Kamis, 02 Juni 2011

Kepada Rahasiaku

Padamu aku mencinta dan cemburu

Padamu aku mencinta yang hanya mencinta

Mencinta saja

Tetapi, padamu aku punya beribu cemburu

Aku cemburu pada ibumu,

karena dia dapat membelai sayang padamu

Aku cemburu pada kekasihmu,

karena aku tidak dapat menjadi kasihmu

Aku cemburu pada sahabatmu,

karena aku bukan sahabatmu

Aku cemburu pada peliharaanmu,

karena kau tumpahkan kasih sayangmu pada mereka

Aku cemburu pada diktat-diktatmu,

karena mereka senantiasa kau jamah dalam keseharian

Aku cemburu pada siapapun yang mendapat perhatianmu,

karena aku tidak pernah mendapatkannya

Aku cemburu pada apapun yang ada di dekatmu,

karena aku tidak punya kuasa untuk itu

Aku cemburu pada waktu,

karena ia menumbuhkan rindumu (yang pasti bukan untukku)

Aku bahkan cemburu pada udara,

karena ia mampu memberimu kehidupan

Ya, aku cemburu padamu rahasiaku,

Dan masih beribu cemburu lagi padamu

karena aku hanya punya itu untukmu

rahasiaku…..



Bogor, Awal Juni 2011

(sambil menguap menahan kantuk yang menggayut….)

Sabtu, 28 Mei 2011

Indahnya Duniaku


Ini adalah foto terbaruku bersama teman-temanku… bisa menebak yang mana yang aku kan?


Tahun ini aku berumur 17 tahun. Aku seorang gadis yang dilahirkan dari ayah Keturunan Tionghoa dan ibu dari suku Jawa. Sekarang aku masih duduk di sebuah SMAN di Kota Bogor dan adik lelakiku masih duduk di kelas IV SDN yang tidak jauh dari rumah.

Selama hidupku ini, aku belum pernah mengalami sakit hati yang serius ataupun ejekan yang berhubungan dengan darah Tionghoa yang mengalir di tubuhku, sehingga rasanya sulit membayangkan Peristiwa Kerusuhan Tahun 1998 yang boleh juga dikatakan sebagai Peristiwa Pembantaian Etnis Cina yang diceritakan oleh Mamie.

Saat itu aku masih berumur 4 tahun dan kami tinggal di Daerah Muara Karang, di tempat kerja Papieku. Mamie bercerita bahwa saat itu seluruh kota lumpuh total. Semua Kantor, Toko, Mall dan Gedung-gedung habis di luluh lantakkan massa. Orang-orang Keturunan Cina dikejar-kejar, diperkosa, disiksa dan dibunuh. Ngeri sekali mendengarnya.

Seperti kataku tadi, selama ini hidupku baik-baik saja. Apakah karena bentuk fisikku yang ‘tidak terlalu Chines’, sehingga teman-temanku tidak ada yang memanggilku dengan nada mengejek “Cina”, ataukah karena hal yang lain. Sebab, biasanya setelah mereka tahu kalau dalam tubuhku juga mengalir darah Tionghoa, mereka juga tidak berubah sikap padaku…, dan mereka menyebut “Cina” padaku bukan dengan nada ejekan, tetapi sayang.

Begitu juga kepercayaan dalam keluargaku. Keluarga Besar Papie menganut Agama Katholik, sedang dari Keluarga Besar Mamie semua beragama Islam. Tetapi hubungan kekeluargaan kami baik-baik saja. Kami semua saling menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing. Kalau Natalan atau Sinchia aku dapat angpau dari keluarga besar Papie, dan kalau Lebaran aku dapat juga dari Keluarga Besar Mamie.

Selama ini, Mamie sengaja memasukkan aku ke sekolah negri, bukan sekolah-sekolah swasta atau khusus. Sehingga aku mendapatkan pendidikan dan sosialisasi yang netral. Aku tidak mengatakan kalau sekolah-sekolah swasta yang khusus tersebut tidak baik (misalnya dari sekolah berbasis agama A, B, C, D, dan lain-lain), tetapi aku hanya ingin mengungkapkan analisaku pribadi. Mungkin… sekali lagi mungkin.., karena aku bergaul dan bersosialisasi di tempat yang netral, maka perlakuan yang kuterimapun juga netral sifatnya. Ini aku hanya mengungkapkan teori kemungkinan sebab akibat…., kalau misalnya ada yang tidak sependapat denganku ya silahkan. Setiap orang berhak punya pendapat yang berbeda kan?

Aku juga tidak tahu, apakah aku boleh ikut andil dalam ajang ‘Penulisan Jangan Panggil Aku Cina’ ini atau tidak, sebab aku belum pernah mengalami dipanggil dengan nada ejekan itu. Aku juga belum pernah merasa dijauhi atau dihindari oleh teman-temanku hanya karena aku mempunyai darah Chines. Malah, bisa dikatakan kalau hidupku benar-benar indah… berada di antara dua budaya yang berbeda, berada di antara dua agama yang berbeda, berbeda di antara dua cara pandang yang berbeda, dan lain-lainnya…. Yang ternyata semua itu menghasilkan aku yang 'tidak berbeda’ ke sana dan ‘tidak berbeda ‘ ke sini…. Aku sama saja dengan yang lainnya, siapapun kalian…..


Bogor, Di penghujung Mei 20011

Salam,

Rieke Oei



Catatan : Tulisan ini diikutkan Lomba di Komunitas "Jangan Panggil Aku Cina" di Facebook pada akhir Juli 2011, dan berhasil mendapatkan Juara. Komunitas "Jangan Panggil Aku Cina" ini adalah kampanye sosial anti rasis dengan tujuan supaya seluruh rakyat Indonesia semakin kokoh dalam persatuan tanpa memandang SARA.

Kamis, 05 Mei 2011

Menjadi Tua, apakah menakutkan?!

Seperti sang mentari yang berakhir di batas cakrawala selepas senja, begitu juga kisah perjalanan hidup seorang anak manusia yang kelak akan berakhir setelah melewati usia senja.

Ketika sekian dasa warsa terlewati, setelah berhasil mengalahkan segala masa, kini tinggal seleksi alam yang menanti. Renta, Rapuh, Sendiri dan Kesepian. Hidup dalam dunianya sendiri yang tak lagi tersentuh orang lain karena pola pikir yang sudah tak lagi sejalan.

Kehendak hati ingin begini…., tapi kenapa tak ada yang mengerti?

Maksud hati ingin berlari…., tapi kaki tlah kehilangan fungsi….

Semua terasa begitu sunyi…., karena desah angin dan kidung kehidupan mulai berhenti….

Hanya tingkah dan gerak yang masih tampak menari….

***

Kutulis ini semua, ketika beberapa hari ini aku mengamati gerak-gerik nenekku yang kini tinggal denganku. Tahun ini usianya 86 tahun. Kulitnya sudah amat keriput dan beberapa tampak menggayut karena kalah bertarung dengan grafitasi bumi. Matanya masih awas karena masih bisa membaca koran dan menulis beberapa catatan di notesnya untuk hal-hal yang dianggapnya penting.

Pendengarannya agak kurang dan lutut kakinya yang kanan sudah susah ditekuk sehingga berjalannya tertatih dan agak sedikit pincang. Kalau disuruh pakai tongkat, sepertinya dengan terpaksa diturutinya, sebab katanya kalau pakai tongkat jalannya malah semakin lambat.

Ingatannya masih cukup oke untuk beberapa hal yang aku saja sudah hampir tidak ingat lagi. Tampaknya, kejadian-kejadian yang dialaminya masih terasa begitu hangat membekas sehingga ketika menceritakannya kembali, seolah memutar rekaman saja.

Misalnya saja, ketika menceritakan saat umurku baru sembilan bulan. Katanya sore itu aku selesai dimandiin, dipakaikan baju, topi dan sepatu… , kemudian di gendong mau dibawa keluar. Tiba-tiba saja aku muntah dan… berhenti bernafas. Aku meninggal dunia. Hal itu terjadi sampai beberapa jam, sampai akhirnya aku hidup lagi. Mungkin itu yang disebut mati suri.

Kemudian, ketika adik perempuanku sakit kuping sampai menjadi bodoh untuk beberapa waktu, tapi untung segera sembuh dan akhirnya malah semakin cerdas, terus ketika adikku yang nomer tiga stuip, sedangkan dokter tetangga sedang pergi, sehingga istri dokter itu berusaha menolong dengan sambil membuka catatan/buku suaminya, adik ke empat yang lahirnya di RS AL, sampai kejadian meninggalnya adikku yang nomer lima karena tenggelam di pantai. Kemudian adik bungsuku yang lahir paling gendut. Semua kejadian masih diingatnya dengan baik, termasuk semua tanggal lahir anak, cucu dan buyutnya.

Cerita-ceritanya itu semua memang pernah kualami, tetapi sebagian besar ada yang tidak kusadari atau sudah banyak yang pergi dari memoryku, dan baru teringat kembali ketika diceritakannya lagi. Mungkin ini juga salah satu hal yang termasuk dalam pola pikir yang berbeda. Maksudnya, apa yang menjadi prioritas pikirannya ternyata tidak sama dengan yang menjadi prioritas pikir kita saat ini. Sehingga bila diteruskan, mungkin akan terjadi miskomunikasi alias tidak nyambung.

Terkadang ceritanya agak horor, yaitu ketika nenekku menceritakan bahwa tadi sepintas sempat melihat ibu bapaknya, suaminya serta saudara-saudaranya yang semua sudah almarhum tiba-tiba saja pada datang menengoknya. Katanya, mungkin mereka sudah siap menjemput.

Keadaan nenekku saat ini secara lahiriah masih dalam kondisi yang amat baik untuk usianya, walaupun guratan senja itu begitu kental, dan aku harap masih bisa begitu untuk beberapa tahun mendatang yang aku tidak tahu sampai kapan masih diberikan kesempatan bersamanya.

Hanya saja pikiran dan perasaanku bercampur aduk setiap melihatnya sedang duduk sendiri di teras sambil memandang dedaunan, yang kadang juga tampak berbicara sendiri. Aku pernah dengar nenekku berkata pada anakku kalau nenekku suka sekali melihat daun-daun yang tertiup angin sambil menunggunya jatuh karena menguning.

Ini mungkin isyarat, bahwa nenekku sudah pasrah dan tinggal menunggu waktu kapan akan dipanggil menghadapNya. Katanya juga, keinginan terakhirnya untuk bertemu dan ikut tinggal denganku sudah tercapai. Sudah tidak ada lagi yang diinginkannya di dunia ini. Maklumlah, aku adalah cucu pertamanya dan ketika dulu ibuku melahirkan adikku, aku diurus oleh nenekku ini. Aku ingat, sampai kelas lima SD aku masih tidur dengan nenek dan kakekku walaupun serumah juga dengan ayah ibuku.

Sejak menikah, aku pindah ke luar kota dan selama ini nenekku tetap tinggal dengan ibuku di kota kelahiranku, yang aku amat jarang pulang sehingga kami memang sangat jarang bertemu.





Dengan mata yang buram karena penuh air mata, yang aku sendiri juga tidak tau kenapa tiba2 aku sudah menangis......

Bogor, 5 Mei 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Masa Depan Antah Berantah Anak-anak Kita

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menyatakan keberuntunganku mempunyai rumah dan tinggal di sebuah perumahan di tepian kota Jakarta, di mana aku dapat melihat anak-anakku tumbuh dan bermain-main serta bereksplorasi dengan alam sebebas-bebasnya yang hal itu tidak akan mungkin mereka dapatkan bila rumah tinggal kami ada di kota besar seperti Jakarta.

Lahan yang terbatas di kota-kota besar sangat tidak memberi ruang bagi anak-anak untuk dapat beraktifitas fisik dan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya di lingkungan tempat tinggal. Tetapi saat ini, aku kembali merenungi dan menelaah pernyataan keberuntunganku itu. Apakah aku benar-benar beruntung? Apakah aku sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk pertumbuh kembangan fisik dan mental anak-anakku?

Semuanya bermula ketika anakku lelaki yang masih duduk di kelas 4 SD dan baru akan genap berumur 10 th di bulan depan, tiba-tiba bertanya padaku,”Mamie, sebetulnya KW itu singkatan dari apa sih?!” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi sambil sedikit berpikir, “Ya, banyak dik…, tapi biasanya sih KW itu singkatan dari Kualitas. Misalnya gini, mamie mau beli keramik. Nanti yang jual akan tanya, mau yang KW berapa? Mamie tinggal bilang KW 1, KW 2 atau KW 3. Itu artinya Kualitas atau Kelas . Dari yang paling bagus, sampai yang biasa saja.”

Anakku manggut-manggut,”Oh, jadi bukan singkatan ‘Kelamin Wanita’ ya mie…” katanya.

“Apa dik?!” tanyaku takut salah dengar.

“Kata anak-anak, KW itu singkatan dari Kelamin Wanita….” katanya. Deg!! Astagfirullah. Jantungku sempat terhenti sejenak.

“Memangnya kalian lagi ngomongin apa sih koq sampai membicarakan Kelamin Wanita segala..” tanyaku sambil berusaha untuk tetap terlihat biasa.

“Mas ‘X’ itu kan kalau mau ngenet biasanya ngomongnya mau ngebokep. Terus ngajak anak-anak mau lihat KW nggak….” kata anakku. Astagfirullah al adzim.

“Tapi dik, waktu mereka ngenet di sini tempo hari tuh mamie kan tanya mereka buka apa, mereka bilang kalau sedang lihat gambar-gambar Naruto. Mamie juga lihat memang ada gambar Naruto…” kataku.

“Mamie, mereka memang lihat gambar-gambar Naruto,… tapi bukan Naruto yang biasa… Di situ mereka pilih yang Naruto XXX…. Itu gambar Naruto yang jorok-jorok.” kata anakku.

“Jorok-jorok gimana? “ aku jadi penasaran

“Misalnya gini, Naruto X (lawan) siapa gitu….,bisa cewek bisa cowok,… nah katanya nanti ada gambar Naruto lagi ciuman atau ngapain gitu sama cewek atau cowok itu…” kata anakku. Astagfirullah al adzim…, aku kembali mengucap.

Yang di sebut ‘mas x’ oleh anakku itu adalah anak tetangga yang masih kelas 6 SD, dan aku terpaksa tidak menyebutkan namanya karena hal ini rentan sekali. Menyangkut hubungan pertetanggaan yang sangat baik antara aku dan para tetanggaku. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah sebab tidak semua orang dapat menerima ‘kekurangan’ atau ‘kenakalan’ anaknya dengan legowo. Sejelek apapun wajahnya dan seburuk apapun tabiat seorang anak orang lain di mata kita, tetapi di rumahnya dia adalah tetap permata hati dalam keluarga.

Mengenai anakku sendiri, aku juga tidak ingin memaksa semua orang untuk percaya pada semua kata-kata anakku, sebab kebetulan sekali anakku ini punya imajinasi yang agak tinggi. Dia pintar bercerita dan menggambar lebih dari anak-anak lain seusianya. Sehingga, boleh jadi orang-orangpun akan mengira kalau anakku rancu dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan. Tapi aku kan ibunya, kurasa sampai saat ini aku masih dapat membedakan kapan anakku berkhayal dan kapan dia menceritakan hal yang sungguh-sungguh terjadi.

Seperti yang kubilang tadi, aku sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan siapapun, maka cerita anakku tadi hanya kusimpan saja di dalam hati sambil mencari cara untuk mengurangi aktifitas ‘bersosialisasinya’ anakku dengan teman-teman sebayanya. Kebetulan juga anakku ini tidak begitu betah duduk lama di depan computer, padahal kalau dia mau kan tinggal pilih aja, mau nongkrong di mana, sehingga aku jadi agak kesulitan untuk melarangnya main keluar rumah tanpa alasan. Apalagi kalau alasannya mau shalat maghrib atau isya bareng teman-temannya ke masjid.

Sampai akhirnya di satu sore, ketika aku dan seorang tetangga sedang ngobrol di depan warnetku, ada serombongan anak laki-laki kecil sekitar 4 orang yang bermain sepeda lewat depan kami sambil berteriak-teriak ke arah serombongan anak-anak perempuan yang sedang main di taman depan rumahku.

“Hei…!! M***k lo bau!!... M***k lo bau!!” teriak rombongan anak laki-laki itu.

“Anjing lo…!!!” sahut rombongan anak perempuan.

“Hei, jaga mulut kalian ya!!” teriak tetanggaku spontan. (Dia orang Batak, suaranya keras dan menggelegar. Membuat anak-anak itu langsung kabur semua) Aku dan diapun saling berpandangan, sulit merangkai kata selanjutnya.

Tahukah umur berapa kira-kira rombongan anak laki-laki tadi???? …. Hadoooh…, paling banter mereka baru berumur 6 tahun. Ya… anak-anak kecil yang masih duduk di bangku TK, bahkan mungkin ada yang belum sekolah. Serta berapa umur anak-anak perempuan itu????... Jawabnya adalah mereka kira-kira seumuran atau mungkin setahun lebih tua dari anak laki-laki tadi, sebab kelihatannya baru kelas 1 SD.

Coba, bagaimana perasaan kita mendengar dan melihat kenyataan ini? Betapa parah cara berkomunikasi anak-anak ini yang nota bene belum lama lepas dari susuan.

“Lo tau, gua kemarin sama bunda (tetanggaku yang lain) lagi ngobrol di taman ketika tiba-tiba dengar si ‘B’ teriak: ng****t lo!! … Ke kakaknya…. Gua sampai shock.” kata tetanggaku itu.

Sekarang, coba tebak, berapa umur si ‘B’ ini?! Jangan kaget kalau aku bilang dia baru berumur sekitar 4 tahunan. Byuh!! Dapat dari mana anak sekecil itu kata-kata yang sama sekali tidak pantas diucapkan, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Pasti dari kakak dan teman-teman mainnya bukan? Sedangkan kakaknya masih kelas 3 SD.

Setelah terdiam sejenak, akhirnya aku ngomong deh ke tetanggaku ini, hal apa yang sempat membuatku galau beberapa hari terakhir ini, “Kata anakku…, anak2 itu kalau mau ngenet, bilangnya tuh mau ngebokep…” kataku ke tetanggaku ini.

“Apaan tuh ngebokep?!” tanyanya spontan. Nah ini lagi….., masak ngebokep aja nggak tau. Akupun jadi menerangkan lebih dulu apa yang dimaksud dengan ngebokep itu. Inilah keuntunganku suka usil buka macam-macam situs tempat anak-anak muda pada nongkrong. Aku jadi familiar dengan berbagai istilah yang mereka gunakan sehari-hari.

“Hh,… bunda kemarin cerita, katanya pas dia lewat di sebelah anak-anak yang lagi menggerombol itu, bunda denger kalau anak-anak itu ngomongin seputar hal begituan. Sampai bunda tegur mereka dan omelin mereka semua.” kata tetanggaku. Aku hanya menghela nafas panjang mendengar ini.

Beberapa hari kemudian, aku memergoki anak-anak sekitar umur 10 tahunan atau lebih , (seingatku mereka kelas 5 SD, karena beberapa hari sebelumnya mereka mengerjakan tugas di sini), di warnetku yang lagi buka gambar porno gitu yang kemudian kuancam akan kulaporkan ke orangtua mereka dan kubilang supaya mereka dikawinkan saja, nggak usah di sekolahkan. (Sampai sekarang 3 orang anak laki-laki itu tidak ada yang berani ngenet di tempatku lagi).

Kemudian, ketika aku lagi baca-baca di ‘kaskus’, aku menemukan hal yang menarik. Sebuah tulisan tentang Hasil Seminar tanggal 30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta. Yang dibawakan oleh Ibu Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati).

Ternyata tak lama kemudian aku melihat acara Kick Andy yang membahas tentang Sex bebas di kalangan anak-anak muda sekarang yang juga mengundang Ibu Elly risman, M.Psi sebagai Pembicara Ahli.

Sungguh semua yang kualami begitu kebetulan dan berurutan. Seolah, seandainya masakan…, semua sudah siap dimasak, tinggal dihidangkan di meja makan dan kita siap menikmatinya dalam artian menindak lanjuti apa yang harus kita lakukan dengan hidangan yang ada saat ini.

Dari hasil seminar yang kubaca di kaskus (aku langsung mengeprintnya, dengan harapan ada manfaat yang didapat), dan acara di Kick Andy, ternyata mengangkat tema yang sama. Semuanya tentang perilaku anak-anak kita tentang sex dan pornografi yang makin memprihatinkan.

Kata Ibu Elly, bila dari hasil survey secara umum didapat kenyataan bahwa ABG kita sudah akrab dengan semua yang berbau pornografi dan malah ikut menjadi pemeran di dalamnya, maka yang lebih menyakitkan adalah hasil survey yang dilakukan oleh Kelompok Ibu Elly, yang ternyata mendapati kenyataan bahwa anak kelas 5 SD pun sudah tau dan mengenal apa itu pornografi. (Tepat sekali dengan pengalamanku yang mendapati anak-anak kelas 5 SD sedang membuka situs porno serta rekaman pembicaraan mereka sehari-hari bila sedang berkumpul itu)

Kata Ibu Elly, kalau dulu remaja kita saling sayang-sayangan di SMS dengan saling menyatakan I love You atau I miss you… sekarang sudah bukan begitu lagi. Hasil survey Ibu Elly mendapati SMS yang berbunyi : “Hi sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML. Yuk, mumpung bonyok lagi pergi dst…..” (sumber dari Hasil Seminar yang dimuat di kaskus).

Tulisan di SMS itu ditulis dengan bahasa ALAY dan harus dibaca dari belakang. Ada juga yang dibacanya harus dengan HP terbalik/dijungkir. Pusing?! Nggak bisa ngebayangin gimana caranya baca SMS dengan kondisi HP terbalik?! Silahkan memutar otak deh, sebab kata Ibu Elly, kita sebagai orangtua juga harus GAUL dan tidak boleh Gaptek supaya kita dapat mengontrol semua perilaku anak-anak kita.

Bayangkan, betapa mudahnya anak-anak sekarang saling mengajak ML. Apa nggak takut hamil???

“Hamil?! Siapa takuut…, bisa aborsi!!” Naudzubillahi mindzalik. Aku juga punya anak gadis kelas 2 SMA.

Racun Sex Bebas dan Pornografi dihidangkan oleh penjaja lewat berbagai media cetak dan elektronik yang dapat dengan mudah diakses oleh anak-anak. Diantaranya dari Games, HP, TV, VCD, Komik, Majalah, dll.

Games yang banyak tersedia dengan berbagai macam bentuk, versi dan model, sungguh adalah jembatan yang paling mudah terserap oleh anak-anak. Mulai yang awalnya action, tiba-tiba ujung-ujungnya (bonus level) karena berhasil menyelesaikan permainan adalah ML dengan pelacur. Astagfirullah al adzim. Malah ada game yang berjudul ‘Bagaimana cara memperkosa paling asyik’, jadi tinggal pilih mau latar belakang cerita apa, model yang mana (modelnya nggak pakai baju sama sekali), dengan cursor berbentuk tangan yang bias memilih untuk memegang bagian mana saja yang pengendaliannya oleh anak-anak kita. (sumber dari Hasil Seminar yang di muat di kaskus). Ngeri kan?!!

Ada satu hal yang lebih membuatku tertegun lagi, yaitu menurut penelitian team Ibu Elly, ternyata games, komik, dvd dan lain-lain yang berjudul dan berbau NARUTO, adalah BERBAHAYA!! Sungguh tepat benar seperti yang dikatakan anakku, bahwa anak-anak itu suka melihat GAMBAR-GAMBAR NARUTO (dengan tambahan XXX) di internet.

Sekarang bagaimana? Kita sebagai orang tua harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Di acara Kick Andy tampak Ibu Elly sambil menitikkan airmata ketika mengatakan bahwa keadaan anak-anak kita saat ini adalah sudah dalam kondisi yang amat parah dan memprihatinkan. Ibu Elly berkali-kali mengatakan supaya kita, para orang tua ini hendaknya melihat dan mendengar jangan hanya dengan mata dan telinga saja, tetapi harus dengan hati.

Aku jadi pusing memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan utuk mensterilkan anakku dari hal-hal yang tidak baik yang mungkin di dapatnya dari luar sana. Apakah aku harus melarang anakku beraktifitas di luar rumah sedangkan anakku adalah anak laki-laki yang mana saat ini adalah masa-masanya mereka perlu berinteraksi langsung dengan alam yang kelak aku harap dapat menjadi kenangan masa kecil (bermain) yang indah, supaya anakku kelak tidak menjadi anak yang cengeng dan merasa menyesal karena masa kecilnya tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk bereksplorasi.

Sedangkan kalau kubiarkan dia bergaul dengan teman-temannya yang cara berinteraksinya saja sudah membuatku miris tatkala mendengarnya, aku takut lama-lama diapun akan terkontaminasi dengan semua hal itu. (kata anakku, kata-kata ‘anjing’, ‘bangsat’, ‘goblok’, dll, itu adalah hal yang biasa buat ngobrol sehari-hari)

Ketika aku menerima undangan arisan bulanan RT, akupun mendapatkan jalan untuk ‘memberi tahu’ pada para ibu-ibu tetanggaku bahwa kondisi anak-anak kita saat ini sudah berada dalam titik kritis. Kita sebagai orang tua harus mau membuka hati demi masa depan anak-anak kita sendiri.

Supaya aku tidak dianggap sok tau dan supaya tidak ada yang tersinggung, maka aku tidak mengeluarkan argument apapun, aku hanya membagikan Hasil Seminar tanggal 30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta. Yang dibawakan oleh Ibu Elly Risman, M.Psi, yang tempo hari sudah kuprint dari kaskus.

Aku berharap Ibu Elly Risman, M.Psi tidak berkeberatan kalau hasil surveynya kupakai untuk membuka hati para orang tua tetanggaku supaya lebih hati-hati dalam memberi kebebasan pada anak untuk bereksplorasi dengan era digital ini. Supaya mereka juga mau untuk sekali-sekali mengecek situs apa saja yang telah dibuka oleh sang buah hati di internet (tentu saja kalau bisa tanpa setahu anak yang bersangkutan). Supaya mereka juga mau sedikit-sedikit belajar BAHASA GAUL atau ALAY, sehingga kita tahu apa saja yang sedang mereka tulis dan bicarakan.

Dari kaskus aku juga banyak tahu dan belajar cara-cara anak muda saat ini dalam berkomunikasi. Kadang memang ada yang LEBAY, ngawur, tapi tidak sedikit yang sungguh bermanfaat.

Dengan keprihatinan yang mendalam,

Bogor, 14 Februari 2011

Minggu, 16 Januari 2011

Betapa Mahalnya Kesehatan

Yang pertama kuraih begitu terbangun adalah hp, untuk melihat jam berapa saat itu. Ternyata pagi ini hpku mati, rupanya semalam lowbatt dan aku tidak menyadarinya.

Sambil ngecharge hp, aku melihat beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Ada dua pesan sama yang isinya berita duka cita. Inna lillahi wa inna illaihi roji’un, bekas tetanggaku yang sudah hampir dua bulan dirawat di RS akhirnya dipanggil menghadap Sang Khalik.

Sekitar dua minggu yang lalu ketika aku pulang dari RS untuk menjenguk beliau, aku sudah ingin menulis kesanku, tetapi belum sempat-sempat juga. Ada saja pekerjaan atau kegiatan lain yang harus kulakukan sehingga moodku untuk menulispun ikut berlalu bersama sang waktu.

Sudah satu bulan lebih beliau di RS, tapi aku baru tahu khabarnya karena sudah setahun terakhir ini beliau yang hanya tinggal berdua bersama suaminya pindah ke Depok supaya dekat dengan rumah anak-anaknya. Sedangkan rumahnya yang berada satu RT denganku dikontrakkan. Mulanya mereka tidak mau pindah, tapi pernah kejadian suatu malam mereka berdua jatuh sakit dan benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan tidak ada orang lain yang tahu. Semalaman mereka berdua terkapar, sampai keesokan harinya baru tetangga ada yang tahu. Sejak itulah anak-anaknya memaksa mereka berdua supaya pindah. (Tentang kehidupan Bapak Ibu tetanggaku ini, akan kutulis di kesempatan yang lain).

Di RS, kami (aku pergi berlima dengan ibu-ibu tetanggaku) bertemu suami dan putri sulung serta salah seorang cucunya yang kemudian mereka bercerita bagaimana awalnya beliau sampai masuk RS, karena tanpa ada tanda-tanda sedikitpun ternyata beliau ini mengidap tumor otak. Selama ini sang ibu selalu hanya mengeluh sakit maag. Tidak pernah serius merasa sakit kepala.

“Kalau seandainya ibu sering mengeluh sakit kepala, pasti akan kita bawa scan. Tapi kan selama ini ibu hanya mengeluh sakit maag saja, dan ternyata kata dokter, sakit maag ibu itu dikarenakan syaraf yang mengendalikan lambung dan usus ibu sudah terganggu tumor tadi…” begitu penjelasan anaknya. Entah bagaimana penjelasan medisnya, tapi terdengarnya memang agak rumit.

Kenapa pula si tumor itu tidak menyerang syaraf sakit kepala untuk mengumumkan keberadaannya, tetapi malah menyerang lambung yang mengakibatkan sakit maag. Kan jauh bangetzzz…. Ini pikiranku yang orang awam.

Singkat cerita, sebelum di RS ini, sebelumnya beliau sudah menjalani perawatan, operasi dan perawatan lagi selama satu bulan di RS yang lain dengan menghabiskan dana lebih dari 400 jeti. Hampir setiap harinya obat yang harus ditebus nilainya antara 10 sampai 15 jeti, belum lagi kamar dan lain-lain.

“Kalau ibu sempat sadar aja, pasti akan kita bawa ke Singapura. Sebab di sana semua pasien langsung ditangani, tidak terlalu lama menunggu ini itu yang membuat biaya RS jadi mahal sekali seperti di sini. Dengan keadaan ibu seperti itu, kalau mau dibawa ke Singapura, dokternya nggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa. Ya kita takut juga…” kata anaknya lagi.

Sekitar sepuluh hari yang lalu, kondisi beliau setelah operasi sudah membaik. Sudah boleh pulang. Tetapi ketika akan dibawa pulang, tiba-tiba sang ibu muntah. Akhirnya batal pulang, dan setelah diperiksa lagi, ternyata paru-paru ibu penuh cairan. Gimana coba, RS sudah mengijinkan pulang…, ternyata di paru-parunya tiba-tiba penuh cairan. Masak sebelum pasien dinyatakan boleh pulang tuh tidak ada pemeriksaan menyeluruh dulu, mengingat beliau habis operasi tumor otak?

Beberapa hari dirawat tetap tidak ada perubahan, si ibu malah koma. Anak-anaknya berinisiatif memindahkan ibunya ke RS lain, maksudnya supaya mendapat perawatan yang lebih intensif. Karena menurut mereka, selama di RS yang lama, ibunya tidak mendapatkan perawatan dan pelayanan yang memadai.

Ternyata di RS inipun (di ruang ICU), pelayanan perawat membuat mereka jengkel. Setiap hari mereka harus bertengkar dulu dengan perawat supaya dapat mendekati ibunya. Padahal anak-anaknya hanya ingin mengoleskan balsam atau lotion anti nyamuk karena kulit ibunya bentol semua karena habis digigitin nyamuk. Atau sekedar membetulkan kelambu yang menutupi wajah ibunya supaya mukanya tidak digigitin nyamuk.

Memang kalau sudah masuk ruang ICU, kita yang jadi keluarga pasien ini jadi serba salah. Menurut peraturan kita memang tidak boleh masuk ke ruang perawatan pasien, tapi kenyataannya pasien yang di dalam itu tidak tertangani dengan benar, atau kasarnya dicukein. Pengalaman sekitar satu setengah tahun lalu ketika ibuku harus masuk ruang ICU karena tidak sadar (gula darahnya konon sampai seribu), di Surabaya. Keadaannyapun bikin miris anak-anaknya. Ibuku telanjang bulat tidak berbaju, (karena baju dari rumah dikembalikan oleh perawat, katanya ibuku hanya boleh pakai baju RS), dengan dua tangan kaki terikat di ranjang. Selimut yang menutupi tubuhnya sudah entah kemana.

Konon katanya penderita sakit gula itu akan terus menerus kepanasan (gerah) tubuhnya, dan kondisi ibuku saat itu, kondisi kesadarannya kata dokter hanya maximum 40%. Tubuhnya memang tidak pernah bisa diam, bergolek terus kesana kemari… tetapi alam pikirannya tidak dapat kita tembus. Saat itu, setiap aku aku dapat kesempatan mengintip dari celah-celah pintu yang baru saja ada perawat keluar atau masuk, aku selalu melihat kondisi ibuku yang telanjang bulat. Setiap kali itu pula aku selalu minta pada perawatnya supaya tubuh ibuku ditutup lagi dengan selimut. Yah, biarpun ibuku sedang dalam keadaan tidak sadar, tapi mbok ya jangan begitu amat…., dibiarkan telanjang bulat, sedangkan pasien disebelahnya adalah bapak-bapak yang tidak kehilangan kesadaran seperti ibuku saat itu. (Di ruang ICU bercampur antara pasien laki-laki dan perempuan)

Ketika hari ke sepuluh ibuku sadar dan boleh pindah ke kamar rawat biasa, aku mendapati seluruh pantat dan paha bagian belakangnya penuh dengan kotoran yang sudah mengering, “Coba lihat An, sepertinya ibu baru buang air besar…” kata ibuku waktu itu. Ternyata waktu kuperiksa, buang air besarnya entah kapan yang sudah mengering dan menempel di kulit itu….

Kembali pada tetanggaku tadi, di RS ini kata anaknya biaya perawatan sudah tidak semahal RS sebelumnya. Ruang ICU, di sini semalam 3,6 jeti. Total selama sepuluh hari lebih di sini termasuk obat dan lain-lain sekitar 200 jeti, karena obat-obatnya juga nggak puluhan jeti lagi.

Ya ampun….., dari semula mendengar nilai ratusan juta demi untuk mendapatkan kembali kesehatan…., dengkulku sudah gemetar. Betapa mahalnya biaya yang harus ditebus, dan bagaimana pula nasib rakyat biasa seperti aku ini yang tidak punya uang sebanyak itu?

Tetanggaku itu, dengan besarnya biaya yang sudah dikeluarkanpun tetap tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari RS. Lantas, apa yang akan terjadi dengan pasien yang tidak mampu? Apakah si pasien harus diterlantarkan atau ‘disiksa’ dengan keadaannya saat itu?

Aku jadi ingat pada pasien sakit jantung yang juga sama-sama dirawat berbarengan dengan tetanggaku itu. Hari itu anaknya dipanggil dokter dan disuruh menyiapkan alat yang harganya 14 jeti. Dan saat itu mereka tampak sibuk telpon sana telpon sini… mungkin menghubungi saudara-saudara yang lain karena alat tersebut harus tersedia hari itu juga. Ini mending ada yang masih bisa ditelpon untuk meminta bantuan. Kalau misalnya keluarga tidak mampu bagaimana?

Betapa mahalnya kesehatan itu…, biarpun orang mampu, pasti akan terasa berat pada biaya perawatan, operasi, obat dan sebagainya yang sangat tidak manusiawi ini. Maka dari itu, sayangilah diri ini sendiri, jagalah supaya tetap sehat sehingga dapat tetap beraktifitas seperti biasa. Aku juga hanya memohon kesehatan padaMu ya Allah, kesehatan pada seluruh keluargaku, sebab hanya dengan kesehatanlah aku dapat melakukan hal yang lainnya.

Sekarang si ibu bekas tetanggaku itu, beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Beliau pasti akan pergi dengan tenang, melihat betapa orang-orang terdekatnya begitu menyayanginya dan sudah mengupayakan semua cara demi kesembuhannya. Tetapi rupanya Sang Kuasa lebih menyayanginya….

Selamat jalan ibu, semoga Allah menerima semua amal perbuatanmu di dunia ini dan semoga juga diberi ketabahan pada semua keluarga yang ditinggalkan. Amien.

Diiringi rintik hujan yang tiada henti,

Bogor, 16 Januari 2011