dari para mereka yang bersangkutan di dalamnya. Tetapi aku justru melihat bahwa ternyata batas antara baik dan buruk, boleh dan tidak, pantas atau tidak pantas, layak atau tabu dalam persepsi insan masa kini itu menjadi semakin bias, semakin kabur, atau tidak jelas lagi.

Artinya, hal-hal yang pada masaku dulu ketika banyak batasan-batasan moral dalam menjalani hidup ini begitu ketatnya…., tampaknya sekarang kian melonggar saja. Misalnya kalau insan masa kini melihat sesuatu hal sebagai suatu hal yang biasa, lain lagi dengan insan jadul yang seproduk denganku yang mungkin berbeda pendapat dan melihat sesuatu itu tadi sebagai hal yang luar biasa dan keluar dari batasan unsur baik, boleh, pantas atau layak.

Apakah dalam hal ini system patut disalahkan karena membuat insan produk masa kini hanya banyak tau tentang kulit luarnya saja tanpa perlu menjelajahi isinya seperti masaku dulu, ketika banyak hal itu tetap harus dibedah secara detail dan merasuk sampai ke sumsumnya? Jawabnya adalah, tidak tahu!

Tentang geng motor yang membuat kegemparan di beberapa wilayah di Jakarta beberapa waktu ini, konon katanya itu adalah unsur balas dendam karena ada teman mereka yang tewas karena dikeroyok oleh kelompok tertentu.

Balas dendam? Aku jadi ingat film-film kungfu yang sering ditayangkan beberapa stasiun TV kita. Kalau di film-film kungfu itu, biasanya ada anak yang harus membalaskan dendam kematian orangtuanya, ada murid yang membalas dendam untuk gurunya, atau seorang adik /kakak yang membalas dendam untuk saudaranya dan lain-lain. Yang akhirnya pembalasan dendam itu tidak akan pernah ada akhirnya karena selalu dilanjutkan oleh sanak saudara atau keturunannya.

Kenapa harus seperti itu, padahal biarpun setelah membalas dendam… hal yang sudah terjadi itu kan tidak bakalan pernah berubah atau datang lagi. Jadi sebetulnya apa gunanya? Kenapa kita tidak hidup secara damai saja dengan semua orang? Saling memaafkan dan hidup tenang bersama-sama.

Sekarang soal minuman ringan ‘gau-jal’ berbahan dasar urine sapi yang katanya tidak berbau, menyehatkan dan rasanya dapat bersaing dengan minuman berkarbonasi lainnya serta harganya lebih murah dan alami.

Biarpun otak manusia kadang-kadang memang terbalik, tapi aku tetap heran dengan ide pembuatan minuman ini yang menurutku bukan lagi otaknya terbalik, tapi karena memang di dalam kepalanya itu pasti kosong alias tak berotak.

Coba saja, apakah tidak mual membayangkan bahwa isi botol minuman yang kita minum di saat tengah hari bolong, panas dan haus itu adalah pipisnya sapi? Biarpun sudah dimasukkan ke dalam kulkas sekalipun…??? Ooooh…, rasanya aku lebih baik pingsan kehausan saja deh, daripada harus minum pipisnya sapi……

Acara-acara TV lainnya hari itu langsung blank dari kepalaku karena ‘gau-jal’ ini. Mungkin besok atau lusa aku bisa dapatkan lagi memoarku yang hilang ini buat ditulis. Gau-jal gau-jal….



Bogor, 21 April 2012

Selamat Hari Emansipasi, terimakasih pada Ibu Kartini dan pahlawan-pahlawan pejuang wanita lainnya yang sempat agak terlupakan…..