Jumat, 13 April 2012

Satu Lagi Ceritaku Hari Ini

Sepertinya aku pernah menulis kalau di atas KRL itu selalu banyak hal menarik yang bisa dijadiin bahan cerita. Banyak hal yang menggelitik hati dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Misalnya kejadian beberapa hari yang lalu, aku bersama temanku naik KRL Ekonomi ke Bogor, walaupun sebetulnya tujuan utama kami tuh ke Jakarta. Maksudnya kami ikut naik KRL ke Bogor dulu adalah supaya ketika kereta ini nanti kembali ke Jakarta, kami berdua dapat tempat duduk, maklum perjalanan ke Jakarta kan lumayan jauh sedang kaki temanku suka sakit karena pengapuran,dan mumpung kami sedang tidak dikejar waktu,… hehehe…

Selepas Stasiun Cilebut, tiba-tiba terdengarlah suara seorang anak perempuan ---menurut anakku yang juga sering naik KRL ke sekolah, anak ini namanya Chika--- yang dengan suara nyaringnya mulai meminta-minta dengan kalimat yang sama setiap harinya, ”Om, Tante… bagi duit dong…. Lapeeerrrr…, kasihan…. Om, Tante….. saya belum makan….“

Karena tiap berangkat kerja aku selalu naik KRL (baik ekonomi maupun commuter line), maka sebetulnya aku juga sudah sering sekali melihat ‘anak perempuan’ ini, yang menurut pengamatanku sebetulnya dia ini bukan anak-anak lagi. Anakku juga menyebutnya sebagai ‘anak-anak berwajah tua’. Aku melihatnya sebagai seseorang yang mengidap mongoloid syndrome atau down syndrome, yang seingatku mereka ini mempunyai IQ antara 20-60. Jadi, kecerdasan mereka memang dibawah normal, tetapi mereka masih mempunyai kemampuan bila terus menerus dilatih dengan penuh kasih sayang dan secara intensif.

Terus terang aku tidak pernah memberi uang pada ‘anak ini’, karena aku tidak suka caranya yang terlalu memaksa, yang notabene aku juga merasa kalau anak ini ada yang memanfaatkan atau menyuruh. Biasanya ‘anak ini’ akan langsung memeluk para bapak dan menggayut dengan kemanjaan yang dibuat-buat, sampai mereka yang menjadi sasaran ini jadi rikuh dan sulit melepaskan pelukan tangannya.

Kembali pada cerita semula, ketika si Chika ini sampai di tempat aku dan temanku berdiri (waktu KRL menuju Bogor, kami belum dapat tempat duduk), temanku langsung menegurnya.

“Kamu tidak boleh minta-minta ya…, harusnya kamu tetap sekolah dan orang tua kamu yang bekerja mencari uang, bukannya malah menyuruh kamu minta-minta seperti ini… Saya pernah lihat kamu di Pasar Minggu bersama ibumu. Ibumu sehat dan gemuk kan?” kata temanku. Langsung saja semua penumpang di sekitar kami diam dan memperhatikan temanku. Sementara si Chika ini hanya tersenyum-senyum nggak jelas, tapi tangannya tetap menjulur ke sana ke mari ke arah para penumpang.

“Nggak ada uang, dengerin kata-kata ibu itu…” kata penumpang yang terus menerus digelayutin oleh Chika sambil berusaha melepaskan diri.. Penumpang-penumpang yang lain juga ikutan menolak memberi uang pada Chika.

“Iya, saya lihat sendiri koq kalau anak ini suka diantar sama ibunya untuk masuk ke satu gerbong, sedang ibunya menunggu di gerbong yang lain. Ibunya sehat dan seger…, harusnya masih bisa cari uang dengan jadi buruh cuci kek, apa kek…. “ kata temanku pada ibu-ibu di depannya. Para penumpang yang lain mengangguk-angguk.

“Sebetulnya rumahnya di Manggarai bu, bapaknya penjudi, dan kadang dia suka diantar abangnya yang juga gemuk. Tadi tuh saya lihat ada abangnya, itu tuh yang pakai kaos coklat.” tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berseragam putih merah menyahut dan menunjuk pada seorang anak laki-laki belasan tahun yang memang bertubuh tambun.

“Tuh kan, apa saya bilang… malah ada abangnya juga…. “ kata temanku.

Akhirnya Chika berlalu dari tempat kami sambil berkata, “Koq ibu tahu sih?” katanya sambil tetap tersenyum-senyum nggak jelas.

Sempat terpikir olehku, apakah Chika ini juga masih punya rasa lain selain rasa lapar seperti kata-katanya selalu, ataukah orang-orang terdekatnya tidak pernah memperkenalkan arti kata yang lain padanya, sehingga dia hanya menjadi robot bernyawa tanpa punya pikiran atau kemauan sendiri? Sungguh malang sekali nasibnya, dan seperti apakah masa depannya kelak.

Ketika kereta sampai di Stasiun Bogor dan para penumpang turun, aku dan temankupun memilih tempat duduk yang baru saja ditinggalkan para penumpang. Tapi, acara memilih tempat juga tidak dapat berlangsung lama karena calon penumpang baru juga sudah pada naik serta berebut tempat duduk.

Kalau melihat perjuangan para penumpang ini untuk mendapatkan tempat duduk, maka tidak boleh disalahkan kalau kaum adam juga enggan memberikan tempat duduk yang sudah diperjuangkan dengan gigih oleh mereka pada kaum hawa yang naik belakangan. Jadi jangan salahkan mereka kalau begitu dapat tempat duduk, merekapun akan berpura-pura tidur sampai tujuan…. Hehehe….

Tidak sampai lima belas menit kemudian, kereta mulai bergerak dan melaju menuju Jakarta. Tempat duduk penumpang sudah penuh, dan sudah banyak juga yang berdiri. Tapi suasana masih cukup sepi sehingga para pedagang asongan dapat dengan leluasa mondar-mandir sepanjang gerbong.

Tiba-tiba si Chika lewat dan menoleh pada kami sambil tetap tersenyum nggak jelas. Di belakangnya anak laki-laki tambun berkaos coklat mengikuti. Rupanya ‘abangnya’ sudah berani muncul dan dekat-dekat dengannya. Pasti sudah mau turun.

(Lanjut besok lagi ah, sekarang aku ngantuk berat nih….)

(Lanjutan tulisan semalam)………………….

Penumpang semakin bertambah ketika kereta berhenti di Stasiun Cilebut, dan pasti akan semakin bertambah ketika di Stasiun Bojonggede, Citayam dan Depok. Setelah stasiun-stasiun itu penumpang hanya akan bertambah satu dua orang saja.

Mendekati Stasiun Bojonggede, tiba-tiba ada seorang anak perempuan kumal berambut pendek ikal yang umurnya juga masih belasan, tiba-tiba muncul dari gerbong sebelah dan mulai mencubiti anak laki-laki yang berseragam SMA. Biarpun mencoba menghindar, tapi anak perempuan itu akan terus berusaha mencubit sampai dapat. Kalau sudah dapat, barulah dia berpindah pada anak laki-laki yang lain….

“Eh. Apaan tuh… orang gila ya….” spontan keluar kata-kata itu dari mulut temanku.

SSSRRTTT. Tiba-tiba saja anak perempuan itu berbalik arah dan langsung menghadap ke temanku dengan mata melotot dan siap melemparkan botol plastic berisi air berwarna coklat pada temanku. Tau tuh, air apa yang ada di dalam botol itu, bisa saja kopi susu, atau mungkin air comberan.

Temanku kaget dan panic, karena anak perempuan itu berada dalam posisi mengancam seperti itu lumayan lama…., lebih dari hitungan detik…, mungkin ada sekitar dua atau tiga menit.

“Eh, bukan itu maksudnya…. Anak-anak laki-laki tadi nggak mau diganggu, nanti marah mereka…. “ kata temanku begitu melihat anak perempuan itu tidak beranjak. Anak itu masih tetap seperti itu sampai beberapa saat lagi sampai akhirnya berbalik dan pergi sambil tetap mencubiti anak laki-laki yang berseragam SMA.

“Kenapa anak itu ya…, koq dia ngerti sih?! Gila nggak sih?!” kata temanku.

“Nggak tau deh…” jawabku sambil berpikir, ini buat pelajaran, seharusnya kita memang tahu kapan kita mempergunakan mulut kita. Apakah perlu atau tidak.

Aku juga sempat berpikir, kira-kira apa ya yang menyebabkan anak perempuan itu bertingkah laku seperti itu? Seperti ada traumatis dengan anak laki-laki berseragam SMA, karena memang hanya anak laki-laki yang berseragam SMA saja yang dicubitnya. Tapi aku tidak mau memperpanjang pikiranku, sebab di dunia ini banyak hal yang mungkin terjadi. Biarlah hal itu tetap menjadi mistery saja, kecuali kalau ada data nyata yang mendukung.

Oke, akhirnya kami turun di Stasiun Tebet dan kembali tenggelam dalam tugas serta pekerjaan yang harus kami selesaikan.

Bogor, 14 April 2012

Rabu, 07 Maret 2012

Aneka Tepu-tepu

Tadi pagi, pas mau buka warnet, aku menemukan lipatan kertas dilaminating yang berukuran kira-kira 3 cm x 6 cm tepat di depan pintu warnet. Bentuknya rapi banget.

Karena penasaran, aku paksa buka tuh plastic laminatingnya dengan cara kupencet-pencet. Akhirnya kebuka juga deh pres-presannya.

Kukeluarkan kertasnya dan kubuka. Ternyata di dalamnya ada lagi kertas foto dengan tulisan kecil-kecil yang penampilannya cukup bonafid. Ada gambar mobil, Kopi ABC, dan Lambang Burung Garuda.

Yang lembar besar, kertas biasa ukuran kira-kira 8 cm x 12 cm (ini kira-kira aja, sebab aku nggak bawa penggaris), ada gambar/logo Kopi ABC serta PT. SANTOS JAYA ABADI tbk. Isinya adalah pernyataan ‘SELAMAT’ karena sudah berhasil memenangkan hadiah undian langsung (tanpa diundi), berupa satu unit mobil. Serta beberapa ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemenang. Diantaranya adalah menyelesaikan administrasi Biaya Balik Nama Kendaraan Bermotor. … (lho, koq pakai biaya balik nama segala, berarti bukam mobil baru dong?), kemudian ditanda-tangani oleh ANDIKA PRAYITNO,SE, sebagai GENERAL MANAGER, Drs. CONDRO KIRONO,SH, dari POLDA METRO JAYA, dan RISMAN S. TARIGAN, SH, sebagai Notaris.

Hehehe… rupanya seperti ini bentuk penampakan penipuan-penipuan seperti yang selama ini kudengar dan kubaca beritanya. Lumayan bermodal juga, pikirku.

Tadinya waktu pertama lihat sih aku sempat berpikir, kalau ini mungkin punya orang yang semalam ngenet di sini dan jatuh. Mungkin jimatnya atau apanya kek. Tapi ternyata….. hehehe…

Rupanya para penipu itu juga punya kepercayaan begini, segeralah bangun pagi dan bekerja sebelum rejekimu dipatok ayam. Soalnya kalau kuingat-ingat lagi, semalam pas aku tutup pintu warnet sekitar jam 23.30 tuh, di depan pintu ini nggak ada apa-apa koq…. Jadi, itu artinya kertas ini dilempar tadi pagi-pagi banget atau tadi malam.

Padahal cuma mau nipu aja koq rajin ya…. Kasihan amat sih, sudah ngeluarin biaya buat bikin berbagai macam sarana penipuan, bangun sebelum ayam berkokok, tapi akunya nggak ketipu…, hehehe…. (dan mudah-mudahan juga, nggak ada orang lain yang tertipu… syukurin, biar kapok…! Sudah capek, duit habis, tapi gak dapat hasil….)

Bogor, 8 Maret 2012

Minggu, 23 Oktober 2011

Duniaku Kacau Balau

“PLN goblok!!”

“Dasar, PLN kurang ajar!!”

“Bener, PLN geblek!!”

“Nggak usah dibayar aja…”

“Mana bisa, kalau telat bayar aja yang ada juga kita langsung diputus…!”

Kalimat-kalimat di atas itu adalah serentetan kalimat mutiara yang keluar dari sekelompok ibu-ibu tetanggaku pagi tadi yang kudengar begitu aku keluar dari rumah.

Memang bener sih, PLN ngeselin banget. Bayangin aja, tanpa pengumuman, tanpa geledek atau petir yang mengiringi… (memang sempat gerimis sih, tapi nggak lama dan nggak ada geluduk, guntur ataupun petir) , tiba-tiba aja semalam mati lampu kira-kira dari jam setengah delapan malam sampai setengah delapan pagi ini. Dua belas jam. Gila kan?!

Aku baru masukin air ke mesin cuci, baru dapat setengah dan berniat mencuci baju ketika tiba-tiba saja kegelapan menyelimuti. Orang-orang yang lagi pada ngenet di tempatkupun jadi pada udahan…. (rugi deh…). Es batu di kulkas buat jualan es juga pasti ikutan mencair lagi.

Kupikir nggak lama tuh matinya, kayak biasanya… kalau nggak ada pengumuman ya paling lama cuma satu jam, jadi nanti kalau sudah nyala baru nerusin nyuci. Soalnya aku kan nyucinya seminggu sekali, dengan kata lain malam ini aku harus nyuci karena baju seragam anak-anak juga belum pada dicuci, padahal besok pagi kan mereka harus sekolah.

Ternyataaaaaaaa…………………………………………………., listriknya nggak kunjung menyala sampai aku ngantuk dan tertidur, kemudian terbangun lagi ketika adzan subuh terdengar. Wah, sudah nyala pikirku. Tapi aku salah, ternyata lampunya masih mati. (Masjid sih punya diesel, jadi adzan masih bisa terdengar).

Gimana ini, baju anak-anak belum dicuci. Yang lama, harus bongkar lemari dulu deh padahal lampunya mati, mana kelihatan dan pasti lecek banget. Baju atasan kakak yang kubeli beberapa saat sebelum lampu mati semalam juga masih lecek lipatan toko. Diapain dong ini? Coba seandainya aku punya setrikaan jaman dulu yang dalamnya diisi arang tuh.

Tiba-tiba aku teringat film Boboho di TV yang ditonton anakku beberapa waktu yang lalu. Saat itu baju Boboho basah kuyup, terus sama si paman digosok pakai panci bergagang panjang yang diisi air mendidih yang terus-terusan ditaruh di atas kompor (maksudnya pasti supaya airnya mendidih terus gitu…)

Hehehe…, good idea! Coba kupraktekkan ide itu, pikirku sambil menyalakan kompor dan memasak air di panci bergagang panjang. Kemudian menyiapkan alas gosokan dan baju si kakak.

Setelah air mendidih, kucoba menghaluskan lengan baju dengan jalan kutiban pake panci berisi air mendidih itu. Kuangkat pancinya, kupinggirkan….., koq masih lecek? Kupanasi lagi airnya, mungkin nibannya kurang lama, pikirku. Kucoba lagi meletakkan panci itu dengan waktu yang lebih lama, terus kulihat hasilnya….., ternyata tetap lecek! Kenapa bajunya nggak mau licin ya? Padahal di TV tempo hari bisa tuh…..

Akhirnya aku menyerah. Ide itu ternyata gagal buatku. Akupun membangunkan anakku dan bertanya apa dia mau ke sekolah pakai baju yang belum disetrika? Sudah tentu jawabnya tidak mau, padahal si kakak hari ini harusnya jadi dirigent di upacara sekolah.

Yah, mau gimana lagi dong. Listriknya belum juga nyala dan aku juga sudah mencoba cara lain yang terlintas di benakku yang ternyata gagal. Jadi bukannya aku nggak berusaha lho…..

Listrik, salah satu tekhnologi utama tempat kita menggantungkan hidup saat ini. Betul-betul tergantung! Coba saja ditelusuri satu-satu. Aku mencuci baju pakai mesin cuci yang mengoperasikannya harus pakai listrik. Air yang akan kupakai mencuci baju itu disedot dari sumur bor sedalam 28 meter pakai pompa air yang pakai listrik karena aku nggak punya tendon air. Setelah dicuci, kering, setrika juga pakai setrikaan listrik.

Aku jualan es yang harus dicampur es batu yang dibekukan kulkas bertenaga listrik dan blendernya juga pakai listrik. Aku juga membuka usaha warnet yang PCnya pakai listrik. Memasak nasi juga pakai rice cooker yang dicolokin ke listrik. HPku juga jadi mati karena kemarin lupa di charge, sedang malamnya lampu mati dan nggak ada listrik.

Kalau lagi bengong, nonton drama korea sampai melihat kecelakaan tragis Simoncelly di TV juga pakai listrik. Aku ngetik sekarang juga pakai PC yang nyambung ke listrik.

Coba, apa ya yang kulakukan sehari-hari tanpa listrik? Tidur mungkin? Tidak juga…, aku tidak bisa tidur kalau tidak ada kipas angin. Sebab bagiku kipas angin ini dwifungsi, yaitu sebagai pembantu pergantian sirkulasi udara (ngipasin maksudnya), dan sebagai pengusir nyamuk.

Ini harus pakai listrik, itu juga harus pakai listrik. Pokoknya hampir semua alat bantu hidup harus pakai listrik. Kenapa sih sekarang kita harus terjebak dalam situasi seperti ini, tergantung hidup pada listrik? Seandainya kita masih hidup seperti masyarakat di pedalaman, seperti masyarakat baduy dalam misalnya. Hidup damai bersahabat dengan alam. Tapi apakah kita mau?

Kalau hanya untuk sekedar berganti suasana dari kejenuhan sehari-hari dan mencoba mengalaminya selama beberapa hari sih mungkin oke-oke saja. Tapi jika dalam kurun waktu yang panjang (atau malah selamanya), pasti jawabannya ‘nggak janji deh…!!’

Jawaban itu tidak boleh dilarang, sebab memang sudah suratan, kalau sesuatu hal yang menyenangkan/memudahkan/mengenakkan dan lain sebangsanya itu adalah hal yang amat mudah untuk diadaptasi dan diamalkan dalam hidup sehari-hari. Sedangkan untuk kebalikannya, yaitu hal yang tidak menyenangkan/sulit/tidak enak dan lain sejenisnya itu adalah hal yang agak sulit untuk diterima, apalagi diamalkan dalam hidup sehari-hari…. Betul kan?

Yah, intinya aku menulis ini semua adalah menceritakan hidupku yang kacau karena lampu mati semalaman. Pagiku jadi acak adul nggak karuan dan perasaan galau yang menyiksa karena anakku minta aku sms wali kelasnya untuk minta ijin hari ini nggak bisa masuk sekolah karena lampu mati dari semalam yang mengakibatkan baju belum dicuci, belum disetrika dan tidak ada air buat mandi.

Sampai saat menulis ini, aku belum sms wali kelas anakku, karena masih juga sibuk berpikir apakah alasan ijin tidak masuk yang akan kukemukakan itu bukan alasan konyol… (atau amat konyol?). Kira-kira apa nanti pikiran atau komentar wali kelas anakku kalau aku mengirimkan sms itu?

(Oh, ya… saat aku menulis ini, sempat terlintas di benakku yaitu bila baju atasan anakku yang tadi mau kusetrika pakai panci itu dibasahi dulu, mungkin ide di film Boboho itu akan berhasil….., mungkinkah?!)

Bogor, 24 Oktober 2011

Rabu, 28 September 2011

Ceritaku Hari Ini

Kali ini aku ingin menuliskan semua yang kualami hari ini. Anggap saja sedang membaca diaryku ya…., hehehe……

Kumulai saja dengan ketika pagi ini tetanggaku datang nyamperin aku ke rumah untuk berangkat ke Jakarta sama-sama (kami mau training kerja). Dari depan rumahku, kami memanggil dua ojek yang sedang mangkal. Maka datanglah dua motor ke arah kami.

“Yaah, dia lagi…..!” kataku begitu melihat dua tukang ojek yang menghampiri.

“Hah, kenapa?!......” tetanggaku menyahut. Aku tidak menjawab, tapi memberi isyarat dengan mataku supaya dia melihat ke arah ojek yang akan kutumpangi.

“Oh,.. dia lagi! Bodo’ ah…!!” katanya setengah geli sambil naik ke boncengan ojek yang akan membawanya.

Pasrah, akupun naik ke boncengan tukang ojekku yang rambut gondrongnya sudah melewati punggung, dan dikuncir satu. Motornya motor laki yang sudah lumayan berumur dengan suara yang cempreng dan menyakitkan telinga.

Tapi, masalah pokoknya bukan pada penampilan tukang ojek dan motor bututnya. Masalahnya adalah si tukang ojek itu beberapa waktu yang lalu sempat terdeteksi sebagai orang yang agak kurang waras. Sempat ditahan di kantor polisi karena nggebukin ibunya, dan bapaknya sendiri yang melaporkan. Konon katanya saat itu dia sedang ‘mencari ilmu’ tapi nggak kuat sehingga jadi miring. Kemudian sempat terlihat lontang lantung ke sana ke mari tanpa arah, dan malah ada yang bilang kalau dia sempat jadi copet di KRL, dan entah apa lagi.

Semua informasi itu rasanya sudah cukup untuk membuat semua orang meragukannya, apakah dia ‘sudah bener’, koq sekarang jadi tukang ojek?! Termasuk aku dong, sebagai seorang calon penumpang ojek…. Sehingga, ketika tempo hari untuk pertama kalinya aku dibonceng dia, sepanjang perjalanan aku waspada…., jangan-jangan nanti aku diceburin ke kali atau parit. Atau malah akan disungkurkan ke bakaran tukang sate.

Bisa saja kan, kalau tiba-tiba saja stressnya kumat di tengah jalan pada saat menghadapi jalanan macet yang tingkat kemacetannya lumayan parah dan sulit ditolerir? Orang sopir angkot yang waras saja mendadak bisa jadi gila kalau menghadapi macet yang parah, gimana dia yang pernah gila?

Tapi Alhamdulillah, tempo hari aku selamat sampai di stasiun dan tidak diceburkan ke parit. Begitu juga dengan tadi pagi. Aku selamat sampai di stasiun, walaupun waktu melewati jembatan yang lebarnya cuma kira-kira semeter tadi nyawaku sudah tinggal separuh.

Sampai di stasiun, KRL yang standby adalah ekonomi. Ya sudah, kita berdua langsung naik diantara jejalan penumpang yang keretanya juga sudah hampir jalan. Kami mengejar waktu, makanya kami nekat naik kereta yang ini. Saat itu sudah hampir setengah delapan, sedangkan kami sudah harus sampai di Tebet setengah sembilan pagi. Jadi waktunya memang sudah mepet banget.

“Masuk ke dalam, jangan di pintu ya…, bahaya.” kata tetanggaku.

Ternyata, kami tidak dapat masuk ke dalam saking penuhnya penumpang. Jadi ya kami terpaksa berdiri di situ saja. Maklum, ini masih sibuk-sibuknya orang berangkat kerja. Jadi jangan pernah bermimpi mendapatkan keadaan kereta yang lega dan nyaman serta sesuai keinginan kita.

Tidak terasa, kereta sudah sampai stasiun berikutnya. Keretapun berhenti lagi untuk mengangkut (lagi) penumpang. Bayangin saja, kereta yang sudah amat sesak itu, masih akan terus menerus mengangkut penumpang menuju Jakarta dan tidak ada yang turun di jarak-jarak dekat ini.

Tanpa kami sadar, kamipun otomatis terdorong agak masuk. Tapi ya cuma sampai di situ saja. Eh, ada beberapa perempuan muda sekitar empat atau lima orang yang umurnya antara duapuluh sampai duapuluh limaan gitu yang naik.

“Maaf saya mau masuk…” kata salah satunya.

“Nggak bisa mbak, saya juga pinginnya masuk.” kata tetanggaku.

“Nggak bisa gimana, kalau ibu memang nggak mau masuk, ya biar saya aja yang masuk. Orang saya juga biasanya bisa masuk koq.” jawabnya sambil mencoba mendesak dari belakangku. Tapi keadaannya yang memang sudah kayak jejeran bandeng di presto itu tidak memungkinkan lagi. Bapak-bapak di belakangku malah seolah tampak mendorong balik mereka yang mau merangsek masuk itu.

“Ya coba aja masuk!! Masuk tuh…, masuk aja terus!! Dibilangi koq ngeyel. Lewat atas tuh!” kata tetanggaku.

“Udah…” kataku.

“Biarin aja, gua lagi nggak enak hati koq dikasih gara-gara..” jawabnya.

“Kayaknya keretanya telat deh, makanya penumpang commuter pada naik sini. Makanya nggak mau disenggol.” sindir anak perempuan yang lain.

Tetanggaku langsung nyolot mendengar itu. Dan terjadilah perang mulut yang seru.

“Kalau nggak terima, ayo turun. Segede apa sih nyali lu!! Gue jabanin sekarang…., balik lu, ngadep sini kalau ngomong. Jangan Cuma berani dari belakang aja!!” kata tetanggaku. Perlu dicatat, bahwa tetanggaku ini memang tomboy. Rambutnya dipotong laki dan lahir serta besar di Jakarta. Biasa nelen orang, hehehe……

Begitulah suasana riuh dan gegap gempita di KRL ekonomi pagi. Kurasa, keadaan di dalam commuter line yang pagipun (masih jam-jam sibuk orang berangkat kerja) pasti juga seperti itu. Empet-empetan kayak pindang. Tapi mungkin, sekali lagi mungkin…. suasananya agak lain…. Tidak akan semudah itu menyulut dan tersulut emosi karena kan ada ACnya (walaupun sering nggak jalan dan hanya diganti fan) sehingga hawanya kan agak adem. Atau ada hubungannya dengan status social, ekonomi dan pendidikan? Masak iya sih? Sepertinya harus dibuat penelitian dulu nih….. hehehe….

Pulangnya, kami sudah standby di stasiun Tebet sekitar jam tujuh malam, tapi KRL terdekat yang menuju Bogor masih di Cikini. Itu commuter line. Tapi aku pesimis kita akan bisa masuk kereta.

Ternyata betul sekali perkiraanku. Kereta sudah full full full dan full!! Bahkan beberapa pintunya tidak dapat tertutup lagi.

Selanjutnya kereta yang datang adalah ekonomi dengan kondisi kepadatan penumpang yang lebih parah karena seperti biasa, kalau penumpang kereta ekonomi pasti banyak yang naik di atapnya.

Kereta selanjutnya adalah commuter line jurusan Depok. Jadi hanya sampai Depok Lama. Ini sudah hampir jam delapan malam, keapadatan penumpang masih bisa disisipi kita bertiga (ada satu orang teman yang tinggal di Citayam dan pulangnya selalu bareng kami).

Di dalam kereta gerbong khusus wanita, ternyata ada seorang ibu-ibu yang membawa anak juga ikut naik dari stasiun Tebet tadi. Bayangkanlah si anak perempuan yang umurnya sekitar lima atau tujuh tahunan itu ikut berhimpit ria dengan penumpang dewasa.

Ada seseorang yang menyarankan supaya si ibu mencari tempat sudut atau ke arah tempat duduk, mungkin akan ada yang mau memberikan tempat duduknya. Si ibu dan anaknyapun dengan susah payah berusaha mendekati arah tempat duduk, dan sampai di tempat yang dituju.

Ternyata, si ibu itupun tidak berhasil mendapatkan tempat duduk, karenaaa…… semua penumpang yang mendapat tempat duduk itu semuanya sedang tidurrrrr……………… (atau pura-pura tidur).

Maka berkomentarlah seseorang, “Ya beginilah…. Terkadang antara sesama perempuan justru tidak ada toleransinya….”

“Iya, betul…. Seringkali ibu-ibu yang sedang hamilpun dibiarkan saja tanpa diberikan tempat duduk.” Jawab yang lain.

“Betul, di kereta seperti ini dengan penampilan yang tidak sembarangan, dapat dipastikan kalau dia juga pasti punya posisi pekerjaan yang tidak sembarangan di kantornya, dan dapat dipastikan kalau pendidikannya juga pasti tinggi. Tetapi sayang otak dan nuraninya ditaruh di telapak kaki.” jawab yang lain lagi.

Serta beberapa lagi kalimat senada saling bersahutan. Tidak terdengar kalimat-kalimat bantahan, dan si ibu beserta anaknya masih tetap berdiri. Para penumpang dengan tempat dudukpun masih tetap tertidur.

Sampai di Depok Baru, suasana agak lumayan lega dalam artian kaki kiri dan kanan masih pada tempatnya masing-masing, tidak tertukar dengan kaki orang lain, aku menengok ke arah si ibu dan anaknya yang ternyata sudah duduk. Entah sejak kapan mereka duduk, aku juga tidak tahu.

Sebetulnya setiap peristiwa di dunia ini semua mengikuti scenario yang sudah ada, yang telah ditulis oleh Yang Maha Pencipta, dan kita tinggal menjalaninya. Tapi sungguh, kisah-kisah yang terjadi di KRL selalu membuat hatiku tergelitik untuk menulisnya karena selalu meninggalkan kesan di hati.

Mungkin buat banyak orang, cerita-cerita yang kutulis itu biasa saja. Tidak berkesan dan tidak berarti apa-apa. Tapi buatku, semua peristiwa itu menarik. Menarik untuk ditulis, menarik untuk diceritakan kembali, atau bahkan menarik hanya untuk didengarkan saja. Yah, hitung-hitung untuk memperkaya reverensi ceritaku……..

Sampai di rumah, hampir jam sembilan malam. Anakku yang kecil sudah tidur dan ternyata belum pada makan. Akupun akhirnya keluar lagi untuk mencari tukang nasi goreng. Seharian pergi meninggalkan rumah, anak-anakku kelaparan. Ah, sungguh cerita yang lengkap untuk hari ini.

Kutulis keesokan harinya, karena semalam sudah terlalu capek.

Bogor, 28 September 2011