Kamis, 05 Mei 2011

Menjadi Tua, apakah menakutkan?!

Seperti sang mentari yang berakhir di batas cakrawala selepas senja, begitu juga kisah perjalanan hidup seorang anak manusia yang kelak akan berakhir setelah melewati usia senja.

Ketika sekian dasa warsa terlewati, setelah berhasil mengalahkan segala masa, kini tinggal seleksi alam yang menanti. Renta, Rapuh, Sendiri dan Kesepian. Hidup dalam dunianya sendiri yang tak lagi tersentuh orang lain karena pola pikir yang sudah tak lagi sejalan.

Kehendak hati ingin begini…., tapi kenapa tak ada yang mengerti?

Maksud hati ingin berlari…., tapi kaki tlah kehilangan fungsi….

Semua terasa begitu sunyi…., karena desah angin dan kidung kehidupan mulai berhenti….

Hanya tingkah dan gerak yang masih tampak menari….

***

Kutulis ini semua, ketika beberapa hari ini aku mengamati gerak-gerik nenekku yang kini tinggal denganku. Tahun ini usianya 86 tahun. Kulitnya sudah amat keriput dan beberapa tampak menggayut karena kalah bertarung dengan grafitasi bumi. Matanya masih awas karena masih bisa membaca koran dan menulis beberapa catatan di notesnya untuk hal-hal yang dianggapnya penting.

Pendengarannya agak kurang dan lutut kakinya yang kanan sudah susah ditekuk sehingga berjalannya tertatih dan agak sedikit pincang. Kalau disuruh pakai tongkat, sepertinya dengan terpaksa diturutinya, sebab katanya kalau pakai tongkat jalannya malah semakin lambat.

Ingatannya masih cukup oke untuk beberapa hal yang aku saja sudah hampir tidak ingat lagi. Tampaknya, kejadian-kejadian yang dialaminya masih terasa begitu hangat membekas sehingga ketika menceritakannya kembali, seolah memutar rekaman saja.

Misalnya saja, ketika menceritakan saat umurku baru sembilan bulan. Katanya sore itu aku selesai dimandiin, dipakaikan baju, topi dan sepatu… , kemudian di gendong mau dibawa keluar. Tiba-tiba saja aku muntah dan… berhenti bernafas. Aku meninggal dunia. Hal itu terjadi sampai beberapa jam, sampai akhirnya aku hidup lagi. Mungkin itu yang disebut mati suri.

Kemudian, ketika adik perempuanku sakit kuping sampai menjadi bodoh untuk beberapa waktu, tapi untung segera sembuh dan akhirnya malah semakin cerdas, terus ketika adikku yang nomer tiga stuip, sedangkan dokter tetangga sedang pergi, sehingga istri dokter itu berusaha menolong dengan sambil membuka catatan/buku suaminya, adik ke empat yang lahirnya di RS AL, sampai kejadian meninggalnya adikku yang nomer lima karena tenggelam di pantai. Kemudian adik bungsuku yang lahir paling gendut. Semua kejadian masih diingatnya dengan baik, termasuk semua tanggal lahir anak, cucu dan buyutnya.

Cerita-ceritanya itu semua memang pernah kualami, tetapi sebagian besar ada yang tidak kusadari atau sudah banyak yang pergi dari memoryku, dan baru teringat kembali ketika diceritakannya lagi. Mungkin ini juga salah satu hal yang termasuk dalam pola pikir yang berbeda. Maksudnya, apa yang menjadi prioritas pikirannya ternyata tidak sama dengan yang menjadi prioritas pikir kita saat ini. Sehingga bila diteruskan, mungkin akan terjadi miskomunikasi alias tidak nyambung.

Terkadang ceritanya agak horor, yaitu ketika nenekku menceritakan bahwa tadi sepintas sempat melihat ibu bapaknya, suaminya serta saudara-saudaranya yang semua sudah almarhum tiba-tiba saja pada datang menengoknya. Katanya, mungkin mereka sudah siap menjemput.

Keadaan nenekku saat ini secara lahiriah masih dalam kondisi yang amat baik untuk usianya, walaupun guratan senja itu begitu kental, dan aku harap masih bisa begitu untuk beberapa tahun mendatang yang aku tidak tahu sampai kapan masih diberikan kesempatan bersamanya.

Hanya saja pikiran dan perasaanku bercampur aduk setiap melihatnya sedang duduk sendiri di teras sambil memandang dedaunan, yang kadang juga tampak berbicara sendiri. Aku pernah dengar nenekku berkata pada anakku kalau nenekku suka sekali melihat daun-daun yang tertiup angin sambil menunggunya jatuh karena menguning.

Ini mungkin isyarat, bahwa nenekku sudah pasrah dan tinggal menunggu waktu kapan akan dipanggil menghadapNya. Katanya juga, keinginan terakhirnya untuk bertemu dan ikut tinggal denganku sudah tercapai. Sudah tidak ada lagi yang diinginkannya di dunia ini. Maklumlah, aku adalah cucu pertamanya dan ketika dulu ibuku melahirkan adikku, aku diurus oleh nenekku ini. Aku ingat, sampai kelas lima SD aku masih tidur dengan nenek dan kakekku walaupun serumah juga dengan ayah ibuku.

Sejak menikah, aku pindah ke luar kota dan selama ini nenekku tetap tinggal dengan ibuku di kota kelahiranku, yang aku amat jarang pulang sehingga kami memang sangat jarang bertemu.





Dengan mata yang buram karena penuh air mata, yang aku sendiri juga tidak tau kenapa tiba2 aku sudah menangis......

Bogor, 5 Mei 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Masa Depan Antah Berantah Anak-anak Kita

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menyatakan keberuntunganku mempunyai rumah dan tinggal di sebuah perumahan di tepian kota Jakarta, di mana aku dapat melihat anak-anakku tumbuh dan bermain-main serta bereksplorasi dengan alam sebebas-bebasnya yang hal itu tidak akan mungkin mereka dapatkan bila rumah tinggal kami ada di kota besar seperti Jakarta.

Lahan yang terbatas di kota-kota besar sangat tidak memberi ruang bagi anak-anak untuk dapat beraktifitas fisik dan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya di lingkungan tempat tinggal. Tetapi saat ini, aku kembali merenungi dan menelaah pernyataan keberuntunganku itu. Apakah aku benar-benar beruntung? Apakah aku sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk pertumbuh kembangan fisik dan mental anak-anakku?

Semuanya bermula ketika anakku lelaki yang masih duduk di kelas 4 SD dan baru akan genap berumur 10 th di bulan depan, tiba-tiba bertanya padaku,”Mamie, sebetulnya KW itu singkatan dari apa sih?!” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi sambil sedikit berpikir, “Ya, banyak dik…, tapi biasanya sih KW itu singkatan dari Kualitas. Misalnya gini, mamie mau beli keramik. Nanti yang jual akan tanya, mau yang KW berapa? Mamie tinggal bilang KW 1, KW 2 atau KW 3. Itu artinya Kualitas atau Kelas . Dari yang paling bagus, sampai yang biasa saja.”

Anakku manggut-manggut,”Oh, jadi bukan singkatan ‘Kelamin Wanita’ ya mie…” katanya.

“Apa dik?!” tanyaku takut salah dengar.

“Kata anak-anak, KW itu singkatan dari Kelamin Wanita….” katanya. Deg!! Astagfirullah. Jantungku sempat terhenti sejenak.

“Memangnya kalian lagi ngomongin apa sih koq sampai membicarakan Kelamin Wanita segala..” tanyaku sambil berusaha untuk tetap terlihat biasa.

“Mas ‘X’ itu kan kalau mau ngenet biasanya ngomongnya mau ngebokep. Terus ngajak anak-anak mau lihat KW nggak….” kata anakku. Astagfirullah al adzim.

“Tapi dik, waktu mereka ngenet di sini tempo hari tuh mamie kan tanya mereka buka apa, mereka bilang kalau sedang lihat gambar-gambar Naruto. Mamie juga lihat memang ada gambar Naruto…” kataku.

“Mamie, mereka memang lihat gambar-gambar Naruto,… tapi bukan Naruto yang biasa… Di situ mereka pilih yang Naruto XXX…. Itu gambar Naruto yang jorok-jorok.” kata anakku.

“Jorok-jorok gimana? “ aku jadi penasaran

“Misalnya gini, Naruto X (lawan) siapa gitu….,bisa cewek bisa cowok,… nah katanya nanti ada gambar Naruto lagi ciuman atau ngapain gitu sama cewek atau cowok itu…” kata anakku. Astagfirullah al adzim…, aku kembali mengucap.

Yang di sebut ‘mas x’ oleh anakku itu adalah anak tetangga yang masih kelas 6 SD, dan aku terpaksa tidak menyebutkan namanya karena hal ini rentan sekali. Menyangkut hubungan pertetanggaan yang sangat baik antara aku dan para tetanggaku. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah sebab tidak semua orang dapat menerima ‘kekurangan’ atau ‘kenakalan’ anaknya dengan legowo. Sejelek apapun wajahnya dan seburuk apapun tabiat seorang anak orang lain di mata kita, tetapi di rumahnya dia adalah tetap permata hati dalam keluarga.

Mengenai anakku sendiri, aku juga tidak ingin memaksa semua orang untuk percaya pada semua kata-kata anakku, sebab kebetulan sekali anakku ini punya imajinasi yang agak tinggi. Dia pintar bercerita dan menggambar lebih dari anak-anak lain seusianya. Sehingga, boleh jadi orang-orangpun akan mengira kalau anakku rancu dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan. Tapi aku kan ibunya, kurasa sampai saat ini aku masih dapat membedakan kapan anakku berkhayal dan kapan dia menceritakan hal yang sungguh-sungguh terjadi.

Seperti yang kubilang tadi, aku sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan siapapun, maka cerita anakku tadi hanya kusimpan saja di dalam hati sambil mencari cara untuk mengurangi aktifitas ‘bersosialisasinya’ anakku dengan teman-teman sebayanya. Kebetulan juga anakku ini tidak begitu betah duduk lama di depan computer, padahal kalau dia mau kan tinggal pilih aja, mau nongkrong di mana, sehingga aku jadi agak kesulitan untuk melarangnya main keluar rumah tanpa alasan. Apalagi kalau alasannya mau shalat maghrib atau isya bareng teman-temannya ke masjid.

Sampai akhirnya di satu sore, ketika aku dan seorang tetangga sedang ngobrol di depan warnetku, ada serombongan anak laki-laki kecil sekitar 4 orang yang bermain sepeda lewat depan kami sambil berteriak-teriak ke arah serombongan anak-anak perempuan yang sedang main di taman depan rumahku.

“Hei…!! M***k lo bau!!... M***k lo bau!!” teriak rombongan anak laki-laki itu.

“Anjing lo…!!!” sahut rombongan anak perempuan.

“Hei, jaga mulut kalian ya!!” teriak tetanggaku spontan. (Dia orang Batak, suaranya keras dan menggelegar. Membuat anak-anak itu langsung kabur semua) Aku dan diapun saling berpandangan, sulit merangkai kata selanjutnya.

Tahukah umur berapa kira-kira rombongan anak laki-laki tadi???? …. Hadoooh…, paling banter mereka baru berumur 6 tahun. Ya… anak-anak kecil yang masih duduk di bangku TK, bahkan mungkin ada yang belum sekolah. Serta berapa umur anak-anak perempuan itu????... Jawabnya adalah mereka kira-kira seumuran atau mungkin setahun lebih tua dari anak laki-laki tadi, sebab kelihatannya baru kelas 1 SD.

Coba, bagaimana perasaan kita mendengar dan melihat kenyataan ini? Betapa parah cara berkomunikasi anak-anak ini yang nota bene belum lama lepas dari susuan.

“Lo tau, gua kemarin sama bunda (tetanggaku yang lain) lagi ngobrol di taman ketika tiba-tiba dengar si ‘B’ teriak: ng****t lo!! … Ke kakaknya…. Gua sampai shock.” kata tetanggaku itu.

Sekarang, coba tebak, berapa umur si ‘B’ ini?! Jangan kaget kalau aku bilang dia baru berumur sekitar 4 tahunan. Byuh!! Dapat dari mana anak sekecil itu kata-kata yang sama sekali tidak pantas diucapkan, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Pasti dari kakak dan teman-teman mainnya bukan? Sedangkan kakaknya masih kelas 3 SD.

Setelah terdiam sejenak, akhirnya aku ngomong deh ke tetanggaku ini, hal apa yang sempat membuatku galau beberapa hari terakhir ini, “Kata anakku…, anak2 itu kalau mau ngenet, bilangnya tuh mau ngebokep…” kataku ke tetanggaku ini.

“Apaan tuh ngebokep?!” tanyanya spontan. Nah ini lagi….., masak ngebokep aja nggak tau. Akupun jadi menerangkan lebih dulu apa yang dimaksud dengan ngebokep itu. Inilah keuntunganku suka usil buka macam-macam situs tempat anak-anak muda pada nongkrong. Aku jadi familiar dengan berbagai istilah yang mereka gunakan sehari-hari.

“Hh,… bunda kemarin cerita, katanya pas dia lewat di sebelah anak-anak yang lagi menggerombol itu, bunda denger kalau anak-anak itu ngomongin seputar hal begituan. Sampai bunda tegur mereka dan omelin mereka semua.” kata tetanggaku. Aku hanya menghela nafas panjang mendengar ini.

Beberapa hari kemudian, aku memergoki anak-anak sekitar umur 10 tahunan atau lebih , (seingatku mereka kelas 5 SD, karena beberapa hari sebelumnya mereka mengerjakan tugas di sini), di warnetku yang lagi buka gambar porno gitu yang kemudian kuancam akan kulaporkan ke orangtua mereka dan kubilang supaya mereka dikawinkan saja, nggak usah di sekolahkan. (Sampai sekarang 3 orang anak laki-laki itu tidak ada yang berani ngenet di tempatku lagi).

Kemudian, ketika aku lagi baca-baca di ‘kaskus’, aku menemukan hal yang menarik. Sebuah tulisan tentang Hasil Seminar tanggal 30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta. Yang dibawakan oleh Ibu Elly Risman, M.Psi (Yayasan Buah Hati).

Ternyata tak lama kemudian aku melihat acara Kick Andy yang membahas tentang Sex bebas di kalangan anak-anak muda sekarang yang juga mengundang Ibu Elly risman, M.Psi sebagai Pembicara Ahli.

Sungguh semua yang kualami begitu kebetulan dan berurutan. Seolah, seandainya masakan…, semua sudah siap dimasak, tinggal dihidangkan di meja makan dan kita siap menikmatinya dalam artian menindak lanjuti apa yang harus kita lakukan dengan hidangan yang ada saat ini.

Dari hasil seminar yang kubaca di kaskus (aku langsung mengeprintnya, dengan harapan ada manfaat yang didapat), dan acara di Kick Andy, ternyata mengangkat tema yang sama. Semuanya tentang perilaku anak-anak kita tentang sex dan pornografi yang makin memprihatinkan.

Kata Ibu Elly, bila dari hasil survey secara umum didapat kenyataan bahwa ABG kita sudah akrab dengan semua yang berbau pornografi dan malah ikut menjadi pemeran di dalamnya, maka yang lebih menyakitkan adalah hasil survey yang dilakukan oleh Kelompok Ibu Elly, yang ternyata mendapati kenyataan bahwa anak kelas 5 SD pun sudah tau dan mengenal apa itu pornografi. (Tepat sekali dengan pengalamanku yang mendapati anak-anak kelas 5 SD sedang membuka situs porno serta rekaman pembicaraan mereka sehari-hari bila sedang berkumpul itu)

Kata Ibu Elly, kalau dulu remaja kita saling sayang-sayangan di SMS dengan saling menyatakan I love You atau I miss you… sekarang sudah bukan begitu lagi. Hasil survey Ibu Elly mendapati SMS yang berbunyi : “Hi sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML. Yuk, mumpung bonyok lagi pergi dst…..” (sumber dari Hasil Seminar yang dimuat di kaskus).

Tulisan di SMS itu ditulis dengan bahasa ALAY dan harus dibaca dari belakang. Ada juga yang dibacanya harus dengan HP terbalik/dijungkir. Pusing?! Nggak bisa ngebayangin gimana caranya baca SMS dengan kondisi HP terbalik?! Silahkan memutar otak deh, sebab kata Ibu Elly, kita sebagai orangtua juga harus GAUL dan tidak boleh Gaptek supaya kita dapat mengontrol semua perilaku anak-anak kita.

Bayangkan, betapa mudahnya anak-anak sekarang saling mengajak ML. Apa nggak takut hamil???

“Hamil?! Siapa takuut…, bisa aborsi!!” Naudzubillahi mindzalik. Aku juga punya anak gadis kelas 2 SMA.

Racun Sex Bebas dan Pornografi dihidangkan oleh penjaja lewat berbagai media cetak dan elektronik yang dapat dengan mudah diakses oleh anak-anak. Diantaranya dari Games, HP, TV, VCD, Komik, Majalah, dll.

Games yang banyak tersedia dengan berbagai macam bentuk, versi dan model, sungguh adalah jembatan yang paling mudah terserap oleh anak-anak. Mulai yang awalnya action, tiba-tiba ujung-ujungnya (bonus level) karena berhasil menyelesaikan permainan adalah ML dengan pelacur. Astagfirullah al adzim. Malah ada game yang berjudul ‘Bagaimana cara memperkosa paling asyik’, jadi tinggal pilih mau latar belakang cerita apa, model yang mana (modelnya nggak pakai baju sama sekali), dengan cursor berbentuk tangan yang bias memilih untuk memegang bagian mana saja yang pengendaliannya oleh anak-anak kita. (sumber dari Hasil Seminar yang di muat di kaskus). Ngeri kan?!!

Ada satu hal yang lebih membuatku tertegun lagi, yaitu menurut penelitian team Ibu Elly, ternyata games, komik, dvd dan lain-lain yang berjudul dan berbau NARUTO, adalah BERBAHAYA!! Sungguh tepat benar seperti yang dikatakan anakku, bahwa anak-anak itu suka melihat GAMBAR-GAMBAR NARUTO (dengan tambahan XXX) di internet.

Sekarang bagaimana? Kita sebagai orang tua harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Di acara Kick Andy tampak Ibu Elly sambil menitikkan airmata ketika mengatakan bahwa keadaan anak-anak kita saat ini adalah sudah dalam kondisi yang amat parah dan memprihatinkan. Ibu Elly berkali-kali mengatakan supaya kita, para orang tua ini hendaknya melihat dan mendengar jangan hanya dengan mata dan telinga saja, tetapi harus dengan hati.

Aku jadi pusing memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan utuk mensterilkan anakku dari hal-hal yang tidak baik yang mungkin di dapatnya dari luar sana. Apakah aku harus melarang anakku beraktifitas di luar rumah sedangkan anakku adalah anak laki-laki yang mana saat ini adalah masa-masanya mereka perlu berinteraksi langsung dengan alam yang kelak aku harap dapat menjadi kenangan masa kecil (bermain) yang indah, supaya anakku kelak tidak menjadi anak yang cengeng dan merasa menyesal karena masa kecilnya tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk bereksplorasi.

Sedangkan kalau kubiarkan dia bergaul dengan teman-temannya yang cara berinteraksinya saja sudah membuatku miris tatkala mendengarnya, aku takut lama-lama diapun akan terkontaminasi dengan semua hal itu. (kata anakku, kata-kata ‘anjing’, ‘bangsat’, ‘goblok’, dll, itu adalah hal yang biasa buat ngobrol sehari-hari)

Ketika aku menerima undangan arisan bulanan RT, akupun mendapatkan jalan untuk ‘memberi tahu’ pada para ibu-ibu tetanggaku bahwa kondisi anak-anak kita saat ini sudah berada dalam titik kritis. Kita sebagai orang tua harus mau membuka hati demi masa depan anak-anak kita sendiri.

Supaya aku tidak dianggap sok tau dan supaya tidak ada yang tersinggung, maka aku tidak mengeluarkan argument apapun, aku hanya membagikan Hasil Seminar tanggal 30 Oktober 2010 di Kemang Village, Jakarta. Yang dibawakan oleh Ibu Elly Risman, M.Psi, yang tempo hari sudah kuprint dari kaskus.

Aku berharap Ibu Elly Risman, M.Psi tidak berkeberatan kalau hasil surveynya kupakai untuk membuka hati para orang tua tetanggaku supaya lebih hati-hati dalam memberi kebebasan pada anak untuk bereksplorasi dengan era digital ini. Supaya mereka juga mau untuk sekali-sekali mengecek situs apa saja yang telah dibuka oleh sang buah hati di internet (tentu saja kalau bisa tanpa setahu anak yang bersangkutan). Supaya mereka juga mau sedikit-sedikit belajar BAHASA GAUL atau ALAY, sehingga kita tahu apa saja yang sedang mereka tulis dan bicarakan.

Dari kaskus aku juga banyak tahu dan belajar cara-cara anak muda saat ini dalam berkomunikasi. Kadang memang ada yang LEBAY, ngawur, tapi tidak sedikit yang sungguh bermanfaat.

Dengan keprihatinan yang mendalam,

Bogor, 14 Februari 2011

Minggu, 16 Januari 2011

Betapa Mahalnya Kesehatan

Yang pertama kuraih begitu terbangun adalah hp, untuk melihat jam berapa saat itu. Ternyata pagi ini hpku mati, rupanya semalam lowbatt dan aku tidak menyadarinya.

Sambil ngecharge hp, aku melihat beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Ada dua pesan sama yang isinya berita duka cita. Inna lillahi wa inna illaihi roji’un, bekas tetanggaku yang sudah hampir dua bulan dirawat di RS akhirnya dipanggil menghadap Sang Khalik.

Sekitar dua minggu yang lalu ketika aku pulang dari RS untuk menjenguk beliau, aku sudah ingin menulis kesanku, tetapi belum sempat-sempat juga. Ada saja pekerjaan atau kegiatan lain yang harus kulakukan sehingga moodku untuk menulispun ikut berlalu bersama sang waktu.

Sudah satu bulan lebih beliau di RS, tapi aku baru tahu khabarnya karena sudah setahun terakhir ini beliau yang hanya tinggal berdua bersama suaminya pindah ke Depok supaya dekat dengan rumah anak-anaknya. Sedangkan rumahnya yang berada satu RT denganku dikontrakkan. Mulanya mereka tidak mau pindah, tapi pernah kejadian suatu malam mereka berdua jatuh sakit dan benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan tidak ada orang lain yang tahu. Semalaman mereka berdua terkapar, sampai keesokan harinya baru tetangga ada yang tahu. Sejak itulah anak-anaknya memaksa mereka berdua supaya pindah. (Tentang kehidupan Bapak Ibu tetanggaku ini, akan kutulis di kesempatan yang lain).

Di RS, kami (aku pergi berlima dengan ibu-ibu tetanggaku) bertemu suami dan putri sulung serta salah seorang cucunya yang kemudian mereka bercerita bagaimana awalnya beliau sampai masuk RS, karena tanpa ada tanda-tanda sedikitpun ternyata beliau ini mengidap tumor otak. Selama ini sang ibu selalu hanya mengeluh sakit maag. Tidak pernah serius merasa sakit kepala.

“Kalau seandainya ibu sering mengeluh sakit kepala, pasti akan kita bawa scan. Tapi kan selama ini ibu hanya mengeluh sakit maag saja, dan ternyata kata dokter, sakit maag ibu itu dikarenakan syaraf yang mengendalikan lambung dan usus ibu sudah terganggu tumor tadi…” begitu penjelasan anaknya. Entah bagaimana penjelasan medisnya, tapi terdengarnya memang agak rumit.

Kenapa pula si tumor itu tidak menyerang syaraf sakit kepala untuk mengumumkan keberadaannya, tetapi malah menyerang lambung yang mengakibatkan sakit maag. Kan jauh bangetzzz…. Ini pikiranku yang orang awam.

Singkat cerita, sebelum di RS ini, sebelumnya beliau sudah menjalani perawatan, operasi dan perawatan lagi selama satu bulan di RS yang lain dengan menghabiskan dana lebih dari 400 jeti. Hampir setiap harinya obat yang harus ditebus nilainya antara 10 sampai 15 jeti, belum lagi kamar dan lain-lain.

“Kalau ibu sempat sadar aja, pasti akan kita bawa ke Singapura. Sebab di sana semua pasien langsung ditangani, tidak terlalu lama menunggu ini itu yang membuat biaya RS jadi mahal sekali seperti di sini. Dengan keadaan ibu seperti itu, kalau mau dibawa ke Singapura, dokternya nggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa. Ya kita takut juga…” kata anaknya lagi.

Sekitar sepuluh hari yang lalu, kondisi beliau setelah operasi sudah membaik. Sudah boleh pulang. Tetapi ketika akan dibawa pulang, tiba-tiba sang ibu muntah. Akhirnya batal pulang, dan setelah diperiksa lagi, ternyata paru-paru ibu penuh cairan. Gimana coba, RS sudah mengijinkan pulang…, ternyata di paru-parunya tiba-tiba penuh cairan. Masak sebelum pasien dinyatakan boleh pulang tuh tidak ada pemeriksaan menyeluruh dulu, mengingat beliau habis operasi tumor otak?

Beberapa hari dirawat tetap tidak ada perubahan, si ibu malah koma. Anak-anaknya berinisiatif memindahkan ibunya ke RS lain, maksudnya supaya mendapat perawatan yang lebih intensif. Karena menurut mereka, selama di RS yang lama, ibunya tidak mendapatkan perawatan dan pelayanan yang memadai.

Ternyata di RS inipun (di ruang ICU), pelayanan perawat membuat mereka jengkel. Setiap hari mereka harus bertengkar dulu dengan perawat supaya dapat mendekati ibunya. Padahal anak-anaknya hanya ingin mengoleskan balsam atau lotion anti nyamuk karena kulit ibunya bentol semua karena habis digigitin nyamuk. Atau sekedar membetulkan kelambu yang menutupi wajah ibunya supaya mukanya tidak digigitin nyamuk.

Memang kalau sudah masuk ruang ICU, kita yang jadi keluarga pasien ini jadi serba salah. Menurut peraturan kita memang tidak boleh masuk ke ruang perawatan pasien, tapi kenyataannya pasien yang di dalam itu tidak tertangani dengan benar, atau kasarnya dicukein. Pengalaman sekitar satu setengah tahun lalu ketika ibuku harus masuk ruang ICU karena tidak sadar (gula darahnya konon sampai seribu), di Surabaya. Keadaannyapun bikin miris anak-anaknya. Ibuku telanjang bulat tidak berbaju, (karena baju dari rumah dikembalikan oleh perawat, katanya ibuku hanya boleh pakai baju RS), dengan dua tangan kaki terikat di ranjang. Selimut yang menutupi tubuhnya sudah entah kemana.

Konon katanya penderita sakit gula itu akan terus menerus kepanasan (gerah) tubuhnya, dan kondisi ibuku saat itu, kondisi kesadarannya kata dokter hanya maximum 40%. Tubuhnya memang tidak pernah bisa diam, bergolek terus kesana kemari… tetapi alam pikirannya tidak dapat kita tembus. Saat itu, setiap aku aku dapat kesempatan mengintip dari celah-celah pintu yang baru saja ada perawat keluar atau masuk, aku selalu melihat kondisi ibuku yang telanjang bulat. Setiap kali itu pula aku selalu minta pada perawatnya supaya tubuh ibuku ditutup lagi dengan selimut. Yah, biarpun ibuku sedang dalam keadaan tidak sadar, tapi mbok ya jangan begitu amat…., dibiarkan telanjang bulat, sedangkan pasien disebelahnya adalah bapak-bapak yang tidak kehilangan kesadaran seperti ibuku saat itu. (Di ruang ICU bercampur antara pasien laki-laki dan perempuan)

Ketika hari ke sepuluh ibuku sadar dan boleh pindah ke kamar rawat biasa, aku mendapati seluruh pantat dan paha bagian belakangnya penuh dengan kotoran yang sudah mengering, “Coba lihat An, sepertinya ibu baru buang air besar…” kata ibuku waktu itu. Ternyata waktu kuperiksa, buang air besarnya entah kapan yang sudah mengering dan menempel di kulit itu….

Kembali pada tetanggaku tadi, di RS ini kata anaknya biaya perawatan sudah tidak semahal RS sebelumnya. Ruang ICU, di sini semalam 3,6 jeti. Total selama sepuluh hari lebih di sini termasuk obat dan lain-lain sekitar 200 jeti, karena obat-obatnya juga nggak puluhan jeti lagi.

Ya ampun….., dari semula mendengar nilai ratusan juta demi untuk mendapatkan kembali kesehatan…., dengkulku sudah gemetar. Betapa mahalnya biaya yang harus ditebus, dan bagaimana pula nasib rakyat biasa seperti aku ini yang tidak punya uang sebanyak itu?

Tetanggaku itu, dengan besarnya biaya yang sudah dikeluarkanpun tetap tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari RS. Lantas, apa yang akan terjadi dengan pasien yang tidak mampu? Apakah si pasien harus diterlantarkan atau ‘disiksa’ dengan keadaannya saat itu?

Aku jadi ingat pada pasien sakit jantung yang juga sama-sama dirawat berbarengan dengan tetanggaku itu. Hari itu anaknya dipanggil dokter dan disuruh menyiapkan alat yang harganya 14 jeti. Dan saat itu mereka tampak sibuk telpon sana telpon sini… mungkin menghubungi saudara-saudara yang lain karena alat tersebut harus tersedia hari itu juga. Ini mending ada yang masih bisa ditelpon untuk meminta bantuan. Kalau misalnya keluarga tidak mampu bagaimana?

Betapa mahalnya kesehatan itu…, biarpun orang mampu, pasti akan terasa berat pada biaya perawatan, operasi, obat dan sebagainya yang sangat tidak manusiawi ini. Maka dari itu, sayangilah diri ini sendiri, jagalah supaya tetap sehat sehingga dapat tetap beraktifitas seperti biasa. Aku juga hanya memohon kesehatan padaMu ya Allah, kesehatan pada seluruh keluargaku, sebab hanya dengan kesehatanlah aku dapat melakukan hal yang lainnya.

Sekarang si ibu bekas tetanggaku itu, beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Beliau pasti akan pergi dengan tenang, melihat betapa orang-orang terdekatnya begitu menyayanginya dan sudah mengupayakan semua cara demi kesembuhannya. Tetapi rupanya Sang Kuasa lebih menyayanginya….

Selamat jalan ibu, semoga Allah menerima semua amal perbuatanmu di dunia ini dan semoga juga diberi ketabahan pada semua keluarga yang ditinggalkan. Amien.

Diiringi rintik hujan yang tiada henti,

Bogor, 16 Januari 2011

Kamis, 30 Desember 2010

Ceritaku Hari Ini

Kemarin pas buka fb, tiba-tiba aku lihat sebuah nama yang cukup familiar buatku ‘Arif B Santoso’ yang koment di wall ‘Djoko Triatmo Ali’, seniorku di Wanala dan di FISIP UNAIR dulu. Rasa penasaran membuatku mengirim pesan pada Djoko Triatmo Ali dan menanyakan ‘siapa Arif B Santoso’ yang ada di fb-nya, apakah benar dia dulu seangkatan sama Djoko waktu di FISIP.

Djoko belum membalas pesanku, aku nggak sabar dan tanganku mulai bergerilya…., yang kalau menurut bahasa anakku, ‘fudul’. Ya aku ‘memfuduli’ fb ‘Arif B Santoso’ yang di foto profilnya adalah gambar seekor kucing atau tupai yang baru keluar dari tas. Tanganku terus bergerak melihat koleksi fotonya, mungkin akan segera kudapat jawaban kepenasaranku dari situ, pikirku.

Sreett….sreett….sreett…., “Itu dia!!” akhirnya kudapat foto-foto yang memperlihatkan sebuah acara/pertemuan tentang launching sebuah novel yang disitu terdapat sosok yang kucari. Ternyata memang benar dia orangnya.

Aku langsung mengirim permintaan pertemanan padanya, yang ternyata langsung diterima pada saat itu juga. Terus kukirim pesan padanya, “Maaf, mau tanya….. apakah anda dulu dari FISIP?” tanyaku.

Eh, pesanku langsung dijawab, “Dirimu kan pelukis yang dulu tinggal di Kompleks AL Kenjeran, pakai kacamata dan bertampang jahil, temannya Dewi Erapratiwi.” katanya.

Hahahaaaaa…. Aku langsung ngakak bacanya….., “Bertampang jahil? Bukannya dulu wajahku cute dan nggemesin?!” balasku.

Dia kemudian membalas lagi sambil menulis nomer hp-nya. Aku kirim sms padanya yang langsung dijawab dengan call darinya. “Tuh, kan… ketawamu masih seperti dulu…” katanya begitu kita selesai say hello dan sedikit basa-basi tentang kabar.

Secara hukum, orangtuaku melahirkan aku adalah sebagai anak pertama, sulung, paling gede, ’mbarep’ dalam bahasa jawanya. Tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, aku mempunyai banyak kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan yang sangat baik dan perhatian padaku dan menganggap aku juga seperti adiknya sendiri. Hampir di setiap komunitas yang kumasuki, aku mendapatkannya. Jadi kemana-mana aku selalu merasa aman-aman saja karena ada kakak-kakak yang selalu siap menjagaku.

‘Arif Budi santoso’ ini adalah salah satu kakakku dari komunitas FISIP UNAIR dulu, yang entah bagaimana mulanya… aku kehilangan banyak kontak dengan banyak orang di sekelilingku dulu. Singkat kata, akhirnya kita janji ketemuan di Plaza Jambu Dua, yang kebetulan Mas Arif ini beredarnya di situ.

Kita janjian ketemu di depan Dunkin Donut’s, dan aku tiba lebih dulu karena dia baru aja pulang sebentar untuk mengantarkan makanan buat adik sepupunya yang sedang sakit.

Sambil bersandar dipagar, aku mengedarkan pandanganku. Menyapu semua benda bergerak yang tertangkap mataku, berusaha mencari sosok itu. Sampai akhirnya, tampak sesosok tubuh kurus tinggi berkaos merah berjalan menuju ke arahku. Itu dia orangnya.

“Apa kabar…..” kita berjabat tangan untuk yang pertama kalinya setelah sekian puluh tahun berlalu. Kesanku, dia masih tetap seperti dulu… tinggi (berapa sih tinggimu mas, sekitar 185cm kurasa), kurus yang amat kurus, sehingga tampak seperti tulang terbalut kulit… yang kalau tulangnya nggak ada ya tinggal kentutnya doang…. Hahahaaaa….. (Dulu…., Aku, Dewi dan Ita memanggilnya ‘Cacing”)

Bedanya, dulu mas Arif adalah sosok cacing yang masih segar, kalau sekarang dia adalah cacing yang sudah peot…. Hahahaaaa…..pisssss massss…..

“Kita makan Rujak Cingur yuk, aku tahu tempatnya yang rasanya enak dan sama dengan rasa asli di Surabaya.” katanya.

Kitapun menuju Air Mancur yang ternyata tempat itu sering kulewati tapi tidak pernah kuhampiri. Kita ambil tempat duduk yang lesehan, santai duduk di tikar. Aku memesan Tahu Campur dan Es Kelapa Muda + Jeruk, Mas Arif pesan Rujak Cingur dan Teh Manis.

Sambil makan kita saling menceritakan perjalanan hidup di waktu yang hilang kemarin. Seru dan rindu kembali ke masa itu….. hiks….

“Luki pingin lihat mukamu…” kata Mas Arif. Rupanya dia sambil sms-an sama Mas Luki, sobatnya sejak masih kuliah dulu.

“Bilangin kalau aku sekarang ayu mas…” jawabku ngasal. Heheheee…, pede gila! Kata anakku.

“Yo..” katanya.

Tiba-tiba hpku bergetar. Anakku sms bilang kalau dia diajak temannya, Indah, ke Bandung sore ini. Hhh,…. Lagi seru-serunya cerita, terpaksa harus dipotong dulu deh….

“Sorry mas, anakku mau ke Bandung sore ini. Anakku yang kecil nggak ada temannya di rumah, aku pulang dulu ya….” kataku. Aku membuka tasku dan mengeluarkan tempat bedak buat berkaca, mau lihat mukaku belepotan kuah Tahu Campur apa nggak.

“Hah??!!! “ tiba-tiba Mas Arif ‘terpesona’ melotot padaku.

“Kamu sekarang pakai bedak toh?” tanyanya. Aku kaget dan balas melotot padanya.

“Tunggu-tunggu…., ini harus kufoto. Ini benar-benar keajaiban, kamu bisa pakai bedak…” katanya.

Hahahahaaaaaaaaaa……., aku langsung ngakak sampai sakit perut. Hahahahaaaaa…..Dia tetap jeprat jepret motret aku. Ya ampuuunnnn, apakah aku dulu sebegitu parahnya cuek pada penampilanku, sampai-sampai sekarang aku mengeluarkan tempat bedak aja, menjadi hal yang langka buatnya….hahahaaaa….., aku terus tertawa sampai lupa mau berkaca dan merapikan bedakku.

Aku jadi ingat, dulu… tiap baru aja tiba di kampus, Dewi selalu menyeretku ke toilet dulu sebelum masuk kelas. Dia menyuruhku sisiran dulu, bahkan kadang dia juga yang nyisirin rambutku yang panjang dan acak-acakan karena naik motor. (Padahal biasanya kalau pas nggak sekelas sama Dewi, aku pasti akan masuk ke kelas dengan ‘penampakan’ apa adanya itu, dan oke-oke aja tuh…hehehe….)

“Mas, kan tadi sudah kubilang kalau aku sekarang sudah berubah jadi perempuan, aku kan sudah operasi transgender…..” kataku tetap geli campur sedih (sebab membayangkan bagaimana hancurnya penampilanku dulu…hihihi…..).

Selama di perjalanan pulang, aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi wajah Mas Arif pas lihat aku tadi membuka tempat bedak. Hehehe…. Maaf Mas Arif dan yang lainnya yang mungkin kaget pada kebiasaanku sekarang…. Tolong, kalau dulu nggak pernah menganggap aku cewek karena penampakanku yang hancur…., nanti kalau kita ketemu lagi, kalian jangan jatuh cinta padaku yaaaaa…… Hahahahahaaaaaaaaaaaaaaa…………..

Yang baca nggak boleh protes, heheheheee….

Bogor, 30 Desember 2010

Jumat, 10 Desember 2010

Penjahat itu Jenius Lho!

Beberapa waktu lalu ada email masuk dari orang tidak dikenal ke email suamiku. Alamat pengirim berasal dari Senegal, salah satu Negara-negara yang ada di Afrika sana, seingatku. Nama pengirimnya Esther Musa, ada foto-fotonya lagi. Sama Yahoo sih dimasukkannya ke Spam, jadi hampir terlewat untuk dibaca.

Isinya kurang lebih begini, (eh… kayaknya sih dikirimnya pakai google translate deh, soalnya bahasa Indonesianya kacau balauuuu….). Awal surat sih biasa, basa-basi dulu yang bilang kalau anda mungkin terkejut karena sebelumnya tidak pernah/belum ada hubungan sama sekali. Terus, dia bercerita kalau dia adalah mahasiswi tahun ke dua di salah satu Universitas di sana, tapi sayangnya saat ini dia terpaksa tinggal di kamp pengungsi yang dikelola oleh PBB. Dia terpaksa tinggal di pengungsian setelah ada semacam perang atau pemberontakan yang menewaskan keluarganya (ayah, ibu dan saudara-saudaranya).

Ayahnya dulu adalah Pimpinan/Direktur Perusahaan yang bergerak di bidang gas, dan ayahnya meninggalkan deposito sebesar $USD 6,5 juta, yang sayangnya tidak dapat dicairkan olehnya karena status hukumnya sebagai pengungsi telah menyebabkan kehilangan hak itu. Parahnya, dia punya ibu tiri yang ingin menguasai deposito peninggalan ayahnya dan ingin membunuhnya.

Maka dari itu dia ingin segera keluar dari Senegal dan pergi ke Eropa. Tetapi sebelum itu, dia ingin minta tolong pada suamiku untuk membantunya mencairkan deposito peninggalan ayahnya. Caranya, saat ini suamiku diminta mengirim data-data pribadi ke dia, boleh juga ke pendeta di sebuah Gereja yang melindunginya (dia menyebut Pendeta John Dada, dan nomor HP yang bias dihubungi memang berkode Negara Senegal). Setelah suamiku mengirim data-data pribadinya, dia akan memberitahu langkah apa selanjutnya. Katanya, nanti kalau duitnya sudah diterima suamiku, dia akan datang ke Indonesia buat ambil uangnya.

Waktu selesai membaca email itu (malam-malam, kira-kira jam 02.00 malam), sama suamiku surat itu di print dan langsung membangunkan aku.

“Mie, tolong baca ini, maksudnya apa sih… mumet aku bacanya…” kata suamiku.

Sambil ngucek-ngucek mata dan mencoba mengumpulkan dulu separuh jiwaku yang belum genap karena lagi enak-enaknya mimpi, aku mencoba membaca surat itu. Kalau tulisannya sudah seperti yang kutulis di atas sih enak, langsung ngerti. Ini, masih dengan Bahasa Indonesia made in google yang aneh dan kacau. Jadi aku harus mengerahkan dulu tenaga dalamku (eh, nggak nyambung ya…hehehe….).

Setelah kuterjemahkan sebisaku, “Sudahlah pie,… paling orang mau nipu… Mamie ngantuk ah, besok pagi aja ngebahasnya…” jawabku.

“Ngapain nipu sampai nyebrang lautan, kenal juga enggak…” jawab suamiku.

Aku tidak menjawab dan meneruskan tidur. Nasib surat itupun terbengkalai begitu saja sampai beberapa hari kemudian karena suamiku juga sudah hampir lupa.

Tiba-tiba, malam itu suamiku kembali membangunkan aku, “Mie, ini ada surat lagi…” katanya.

Isinya adalah menjelaskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan suamiku. Kalau nggak salah ingat, pertama suamiku harus meneruskan surat yang sudah dibuatkan oleh Esther untuk dikirimkan pada seseorang yang beralamat di London. Isi suratnya adalah semacam pernyataan kalau suamiku adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Esther berhubungan dengan Deposito ayahnya. Katanya orang itu adalah yang menangani uang ayahnya di Bank London. Kedua, suamiku harus segera mengirimkan nomor rekeningnya pada orang London itu supaya deposito ayah Esther bisa segera ditransfer ke rekening suamiku.

Yang lucu, katanya kemarin suamiku harus kirim data-data pribadi dulu baru akan diberitahu langkah selanjutnya, karena dia juga ingin tahu secara pasti (kredibilitas) bagaimana orang yang akan dimintain tolong. Ini, suamiku belum mengirim apapun koq sudah datang surat selanjutnya.

Kubilang pada suamiku, “Sudahlah pie…, nggak usah diurusin lagi. Yang ini jenis penjahat bego…, padahal biasanya penjahat itu pinter-pinter, jenius….” Kataku sambil tidur lagi.

Aku heran, penjahat itu koq ya punya ide macem-macem. Coba kalau ide itu dipakai di jalan yang benar, pasti mereka akan jadi orang yang sukses. Sayang kan ide brilian diapakai buat kejahatan. Menipu.

Suamiku sendiri, saking penasarannya, dia mencoba mencari keterangan seputar surat-surat semacam itu. Akhirnya dia dapat seseorang yang bernama Miss Yang dari Jerman yang memberitahu kalau yang semacam itu adalah jenis penipuan internasional. Miss Yang ini malah punya blog yang isinya adalah tentang penipu-penipu yang rata-rata memang berasal dari Negara-negara Afrika dan jumlah yang pernah tertipu juga lumayan banyak. Kisah-kisah yang diungkapkan juga rata-rata senada.

Kalau dipikir-pikir, lha iya…. Mau nipu aja koq ya jauh-jauh…., pakai internet lagi… Mbok ya nipu tetangganya aja… (lho??!!) hehehe…..

Sekedar share,

Bogor, 10 Desember 2010